ArtikelKabar Dhamma

Sungguh Sulit Membalas Jasa Orangtua?

Oleh : Hendro Putra Johannes

Pekan-pekan terakhir di bulan Agustus tahun ini erat dengan berbagai upacara pelimpahan jasa kepada leluhur yang telah meninggal dunia. Ini menjadi momen yang tepat untuk berbagi jasa kebajikan kepada mendiang orangtua atau bahkan kepada mendiang leluhur kita yang jumlahnya sangat banyak dan tidak dapat dikenali seluruhnya. Pekan-pekan ini juga dianggap sebagai waktu yang baik untuk membalas jasa orangtua, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Apakah upacara pelimpahan jasa di momen seperti ini sudah tepat dilakukan untuk membalas jasa orangtua?

 

Pasang Iklan

Dalam Sutra tentang Jasa Besar Orangtua yang Sulit Dibalas, Buddha membabarkan alasan di balik sulitnya membalas jasa orangtua. Orangtua adalah “brahma” dalam keluarga (Vijjānanda, 2012). Mereka telah melakukan banyak kebaikan untuk anak-anaknya. Ada sepuluh kebaikan yang telah dilakukan orangtua (Vijjānanda, 2012).

  1. Kebaikan menyediakan perlindungan dan perawatan semasa anak dalam rahim.
  2. Kebaikan menanggung derita selama melahirkan.
  3. Kebaikan melupakan seala kesakitan begitu anak lahir.
  4. Kebaikan memakan yang pahit untuk dirinya dan menyisihkan yang manis untuk anak.
  5. Kebaikan memindahkan anak ke tempat yang kering dan dirinya ke yang basah.
  6. Kebaikan menyusui, memberi makan, dan membesarkan anak.
  7. Kebaikan membersihkan yang kotor.
  8. Kebaikan senantiasa memikirkan anak bila anak pergi jauh.
  9. Kebaikan kasih dan pengabdian yang mendalam.
  10. Kebaikan welas asih dan simpati yang tinggi.

 

Seseorang mengangkat ayahnya di bahu kirinya dan ibunya di bahu kanannya, sampai tulangnya hancur karena berat mereka menembus sumsumnya. Seseorang mengelilingi Gunung Semeru selama seratus ribu kalpa sampai darah mengucur membasahi kakinya. Seseorang mengiris daging tubuhnya sendiri untuk memberi makan orangtuanya dan melakukan ini sebanyak debu yang dia lalui dalam perjalanan ratusan ribu kalpa. Bahkan seseorang yang demi orangtuanya, mengambil sebilah pisau tajam dan mencungkil mata lalu mempersembahkannya kepada Tathagata dan terus melakukannya selama ratusan ribu kalpa. Orang-orang tersebut masih belum cukup untuk membalas jasa kebaikan orangtuanya (Vijjānanda, 2012). Lantas, sungguh sulitkah membalas jasa orangtua?

 

Upacara pelimpahan jasa yang dilakukan adalah baik untuk sebagai bentuk penghormatan materi kepada mendiang orangtua dan leluhur, atau sering disebut amisa pūjā (Anguttara Nikaya 2). Berbagai hidangan dan persembahan disajikan di altar sebagai bentuk penghormatan atas jasa mendiang orangtua dan leluhur yang telah memberikan kita berbagai kebutuhan materi (sandang, pangan, dan papan) selama hidup. Karena di alam peta tidak ada pertanian atau perkebunan, tidak ada peternakan, tidak ada perdagangan, juga tidak ada pertukaran uang emas, maka mendiang yang menjadi terlahir di alam peta, hidup atas limpahan jasa-jasa  ini (Khuddaka Nikaya 1.7). Lantunan doa pada saat upacara amisa pūjā tidak sepatutnya hanya dilakukan oleh biksu atau pemimpin kebaktian, hendaknya juga diikuti dengan sungguh-sungguh oleh seluruh sanak saudara yang punya ikatan darah dengan leluhur, walaupun sudah berbeda keyakinan. Percayalah bahwa walaupun orangtua berbeda keyakinan dengan anaknya, mereka akan tetap mendoakan yang terbaik buat anak-anaknya.

 

Namun demikian, amisa pūjā tidaklah cukup. Amisa pūjā yang mungkin hanya dilakukan selama satu atau beberapa hari perlu dilanjutkan dengan paṭi-patti pūjā. Paṭi-patti pūjā adalah bentuk penghormatan dalam bentuk praktik (Anguttara Nikaya 2). Bentuk penghormatan ini jauh lebih tinggi dan lebih besar manfaatnya. Caranya adalah dengan praktik dāna, sīla, dan samādhi. Seseorang kerap berkecil hati karena tidak mampu melakukan kebajikan-kebajikan besar, sehingga dia kerap malas dan lupa untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil (Silagutto, 2020). Sesungguhnya, buah dari kebajikan tidak diukur dari besar kecilnya kebajikan tersebut, tetapi dari niat yang mendasari dan ukuran kebahagiaan yang dirasakan akibat kebajikan tersebut.

 

Dalam Sutra tentang Bakti Anak Kepada Orangtua, Buddha menjelaskan bahwa anak dapat pula membalas jasa kebaikan orangtua sewaktu masih hidup. Seseorang yang mendorong orangtuanya yang tidak percaya menjadi teguh dalam keyakinan. Seseorang yang mendorong orangtuanya yang tidak bermoral menjadi kokoh dalam disiplin moral. Seseorang yang mendorong orangtuanya yang kikir menjadi dermawan. Seseorang yang mendorong orangtuanya dari gelap batin menjadi bijaksana. Orang-orang tersebut telah melakukan cukup untuk membalas jasa kebaikan orangtuanya (Vijjānanda, 2012).

 

Sesungguhnya, tidaklah sulit untuk membalas jasa kebaikan orangtua. Dengan pengetahuan yang benar, seseorang yang bijaksana sepatutnya memahami, melakukan, dan memupuk kebajikan-kebajikan untuk membalas jasa kebaikan orangtuanya. Tidak perlu menunggu orangtua telah tiada, pahami dan lakukanlah sekarang, saat ini juga. Semoga dengan jasa-jasa kebajikan ini, orangtua hidup berbahagia. Semoga jasa-jasa kebajikan ini turut mengondisikan mendiang orangtua dan para leluhur untuk terlahir di alam bahagia.

 

Daftar Pustaka

Silagutto, Y. M. B. [Ratana Graha]. (2020, August 30). PUJA BAKTI PATTIDANA TJIT GWEE MINGGU 30 Agustus 2020 [Video file]. Retrieved from https://www.youtube.com/watch?v=25e8J5fkLKg

Vijjānanda, H. (2012). Jasa Orangtua, Bakti Anak. Jakarta: Ehipassiko Foundation.

 

Daftar Referensi

Khuddaka Nikaya 1.7. Tirokudda Kanda — Hungry Shades Outside the Walls. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/khp/khp.1-9.than.html#khp-7

Anguttara Nikaya 2.  Book of the Twos. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/index.html

Komentar via Facebook

Close