ArtikelKabar Dhamma

Puasa dalam Agama Buddha

Oleh: Bhikkhu Abhipuñño

Puasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah meniadakan makan, minum dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan keagamaan). Di Indonesia, puasa identik dengan para sahabat yang beragama Islam pada bulan Ramadhan. Tapi tahukah kamu jika di dalam agama Buddha juga mengenal adanya Puasa ?

Puasa di dalam pengertian agama Buddha bukanlah meniadakan makan dan minum sepenuhnya tetapi ada pengertian yang lebih lanjut di mana seorang umat Buddha bisa makan dalam jangka waktu tertentu, yaitu dari jam 6 pagi sampai dengan jam 12 siang. Sedangkan untuk minum tidak ada batasan waktu tetapi ada batasan mengenai minuman apa saja yang tidak dapat dikonsumsi ketika sudah melebihi jam 12 siang. Salah satu contohnya adalah susu. Jadi umumnya umat Buddha yang melakukan puasa hanya makan sebanyak dua kali pada saat pagi dan siang hari.

Pasang Iklan

Pada umumnya umat Buddha melatih diri  berpuasa dengan melakukannya saat hari Uposatha. Dalam penanggalan Buddhis, setiap bulannya terdapat empat hari Uposatha, yaitu tanggal 1, 8, 15, dan 22. Pada hari Uposatha ini, umat Buddha tidak hanya melatih diri dengan berpuasa makan setelah tengah hari, tetapi ada tujuh peraturan lainnya yang disebut dengan Atthasila (delapan aturan moralitas), diantaranya (1) tidak membunuh makhluk hidup, (2) tidak mencuri, (3) tidak melakukan hubungan seksual, (4) tidak bohong, (5) tidak minum-minuman keras maupun obat-obat yang dapat melemahkan kesadaran, (6) tidak makan setelah lewat tengah hari, (7) tidak menikmati hiburan (tarian, musik, pertunjukan, dan sejenisnya) dan memakai wangi-wangian maupun kosmetik untuk mempercantik diri, (8) menghindari penggunaan tempat duduk dan tempat tidur yang mewah. Jika dijumlahkan, dalam satu tahun terdapat 48 hari Uposatha.

Namun sebenarnya tidak ada batasan waktu bagi umat Buddha untuk melatih puasa ini. Singkatnya, puasa ini dapat dilakukan setiap hari selama dilakukan dengan penuh tekad dan semangat. Contohnya adalah para bhikkhu yang terus melatih diri melakukan puasa ini setiap harinya, bahkan selain berpuasa sebenarnya para bhikkhu juga menjalankan 227 peraturan setiap harinya.

Di era digital ini, sudah tidak sulit bagi umat Buddha untuk mencari kalender Buddhis dan melihat kapan Hari Uposatha setiap bulannya, di mana menjadi acuan untuk melakukan puasa pada saat hari Uposatha. Di sela padatnya aktivitas sebagai perumah tangga, biasanya ada event-event Buddhis tertentu ketika liburan sekolah ataupun liburan kerja, seperti pelatihan pabbaja samanera dan atthasilani yang didalamnya berlatih menjalankan puasa menurut agama Buddha. Tetapi sekali lagi ditekankan bahwa puasa dalam agama Buddha ini dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja selama terdapat tekad dan semangat.

Sang Buddha mengatakan bahwa tidak ada satupun yang tidak dapat mengakibatkan hasil jika sudah membuat sebab. Tentu saja sebuah bibit pohon yang baik akan menghasilkan pohon yang baik pula. Demikian juga apabila delapan latihan moral (atthasila) atau puasa dalam agama Buddha ini sudah dijalankan dengan baik, maka terdapat banyak manfaat yang diperoleh, baik secara ekonomi, kesehatan, maupun spiritual.

Secara ekonomis pengeluaran yang biasanya umat Buddha (khusus perumah tangga) lakukan akan berkurang. Misalnya pengeluaran yang berhubungan dengan sila kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan. Karena apabila seseorang melaksanakan atthasila, secara tidak langsung bisa mengontrol keinginan dan menekan pengeluaran yang tidak semestinya.

Umat Buddha yang melaksanakan atthasila juga mendapatkan manfaat secara kesehatan. Sila yang berhubungan dengan kesehatan, yaitu sila kelima. Karena sila kelima waspada terhadap makanan dan minuman serta zat-zat tertentu yang tidak cocok dengan kondisi tubuh. Jenis makanan dan minuman tersebut apabila dihindari maka akan bermanfaat dan menyehatkan tubuh.

Yang terakhir adalah manfaat secara spiritual. Umat Buddha akan memiliki kualitas bathin yang baik seperti bebas dari penyesalan dan kekhawatiran, mendapatkan kebahagiaan dan sewaktu meninggal hatinya tenang. Selain itu di kehidupan selanjutnya juga akan terlahir di alam bahagia. Dalam Digha Nikaya; Maha Parinibbana Sutta, Sang Buddha mengatakan : “Ia yang melaksanakan Sila dengan baik, nama harumnya tersebar luas hingga sampai ke alam dewa; Ia akan memperoleh kekayaan dunia dan Dhamma (lahir dan batin); Tanpa ketakutan dan keraguan; ia dipuji oleh orang yang bijaksana; meninggal dengan tenang; dan terlahir di alam surga.”

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa umat Buddha yang melaksanakan sila dengan benar maka manfaat yang diperoleh bukan hanya pada kehidupan saat ini, tetapi manfaatnya juga akan dirasakan hingga kehidupan selanjutnya.

Komentar via Facebook

Close

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-format="fluid"
data-ad-layout-key="-ib+c-1l-47+dr"
data-ad-client="ca-pub-3950220369927210"
data-ad-slot="4948202095"></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>