Opini

Rindu Indonesiaku yang Dulu

Oleh: Santutthi Palasari

Sungguh rindu dengan Indonesiaku yang dulu. Indonesiaku sejak dulu memang sangat luar biasa. Berbagai macam suku bangsa, agama, ras dan budaya berbaur menjadi satu kesatuan tanpa ada permasalahan. Aku rindu Indonesiaku yang tak mengungkit masalah siapa yang paling mendominasi Indonesia ini. Rasanya sungguh sakit jika mendengar hal itu berulang kali diucapkan oleh pemimpin negeri ini. Sungguh aku rindu Indonesia yang dulu.

Andaikan aku diberikan kesempatan berkata kepada para penguasa. Janganlah selalu mempermasalahkan segala aspek kebijakan berdasarkan siapa umat yang paling mayoritas di negara ini. Indonesia terdiri atas 6 agama besar yang perlu dijunjung tinggi. Segala bentuk kebijakan yang ada hendaknya bisa menyamaratakan agar tidak ada yang merasa iri. Terkadang perlakuan istimewa yang didapatkan dari negara, kurang disyukuri. Andaikan kau juga mengerti bagaimana posisi kami sebagai kaum yang hanya sebesar kotoran di ujung kuku. Tapi kami tak pernah mempermasalahkan hal itu kawan. Aku hanya rindu, Indonesiaku damai.

Pasang Iklan

Mari mengingat kembali kawan, ajaran baik yang pernah orangtua berikan ke kita sejak kecil. Ajaran yang selalu mengarahkan kita agar dapat hidup bahagia berdampingan dengan siapa saja tanpa memandang dia berasal dari suku mana, bahasanya apa, dia orang kaya atau miskin, bahkan kepercayaan apa yang dia anut selama ini. Apakah kita selamanya hanya akan hidup dengan orang yang mempunyai satu pandangan pemikiran dengan kita?

Jika saat ini Anda masih tetap egois untuk tidak mau memberikan kesempatan bagi teman Anda yang mempunyai pola pikir, keyakinan, bahasa bahkan kepercayaan yang berbeda dengan Anda untuk ikut berbaur bersama membangun Indonesia, maka perlu kita berpikir lebih dalam lagi, “Sebenarnya siapa kita?”. Sungguh indah indonesia ini jika kita sebagai penerus generasi bangsa mempunyai pemikiran yang lebih toleran, menghargai dan mau mengerti dengan semua hal yang ada di dekat kita. Jangan karena kita beda pendapat, pilihan, bahkan kepercayaan, Anda menjauhi bahkan menganggap teman kita sebagai musuh. Apakah hal itu pantas dilakukan kita sebagai generasi penerus bangsa?

Mencoba untuk bergaul dengan siapa saja, tanpa bertanya “agamamu apa?“ terlebih dahulu tentu akan sangat indah kawan. Mempunyai keyakinan yang sama, belum tentu tujuan hidup kedepannya juga sama. Walaupun kita berbeda dari segala aspek apapun, asalkan sama-sama mempunyai keinginan untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik, tentu akan sangat indah jika hal itu dapat terwujud.

Mari bersama-sama mencoba untuk mengubah pola pikir kawan. Jangan selalu mempunyai pemikiran karena kita berbeda keyakinan, kita tidak akan bisa hidup bersama dengan damai dan tenteram. Mumpung masih diberikan kesempatan menghirup segarnya udara Indonesia, ikutilah berbagai macam kegiatan dengan orang-orang yang mempunyai perbedaan dari segi cara pandang, keyakinan, bahasa bahkan suku yang berbeda dengan kita, asalkan mempunyai tujuan untuk sama-sama membangun Indonesia lebih damai, tenteram, bahagia, adil, dan makmur yang menjadi tujuan hidup sebenarnya di dunia ini. Melewati kegiatan tersebut, kita akan dipertemukan dengan orang-orang baru yang tentunya akan menambah pengetahuan kita tentang “indahnya arti sebuah perbedaan”. Janganlah kita selalu menutup diri, merasa takut untuk bergaul, berdiskusi bahkan bercerita dengan orang yang berbeda pandangan dengan kita. Mencoba membuka seluas-luasnya relasi dengan siapa saja, akan bermanfaat pada pengembangan batin kita untuk bisa lebih toleran.

Bangsa Indonesia sangat membutuhkan kita untuk memajukan negeri ini kawan. Semoga dengan tulisan ini dapat mengingatkan kembali kepada kita bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan segala perbedaan. Semoga kita senantiasa diberikan kelapangan hati untuk bisa memahami “Apa arti sebuah perbedaan sesungguhnya”.

Santutthi Palasari
- Mahasiswi Universitas Negeri Semarang
- Anggota PC HIKMAHBUDHI Semarang
Komentar via Facebook

Close