ArtikelOpini

Waisak sebagai Fondasi Kebhinekaan di Indonesia

Oleh: Heru Leonardo

Di Indonesia, dengan jumlah pemeluk Buddha sekitar 1,7 juta jiwa, hari Waisak menjadi salah satu hari libur nasional. Penetapan hari libur ini berdasarkan Keputusan Presiden No. 3/1983. Waisak menjadi satu-satunya hari besar agama Buddha yang masuk dalam daftar hari libur nasional.

Hari Tri Suci Waisak yang merupakan salah satu hari raya terbesar dan paling bermakna bagi umat Buddha. Waisak berasal dari bahasa Pali ‘Vesakha‘ atau di dalam bahasa Sansekerta disebut ‘Vaisakha‘. ‘Vesakha‘ diambil dari bulan dalam kalender Buddhis yang biasanya jatuh pada bulan Mei kalender Masehi.

Pasang Iklan

Keputusan untuk merayakan Tri Suci Waisak ini pertama kali diadakan di Sri Lanka pada tahun 1950 oleh Konferensi Persaudaraan Buddha. Dan seperti yang telah disebutkan di atas bahwa hari Waisak ini dirayakan ketika purnama pertama di bulan Mei.

Tiga Peristiwa Penting itu diantaranya:

  1. Kelahiran Pangeran Sidharta

Pangeran Sidharta adalah Putra dari seorang Raja yang bernama Raja Sudodhana dan seorang permaisuri yang bernama Ratu Mahamaya. Pangeran Sidharta lahir ke dunia sebagai seorang Bodhisatva (calon Buddha, seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertinggi). Ia Lahir di Taman Lumbini pada tahun 623 sebelum Masehi.

  1. Pencapaian Penerangan Sempurna

Pangeran Sidharta tidak pernah keluar dari istana, pada usia 29 tahun ia pergi meninggalkan istana dan pergi menuju hutan untuk mencari Kebebasan dari usia tua, sakit dan mati. Kemudian pada saat Purnama Sidhi di bulan Waisak, Pertapa Sidharta mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha.

  1. Pencapaian Parinibbana

Ketika usia 80 tahun, Sang Buddha wafat atau Parinibbana di Kusinara. Semua makhluk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan begitu juga dengan para anggota Sangha, mereka bersujud sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha.

Waisak telah dirayakan di nusantara beberapa dekade sebelum Indonesia merdeka. Beberapa dokumen penting terbitan kelompok spiritual Teosofi menunjukkan bahwa Waisak sudah diselenggarakan sejak awal abad 20 ketika Indonesia masih di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Candi Borobudur, Candi Mendut, loji-loji Teosofi dan klenteng-klenteng Tionghoa menjadi pusat-pusat peringatan.

Perayaan-perayaan Waisak pada zaman itu lebih banyak diisi dengan ritual sembahyang bersama dan perenungan. Doa atau harapan-harapan untuk kebaikan umat manusia, seperti doa-doa agar perang yang pada waktu itu terjadi di Asia maupun Eropa segera berakhir.

Pada periode itu perayaan Waisak juga menjadi ruang individu-individu dari beragam latar etnis dan kelompok untuk berkumpul. Orang Eropa, India, penduduk lokal Jawa, Ceylon (Sri Lanka), dan Tionghoa membaur dalam satu ruang spiritual. Doa-doa dibacakan dalam berbagai bahasa yang merepresentasikan latar belakang kelompok-kelompok yang hadir.

Setelah Indonesia merdeka, Waisak tetap menjadi hari penting bagi umat dan simpatisan agama Buddha. Tahun 1953 tercatat sebagai tahun penting saat umat Buddha Indonesia mengorganisasi Waisak pertama di Borobudur. Pada tahun 1956, umat Buddha Indonesia berpartisipasi dalam perayaan Waisak global, Buddha Jayanti, guna memperingati 2500 tahun wafatnya Sang Buddha.

Meski penganut Buddha di Indonesia tidak sebanyak penganut agama lainnya, namun bukan berarti perayaan kelahiran Buddha ini tidak dilakukan dengan meriah dan unik. Peringatan Waisak sendiri dilakukan di berbagai wilayah Indonesia, namun secara khusus puncak perayaan Waisak biasanya akan dipusatkan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa tengah.

Di Indonesia sendiri terdapat tiga pokok rangkaian Waisak yang rutin dilakukan, yakni prosesi pengambilan air berkat dari sumber air di Jumprit, Temanggung dan api abadi di Mrapen, Grobogan. Kemudian prosesi Pindapata, atau membagikan makan kepada biksu oleh masyarakat di Candi Mendut. Terakhir adalah prosesi samadhi atau berdiam diri menjelang puncak bulan purnama di Candi Borobudur.

Perayaan Waisak di Indonesia mengandung berbagai corak yang khas. Diantaranya adalah padatnya muatan budaya lokal di dalamnya. Beberapa foto arsip kegiatan Waisak pada tahun 1950-an hingga 1970-an menunjukkan prosesi pengambilan air suci yang diiringi tari-tarian dan gamelan. Rangkaian ritual yang berpadu dengan budaya dan tradisi lokal lain pun masih dilakukan sampai hari ini.

Peringatan Waisak menjadi ritual keagamaan untuk merekatkan solidaritas antar individu. Sejalan dengan yang dikatakan sosiologis Emile Durkheim tentang event, Waisak sebagai event yang terjadi sekali setahun ini menjadi aparatus untuk menyatukan umat Buddha hampir di seluruh dunia. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka Waisak bisa meluruhkan sekat-sekat sektarian maupun denominasi. Waisak menjadikan ruang yang lentur, yang tak terbatasi oleh denominasi tertentu.

Dalam beberapa kasus, Waisak bahkan bukan hanya menjadi ruang solidaritas antar umat Buddha, melainkan juga antar umat beragama. Di Banyuwangi, Jawa Timur, misalnya, Waisak menjadi momen saat para tetangga yang non-Buddhis bertandang ke rumah-rumah umat Buddha untuk memberikan ucapan selamat. Tradisi ini sudah terjalin turun temurun.

Dalam skala yang lebih besar, Waisak dirayakan dengan berbagai bentuk kegiatan amal atau sosial. Tahun lalu, Festival Waisak Indonesia (FWI) digelar selama sebulan penuh di Ancol Taman Impian, Jakarta, bekerja sama dengan Badan Koordinasi Pendidikan Buddhis. Sebagaimana dinyatakan penyelenggara festival, FWI ini digelar untuk memperkenalkan seni budaya dan karakter pendidikan yang bersinergi dengan wisdom dan kemanusiaan.

Perayaan Waisak dalam bentuk konferensi Internasional juga diadakan tahun lalu dan tahun ini di Candi Borobudur. Konferensi ini diadakan oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Panitia Waisak Nasional. Dua konferensi tahunan ini secara berturut-turut mengambil tema perdamaian. Tahun ini secara lebih spesifik konferensi berfokus pada isu hubungan antar iman sehingga melibatkan tidak hanya tokoh agama Buddha, tetapi juga pemimpin dan peserta dari agama lain.

Dengan bentuk perayaan yang demikian beragam, Waisak menjadi ruang yang terbuka untuk semua dan akomodatif terhadap keberagaman budaya di Indonesia.

Bhante Paññavaro, tokoh Buddhis Indonesia, menuturkan kebhinekaan tidak hanya dijaga dengan undang-undang dan toleransi belaka, namun perlu cinta kasih. Cinta kasih yang keluar dari hati nurani manusia, tidak hanya menghargai perbedaan tapi menerima dengan tulus perbedaan itu sendiri.

Komentar via Facebook

Close