ArtikelNasional

Menelisik Sejarah Hari Lahir Pancasila, Dasar Negara dan Falsafah Hidup Bangsa

Oleh: Tim Redaksi

Setiap tahun, tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahirnya Pancasila yang merupakan dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia. Sejak tahun 2017, melalui Kepres No. 24 Tahun 2016, Presiden Joko Widodo resmi menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari libur nasional, untuk memperingati Lahirnya Pancasila. Nah, sejarah apa yang melatarbelakangi Hari Pancasila ini?

Semakin Terdesaknya Jepang pada Perang Pasifik

Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya merupakan bagian dari Perang Dunia II yang terjadi di Samudra Pasifik dan wilayah Asia dari 07 Juli 1937 sampai 15 Agustus 1945. Perang ini melibatkan pihak Sentral (Jepang, Jerman Nazi, Italia, dan Thailand) dan pihak Sekutu (Amerika Serikat, Britania Raya, Belanda, termasuk Republik Tiongkok dan negara lainnya).

Pasang Iklan
Perang Pasifik Sekutu vs Sentral (Jepang)
Sumber: Wikipedia

Semakin terdesaknya Jepang menandakan perang ini segera berakhir. Pada 15 Agustus 1945, Jepang pun menyerah dengan menandatangani perjanjian bersama pihak Sekutu. Sebelum hari itu, pada 07 September 1944, Sidang Parlemen Jepang digelar untuk membahas tindakan-tindakan selanjutnya, termasuk menyangkut nasib wilayah jajahan Jepang, salah satunya yaitu Indonesia.

Kuniaki Koiso, Perdana Menteri Jepang, menyatakan bahwa Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia di kemudian hari. Janji “di kemudian hari” itu sebenarnya mengandung makna khusus dimana kemerdekaan Indonesia akan direalisasikan jika Indonesia turut membantu Jepang untuk melawan Sekutu dan memenangkan Perang Pasifik. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Jepang tidak ingin melepas Indonesia begitu saja, apalagi menyerahkannya kepada pihak Sekutu. Pernyataan itu dibuat juga supaya tidak terjadi pemberontakan di Indonesia.

Hal itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Lahirnya BPUPKI

BPUPKI resmi dibentuk pada 29 April 1945 dan diketuai oleh Radjiman Wediodiningrat. Wakil ketuanya yaitu Raden Pandji Soeroso dan Ichibangase Yoshio (wakil Jepang). Sidang perdananya digelar pada 29 Mei sampai 01 Juni 1945 di Gedung Chuo Sangi In (Gedung Pancasila) di Jakarta, untuk membahas dasar negara sebagai persiapan kemerdekaan.

Anggota BPUPKI saat itu berjumlah 70 orang dimana 62 orang berasal dari Indonesia dan 8 orang adalah orang Jepang (7 orang merupakan anggota kehormatan dan tidak memiliki hak suara).

Pada sidang tersebut, beberapa tokoh seperti Mohammad Yamin dan Dr. Soepomo berpidato untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara. Tiba pada hari terakhir sidang, 01 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan gagasannya yang dikenal dengan “Pancasila”. Kelima sila yang disampaikan yaitu Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sidang BPUPKI
Sumber: Wikipedia

Namun, setelah sidangnya selesai, belum ada keputusan bulat yang dihasilkan. Oleh karena itu, dibentuklah Panitia Sembilan yang beranggotakan Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, M. Yamin, Wahid Hasjim, Abdoel Kahar Moezakir, Abikusno Tjokrosoejoso, Haji Agus Salim, dan A.A. Maramis. Panitia kecil itu dibentuk untuk mendiskusikan kembali sila-sila dasar negara yang dikemukakan oleh Ir. Soekarno.

Hingga pada sidang Panitia Sembilan tanggal 22 Juni 1945, titik terang sudah ditemukan. Sila-sila Pancasila dari Ir. Soekarno berhasil dirumuskan dan dicantumkan dalam Mukadimah UUD 1945. Rumusan itu dikenal dengan “Piagam Jakarta” atau Jakarta Charter dimana sila-silanya adalah sebagai berikut.

  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pada 10 – 17 Juli 1945, sidang ke-2 BPUPKI digelar untuk membahas komponen persiapan kemerdekaan yang lain, termasuk rancangan Undang-Undang Dasar (UUD). Setelah itu, BPUPKI dibubarkan pada 07 Agustus 1945 dan dibentuklah PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada hari yang sama.

(Baca juga: Pancasila Sebagai Ideologi Jalan Tengah)

Berdirinya PPKI

Pada saat berdirinya PPKI, situasi sudah semakin sulit bagi Jepang. Hiroshima dibom-atom oleh Amerika Serikat pada 06 Agustus 1945. Begitu juga dengan Nagasaki, dibom-atom pada 09 Agustus 1945, yang membuat Jepang sudah kehilangan harapan. Maka dari itu, Jepang pun terpaksa merealisasikan janjinya untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia.

Adapun tujuan PPKI dibentuk adalah mempercepat persiapan kemerdekaan dan berdirinya pemerintahan Indonesia, mengesahkan Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945, mempersiapkan pemindahan kekuasaan dari Jepang, dan menyusun perangkat-perangkat pemerintahan Indonesia setelah kemerdekaan.

Semua anggota PPKI adalah orang Indonesia, berbeda dengan BPUPKI yang masih memiliki wakil dari Jepang. PPKI yang diketuai oleh Ir. Soekarno bersama wakilnya Mohammad Hatta memiliki anggota yang berasal dari beragam daerah. Ada 12 orang Jawa, 2 orang Sulawesi, 3 orang Sumatera, 1 orang Kalimantan, 1 orang Maluku, 1 orang Nusa Tenggara, dan 1 orang dari peranakan Tionghoa.

Pada 12 Agustus 1945, pimpinan PPKI (Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wediodiningrat) saat itu berada di Dalat, Vietnam. Mereka bertemu dengan Marsekal Hisaichi Terauchi (pimpinan tertinggi Jepang di Asia Tenggara) dan diberitahukan bahwa pemerintah Jepang memutuskan untuk menyerahkan kemerdekaan di Indonesia.

Proklamasi Kemerdekaan

Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan oleh Ir. Soekarno
Sumber: kompas.com

Setelah Jepang resmi menyerah kepada pihak Sekutu, Indonesia pun mendeklarasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan itu dilakukan tanpa menunggu persetujuan dari Jepang dan dilatarbelakangi oleh desakan kaum muda yang ingin memperoleh kemerdekaan sebagai usaha bangsa Indonesia sendiri, bukan pemberian atau “hadiah” dari Jepang. Padahal, Marsekal Terauchi sebenarnya menginginkan proklamasi kemerdekaan dilakukan pada 24 Agustus 1945.

Setelah proklamasi kemerdekaan, sidang perdana PPKI 18 Agustus 1945 diadakan untuk mengesahkan UUD 1945, menunjuk Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden, serta merancang perangkat atau departemen lainnya dalam pemerintahan.

Selain itu, pada sidang PPKI itu juga, Mohammad Hatta merevisi sila pertama “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, setelah berdiskusi dengan beberapa tokoh dengan tujuan merangkul kaum minoritas dan menghilangkan diskriminasi.

Hingga saat ini, butir-butir Pancasila — Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia — adalah fondasi terpenting yang menjadikan bangsa Indonesia tetap utuh dan bersatu.

Jika ingin mendeskripsikan Pancasila dengan 1 kata, maka kata itu adalah Gotong-Royong. Semangat gotong royong adalah semangat berkebangsaan bagi masyarakat untuk saling membantu. Semangat inilah yang harus kita tanamkan dalam diri kita, terutama pada masa pandemi Covid-19.

Membantu dalam mencegah penyebaran Covid-19 termasuk semangat gotong royong. Tetap berada di rumah jika tidak berkepentingan di luar, memakai masker, menjaga jarak, tidak menciptakan kerumunan, dan mematuhi protokol-protokol yang ada. Itulah contoh aksi gotong-royong yang diperlukan oleh bangsa Indonesia, tidak memandang ras, suku, agama, atau golongan tertentu.

Hari ini adalah tepat 75 tahun Hari Pancasila. Semoga Pancasila selalu menjadi bagian dari jati diri kita semua.


Referensi:

  1. Sejarah Hari Lahir Pancasila: Peran BPUPKI dan PPKI – tirto.id/sejarah-hari-lahir-pancasila-peran-bpupki-dan-ppki-cpMp
  2. Perang Pasifik – id.wikipedia.org/wiki/Perang_Pasifik
  3. Sejarah Hari Lahir Pancasila yang Diperingati 1 Juni 2020 Besok – https://news.detik.com/berita/d-5035637/sejarah-hari-lahir-pancasila-yang-diperingati-1-juni-2020-besok
Komentar via Facebook

Tags
Close