ArtikelOpini

Waisak Sebagai Momentum Intropeksi Diri

Oleh: Delia Sanjaya

Hari Tri Suci Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang selalu diingat oleh umat Buddha. Tiga peristiwa penting itu terjadi dalam kehidupan Sang Buddha Gautama. Apa saja ketiga peristiwa itu? Yang pertama lahirnya Pangeran Siddhartha di Kapilavasthu (623 SM), yang kedua Pangeran Siddhartha mencapai penerangan agung dan menjadi Buddha tahun di Bodhgaya (588 SM), Buddha Gautama parinibbana pada usia 80 tahun di Kusinara (543 SM).

Seluruh umat Buddha di Indonesia memperingati Hari Tri Suci Waisak dengan penuh cinta kasih. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh umat Buddha menuju Hari Tri Suci Waisak, diantaranya: bakti sosial, perlombaan, dan berbagai kegiatan puja. Umat Buddha yang melakukan kegiatan – kegiatan tersebut tentunya bertujuan untuk mempersatukan tali persaudaraan sesama umat Buddha dan juga masyarakat Indonesia secara luas. Hari Tri Suci Waisak yang dirayakan satu tahun sekali ini bisa dijadikan momentum untuk belajar dan berbagi, apalagi Hari Waisak tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.

Pasang Iklan

Apakah kita ingat dengan tiga akar kejahatan? Lobha (ketamakan atau keserakahan), Dosa (kebencian atau rasa dendam), dan Moha (kebodohan batin) merupakan tiga akar kejahatan tersebut. Di Hari Tri Suci Waisak, kita mengingat tentang Buddha Gautama yang selalu mempunyai sifat luhur. Sudah seharusnya kita sebagai umat Buddha mengikuti sifat luhur yang dimiliki oleh Sang Buddha Gautama: bebaskan diri dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Kita ubah pola hidup kita menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Berbicara tentang keserakahan, hendaknya umat Buddha yang mengetahui bahwa keserakahan adalah akar dari kejahatan, berusaha mengikis keserakahan tersebut untuk merasakan hidup yang tenteram. Pastinya kita tidak ingin Indonesia mempunyai orang – orang yang serakah. Bagaimana cara yang sederhana untuk mengikis keserakahan? Syukuri yang kita miliki dan belajarlah melepas (Dana). Salah satu contoh kegiatan yang bisa kita lakukan untuk mengikis keserakahan ialah melakukan kunjungan ke panti asuhan dan panti jompo. Di sana kita bisa berbagi berbagai macam kebutuhan pokok sehari-hari, seperti pakaian, susu, alat tulis, dan lain sebagainya.

Dosa di dalam agama Buddha berarti kebencian. Sekarang coba kita renungkan, bagaimana jika Indonesia yang banyak akan penduduk ini diliputi dengan kebencian? Kita bisa memastikan akan terjadi keributan yang besar. Jangan sampai hal ini terjadi! Mari kita kikis kebencian yang tidak ada gunanya. Di zaman teknologi seperti ini, hampir semua orang mempunyai sosial media, dari mulai anak-anak hingga orang tua. Kita sebagai umat Buddha, sepatutnya menggunakan sosial media dengan bijaksana. Jadikan media sosial bermanfaat untuk kita semua. Jangan sampai kita berkomunikasi di media sosial tanpa sadar mencela dan menghina orang lain. Kita umat Buddha diajarkan untuk melatih kesadaran dan pikiran kita supaya tetap menjadi orang bijaksana.

Moha (kebodohan batin) ini pun tidak kalah jahat dengan yang tadi kita bahas sebelumnya. Siapa yang belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Jika kita termasuk di dalamnya, maka harus terus berlatih dan berlatih dengan penuh kebijaksanaan. Kebodohan ini merupakan salah satu penghalang untuk menciptakan Indonesia menjadi aman dan damai. Maka dari itu, kikislah kebodohan batin ini dengan segera.

Kita sebagai umat Buddha dan juga semua masyarakat Indonesia, marilah kita bersama jauhkan diri dari keserakahan, kebencian dan kebodohan. Dan mulai sekarang marilah kita lawan tiga akar kejahatan itu dengan cinta kasih. Kembangkan cinta kasih yang universal karena cinta kasih akan membuat perdamaian yang hakiki. Tidak ada lagi saling mencela dan saling menghina. Kita harus hidup dengan penuh rasa toleransi dan saling menghargai.

Setiap Hari Tri Suci Waisak, kita diingatkan untuk selalu berbagi pada semua makhluk. Kalau kita bisa saling berbagi satu sama lain, kita akan merasakan kebahagiaan yang mendalam. Yang menerima pun merasakan kebahagiaan dan simpati yang besar dari kita. Tapi masih ada saja orang yang memiliki rasa iri hati. Apakah itu baik? Tentu tidak! Mari ingat kembali apa yang telah Sang Buddha ajarkan pada kita, salah satunya yaitu turut berbahagia (mudita). Apa kita harus iri jika orang lain memiliki tapi kita tidak memilikinya? Buang jauh rasa iri hati tersebut dan seharusnya kita ikut merasakan kebahagiaan itu.

Buatlah Indonesia yang memiliki orang – orang yang mempunyai toleransi dan bijaksana, akan terlihat damai dan tentram tentunya. Hari Tri Suci Waisak, hari yang penuh cinta kasih, umat Buddha berbahagian menyambut hari raya ini, tidak hanya kita sebagai umat Buddha yang bersuka cita, mari kita ajak semua makhluk hidup bersuka cita. Ya, Hari Tri Suci Waisak tidak luput dari kata melepaskan, lepaskan kemelekatan kita terhadap apa yang kita miliki saat ini, cara sederhana untuk kita supaya tidak lagi melekat, kita berbagi kepada saudara -saudara kita yang membutuhkan, indahnya jika kita saling berbagi.

Dengan cinta kasih yang universal, mari satukan semua perbedaan. Jangan jadikan perbedaan itu sebagai penghalang. Kita bersatu dengan rasa saling menghormati. Mari bersama wujudkan kedamaian, satukan cinta kasih dan welas asih, jadikan Indonesia sebuah negara yang penuh toleransi dan cinta damai.

Semua orang mempunyai hati yang baik. Jika hati yang baik ini terus dikembangkan, maka akan timbulah kebijaksanaan. Belajarlah bijaksana dalam hal sekecil apapun. Jadikan kebijaksanaan ini sebagai kebiasaan yang bersatu dengan seluruh aktivitas kehidupan.

Sebagai umat Buddha, jadilah salah satu contoh nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan kedamaian yang sesungguhnya. Mulailah cinta kasih dari diri sendiri, dan pancarkanlah secara luas tanpa pandang perbedaan demi terwujudnya Indonesai yang damai.

Komentar via Facebook

Close