ArtikelOpini

Tetap Cerdas Saat New Normal

Oleh: Ananta Kandaka

Tidak terasa, sudah 4-5 bulan lamanya sejak virus Corona mulai mewabah di Indonesia dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Karena kecepatan yang dahsyat ini pula, maka pemerintah memutuskan untuk menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Sebabnya,
Karena rumah-rumah sakit tidak bisa menampung jumlah pasien yang sangat banyak dalam waktu yang bersamaan, maka diperlukan upaya mengurangi jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit dalam waktu yang bersamaan.

Pasang Iklan

Tujuannya,
Diharapkan dengan berlakunya PSBB, maka kecepatan penularan mampu ditekan sedemikian rupa, sehingga jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit di waktu yang sama bisa berkurang. Kita mengenal istilah “flatten the curve”.

Selama itu pula, berbagai aktivitas keseharian masyarakat seperti misalnya pemerintahan, perkantoran, perusahaan, perdagangan, rekreasi, dan lain-lain terpaksa dilakukan dari rumah untuk mencegah penularan virus Corona.

Tidak luput, sektor pendidikan seperti sekolah, universitas, dan tempat kursus pun terpengaruh oleh PSBB.

Tercatat sudah 3-4 bulan lamanya sejak sekolah-sekolah “diliburkan”, di mana anak-anak hanya belajar dari rumah saja. Selama itu pula, para guru dan dosen pun juga hanya mengajar dari rumah mereka. Semuanya dilakukan dengan metode pembelajaran jarak jauh secara online.

Seiring ditetapkannya New Normal, memang sempat ada wacana untuk memasukkan anak-anak kembali ke sekolah pada tanggal tahun ajaran baru 2020/2021 tanggal 13 Juli 2020, namun pada akhirnya kebijakan ini diurungkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pertimbangannya adalah,

1. Selain orang tua, anak-anak juga sangat rentan terkena virus Corona karena daya tahannya belum tentu kuat

2. Sekolah dan universitas adalah tempat di mana banyak orang bertemu, sehingga penularan virus Corona bisa meluas

3. Pendidikan adalah pelayanan, keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas utama dalam pendidikan

Belajar dari pengalaman negara lain, seperti pada kasus di Korea Selatan dan Singapura, di mana virus Corona malah justru menyebar luas setelah sekolah dibuka kembali, maka kebijakan pemerintah untuk menunda pembukaan sekolah bisa dikatakan tepat sasaran.

Berdasarkan data Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, sebanyak 94% dari peserta didik berada di 429 kabupaten/kota yang merupakan zona merah, sementara hanya 6% dari peserta didik yang berada di 85 kabupaten/kota yang merupakan zona hijau yang aman.

Maka itu, berdasarkan keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 15 Juni 2020 kemarin, akhirnya ditetapkan bahwa proses belajar-mengajar akan tetap dilaksanakan secara jarak jauh melalui metode online hingga wabah berakhir.

Pengecualian untuk berbagai sekolah dan universitas di zona hijau, yang bisa melaksanakan proses belajar-mengajar secara tatap muka, dengan syarat:

1. Protokol CoViD-19 harus dijalankan,
2. Kabupaten/kota berada di zona hijau,
3. Harus disetujui oleh dinas pendidikan,
4. Harus disetujui oleh orang tua murid.

Apabila salah satu syarat tidak terpenuhi, maka sekolah akan ditutup kembali dan proses belajar-mengajar dilaksanakan dari jarak jauh secara online.

Menyikapi proses belajar-mengajar jarak jauh selama New Normal yang masih sama seperti proses belajar-mengajar selama PSBB, maka kita bisa melihat plus-minus kebijakan ini, memperbaiki kualitas belajar-mengajar, dan juga memanfaatkan peluang yang ada.

Plusnya,

1. Siswa menjadi lebih aman dari potensi penularan virus Corona karena tidak sering berinteraksi dengan orang asing

2. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak untuk eksplorasi materi pelajaran dari sumber-sumber bacaan online

3. Siswa bisa belajar dengan lebih mandiri karena para guru dan dosen tidak bisa membimbing secara langsung

4. Siswa mengetahui dan menggunakan berbagai macam aplikasi komunikasi yang meningkatkan efisiensi komunikasi

5. Siswa memiliki waktu yang fleksibel untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah seperti membantu orang tua

Minusnya,

1. Proses belajar-mengajar menjadi tidak maksimal akibat kurangnya interaksi langsung antara guru/dosen dan siswa, karena bagaimanapun juga sentuhan dan tatap muka berbeda dengan online

2. Tidak ada yang bisa menjamin apakah siswa selalu bisa mengikuti seluruh proses belajar-mengajar secara lengkap atau tidak, karena siswa bisa saja disibukkan oleh kegiatan lain di rumah

3. Siswa menjadi bosan dan stress karena terus-menerus belajar di rumah tanpa bisa bersosialisasi langsung dengan teman-temannya, melainkan hanya dengan orang tua dan saudaranya

4. Ketersediaan gadget dan koneksi internet yang berbeda-beda pada setiap siswa atau dengan gurunya tidak bisa menjamin proses belajar-mengajar secara lancar secara dua arah

5. Siswa dan orang tuanya terpaksa harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk biaya pulsa, terutama apabila pembelajaran sehari-hari dilaksanakan secara “live” yang memakan kuota

Dengan demikian, maka kualitas belajar-mengajar bisa dimaksimalkan dengan metode-metode pembelajaran online yang efektif dan efisien, seperti misalnya:

1. PEMBELAJARAN OFFLINE,
Mengurangi pembelajaran “live” untuk menghemat kuota dan tidak terlalu bergantung pada gadget dan koneksi. Tidak selamanya siswa wajib berinteraksi dengan guru, dosen, dan temannya, terutama ketika mengerjakan berbagai tugas dan project. Oleh karena itu, siswa bisa saja diberikan berbagai tugas dan project yang bisa dikerjakan secara offline, sehingga tidak perlu senantiasa online melulu di dunia maya yang pastinya memakan kuota.

2. INTERAKSI KELUARGA,
Keberadaan siswa di rumah setiap bisa dimanfaatkan untuk merekatkan interaksi siswa dengan orang tuanya atau saudaranya yang mungkin saja selama bertahun-tahun mengalami kendala, yang biasa sering terjadi di kalangan remaja. Para guru dan dosen bisa memberikan tugas dan project yang melibatkan interaksi antara siswa dengan orang tuanya atau saudaranya. misalnya dengan membuat wawancara, foto, video, atau rekaman keluarga.

3. PSIKOMOTORIK DAN AFEKTIF,
Mengalihkan fokus dari kognitif (pengetahuan) ke psikomotorik (keterampilan) dan afektif (karakter). Dalam suasana pembelajaran online, siswa akan mampu belajar mencari informasi secara mandiri di berbagai search engine seperti Google, YouTube, dan lainnya. Maka itu, pembelajaran akan lebih efektif dan efisien apabila ditujukan untuk melatih bakat, minat, dan keterampilan, serta pengembangan karakter yang berguna bagi kehidupan.

4. PELAJARAN YANG MENARIK,
Dalam pembelajaran tatap muka, siswa hadir secara fisik di dalam kelas dan harus meminta izin untuk keluar kelas. Dalam pembelajaran online, siswa hanya hadir melalui koneksi gadget, sehingga bisa saja siswa keluar sesi pembelajaran kapan saja apabila pelajarannya sudah tidak lagi menarik. Hal ini menciptakan tantangan baru bagi guru untuk menyajikan materi semenarik mungkin sehingga siswa tidak bosan belajar sehingga “offline” atau “busy”.

5. EDU-PRENEURSHIP
Sudah bukan rahasia umum bahwa dunia maya sangat menggiurkan bagi para pencari harta kekayaan di abad ke-21 ini. Selainnya rating yang menggaet iklan, banyak juga seminar-seminar online yang bisa mendatangkan banyak uang. Apabila hal itu bisa diterapkan pada kelas-kelas online, mengapa tidak? Malahan kelas-kelas online itu sangat berpotensi menggaet banyak siswa dari Sabang sampai Merauke, melebihi kapasitas kelas-kelas offline biasa.

Bayangkan seandainya setiap siswa yang mengikuti kelas online berasal dari Sabang sampai Merauke, berjumlah 100 siswa, di mana setiap siswa harus menghargainya sebesar Rp. 50.000,- per jam, maka dalam hitungan 1 jam, sekolah bisa mendapatkan Rp. 5.000.000,-. Dalam  2 jam saja, sekolah bisa mendapatkan Rp. 10.000.000,-. Dan seterusnya.

Kekayaan yang didapatkan dari kelas-kelas online ini bisa digunakan sebagian untuk:

1. Membayar tagihan listrik PLN yang tidak masuk akal baru-baru ini,
2. Membayar biaya perawatan sekolah yang tetap berjalan saat pandemi,
3. Membayar gaji dan tunjangan guru yang harus dilunasi setiap bulan,
4. Insentif kepada siswa untuk mencari calon-calon siswa kelas online,
5. Mengembangkan sekolah sehingga menjadi lebih besar dan berkualitas.

Dengan demikian, maka pembelajaran online di masa PSBB, yang masih terus berlanjut hingga New Normal ini, tidak membuat proses belajar-mengajar menjadi tumpul, cetek, atau mati gaya, melainkan bisa menjadi suatu inovasi baru dalam bidang pendidikan.

Inovasi baru ini bisa menciptakan trend baru dalam sektor pendidikan di masa depan, di mana sekolah dan universitas lebih fokus untuk melatih keterampilan dan pengembangan karakter, bukan hanya pengetahuan saja, sesuai kebutuhan dunia kerja di abad ke-21.

Menurut framework 21st Century Education yang dikembangkan oleh World Economic Forum (WEF), setidaknya terdapat 16 keterampilan penting yang wajib dimiliki anak-anak agar mereka bisa sukses di abad ke-21.

Berbagai keterampilan itu terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

A. LITERASI
1. Literacy (literasi, keterampilan terkait teks dan bahasa)
2. Numeracy (numerasi, keterampilan berkaitan dengan angka)
3. Scientific literacy (literasi saintifik, keterampilan berkaitan dengan cara berfikir ilmiah)
4. ICT literacy (keterampilan berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi)
5. Financial literacy (literasi keuangan, keterampilan terkait dengan pengambilan keputusan terkait keuangan pribadi)
6. Cultural and civic literacy (keterampilan terkait dengan pemahaman budaya dan hak-kewajiban sebagai warga negara)

B. KETERAMPILAN
7. Critical thinking/problem-solving (keterampilan berfikir kritis dan memecahkan masalah-masalah yang ada di hadapannya)
8. Creativity (kreativitas, keterampilan menggunakan sudut pandang dan solusi baru untuk menyelesaikan tantangan)
9. Communication (keterampilan berhubungan dengan kapasitas komunikasi dengan beragam orang yang berbeda)
10. Collaboration (keterampilan berhubungan dengan kapasitas melakukan sinergi dan kolaborasi dengan anggota tim untuk mencapai tujuan bersama)

C. KARAKTER
11. Curiosity (keterampilan berkaitan rasa ingin tahu alamiah untuk mencari tahu tentang hal-hal baru yang terjadi di sekitarnya)
12. Initiative (keterampilan terkait dengan kapasitas memulai sebuah hal atau berinisiatifl tanpa menunggu perintah dari orang lain)
13. Persistence/grit (keterampilan berkaitan dengan manajemen diri  yang mampu mengatasi masalah hingga akhirnya bertahan dan bisa menyelesaikan hingga akhir)
14. Adaptabilitas (keterampilan berkaitan dengan kapasitas menyesuaikan diri dan kelenturan menghadapi perubahan eksternal yang terjadi)
15. Leadership (keterampilan untuk memimpin kelompok menuju tujuan bersama)
16. Social and cultural awareness (keterampilan mengenali dan menyikapi keragaman fenomena sosial dan budaya)

Profesor Clayton Christensen, sang pencipta penggagas Disruption Theory, pada tahun 2014 pernah memberikan prediksi bahwa 50% universitas di AS akan bangkrut dalam waktu 10-15 tahun ke depan karena beragam terobosan inovasi berupa pembelajaran online.

World Economic Forum, pada tahun 2018 juga menyatakan bahwa 65% anak-anak nantinya akan mendapatkan berbagai pekerjaan yang belum ada saat ini, sementara 42% pekerjaan manusia di industri akan digantikan oleh robot dan AI (kecerdasan buatan) pada tahun 2022.

Gartner, pada tahun 2018 juga menyatakan bahwa 60% universitas di seluruh dunia akan menggunakan teknologi VR (realitas virtual) pada tahun 2021 sehingga mampu menghasilkan proses pembelajaran yang imersif.

Pendapat para ahli tersebut akhirnya menjadi kenyataan, dan sebagai pendidik maupun yang dididik, ya kita harus bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan besar yang terjadi di dunia pendidikan ini.

Bukankah memang salah satu kenyataan hidup adalah perubahan (anicca)?

Sebagai pendidik maupun yang dididik, tugas kita adalah selalu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, dan memanfaatkan perubahan tersebut demi masa depan yang lebih baik.

Perubahan ini bukanlah yang pertama.
Juga bukanlah perubahan yang terakhir.
Senantiasalah belajar dan upgrade diri.

 

Penulis:
Ananta Kandaka, S.E (Tenaga Pendidik & Aktivis Buddhis)

 

Komentar via Facebook

Tags
Close