ArtikelOpini

Waisak Sebagai Ajang Refleksi Diri untuk Kedamaian Indonesia

Oleh: Billy Halim

Memperingati Hari Waisak merupakan sebuah berkah bagi semua orang. Sebuah hari yang dikenang dan penuh makna dalam sejarah Buddhisme. Waisak merupakan hari raya yang memperingati tiga peristiwa penting yang berhubungan dengan Sang BuddhaGautama. Pangeran Siddharta yang lahir di Taman Lumbini, tercapainya pencerahan sempurna oleh Siddharta Gautama dan menjadi Buddha di Bodh Gaya, dan wafatnya atau parinibbana Sang Buddha di Kusinara. Itulah mengapa hari raya ini sering disebut Hari Raya Tri Suci Waisak.

Peringatan Hari Waisak, terutama di Indonesia menjadi refleksi bagi kita semua sebagai anak bangsa. Melihat konflik-konflik SARA yang terjadi sebelumnya, isu intoleransi, dan yang paling parah belakangan ini adalah terorisme, memberikan sinyal bahwa kedamaian di Indonesia masih mengkhawatirkan. Ketakutan ada di mana-mana dan masyarakat tidak bisa hidup dengan aman. Suasana bisa saja dirusak oleh sekelompok orang yang sebenarnya tidak mengerti apa yang mereka lalukan.

Pasang Iklan

Bukan hanya di dunia nyata, bahkan di dunia maya juga terjadi “peperangan” antar anak bangsa. Caci maki, saling serang, ujaran kebencian, hoax, bullying, dan penghinaan lahir dari gerakan jari tangan yang tidak terkontrol. Terlebih jika ada yang melakukannya dengan bersembunyi di balik batu alias menggunakan akun palsu. Media sosial tidak lagi dijadikan sebagai ladang untuk mencari ilmu dan berbagi hal-hal yang baik.

Melihat kondisi seperti itu, kita sebagai anak bangsa harus segera turun tangan. Jangan lagi berdiam diri. Kita harus turut menciptakan kedamaian pada bangsa yang masyarakatnya sangat beragam ini. Maka dari itu, kita harus melakukan apa yang menjadi makna dari perayaan Waisak. Yang menjadi makna, tak lain dan tak bukan, adalah Sang Buddha itu sendiri. Ajaran Sang Buddha harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari dan sifat-sifat Sang Buddha harus ditanamkan dalam diri kita.

 

Refleksi Diri

Waisak bukan hanya perayaan untuk memperingati tiga peristiwa penting Sang Buddha Gautama tetapi juga sebagai ajang bagi semua orang untuk bercermin pada diri sendiri, merefleksikan diri sendiri. Kita perlu mengevaluasi apakah di dalam diri kita masih ada tiga noda batin, yaitu keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Apakah kita masih memiliki kesalahan atau karma buruk? Perayaan Waisak memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki diri dengan mengamalkan ajaran dan sifat Sang Buddha. Seiring dengan merayakan Waisak, diri kita juga harus ikut berubah ke arah yang lebih baik. Dengan memperbaiki diri, kedamaian akan tercipta di dalam batin kita.

Memandikan Buddha Rupang, menjalani prosesi Waisak, dan melepaskan lampion harus disertai dengan perubahan perilaku. Misalnya, pada saat pelepasan lampion, nyala api yang ada di lampion menjadi simbol semangat untuk memperbaiki diri dan melakukan banyak karma baik. Lampion yang dilepaskan memberikan makna bahwa perilaku buruk dan hal-hal negatif harus kita buang, yang berlalu biarlah berlalu. Jadi, untuk bisa menciptakan kedamaian di Indonesia, kita harus terlebih dahulu menciptakan kedamaian di dalam diri kita. Jika diri kita belum damai, bagaimana dengan lingkungan sekitar dan bangsa kita? Diri sendiri adalah titik nol yang harus ditempuh terlebih dahulu.

 

Toleransi Antar Umat Beragama

Bangsa kita merupakan bangsa yang majemuk, bangsa yang pluralis, dan bangsa yang multi-kultural. Dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, masyarakatnya berasal dari latar belakang yang berbeda, terdiri dari berbagai macam suku, ras, budaya, agama, dan warna kulit. Keberagaman inilah yang harus kita rawat. Kerukunan masyarakat harus kita rajut.

Untuk merawat keberagaman tersebut, diperlukan satu hal, yaitu toleransi. Dalam ranah budaya dan agama, toleransi adalah sikap menghargai dan membiarkan orang lain menjalankan kepercayaannya, ibadahnya, dan budayanya. Menghargai apa yang menjadi kepercayaan orang lain sekalipun bertentangan dengan kepercayaan/pandangan kita. Tatkala kita merupakan masyarakat mayoritas ataupun minoritas, kita harus memberi ruang kepada siapa pun untuk menjalankan kepercayaannnya tanpa gangguan apapun.

Toleransi antar umat beragama adalah salah satu poin penting dalam sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Setiap orang memiliki kebebasan penuh untuk menyembah Tuhan masing-masing dan menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan dalam agamanya masing-masing. Dalam UUD’45 pasal 29, disebutkan bahwa Negaraberdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa (ayat 1) dan Negara menjaminkemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu (ayat 2).

Di dalam Buddhisme sendiri tentunya mengajarkan tentang toleransi. Hal tersebut bisa dilihat pada cerita seperti bagaimana Sang Buddha berinteraksi dengan pengikut Nigantha Nataputta dan apa yang harus dilakukan jika seseorang menghina Triratna. Akan tetapi, yang menjadi dasar dari toleransi dalam Buddhisme adalah empat sifat luhur yang ada di dalam diri Sang Buddha atau biasa dikenal dengan Brahmavihara. Metta (cinta kasih), Karuna (welas asih), Mudita (rasa simpati) dan Uppekkha (keseimbangan batin) harus kita tumbuhkan dalam diri kita.

Dengan adanya perayaan Waisak ini, diharapkan kita dapat mengembangkan kesadaran untuk tiada hentinya mengembangkan toleransi dalam beragama, menciptakan suasana damai di lingkungan sekitar, berbagi dengan orang lain, dan berbuat banyak kebajikan. Toleransi dalam beragama harus dijunjung tinggi oleh setiap warga negara. Karena sesungguhnya, toleransi adalah salah satu sumber kedamaian untuk memperkokoh persatuan bangsa.

 

Ber-Media Sosial yang Sehat

Telah disinggung sebelumnya di atas tentang dunia maya. Kedamaian tidak boleh hanya dirawat di dunia nyata tetapi juga di dunia maya atau internet khususnya media sosial. Bukan suatu kedamaian jika antara dunia nyata dan dunia maya tidak damai. Meskipun di dunia nyata damai tetapi di dunia maya masih ada keributan, maka sebenarnya kedamaian belum terwujud. Kedamaian akan terwujud bila keduanya sama-sama damai.

Begitu juga dengan perilaku manusia, orang yang berselancar di dunia maya juga membutuhkan etika dan moral. Tanpa adanya etika dan moral, tidak menutup kemungkinan kerusuhan akan terjadi. Saling mengumbar-umbar kebencian, saling menghina, dan saling melecehkan adalah contohnya. Secara tidak sadar, jari-jari tangan kita tidak terkontrol dan mengetik apapun yang menjadi emosi dan ego kita. Miris sekali jika melihat kondisi media sosial saat ini. Pemanfaatan media sosial sebagai tempat untuk berbagi semakin berkurang.

Dalam Buddhisme, perilaku ini tentu bertentangan dan termasuk ucapan buruk, walaupun melalui media sosial. Itulah yang harus kita ubah. Ber-media sosial yang sehat adalah hal yang seharusnya kita lakukan. Menyebarkan konten-konten positif seperti kata-kata motivasi dan artikel yang bermanfaat. Melawan segala jenis konten negatif yang tidak mendidik.

Dengan begitu, kita sudah berpartisipasi dalam mewujudkan ekosistem internet yang sehat dan damai. Menjadikan media sosial sebagai sarang untuk saling berbagi. Berbagi melalui media sosial juga merupakan sebuah bentuk kebajikan. Menciptakan kedamaian di media sosial adalah kewajiban setiap insan. Oleh karena itu, jadilah netizen yang memiliki etika dan moral serta bersikap profesional dan kritis.

Itulah beberapa poin penting yang harus kita perhatikan dan laksanakan untuk turut menciptakan kedamaian untuk bangsa yang kita cintai ini. Merefleksikan diri, bertoleransi antar umat beragama, dan ber-media sosial yang sehat.

Bangsa yang ber-bhinneka ini harus kita jaga baik-baik. “Bhinneka Tunggal Ika” yang menjadi semboyan bangsa harus tetap utuh. Ideologi Pancasila yang memiliki cita-cita mempersatukan semua masyarakat tanpa memandang latar belakang harus kita rawat dan pertahankan. Kedamaian harus benar-benar kita wujudkan untuk bangsa ini, terutama bagi para generasi muda. Damai di dalam batin, damai di lingkungan sekitar, dan damai untuk Indonesia.

Komentar via Facebook

Close