ArtikelOpini

Persembahan Doa Terbaik Pemuda Milenial untuk Pertiwi

Oleh: Feggy Alfa Syahfitri

Menciptakan negara yang damai adalah keinginan semua orang, bahkan hewan pun mengharap kedamaian dan kenyamanan saat berada di lingkungan manusia. Tetapi saat ini “damai” di Indonesia sedang pergi dan dibeli oleh para teroris dengan mengatasnamakan agama. Tindakan yang dilakukan teroris berhasil membuat Bhinneka Tunggal Ika pudar dibenak masyarakat. Sulit untuk seorang teroris menyadari kebenaran bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah salah dan membahayakan. Peran pemuda sangat penting, dalam hal ini agar dapat mempersembahkan dan melakukan perbuatan baik dari hal terkecil untuk sesuatu yang besar. Di hari yang suci ini, perbuatan tersebut  untuk mewakili semangat generasi muda bahwa Indonesia ingin damai. Ayo bawa kembali kedamaian itu ke negeri pertiwi. Dalam kamus sejarah nasional, peran pemuda terekam begitu kentara akan sumbangsihnya terhadap negeri ini. Setiap perubahan yang terjadi di negeri ini, tidak lepas dari peran pemuda. Peran pemuda tidak bisa diremehkan.

Hari Waisak sebagai hari suci dalam agama Buddha tentunya akan mendatangkan berkah berkali-kali lipat. Jatuh pada tanggal 29 Mei 2018, Hari Waisak dirayakan dengan penuh suka cita oleh umat Buddha di Indonesia. Pada Hari waisak ini biasanya ada sebuah ritual yang diberikan secara khusus kepada umat Buddha untuk berbuat kebajikan. Ini merupakan awal baru untuk memulai hari yang lebih baik dari hari sebelumnya. Pemuda dan pemudi Buddhis lah yang harus berperan penting dalam pergerakan damai ini. Di era milenial ini, pemuda adalah tombak bagi bangsa ini. Barang siapa yang membunuh makhluk hidup, suka berbicara tidak benar, mengambil apa yang tidak diberikan, merusak kesetian atau menyerah pada minuman yang memabukkan, maka orang seperti itu seakan menggali kubur bagi dirinya sendiri. Hal inilah yang harus dijauhkan dan dihindari dari dalam diri pemuda agar terwujudnya negeri yang damai. Memang tidak mudah untuk mengendalikan hal yang jahat, bahkan menahan diri untuk mencapai kedamaian batin sangatlah butuh keikhlasan dalam diri ini. Wahai pemuda Buddhis, marilah bergerak bersama untuk melihat kenyataan bahwa pertiwi sedang menunggu doa terbaik dari kita semua. Dengan bersama kita kuat, dengan berbagi kita bisa. Ingatlah bahwa kita tidak sendirian!

Pasang Iklan

Kita sebagai pemuda harus bangun dan jangan lengah untuk kehidupan yang lebih baik. Semua yang baik patut diperjuangkan sampai hayat menjemput, seperti yang telah dilakukan oleh para pahlawan, Buddha, dan juga para ariya. Tidak ada kata sia-sia atas perjuangan yang telah kita lakukan. Maka dari itu, kita sebagai pemuda milenial jangan sampai menyia-nyiakan perjuangan yang telah dilakukan sebelumnya. Dalam kitab Dhammapada Bab III (Citta Vagga), pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap, sulit dijaga dan sulit dikuasai, namun orang bijaksana akan meluruskannya bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.

Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda beda tetapi tetap satu adalah semboyan bangsa Indonesia yang menggambarkan bahwa Indonesia terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, agama dan kepercayaan yang bisa kita jadikan patokan awal untuk menciptakan Indonesia damai. Semboyan ini wajib digaungkan kembali kepada masyarakat Indonesia. Ada banyak tugas yang bisa dilakukan oleh pemuda milenial dan harus diselesaikan secara estafet, diantaranya:

a. Pergerakan komunitas damai

Setiap zaman memang punya pelakunya sendiri. Hal ini mengisyaratkan bahwa tantangan saat ini sungguh berat dan berbeda. Dalam konteks inilah pemuda milenial yang mempunyai satu misi bergabung dalam satu ikatan atau payung organisasi untuk menyebarkan perdamaian melalui tindakan yang diiringi doa terbaik bersama masyarakat untuk melawan terorisme, radikalisme, indoktrinasi yang menuai kejahatan dan mengecam persatuan Indonesia, terutama di dunia maya.

b. Edukasi cinta tanah air

Setiap pergerakan positif pasti akan ada tindakan negatif, begitulah yang dilakukan beberapa orang untuk mematahkan semangat pemuda milenial dan memecah belah bangsa dengan berbagai cara. Orang tersebutlah yang sebenarnya haus akan edukasi cinta tanah air yang harus dirangkul dan diberikan ketenangan jiwa.

c. Cermat akan berita HOAX yang membuat perpecahan

Berdasarkan laporan berjudul Essential Insight Into Internet, Social Media, Mobile and E-Commerce Use Around the World yang diterbitkan pada tanggal 30 Januari 2018 lalu, dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna aktif media sosial mencapai 130 juta jiwa dengan presentasi 49 persen dan sisanya hanya aktif selama sepekan dan sebulan. Tak bisa dielakkan lagi bahwa saat ini pengguna sosial media didominasi oleh pemuda milenial dan generasi Z. Hal ini sebaiknya dimanfaatkan para pemuda Buddhis untuk terlibat dalam menyebarkan pesan, harapan atau doa damai dan membantu pemerintah untuk mencegah berita hoax yang mengandung radikal dan doktrin dengan tujuan memecah belah bangsa Indonesia.

d. Menghormati tokoh bangsa

Cara yang paling sederhana dalam menghormati tokoh bangsa adalah ikut serta dalam hari penting Indonesia. Seperti Hari Peringatan Pembela Tanah Air, Hari Peringatan Bandung Lautan Api, Hari Kartini, Hari Kebangkitan Nasional, Hari Reformasi, Hari Lahir Pancasila, Hari Kemerdekaan, Hari Sumpah Pemuda, dan masih banyak lagi. Dengan adanya peringatan hari-hari tersebut mengingatkan kita akan perjuangan dan makna dari sejarah tersebut. Sebagai pemuda, tugas kita adalah meneruskan kembali perjuangan yang belum terselesaikan dalam mewujudkan Indonesia damai.

e. Cintai hewan dan alam sekitar

Harus disadari bahwa kita hidup di dunia ini bersama makhluk hidup lainnya yang juga memerlukan makanan. Dengan cara kita menjaga lingkungan seperti buang sampah pada tempatnya dan bukan di lautan, secara tidak langsung kita telah mempengaruhi populasi hewan di lautan. Bukan hanya itu, kita sebagai pemuda milenial juga bisa menjaga hewan jalanan yang kerap sering ditemukan dalam kehidupan kita, seperti anjing dan kucing yang saat ini sering dianiaya oleh manusia. Hal ini tentu saja bisa diakibatkan oleh anak kecil yang tidak memahami cara mengasihi makhluk hidup karena melihatnya di dunia maya atau bahkan secara langsung dalam kesehariannya. Gerakan menanam pohon untuk bumi yang lebih go green dan memberikan makanan pada hewan jalanan sebaiknya ditambah pada saat kegiatan perayaan Hari Waisak, yang mana penggeraknya adalah pemuda milenial  agar masyarakat yang lain terinovasi dalam hal berbagi sesama makhluk hidup dan tumbuhan. Percayalah bahwa menjaga lebih baik daripada memperbaiki yang telah rusak.

Apapun yang dilakukan pasti ada efek sampingnya, baik itu positif ataupun negatif, dan itu adalah pilihan. Tinggal kita saja sebagai pemuda yang menentukan pilihan itu sendiri. Menjadi panutan diantara masyarakat adalah hal baik yang belum bisa dilakukan semua orang. Tidak menjadi koruptor di negara sendiri, menjaga hakikat perdamaian antar budaya bangsa dan agama. Tiada api yang menyamai nafsu, tiada kejahatan yang menyamai kebencian, tiada penderita yang menyamai kelompok kehidupan (khanda), dan tiada kebahagiaan yang lebih tinggi dari kedamaian abadi. Semoga dengan harapan gerakan kecil ini pemuda milenial dapat mempersembahkan doa terbaik untuk negeri pertiwi.

Komentar via Facebook

Close