ArtikelKabar Dhamma

Vaksin Metta-Karuna Penangkal Corona

Oleh : Bhikkhu Ratanadhiro

”Seseorang yang merawat orang sakit, berarti ia telah merawat Saya”. Pernyataan terkenal ini dibuat oleh Sang Bhagava saat Beliau menemukan seorang bhikkhu yang sedang berbaring dalam jubah kotornya. Bhikkhu tersebut dalam keadaan sakit parah karena serangan disentri.

Dengan bantuan Ananda, Sang Buddha mencuci dan membersihkan bhikkhu sakit itu dengan air hangat. Dalam kesempatan ini, Beliau mengingatkan para bhikkhu bahwa mereka tidak mempunyai orang tua maupun sanak keluarga yang menjaga mereka, maka mereka harus menjaga satu sama lain. Jika guru sedang sakit, murid mempunyai kewajiban untuk merawatnya, dan jika murid sakit, guru juga memiliki kewajiban untuk menjaganya. Jika tidak ada guru atau murid, maka masyarakat berkewajiban menjaga orang yang sakit.

Pasang Iklan

Pada kesempatan lain, Sang Buddha menjumpai seorang bhikkhu yang tubuhnya dipenuhi dengan luka, jubah lengket di tubuhnya dengan nanah keluar dari luka-lukanya. Para teman bhikkhu telah meninggalkannya karena tidak dapat menjaganya. Saat menemui bhikkhu ini, Sang Buddha merebus air dan mencuci bhikkhu tersebut dengan tangannya sendiri, selanjutnya membersihkan dan mengeringkan jubahnya. Saat bhikkhu tersebut telah nyaman, Sang Buddha memberikan khotbah kepadanya dan ia menjadi Arahatta, lalu tidak lama kemudian, ia meninggal dunia. Oleh karena itu Sang Buddha tidak hanya mendukung pentingnya merawat orang sakit, Beliau juga memberi contoh nyata bagaimana memberikan pelayanan kepada mereka yang sedang sakit, mereka yang bahkan dianggap menjijikkan bagi kebanyakan orang.

Saat seseorang sedang sakit parah dan merasa tidak berdaya, suatu kata ramah atau suatu tindakan baik menjadi sumber kesenangan dan harapan. Itulah sebabnya cinta kasih (metta) dan welas asih (karuna), yang juga merupakan kondisi batin yang mulia (brahmavihara), dianggap sebagai sifat-sifat yang patut dipuji bagi setiap orang. Keadaan sakit adalah saat seseorang sedang menghadapi kenyataan-kenyataan hidup dan kondisi ini adalah suatu kesempatan baik untuk menanamkan suatu kesadaran spiritual, bahkan dalam batin yang paling materialistis sekalipun. Lebih lanjut, seseorang yang sedang sakit tentunya mempunyai perasaan takut pada kematian lebih besar daripada saat sehat. Cara yang paling baik untuk menenangkan perasaan takut ini adalah dengan mengalihkan perhatian kepada Dhamma.

Bentuk cinta kasih yang paling mendasar adalah mengharapkan semua makhluk hidup berbahagia. Jagalah kesehatan dan kebersihan dengan upaya-upaya tertentu seperti pada umumnya. Milikilah pola hidup yang sehat dan seimbang, karena melindungi diri sendiri berarti juga melindungi yang lainnya. Pada saat diri sendiri bahagia maka sangat mudah untuk membagikan kebahagiaan itu kepada siapapun. Mulailah memancarkan pikiran cinta kasih kepada siapapun, tanpa batasan, tanpa pengecualian. Segala kebencian, kemelekatan, ketakutan, serta kecemasan yang berlebihan dapat menghasilkan gelombang pikiran negatif, dan akibatnya bisa mempengaruhi siapapun di sekitarnya. Tetapi jika pikiran tentang cinta dan kasih sayang dikembangkan, ini dapat berfungsi sebagai penenang batin dalam meredakan penderitaan dan efeknya bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia. Kebaikan hati yang penuh kasih adalah obat yang hampir sama efektifnya untuk semangat juang dan kesembuhan bagi semua makhluk yang membutuhkan.

Semoga Tiratana selalu melindungi semuanya

Komentar via Facebook

Tags
Close