Artikel

Praktik Hidup Berkesadaran, Kenali Emosimu dan Kendalikanlah

Oleh: Rendy Arifin

Jika berbicara tentang emosi, itu bukan hanya berkaitan dengan luapan kemarahan tetapi berhubungan dengan berbagai macam perasaan yang ada dalam diri setiap orang. Sebut saja seperti kegembiraan, kesedihan, dan ketakutan. Umumnya memang kita sering mendengar kata ‘emosi’ dengan nada yang negatif, “Sabar dong… jangan emosi-an”. Padahal di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), emosi mengandung arti luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat; keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan). Ya memang benar sekali emosi itu bisa berubah dengan cepat. Beberapa menit yang lalu senang tapi mungkin detik ini ketakutan sedang menyelimuti kita.

Secara etimologi atau asal bahasa, emosi diambil dari bahasa Latin yaitu ‘movere‘ yang artinya “menggerakkan atau bergerak”. Kata ‘movere’ lalu ditambah dengan awalan ‘e’ yang artinya ”bergerak menjauh”. Berdasarkan asal bahasanya, emosi dapat juga diartikan sebagai suatu gejala dari psiko fisiologis yang akan menimbulkan efek pada persepsi, sikap dan tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk suatu ekspresi tertentu.

Pasang Iklan

Jenis-Jenis Emosi

Ternyata emosi bukan hanya terdiri dari 2 atau 3 bentuk, melainkan dapat dibedakan menjadi beragam istilah yang lebih cocok untuk menggambarkan apa yang sedang dirasakan pada saat itu. Beragam jenis emosi tersebut ialah:

  1. Cinta

Ini adalah salah satu emosi yang paling penting dalam kehidupan seseorang. Ia biasanya akan mencintai hal yang membuatnya bahagia, aman, dan nyaman. Perasaan cinta ini akan mengikat perasaannya dengan orang lain didekatnya seperti keluarga, teman, bahkan negaranya. Motivasi untuk berkorban demi orang yang dekat atau bagi negara akan lahir dari rasa cinta yang dimiliki. Rasa cinta juga yang membuat seseorang dapat merasakan berbagai hal seperti empati, belas kasihan, kemurahan hati, dan lain-lain.

  1. Benci

Lawan dari cinta adalah benci. Itu berarti seseorang yang merasakan emosi berupa kebencian akan merasakan ketidak sukaan kepada hal-hal yang tidak membuatnya bahagia, mendatangkan kesedihan, atau menyakiti dirinya. Emosi ini akan dapat memengaruhi tanggapan seseorang terhadap suatu peristiwa atau aktivitas tertentu.

  1. Takut

Salah satu emosi yang kerap dirasakan adalah takut. Ketika merasa terancam atau berada pada suatu situasi yang gawat, seseorang akan merasa takut karena merasa bahwa situasi itu dapat membuat dirinya tersakiti secara mental dan fisik. Namun rasa takut ini juga dapat memberikan manfaat bagi manusia, karena dapat membuat seseorang menjauhi bahaya dan merasakan inisiatif untuk memberikan perlindungan atau mencari perlindungan.

  1. Marah

Ketika suatu kehendak  atau harapan seseorang terhadap suatu hal tidak terpenuhi karena adanya hambatan tertentu, maka bisa saja emosi alami yang muncul adalah rasa marah. Misalnya, merasa diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Bila tidak dikendalikan, rasa marah ini dapat menjadi destruktif dan merusak diri sendiri serta orang lain. Hal ini penting dilakukan sejak masih berusia dini, contohnya mencari cara mengatasi anak pemarah agar tidak berlanjut menjadi seorang yang tidak bisa mengendalikan amarahnya. Karena itulah seseorang perlu memiliki pengendalian diri yang kuat untuk mengelola amarahnya sendiri.

  1. Malu

Perasaan ini akan timbul ketika seseorang merasa telah melakukan suatu perbuatan yang tercela atau mempertaruhkan harga dirinya. Seseorang bisa merasa malu apabila ia tahu bahwa perbuatannya itu adalah suatu hal yang buruk dan tidak etis, serta takut bahwa perbuatannya itu akan diketahui umum. Ada sisi positif dari perasaan malu, yaitu bisa memberikan ciri kepribadian yang positif dengan mencegah seseorang melakukan perbuatan yang salah seperti membunuh, mencuri, berzina, menggunakan narkoba, dan lain sebagainya.

  1. Dengki

Rasa dengki adalah emosi yang dimiliki oleh banyak orang, hanya kadarnya berbeda-beda setiap orang. Yang membedakan adalah kemampuan seseorang untuk mengelola perasaan negatif berupa dengki di dalam dirinya sehingga tidak menguasai seluruh tindakan serta sifatnya. Dengki muncul apabila merasa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain, rasa mencintai apa yang menjadi milik orang lain dan mengharapkan bahwa hal itu akan menjadi miliknya juga. Dengki juga bisa timbul karena tidak suka melihat kesuksesan orang lain dan berharap dirinya lah yang menjadi nomor satu.

  1. Cemburu

Ketika seseorang merasa cintanya tersaingi terhadap suatu objek tertentu, maka hal itu akan melahirkan perasaan cemburu dan semangat untuk bersaing memperlihatkan yang terbaik kepada objek cintanya. Emosi ini termasuk kepada perasaan yang menggelisahkan karena pada umumnya seseorang yang merasa cemburu tidak akan memperlihatkan perasaannya namun hanya menyimpannya dalam hati, karena anggapan bahwa memperlihatkan perasaan cemburu adalah perasaan yang memperlihatkan kelemahan seseorang. Sehingga ia akan gelisah sebelum dapat mengatasi rasa cemburunya tersebut.

  1. Gembira

Emosi gembira akan dirasakan apabila seseorang merasa bahagia, dan itu berarti ada suatu hal yang menyenangkan hatinya. Seseorang biasanya merasa gembira apabila mendapatkan hal yang baik dalam hidupnya, atau mendapati bahwa harapannya terkabul sesuai dengan apa yang dia inginkan sejak awal atau mendapatkan hal yang menjadi tujuannya.

  1. Terkejut

Emosi berupa perasaan terkejut akan dirasakan apabila seseorang tidak mempunyai persiapan atau tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Terkejut bisa meliputi perasaan terkesiap, takjub dan terpana, serta terkadang perasaan tidak siap dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Perasaan ini bisa menjadi emosi yang negatif maupun positif, tergantung kepada alasan yang membuat seseorang terkejut. Terkadang, perasaan terkejut bisa menjadi cara mengenali potensi diri seseorang dalam mengatasi suatu situasi yang tidak terduga.

  1. Sedih

Sedih adalah emosi yang dirasakan ketika seseorang mengalami hal yang mengecewakan dan menyakiti hatinya. Juga mengalami kehilangan sesuatu yang disayangi atau dicintai, misalnya ketika putus cinta atau mengalami kematian orang terdekat. Rasa sedih bisa meliputi duka cita, depresi jika mengalami kesedihan dalam waktu lama. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional dalam psikologi akan mampu mengelola rasa sedihnya sebelum mencapai tahap depresi.

 

Faktor Penyebab Emosi

Jenis-jenis emosi yang dijelaskan di atas dapat timbul karena beberapa faktor, namun secara umum faktor penyebab emosi disebabkan oleh dua hal, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

  1. Faktor Internal

Faktor penyebab timbulnya emosi yang berasal dari diri sendiri, yaitu perasaan seseorang. Perasaan yang timbul dari dalam diri merupakan faktor pemicu utama timbulnya emosi. Beberapa gangguan emosi dari faktor internal diantaranya:

  • Perasaan tidak mampu atau merasa bodoh.
  • Perasaan kecewa terhadap diri sendiri dan sekitarnya.
  • Perasaan cemas dan tidak percaya diri karena kekurangan dalam diri seseorang.
  • Perasaan sedih karena kurang kasih sayang.
  • Perasaan iri kepada saudara karena diperlakukan kurang adil.
  • dan lain sebagainya.
  1. Faktor Eksternal

Faktor penyebab timbulnya emosi yang berasal dari luar, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Lingkungan keluarga dan sekolah yang terlalu sering menyalahkan seseorang.
  • Perlakuan dari orang sekitar yang memperlakukan seseorang yang sudah dewasa seperti anak kecil.
  • Orangtua dan keluarga yang menentang hubungan percintaan seseorang.
  • Tuntutan yang terlalu banyak kepada seseorang dengan risiko mendapat hukuman jika gagal melaksanakannya.
  • dan lain sebagainya.

 

Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional (Bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Orang dengan EQ tinggi sering mampu untuk berkomunikasi secara efektif, berempati dengan orang lain, mengatasi kesulitan dan meredakan konflik. Pengetahuan dan pemahaman ini, sebagian besarnya, merupakan proses non-verbal yang membentuk pemikiran dan memengaruhi seberapa baik kita berhubungan dengan orang lain. Tidak seperti kecerdasan intelektual atau yang dikenal dengan IQ, EQ adalah kemampuan yang bisa dipelajari, bukan sesuatu yang kita bawa sejak lahir. Namun, mempelajari kecerdasan emosional tak ada artinya jika kita tidak menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata ada empat hal dalam hidup ini yang bisa berantakan jika kita tidak memiliki EQ yang baik, yaitu:

  1. Kinerja di sekolah atau pekerjaan

Kecerdasan emosional dapat membantu kita mengatasi masalah sosial di sekolah, tempat kerja, memimpin dan memotivasi orang lain, dan menjadi unggul dalam karir. Bahkan, jika sudah menyangkut penilaian calon karyawan, banyak perusahaan yang sekarang menganggap kecerdasan emosional sama pentingnya dengan kemampuan teknis dan menggunakan tes EQ sebelum mempekerjakan mereka.

  1. Kesehatan fisik

Jika tidak mampu mengatasi emosi, kemungkinan kita juga tidak bisa mengatasi stres. Ini dapat menyebabkan masalah kesehatan serius. Stres yang tidak terkendali bisa meningkatkan tekanan darah, menekan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, berkontribusi terhadap ketidaksuburan, dan mempercepat proses penuaan. Langkah pertama untuk meningkatkan kecerdasan emosional adalah dengan belajar cara meredakan stres.

  1. Kesehatan mental

Emosi dan stres yang tidak terkendali juga bisa berdampak pada kesehatan mental, membuat kita rentan terhadap kecemasan dan depresi. Jika kita tidak bisa memahami emosi yang muncul, tidak merasa nyaman dengan emosi kita, dan tak bisa mengatasi emosi kita, akan berisiko tidak mampu membangun hubungan yang kuat, yang mengakibatkan bisa membuat kita merasa kesepian dan terisolasi.

  1. Hubungan dengan orang lain

Dengan memahami emosi kita dan mengetahui cara mengatasinya, kita akan lebih mampu mengekspresikan bagaimana perasaan kita dan memahami perasaan orang lain. Ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi secara lebih efektif dan membangun hubungan yang lebih kuat, baik di tempat kerja maupun di kehidupan pribadi kita.

 

Cara Meningkatkan EQ

Jika kalian belum mengetahui berapa tingkat kecerdasan emosional yang dimiliki saat ini, sudah banyak tes EQ online yang dengan mudah ditemukan pada dunia maya. Seperti link test EQ berikut ini yang bisa kalian coba untuk ikuti tanpa dipungut biaya apapun:

https://www.arealme.com/eq/id/ atau http://sharequiz.net/q/102/

Apakah hasil test-nya memuaskan? Jika belum memuaskan atau ingin ditingkatkan, berikut ada tips untuk meningkatkan EQ yang tentunya tips-tips ini juga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Mengurangi emosi negatif

Mungkin inilah aspek EQ yang paling penting, yaitu kemampuan untuk mengatasi emosi diri secara efektif sehingga tidak membebani pikiran dan tidak memengaruhi kemampuan kalian dalam mengambil keputusan. Untuk mengubah perasaan negatif kalian tentang suatu situasi, pertama kalian harus mengubah cara berpikir kalian tentang hal tersebut. Misalnya, cobalah agar tidak mudah berprasangka buruk terhadap tindakan orang lain. Ingat, mungkin saja ada maksud baik di balik tindakan mereka.

  1. Berlatih tetap tenang dan mengatasi stres

Sebagian besar orang pasti pernah mengalami stres dalam kehidupan. Bagaimana Anda mengatasi situasi stres ini akan mempengaruhi EQ. Misalnya, apakah Anda bersikap asertif, atau reaktif? Tetap tenang, atau kewalahan?

Saat berada dalam tekanan, hal paling penting untuk diingat adalah menjaga diri tetap tenang. Misalnya dengan membasuh wajah dengan air dingin atau mulai berolahraga aerobik untuk mengurangi stres.

  1. Berlatih mengekspresikan emosi yang tak mudah

Ada masa-masa dalam kehidupan di mana Anda perlu untuk membuat batasan sehingga orang lain tahu di mana posisi Anda. Ini bisa mencakup:

  • memberanikan diri untuk tidak sependapat dengan orang lain (tanpa bersikap kasar)
  • berkata “tidak” tanpa merasa bersalah
  • menetapkan prioritas pribadi
  • berusaha mendapatkan apa yang berhak Anda dapatkan
  • melindungi diri sendiri dari tekanan dan gangguan
  1. Bersikap proaktif, bukan reaktif, saat berhadapan dengan orang yang memicu emosi kalian

Kebanyakan orang pasti pernah dihadapkan pada orang-orang yang menyebalkan atau mempersulit hidup kalian. Kalian mungkin akan ‘terjebak’ dengan orang seperti ini di tempat kerja atau bahkan di rumah. Sangat mudah untuk membiarkan orang-orang seperti ini memengaruhi dan merusak hari kalian. Kalian dapat mencoba menenangkan diri dulu sebelum berbicara dengan orang yang sering memicu emosi negatif di diri kalian, terutama ketika kalian merasa marah. Kalian juga bisa mencoba melihat situasi dari sudut pandang orang tersebut. Namun demikian, berempati bukan berarti mentoleransi perilaku yang tidak pantas. Kalian tetap perlu menekankan bahwa ada konsekuensi untuk segala hal.

  1. Kemampuan untuk bangkit dari kesulitan

Hidup tidak selalu mudah—semua orang tahu itu. Bagaimana kalian memilih untuk berpikir, merasa, dan bersikap saat dalam situasi sulit, sering kali bisa menentukan apakah kalian akan terus punya harapan atau malah putus asa, apakah kalian akan terus optimis atau malah frustrasi, dan apakah kalian akan mengalami kemenangan atau justru kekalahan. Dalam setiap situasi sulit yang dijumpai, ajukan pertanyaan seperti,

  • “Apa pelajaran yang bisa diambil di sini?”
  • “Bagaimana saya bisa belajar dari pengalaman ini?”
  • “Apa yang paling penting sekarang?”
  • “Jika saya berpikir dengan cara yang berbeda, apa ada jawaban yang lebih baik?”

Semakin tinggi kualitas pertanyaan yang kalian ajukan, semakin baik pula jawaban yang akan kalian dapatkan. Ajukan pertanyaan yang membangun berdasarkan proses belajar dan prioritas, dan kalian bisa mendapatkan sudut pandang yang tepat untuk membantu kalian mengatasi situasi yang sedang dihadapi.

  1. Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dalam hubungan pribadi

Kemampuan mengungkapkan emosi penuh kasih sayang sangat penting untuk mempertahankan hubungan pribadi yang erat. Emosi ini dapat tersampaikan melalui perkataan, bahasa tubuh, dan perilaku. Misalnya melalui kontak mata yang positif, senyum, mendengarkan dengan empati, atau sekadar menawarkan makanan. Kalian tidak hanya harus bisa berbagi perasaan mendalam dengan orang lain dalam hubungan pribadi kalian, namun juga harus dapat merespon dengan positif saat orang tersebut mengekspresikan emosi yang mendalam kepada kalian.

 

Hidup Berkesadaran Setiap Hari

Setelah kita mengetahui apa itu emosi, jenis-jenis emosi, dan berbagai faktor yang memengaruhinya, sebenarnya ada cara sederhana untuk dapat mengendalikan emosi tersebut, yaitu dengan cara hidup berkesadaran. Nyatanya memang apa yang kita ucapkan tidak semudah dengan apa yang akan kita lakukan. Hidup berkesadaran yang kedengarannya mudah tapi faktanya sukar untuk dilakukan. Hidup berkesadaran ini dilakukan kapan saja dan di mana saja dengan berbagai macam aktivitas. Tentunya menjalankan hidup berkesadaran ini dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Semakin sering diasah, maka akan semakin mudah untuk dilakukan. Hidup berkesadaran ini berhubungan erat dengan meditasi. Jika orang yang sering melatih meditasi, tentu akan mudah untuk menjalani hidup berkesadaran ini dalam kehidupan sehari-hari. Ada empat posisi meditasi yang dijelaskan oleh Buddha Gotama, yaitu duduk, berdiri, berjalan, dan berbaring. Keempat posisi ini sebenarnya adalah empat posisi umum yang dilakukan oleh manusia pada saat beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Secara tidak langsung, Buddha Gotama mengingatkan kita untuk hidup berkesadaran setiap saat, baik saat sedang duduk mendengarkan guru atau dosen menjelaskan, saat sedang berdiri menunggu kereta, saat sedang berjalan hendak menyebrang, dan saat sedang berbaring sambil menonton video online. Segala aktivitas yang kita lakukan harus disadari. Sadar itu akan membentuk fokus, dan dari fokus itu akan muncul pengendalian diri. Pengendalian diri ini yang akan menjadi pembatas untuk melakukan berbagai tindakan negatif yang disebabkan oleh munculnya emosi yang negatif.

Contohnya: ketika kita sedang mengendarai sepeda motor, lalu tiba-tiba ada pengendara lain yang ugal-ugalan dan hampir mengenai motor kita. Secara spontan rasa marah akan muncul dan mencoba mengambil alih diri kita. Jika rasa marah itu berhasil menguasai diri kita, tidak perlu menunggu lama, kita akan membunyikan klakson dengan keras bahkan mengeluarkan kata-kata yang kotor. Tidak sampai disitu, bisa saja kita akan mengejar pengendara tersebut lalu membalasnya. Sebaliknya, jika kita sudah terbiasa hidup berkesadaran, ketika ada kejadian seperti itu menghampiri, rasa marah itu pasti tetap muncul tapi penanganannya berbeda. Kita sadari rasa marah itu muncul, mencoba tenangkan diri dengan menarik nafas, dan kembali fokuskan diri kita dengan motor yang kita kemudikan.

Praktik hidup berkesadaran ini dapat kalian awali dengan rutin bermeditasi atau mengikuti kelas meditasi yang nantinya akan diajarkan tips dan cara melatih kesadaran. Jika kalian belum ada kesempatan untuk mengikuti kelas meditasi, cobalah mulai perhatikan nafas masuk dan keluar. Fokus dan amati keluar masuknya nafas tersebut. Kalian juga bisa membaca berbagai buku meditasi, video meditasi atau berdiskusi dengan sahabat kalian yang sering melakukan meditasi. Kuncinya adalah praktik secara continue, bukan sekedar teoritis belaka.

 

Hasil dari Pengendalian Emosi

Berbagai emosi yang muncul dan dapat dikendalikan oleh diri kita, disadari atau tidak, akan memberikan manfaat positif dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Goleman, kecerdasan emosi ini akan menghasilkan:

  1. Self-awarenessyaitu kemampuan manusia untuk secara akurat memahami diri sendiri dan tetap sadar terhadap emosi diri ketika emosi muncul, termasuk tetap mempertahankan cara manusia dapat merespons situasi tertentu dan orang-orang tertentu di dalamnya terdapat kesadaran emosi (emotional awareness), penilaian diri yang akurat (accurate self-assessment), dan kepercayaan diri (self confidence);
  2. Social Awareness,adalah kemampuan manusia untuk secara tepat menangkap emosi orang lain dan mengerti apa yang benar-benar terjadi, dapat diartikan memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan walaupun tidak merasakan yang sama, di dalamnya terdapat: empati, orientasi pelayanan (service orientation), kesadaran berorganisasi (organizational awareness);
  3. Self Management,adalah kemampuan untuk menggunakan kesadaran emosi manusia untuk tetap fleksibel dan secara positif mengarahkan perilaku diri manusia itu sendiri, yang berarti mengelola reaksi emosi manusia itu sendiri kepada semua orang dan situasi, di dalamnya terdapat: kontrol emosi diri (emotional self-control), dapat dipercaya (trustworthiness), teliti (conscientiousness), kemampuan beradaptasi (adaptability), dorongan berprestasi (achievement drive), inisiatif;
  4. Relationship Management, kemampuan untuk menggunakan kesadaran emosi manusia dan emosi orang lain untuk mengelola interaksi yang berhasil, termasuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif untuk mengatasi konflik, yang didalamnya terdapat memajukan orang lain (developing others), dapat memengaruhi (influence), komunikasi (communication), manajemen konflik (conflict management), dapat memimpin (visionary leadership), catalyzing change, membangun ikatan (building bonds), kerjasama dan berkolaborasi (teamwork and collaboration).

 

—————————————————–

Referensi:

 

Komentar via Facebook

Tags
Close