ArtikelKabar Dhamma

Waisak di Rumah, Tetap Mawas Diri dan Mengembangkan Kebajikan

Oleh: Novianti

Perayaan Waisak tiap tahunnya adalah identik dengan merayakan hari raya secara bersama-sama baik di wihara maupun di candi-candi Buddhis. Misalnya di Borobudur, pada hari Waisak, Candi Borobudur ramai dikunjungi oleh umat Buddha di seluruh Indonesia untuk merayakan detik-detik Waisak bersama. Namun tahun ini sungguh berbeda, umat Buddha harus merayakan hari Waisak di rumah saja karena Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia beberapa bulan terakhir. Setidaknya umat Buddha telah mendukung kebijakan pemerintah, karena dengan di rumah saja telah membantu pemerintah dalam menekan penyebaran Virus Covid 19.

Merayakan hari raya di rumah saja, memang terasa berbeda, tetapi hendaknya itu bukan menjadi penghalang bagi umat Buddha untuk menghilangkan makna Waisak itu sendiri. Seperti yang diketahui bahwa Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang berkaitan dengan kehidupan Buddha Gautama yaitu kelahiran Pangeran Sidharta, Petapa Gautama mencapai pencerahan sempurna, dan Buddha mencapai parinibbana.

Pasang Iklan

Sebagai umat Buddha kita bukan hanya mempelajari ajaran Buddha atau memperingati hari raya saja. Buddha telah menunjukkan jalan untuk mencapai bebas dari penderitaan, yaitu dengan mempraktikkan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Buddha mengajarkan bahwa inti dari ajaran Buddha adalah tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan, dan membersihkan batin (Dhammapada, 183).

Momentum Waisak merupakan waktu yang baik untuk kita mawas diri pada perilaku yang telah kita lakukan selama ini. Menyesali perbuatan tidak baik yang pernah dilakukan dan  bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Hal ini merupakan tindakan awal yang harus dilakukan untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

Mengembangkan kebajikan di setiap waktu, di mana saja, dan kepada siapa saja. Di masa pandemi sekarang ini bukan hal yang mustahil bagi kita untuk melakukan kebajikan. Walaupun dalam keterbatasan baik waktu, tempat, ataupun materi kita masih bisa melakukan hal-hal kecil yang berguna bagi diri kita sendiri dan bagi sesama. Kita bisa mulai dari diri sendiri yaitu menjaga kebersihan diri sendiri, membatasi bepergian yang tidak perlu, membagikan alat perlindungan diri (masker atau hand sanitizer) kepada masyarakat yang membutuhkan. Melakukan perbuatan baik tidak harus dilakukan dengan materi, tapi juga bisa dengan tenaga dan pikiran. Membersihkan batin dengan melatih pikiran dalam meditasi, mengarahkan pikiran ke hal-hal positif. Melalui meditasi maka seseorang dapat mengembangkan kemurnian batin, sehingga akan menjadi lebih tenang dan bijaksana. Dengan kebijaksanaan yang dimiliki seseorang akan mampu berpikir jernih dan menyelesaikan suatu permasalahan dengan baik tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Foto: Novianti

Di tengah masa pandemi yang telah menyebar ke seluruh Indonesia, telah muncul permasalahan-permasalahan di masyarakat. Efek dari pandemi ini telah masuk ke berbagai sektor yaitu pendidikan, ekonomi, sosial yang mempengarui keharmonisan di masyarakat. Contohnya, di berbagai daerah telah terjadi pencurian dan perampasan karena kesulitan ekonomi karena masa pandemi ini. Hal ini tentu menimbulkan keresahan bagi masyarakat, dimana mereka menjadi tidak tenang, merasa khawatir, dan cemas. Banyaknya permasalahan yang muncul hendaknya menjadi perhatian bersama, bahwa kita harus mawas diri, saling mengerti, saling berbagi sehingga hidup dengan aman dan tenang dalam melawan pandemi ini.

Kesempatan berdiam di rumah, hendaknya digunakan secara maksimal. Biasanya kita sibuk dengan kegiatan di luar rumah, sehingga tanpa disadari kita sampai tidak sempat mengistirahatkan pikiran kita untuk melakukan puja bahkan melatih meditasi di rumah. Dengan adanya gerakan di rumah saja yang digaungkan pemerintah, setidaknya kita mengambil sisi positif yaitu banyak waktu di rumah, melakukan hal-hal positif di rumah, banyak waktu untuk memurnikan pikiran dengan meditasi.  Seperti dijelaskan dalam Karaniyametta Sutta bahwa seseorang hendaknya berpuas hati, mudah ditopang, tidak sibuk, sederhana, dan tenang inderanya, berhati-hati, sopan dan tidak menjilat pada keluarga-keluarga. Dengan mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk maka kita berkontribusi dalam menciptakan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

 

Komentar via Facebook

Close