ArtikelKabar Dhamma

Sepuluh Macam Daging yang Dilarang bagi Umat Buddha

Oleh: Rendy Arifin

Mungkin banyak yang bertanya atau mencari tahu apa saja makanan, dalam hal ini adalah daging yang dilarang atau tidak layak di konsumsi bagi umat Buddha. Umat Buddha sendiri dibagi menjadi dua kelompok yaitu gharāvāsa atau perumah tangga dan pabbajita atau petapa (dalam hal ini bhikkhu atau bhikkhuni). Sebenarnya bagi kaum perumah tangga, Buddha tidak pernah menyampaikan larangan tentang apa saja yang tidak boleh dikonsumsi. Di dalam Majjhima Nikāya, Buddha mengatakan bahwa makan bukan untuk kesenangan melainkan untuk ketahanan dan kelangsungan hidup. Itu pun disampaikan kepada para bhikkhu, bukan perumah tangga.

Paṭisaṅkhā yoniso piṇḍapātaṃ paṭisevāmi,

Pasang Iklan

Neva davāya na madāya na maṇḍanāya na vibhūsanāya,

Yāvadeva imassa kāyassa ṭhitiyā yāpanāya vihiṃsuparatiyā brahma-cariyānuggahāya,

Iti purāṇañca vedanaṃ paṭihaṅkhāmi navañca vedanaṃ na uppādessāmi,

Yātrā ca me bhavissati anavajjatā ca phāsu-vihāro cāti.

Merenungkan tujuan sebenarnya saya memakan makanan ini, bukan untuk kesenangan, bukan untuk memabukkan, bukan untuk menggemukkan badan, atau pun untuk memperindah diri, tetapi hanya untuk kelangsungan dan menopang tubuh ini, untuk menghentikan rasa tidak enak (karena lapar) dan untuk membantu kehidupan bersusila. Saya akan menghilangkan perasaan yang lama (lapar) dan tidak akan menimbulkan perasaan baru (akibat makan berlebih-lebihan). Dengan demikian akan terdapat kebebasan bagi tubuhku dari gangguan-gangguan dan dapat hidup dengan tentram.

 

Di dalam Kitab Mahavagga, Vinaya Pitaka, dijelaskan bahwa ada sepuluh macam daging yang tidak boleh dikonsumsi oleh para bhikkhu yaitu:

  1. Manusia
  2. Gajah
  3. Kuda
  4. Anjing
  5. Ular
  6. Singa
  7. Harimau
  8. Beruang
  9. Macan Tutul
  10. Hiena

Tidak sedikit yang bertanya-tanya, mengapa daging tersebut dilarang? Kok tidak ada daging ini atau itu? Sepuluh jenis daging yang dilarang oleh Buddha ini tentu ada penyebabnya.

 

Cerita dibalik larangan konsumsi daging tertentu

Ternyata sepuluh macam daging yang dilarang oleh Buddha memiliki latar belakang cerita yang berbeda-beda. Berikut cerita yang terdapat dalam Kitab Mahavagga, Vinaya Pitaka:

  1. Manusia

Ketika Buddha dan para siswanya sedang berdiam di Benares, ada dua orang penyokong Sangha yaitu Upasaka Suppiyā dan Upasika Suppiyā. Upasaka Suppiyā lalu mendatangi pondokan demi pondokan, bertanya kepada para bhikkhu, “Bhante, siapa yang sakit? Apa yang bisa disampaikan kepadanya?”.

Pada saat itu ada seorang bhikkhu yang sudah minum obat diare, lalu bhikkhu itu berkata kepada Upasika Suppiyā, “Saudari, saya sudah minum obat diare. Saya membutuhkan kaldu daging”. “Baiklah guru, akan dipersembahkan (kepadamu)”, jawab Upasika Suppiyā. Setelah tiba di rumah, ia langsung menyuruh pelayannya untuk mencari daging yang dibutuhkan. Namun setelah berkeliling ke pelosok desa, pelayan tersebut tidak menemukan sepotong daging pun yang siap santap dikarenakan hari ini bukanlah hari penyembelihan.

Tidak ingin bhikkhu tersebut keadaannya memburuk bahkan meninggal dunia, ditambah lagi ia sudah mengiyakan permintaan dari bhikkhu tersebut, Upasika Suppiyā mengambil pisau dan mengerat daging dari pahanya kemudian menyerahkannya kepada seorang pelayan perempuan dengan berkata, “Ayo, setelah mempersiapkan daging ini—di sebuah pondokan, ada seorang bhikkhu yang sedang sakit, persembahkan kepadanya dan jika seseorang menanyakan saya, katakan saya sedang sakit.”

Upasaka Suppiyā menemui isterinya yang sedang terbaring sakit dan menanyakan penyebabnya. Ia pun merasa bahagia dengan keyakinan dan bakti isterinya terhadap Buddha dan siswanya. Singkat cerita, Buddha Gotama menemui Upasika Suppiyā yang sedang sakit dan mengetahui penyebabnya. Beliau pun langsung mengadakan sidang Sangha dan bertanya kepada para bhikkhu, “Para Bhikkhu, siapakah yang meminta daging kepada Upasika Suppiyā?” Setelah Beliau selesai berbicara, bhikkhu tersebut berkata,

“Bhante, saya yang meminta daging kepada Upasika Suppiyā.”

“Sudahkah diberikan (kepadamu), Bhikkhu?”

“Sudah diberikan, Bhante.”

“Apakah kamu menggunakannya, Bhikkhu?”

“Saya sudah menggunakannya, Bhante.”

“Apakah kamu menanyakan kejelasan tentangnya, Bhikkhu?”

“Saya tidak menanyakan tentangnya, Bhante.”

“Bagaimana bisa kamu, manusia bodoh, menggunakan daging tanpa menanyakan kejelasan tentangnya? Manusia bodoh, kamu sudah menggunakan daging manusia. Manusia bodoh, ini tidak baik bagi mereka yang tidak (belum) yakin … ”

Setelah menegurnya, setelah menjelaskan alasannya, Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu, “Para Bhikkhu, ada orang-orang yang berbakti dan yakin; bahkan mereka rela mengorbankan daging mereka sendiri. Para Bhikkhu, kalian tidak boleh menggunakan daging manusia. Barang siapa menggunakannya, merupakan pelanggaran thullaccaya (pelanggaran berat). Para Bhikkhu, kalian juga tidak boleh menggunakan daging tanpa menanyakan kejelasan tentangnya. Barang siapa menggunakannya (demikian), merupakan pelanggaran dukkata (perbuatan salah).”

  1. Gajah

Ketika itu, seekor gajah milik raja mati. Karena terjadi kekurangan bahan makanan, orang-orang memanfaatkan daging gajah tersebut; mereka memberikannya kepada para bhikkhu yang berpindapata, dan para bhikkhu menggunakannya. Orang-orang memandang rendah, mengkritik dan menyebarluaskan hal ini dengan berkata,

“Bagaimana bisa para petapa ini, putra kaum Sakya, menggunakan daging gajah? Gajah adalah lambang seorang raja; jika raja tahu, dia pasti tidak senang.”

Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Bhagava. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, kalian tidak boleh menggunakan daging gajah. Barang siapa menggunakannya, merupakan pelanggaran dukkata.”

  1. Kuda

Ketika itu, seekor kuda milik raja mati. Karena terjadi kekurangan bahan makanan, orang-orang memanfaatkan daging kuda tersebut; mereka memberikannya kepada para bhikkhu yang berpindapata, dan para bhikkhu menggunakannya. Orang-orang memandang rendah, mengkritik dan menyebarluaskan hal ini dengan berkata,

“Bagaimana bisa para petapa ini, putra kaum Sakya, menggunakan daging kuda? Kuda adalah lambang seorang raja; jika raja tahu, dia pasti tidak senang.”

Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Bhagava. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, kalian tidak boleh menggunakan daging kuda. Barang siapa menggunakannya, merupakan pelanggaran dukkata.”

  1. Anjing

Ketika itu, karena terjadi kekurangan bahan makanan, orang-orang memanfaatkan daging anjing; mereka memberikannya kepada para bhikkhu yang berpindapata, dan para bhikkhu menggunakannya. Orang-orang memandang rendah, mengkritik dan menyebarluaskan hal ini dengan berkata,

“Bagaimana bisa para petapa ini, putra kaum Sakya, menggunakan daging anjing? Anjing menjijikkan, memuakkan.” Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Bhagava. Beliau berkata,

“Para Bhikkhu, daging anjing tidak boleh digunakan. Barang siapa menggunakannya, merupakan pelanggaran dukkata.”

  1. Ular

Ketika itu, karena terjadi kekurangan bahan makanan, orang-orang memanfaatkan daging ular; mereka memberikannya kepada para bhikkhu yang berpindapata, dan para bhikkhu menggunakannya. Orang-orang … menyebarluaskan hal ini dengan berkata,

“Bagaimana bisa para petapa ini, putra kaum Sakya, menggunakan daging ular? Ular menjijikkan, memuakkan.”

Maka Supassa, raja ular naga, mendatangi Sang Bhagava; “Bhante, ada ular-ular yang tidak berbakti dan tidak yakin, dan mereka bisa melukai para bhikkhu hanya karena masalah sepele. Bhante, alangkah baiknya jika para guru tidak menggunakan daging ular.”

Kemudian Sang Bhagava memberikan wejangan Dhamma kepada Supassa. Sang Bhagava menjelaskan alasannya dan berkata kepada para bhikkhu, “Para Bhikkhu, daging ular tidak boleh digunakan. Barang siapa menggunakannya, merupakan pelanggaran dukkata.”

  1. Singa

Ketika itu, para pemburu, setelah membunuh seekor singa, memanfaatkan dagingnya; mereka memberikannya kepada para bhikkhu yang berpindapata. Para bhikkhu, setelah menggunakan daging singa, tinggal di hutan (tetapi) singa-singa menyerang mereka karena mencium bau daging singa. Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Bhagava. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, daging singa tidak boleh digunakan. Barang siapa menggunakannya, merupakan pelanggaran dukkata.”

  1. Harimau

Ketika itu, para pemburu, setelah membunuh seekor harimau, memanfaatkan dagingnya; mereka memberikan daging harimau kepada para bhikkhu yang berpindapata. Para bhikkhu, setelah menggunakan daging harimau, tinggal di hutan (tetapi) harimau-harimau menyerang mereka karena mencium bau daging harimau. Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Bhagava. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, daging harimau tidak boleh digunakan. Barang siapa menggunakannya, merupakan pelanggaran dukkata.”

  1. Macan Tutul

Ketika itu, para pemburu, setelah membunuh seekor macan tutul, memanfaatkan dagingnya; mereka memberikan daging macan tutul kepada para bhikkhu yang berpindapata. Para bhikkhu, setelah menggunakan daging macan tutul, tinggal di hutan (tetapi) macan tutul menyerang mereka karena mencium bau daging macan tutul. Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Bhagava. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, daging macan tutul tidak boleh digunakan. Barang siapa menggunakannya, merupakan pelanggaran dukkata.”

(ada terjemahan yang menyebutkan juga macan kumbang)

  1. Beruang

Ketika itu, para pemburu, setelah membunuh seekor beruang, memanfaatkan dagingnya; mereka memberikan daging beruang kepada para bhikkhu yang berpindapata. Para bhikkhu, setelah menggunakan daging beruang, tinggal di hutan (tetapi) beruang-beruang menyerang mereka karena mencium bau daging beruang. Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Bhagava. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, daging beruang tidak boleh digunakan. Barang siapa menggunakannya, merupakan pelanggaran dukkata.”

  1. Hiena

Ketika itu, para pemburu, setelah membunuh seekor hiena, memanfaatkan dagingnya; mereka memberikan daging hiena kepada para bhikkhu yang berpindapata. Para bhikkhu, setelah menggunakan daging hiena, tinggal di hutan (tetapi) hiena-hiena menyerang mereka karena mencium bau daging hiena. Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Bhagava. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, daging hiena tidak boleh digunakan. Barang siapa menggunakannya, merupakan pelanggaran dukkata.”


Demikianlah sepuluh macam daging yang tidak boleh dikonsumsi oleh umat Buddha, dalam hal ini adalah para bhikkhu dan bhikkhuni. Tidak ada larangan konsumsi daging tertentu bagi perumah tangga tetapi jika ingin mengikuti referensi tersebut, ya sah-sah saja, tidak ada masalah. Semua kembali lagi kepada individu masing-masing. Sekali lagi Buddha mengingatkan bahwa makan hanya untuk kelangsungan hidup agar tubuh tetap sehat menjalani aktivitas sehari-hari, bukan untuk pemuasan nafsu indria.

 

Referensi:
https://itc-tipitaka.org/assets/tipitaka/Vinaya-4-Full.pdf

 

Komentar via Facebook

Tags
Close