ArtikelNasionalOpini

Sudahkah Kamu Mengisi Data Sensus Penduduk Online 2020?

Oleh: Rendy Arifin

Pengisian Sensus Penduduk 2020 secara online sudah dibuka sejak tanggal 15 Februari 2020. Apakah kamu sudah mengisinya? Jika sudah, respek untuk kamu yang sudah berpartisipasi pada sensus penduduk online ini. Jika belum, tidak perlu khawatir karena sensus penduduk online ini yang awalnya ditutup tanggal 31 Maret 2020, kini diperpanjang hingga 29 Mei 2020.

Pasang Iklan

Selagi masa #stayathome ini berlangsung, tidak ada kata “saya sibuk”, “saya tidak ada waktu”, “gk ngerti cara ngisinya” karena mengisinya benar-benar mudah dan cepat. Kamu hanya perlu menyiapkan KTP dan Kartu Keluarga (KK) kemudian masuk ke link https://sensus.bps.go.id/login . Kamu bisa akses menggunakan komputer, tablet, ataupun smartphone.

Di halaman utama kamu diminta memasukkan NIK (Nomor Induk Kependudukan) dan nomor KK. Lalu di halaman berikutnya kamu diminta untuk membuat password. Kamu harus ingat password tersebut untuk dapat mengakses kembali atau mengubah data yang salah. Setelah itu kamu hanya perlu mengikuti dan mengisi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di setiap halamannya, seperti data rumah yang kamu tinggali (alamat lengkap, sejak kapan kamu tinggal di sana, penggunaan air dan listrik, dan lainnya), anggota keluarga (ada penambahan anggota atau tidak, masih hidup atau sudah meninggal), pekerjaan, pendidikan terakhir, agama yang dianut, suku apa, dan data-data umum lainnya. Kurang lebih 10 menit kamu sudah bisa menyelesaikan sensus penduduk online tersebut.

Untuk apa berpartisipasi dalam sensus penduduk online?

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), 32,4 juta penduduk atau sekitar 12,5 persen penduduk Indonesia telah berpartisipasi dalam pengisian sensus penduduk online pada periode 15 Februari – 31 Maret 2020. Bahkan sebesar 85,73 persen kualitas data yang diisikan termasuk dalam kualitas Grade A (Sangat Baik) dan Grade B (Baik).

Rencananya memang akan dijadwalkan Sensus Penduduk Wawancara pada tanggal 1-30 September 2020. Pastinya masih ada penduduk Indonesia yang memiliki keterbatasan teknologi untuk berpartisipasi dalam sensus penduduk online tersebut.

Sensus penduduk online ini akan meminimalisir kesalahan data atau penginputan secara manual yang dilakukan oleh para petugas, baik dari tingkat daerah maupun pusat. Kekeliruan data tersebut juga bisa terjadi karena adanya keluarga yang tidak bisa diwawancara dan tidak masuk dalam pencatatan. Alhasil, data penduduk yang keluar tidak sesuai dengan riil di lapangan. Hasil data penduduk ini juga berpengaruh pada anggaran negara di tingkat pusat dan daerah, salah satunya anggaran pada Kementerian Agama.

Partisipasi dari umat Buddha

Kalau nanti ada yang bilang data umat Buddha di Indonesia tidak sesuai dengan di lapangan, jangan salahkan pemerintah! Kembali lagi, sudahkah kamu berpartisipasi dalam sensus penduduk online kali ini? Jika belum, ayo segera isi. Jika sudah, ayo bantu promosi. Bahkan jika perlu, bantu isikan khusus untuk umat Buddha yang terkendala dengan teknologi.

Sumber: tirto.id

 

Hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1971 memperlihatkan porsi umat Buddha di Indonesia sebanyak 0,92 persen dari jumlah penduduk. Sekitar satu dekade kemudian, tepatnya pada 1980, peningkatannya hanya 0,04 persen menjadi 0,96 persen terhadap populasi Indonesia. Pada 2000, proporsi umat Buddha di Indonesia mencapai 1,1 persen atau setara dengan 2,3 juta penduduk di Indonesia. Sedangkan, pada sensus terakhir, yaitu pada 2010, jumlah penduduk yang beragama Buddha menurun menjadi 1,7 juta jiwa atau sekitar 0,72 persen dari populasi. Berbeda dengan agama lainnya, sekitar seperempat atau 24,82 persen masyarakat beragama Buddha masuk dalam kategori usia tua, atau di atas 50 tahun. Kelompok umur tersebut dari keseluruhan penganut Islam proporsinya sebesar 16,04 persen, dalam Kristen sebesar 14,36 persen, dan dalam penganut Katolik sebesar 15,64 persen. Besarnya porsi masyarakat pemeluk agama Buddha yang berusia lanjut inilah yang menjadi indikasi penurunan populasinya. Pertumbuhannya yang cenderung tetap pun menjadikan umat Buddha selalu menjadi kelompok minoritas di Indonesia. Sementara itu, jika melihat persebarannya, umat Buddha paling banyak berada di ibukota Jakarta dengan jumlah 317 ribu jiwa. Tentu saja karena Jakarta merupakan kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Sumber: tirto.id

 

Peran Sangha dan majelis bantu pemerintah

Dari data BPS tahun 2010, jumlah umat Buddha di Indonesia hanya berjumlah 1,7 juta jiwa atau sekitar 0,72 persen dari populasi Indonesia. Memang kualitas dalam hal spiritual penting tapi bukan berarti kuantitas dikesampingkan. Sangha dan majelis agama Buddha dirasa perlu mengawal sensus kali ini agar semua umat Buddha terdata dan jumlah umat Buddha yang muncul nantinya sesuai dengan riil di lapangan. Jika perlu, hasil  sensus penduduk online dikumpulkan kepada kepala vihara yang menjadi perwakilan dari Sangha dan majelis di setiap daerah. Perwakilan Sangha atau majelis ini bertugas untuk mendata umat mereka dan membantu pengisian jika mereka menemukan kendala. Setelah selesai, Sangha ataupun majelis bisa melaporkannya kepada Bimas Buddha di daerah masing-masing untuk mengawal data tersebut. Jika nanti hasilnya berbeda cukup signifikan, perlu dipertanyakan keakuratannya.

Selanjutnya, Sangha dan majelis perlu berkolaborasi dengan pemerintah dalam hal ini Ditjen Bimas Buddha untuk meningkatkan keyakinan umat Buddha dan melakukan upaya pencegahan dengan memperhatikan faktor pendidikan dan perekonomian umat Buddha yang bisa saja menjadi salah satu faktor perpindahan agama. Tingkatkan kuantitas dengan tetap menjaga kualitas.

Mari Sukseskan Sensus Penduduk Online 2020. Pastikan Anda Tercatat. Mari Bersama #MencatatIndonesia

 

Komentar via Facebook

Tags
Close