Artikel

Tahu Budi dan Tahu Membalas Budi

Kutipan

  • “Jadilah orang yang tahu budi, tahu berterima kasih, dan tahu membalas budi.” -Toni Yoyo-

Ada tiga hal yang harus sesering mungkin kita lakukan dalam kehidupan ini supaya lebih mudah bagi kita untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Ketiganya adalah bersyukur, termotivasi, dan berterima kasih. Untuk mampu bersyukur, lebih seringlah melihat ke bawah, yaitu ke orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita. Untuk termotivasi, lebih seringlah melihat ke atas, yaitu ke orang-orang yang lebih baik dari kita. Dan untuk mampu berterima kasih, lebih seringlah melihat ke sekeliling kita, baik ke bawah, atas, kiri, kanan, depan, atau pun belakang. Di setiap arah yang kita lihat, pasti ada saja orang-orang atau hal-hal yang patut kita ucapkan terima kasih.

 

Pasang Iklan

Meskipun demikian mudah dan sederhana, banyak orang yang tidak mampu mempraktikkan yang disebut bersyukur, termotivasi, dan berterima kasih tersebut. Oleh karenanya tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang merasa kesuksesan dan kebahagiaan begitu jauh dari dirinya.

 

Kisah berikut menggambarkan bahwa kebaikan dan manfaat yang dirasakan oleh banyak orang merupakan kontribusi kebaikan yang telah dilakukan oleh orang lain. Karena pengorbanan dan hasil karya orang lain yang tidak egoislah, orang-orang bisa terbantu kehidupannya.

Suatu ketika seorang petani sedang bekerja di ladangnya yang terletak di atas sebuah bukit. Tiba-tiba dia melihat air laut surut dari pantai, ibarat seekor binatang besar sedang bersiap-siap menerkam mangsanya. Secara naluriah petani itu tahu bahwa sebentar lagi akan terjadi gelombang pasang yang besar. Dia menjadi sangat cemas terhadap tetangga-tetangganya yang sedang bekerja di ladang mereka yang terletak tidak jauh dari pantai.

 

Petani itu menyadari bahwa satu-satunya cara menyelamatkan para tetangganya adalah dengan membuat mereka naik secepatnya ke puncak bukit. Namun apa daya, suara teriakannya tidak akan mampu terdengar oleh mereka yang berada jauh di bawah. Dalam kecemasan yang semakin memuncak, petani itu segera bertindak cepat. Dia membakar ladangnya dan membunyikan lonceng kuil untuk menarik perhatian semua orang lainnya di bawah.

 

Dari ladang masing-masing, para tetangganya yang melihat kebakaran itu dan mendengar bunyi lonceng, bergegas naik ke puncak bukit untuk menolongnya. Dalam waktu singkat puncak bukit itu dipenuhi oleh orang-orang yang tadinya berada di bawah. Selanjutnya mereka semua melihat bagaimana gelombang pasang menerjang segala sesuatu yang ada di bawah bukit termasuk ladang-ladang yang baru mereka tinggalkan. Seandainya mereka tidak segera naik ke puncak bukit, kemungkinan besar mereka tidak akan selamat. Semuanya memahami bahwa keselamatan mereka telah dibeli dengan harga yang mahal, yaitu ladang petani yang telah ludes terbakar.

Pernahkah kita renungkan bahwa semua kemudahan dan kenikmatan yang kita rasakan dalam kehidupan ini sebenarnya sudah dibayar harganya oleh banyak orang lain di zaman ini mau pun di zaman-zaman sebelumnya?

 

Terima kasih seharusnya kita pancarkan ke segala arah, ke atas, ke bawah, maupun ke sekeliling. Orangtua yang sudah melahirkan, membesarkan, merawat, mendidik, dan menyekolahkan kita. Keluarga dan saudara yang sudah mendukung kita. Guru-guru yang sudah mengajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan kepada kita. Para penemu yang sudah menghabiskan banyak waktu, pikiran dan tenaga untuk menciptakan berbagai penemuan guna mempermudah hidup kita. Pemuka agama, pemberi kerja, atasan, teman sekerja, bawahan, tetangga, dan masih banyak lagi yang lainnya. Daftar ini akan menjadi sangat panjang jika mau dilengkapi.

 

Pertanyaannya adalah maukah kita berterima kasih dan sedikit saja berusaha membalas jasa mereka dengan ikut membayar harga demi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang? Salah satu caranya adalah melakukan perbuatan yang baik dan positif melalui pikiran, ucapan, dan tindakan kita, melalui berbagai peran yang kita jalani dalam kehidupan ini. Dengan memahami bahwa keberadaan dan pencapaian kita tidak terlepas dari peran dan jasa banyak orang, seharusnya kita menjadi pribadi yang mampu berterima kasih dan tidak mementingkan diri sendiri.

 

Albert Einstein yang dianggap sebagai ilmuwan terbesar abad lampau berkata, “Sering kali dalam kehidupan, saya mengingatkan diri sendiri bahwa kehidupan saya adalah berkat kerja dan jasa orang lain yang sudah mati maupun masih hidup. Saya berjanji untuk mengerahkan tenaga dan pikiran supaya bisa memberikan ukuran yang sama seperti yang telah saya terima.”

 

Pikirkan kebijaksanaan yang begitu dalam terkandung dalam kata-kata Einstein. Dia memiliki penghargaan dan terima kasih yang begitu besar kepada banyak orang yang telah berjasa kepadanya. Kata-kata tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Einstein bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri.

 

Tidak perlu menjadi seideal Albert Einstein untuk membalas semua budi yang pernah kita terima. Cukup yang realistis saja dengan membalas sebagaian kecil dari budi orang-orang yang telah berjasa kepada kita, dengan cara-cara yang kita bisa.

 

Jadilah orang yang lebih sering bersyukur, termotivasi, dan berterima kasih. Dengan lebih sering mempraktikkan ketiga hal tersebut, akan lebih mudah bagi kita untuk mengeluarkan diri yang sesungguhnya, yakni mengeluarkan seluruh potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita.

 

Sumber: Toni Yoyo. 2016. Unleash The Real You. Jakarta:PT Elex Media Komputindo.

Komentar via Facebook

Leave a Reply

Close