ArtikelKabar Dhamma

Simak 5 Tips Pemanfaatan Kekayaan dari Buddha

Oleh: Rendy Arifin

Di dalam Aṅguttara Nikāya III, ketika Buddha Gotama sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika, Beliau menjelaskan kepada Anāthapiṇḍika bahwa ada lima cara bagaimana seorang perumah tangga memanfaatkan kekayaannya.

Kekayaan yang dimaksud Buddha pun dihasilkan dengan cara yang benar, yang diperoleh melalui usaha bersemangat, dikumpulkan dengan kekuatan lengannya, dicari dengan keringat di dahinya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik. Mereka yang akan melakukan pemanfaatan kekayaan ini juga harus merasa bahagia.

Pasang Iklan

Berikut adalah 5 tips pemanfaatan kekayaan dari Buddha:

  1. Menyokong orangtua, suami/isteri, dan anak, serta menghidupi para pelayan dan pekerja

Sudah selayaknya kita memprioritaskan kekayaan kita untuk menyokong orangtua, suami/isteri, dan anak, seperti biaya kehidupan sehari-hari mereka, pendidikan, dan juga kesehatan. Selain itu, bagi yang memiliki pelayan maupun pekerja, baik di rumah ataupun di perusahaan, juga selayaknya memberikan gaji atau upah yang sesuai dengan pekerjaan mereka, sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupannya dengan baik.

  1. Berkumpul bersama teman dan sahabat

Kita bisa menyisihkan penghasilan kita untuk hangout bersama teman dan sahabat. Hal-hal sederhana seperti kulineran, travelling, dan nonton film bahkan konser band favorit. Tapi ingat, hal-hal yang dilakukan tidak boleh bertentangan dengan Pancasila Buddhis ya.

  1. Tabungan, Investasi, dan Asuransi

Tabungan

Buddha mengatakan agar kita memiliki persiapan jika suatu saat ada bencana menerpa, seperti kebakaran, banjir, pencurian, kecelakaan, dan bencana lainnya baik karena alam maupun ulah manusia.

Jadi, sebagai siswa Buddha, kita harus belajar menyisihkan penghasilan kita untuk keadaan tersebut yang mungkin suatu saat akan menghampiri kita. Semuanya kembali pada kemampuan kita masing-masing, bisa membuat tabungan khusus, investasi emas dan properti, atau memasukkan aset-aset dalam asuransi.

  1. Persembahan untuk sanak saudara, para tamu, para leluhur, raja, dan para dewa

Persembahan di sini bisa kita kategorikan menjadi 2 macam, yaitu persembahan fisik dan non-fisik. Persembahan fisik untuk sanak saudara dan para tamu bisa berupa makanan, minuman, dan lainnya. Biasanya, memang kita menyediakan makanan dan minuman kepada tamu maupun sanak saudara yang berkunjung ke rumah kita.

Untuk para leluhur dan dewa, bisa berupa sesajen atau sejenisnya tergantung dari kepercayaan masing-masing. Tapi, di dalam Buddhis, biasanya kita mengenal yang namanya Pattidana (pelimpahan jasa). Yang kita lakukan adalah non-fisik dengan melimpahkan jasa-jasa kebajikan yang telah kita perbuat.

Sedangkan persembahan untuk raja, biasanya berupa upeti atau pajak. Dengan taat membayar pajak, kita bisa membantu kemajuan dan kemakmuran suatu kerajaan atau negara.

  1. Persembahan kepada para petapa dan brahmana

Berdana kepada Biksu, Pertapa, atau Brahmana

Para petapa dan brahmana yang dimaksud ialah mereka yang menghindari kemabukan dan kelengahan, yang kokoh dalam kesabaran dan kelembutan, yang menjinakkan diri mereka sendiri, menenangkan diri mereka sendiri, dan berlatih untuk mencapai nibbāna.

Untuk saat ini, tentunya kita bisa berdana kepada Bhikkhu Sangha berupa empat kebutuhan pokok yang akan membantu pelatihan diri mereka hingga mencapai nibbāna.


Demikian lima pemanfaatan kekayaan yang disampaikan oleh Buddha Gotama. Tidak ada persentase untuk setiap macamnya karena semua kembali lagi kepada kemampuan dan prioritas kita.

Namun biasanya, urutan yang disampaikan oleh Buddha Gotama menggambarkan prioritas yang baiknya didahulukan, seperti yang terdapat dalam Dasa Puññakiriyavatthu, Catur Ariya Saccani, maupun Pancasila Buddhis. Yang terpenting dalam pemanfaatan kekayaan ini ialah dilakukan dengan penuh kebahagiaan dan mereka pun memperoleh kebahagiaan.

Referensi: 
https://pustaka.dhammacitta.org/ebook/theravada/Anguttara%20Nikaya%20Jilid%203.pdf
Komentar via Facebook

Tags
Close