Artikel

Perkembangan Agama Buddha di Dunia Kontemporer

Oleh: Eddy Setiawan

Ketika burung-burung besi beterbangan di udara,

kuda-kuda berlari dengan roda-roda,

Pasang Iklan

orang Tibet akan menyebar seperti semut ke seluruh dunia,

dan Dharma akan tiba di negeri orang berkulit merah.

Guru Rimpoche, Abad ke-8 M

 

Ajaran Buddha saat ini telah menyebar ke seluruh pelosok dunia, menjadi pegangan bagi sekitar 1.6 Milyar manusia dari berbagai negara, ras, etnis, diantara kalangan beragama maupun tidak beragama. Angka 1.6 Milyar adalah perhitungan liberal dari penelitian Dr. David N Synder, sedangkan dengan perhitungan yang lebih konservatif Synder menetapkan angka 1.2 Milyar. Abad ke-21 menjadi saksi berbagai perubahan cepat akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan  teknologi yang juga lahir dari kreatifitas pikiran manusia modern. Hal inilah yang tampaknya sedikit banyak memberikan angin bagi perkembangan Buddhis, karena ajaran Buddha sangat menitikberatkan pada masalah pikiran. Selain itu, kompleksitas yang lahir sebagai produk manusia sendiri, tanpa disadari telah semakin menjauhkan manusia dari hakikat diri yang sesungguhnya, sehingga kebahagiaan menjadi sesuatu mahal, dan penderitaan semakin dapat dirasakan oleh setiap insan, lagi-lagi ajaran Buddha menawarkan solusi yang dapat langsung dirasakan di sini dan sekarang juga.

Perkembagan agama Buddha di negara-negara Eropa, Amerika, Australia, Afrika hingga Timur Tengah beberapa tahun belakangan ini menunjukkan sinyal yang positif, dengan semakin dipahaminya ajaran Buddha secara benar, dan penerapannya pun mulai tampak, dalam sistem pendidikan, budaya, sosial, ekonomi, bahkan politik. Meditasi telah menjadi kebutuhan, bahkan tren karena mereka telah merasakan sendiri manfaat meditasi, di sebagian sekolah di negara-negara barat sebagian telah menjadikan meditasi sebagai salah satu praktik, bahkan di Kanada ada program meditasi bagi polisi. Pusat-pusat Buddhis juga terus berkembang, sebagian oleh imigran dari negara-negara Buddhis tradisional seperti Tibet, Thailand, Taiwan, Srilanka dan lain-lain, namun yang menggembirakan adalah sebagian besar lainnya oleh masyarakat setempat sehingga dapat diharapkan akar yang tumbuh akan kuat dan kokoh untuk menopang perkembangan ke depan.

 

Asia yang Tak Pernah Padam

Benua Asia adalah salah satu pusat perkembangan tradisional ajaran Buddha, yang telah menyaksikan dan menjadi sasaran kaum misionaris selama berabad-abad. Namun Buddhis Asia memiliki kelenturan yang di satu sisi dapat menjadi kelemahan namun di sisi lain ternyata merupakan kekuatan sehingga sampai saat ini hampir di semua negara Asia, agama Buddha masih menjadi mayoritas , kecuali untuk kasus Indonesia yang mayoritas Islam, demikian juga dengan Malaysia dengan catatan Buddhis merupakan agama terbesar kedua di Malaysia, sementara hanya Filipina yang mayoritas Katolik, sedangkan yang mayoritas Kristen tidak ada. Propaganda menyesatkan banyak beredar, sehingga seolah-olah agama tertentu telah menjadi mayoritas, kenyataannya tidak demikian. Korea Selatan adalah contoh betapa propaganda yang demikian gencar bahwa Buddhis telah ditinggalkan disana. Memang jumlah penganut Buddha secara statistik berkurang di Korsel, hingga saat ini data resmi menyatakan komposisi agama di Korea adalah Atheis 35%, Buddha 30%, Kristen 17%, Katolik 13%, lain-lain 5%, maka wajar Pemilu terakhir terpilih seorang atheis yang memiliki kedekatan kultural dengan komunitas Buddhis dan Katolik, menjadi seorang presiden. Sebelumnya, dua periode Korsel dipimpin presiden yang melahirkan banyak kontroversi keagamaan, misal penerbitan peta pariwisata Korea yang tidak menyertakan lokasi vihara-vihara tua sementara gereja yang usianya jauh lebih muda ditampilkan, dan beberapa kebijakan lainnya yang merugikan perkembangan agama Buddha sehingga beberapa kali mendapat reaksi cukup keras hingga sempat terjadi demonstrasi sekitar dua ratus ribuan umat Buddha di Seoul.

Negeri lain di Asia yang patut menjadi perhatian adalah Tiongkok, karena bisa menjadi kasus menarik bagi perkembangan Buddhis di dunia dewasa ini, sejak pemerintah sedikit melonggarkan aturan terkait agama di sana. Partai Komunis Tiongkok tampaknya menyadari bahwa perkembangan pesat perekonomian negerinya telah melahirkan kelas menengah dan atas yang demikian besar dan cepat, namun tanpa diimbangi spiritualitas maka masyarakat yang terbentuk sangat rentan dan rapuh. Maka pemerintah komunis Tiongkok mulai memberi ruang bagi praktik agama meski dalam pengawasan cukup ketat, selain itu, perhitungan kapital terhadap berbagai peninggalan Buddhis yang tersebar hampir di seluruh negeri tersebut tentu menjadi salah satu pertimbangan lain, terbukti berbagai vihara kuno, gua-gua meditasi, patung Buddha berukuran besar, seni ukir di bebatuan dan lain-lain saat ini telah menjadi salah satu daya tarik pariwisata dan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitarnya.

Jumlah orang Tiongkok yang mengidentifikasi diri sebagai Buddhis menurut para pengamat diperkirakan mencapai angka 800 juta hingga 1 milyar jiwa, dengan 28.000 buddhist monasteries, 16.000 vihara, dan 240.000 bhiksu dan bhiksuni. Selama ini, dalam perhitungan jumlah penganut agama di dunia, rakyat Tiongkok tidak dihitung, sebab pemerintah Tiongkok tidak pernah melansir data resmi jumlah penganut agama di Tiongkok, demikian juga dengan Korea Utara sehingga jumlah penganut Buddha di seluruh dunia diposisikan pada angka 500 juta orang, terutama sebelum 2010.  Hal ini tidak terlepas dari kurangnya pemahaman terhadap praktik ajaran Buddha yang berspektrum sangat luas, dari yang mirip agama terorganisasi sehingga mungkin lebih mudah dikenali dan dihitung, hingga yang mendekati praktik asketisme. Di Jepang misalnya, praktik ritual mungkin berkurang dan seolah Jepang sepenuhnya sekuler, namun jika diamati lebih dalam maka nilai-nilai Buddhis terutama Zen justru dipraktikkan dalam berbagai cara, misal dalam acara minum teh, bela diri, praktik hidup minimalis, pembuatan taman meditatif, bahkan ada semacam kafe dimana pengunjungnya bisa ngobrol santai dengan bhiksu yang menjadi barista dari obrolan ringan sampai filosofi.

Partai Komunis Tiongkok meski sudah memberi sedikit kebebasan kepada rakyat Tiongkok dalam praktik keagamaan, namun bagi pengurus partai ada larangan untuk terlibat kegiatan keagamaan. Namun dalam praktiknya, banyak pengurus partai tidak terlalu mengindahkan larangan tersebut bahkan tidak sedikit yang belajar agama Buddha dari para Lama Tibet. Oleh karena itu, banyak pihak berharap bahwa agama Buddha bisa menjadi bahasa diplomasi antara Tiongkok dan Tibet yang sesungguhnya hanya meminta otonomi khusus untuk melindungi kultur Tibet dan kebebasan beragama di sana. Hubungan dengan Tiongkok dengan Taiwan juga unik, meski secara politik sulit mencari titik temu, namun dalam praktik keagamaan banyak anak-anak muda Tiongkok yang memilih menjadi bhiksu belajar di pusat-pusat Buddhis di Taiwan, dan saat ini banyak diantaranya menjadi pimpinan vihara di Tiongkok atau sedang mengembangkan vihara-vihara baru. Organisasi Buddhis seperti Tzu Chi yang berasal dari Taiwan memiliki simpatisan dan relawan dalam jumlah cukup besar di Tiongkok, dan kerap memberi bantuan saat terjadi berbagai bencana, setidaknya dari kedua hal tersebut dapat dilihat bahwa hubungan People to People sudah mencapai titik kemajuan dibandingkan G to G yang tentu sulit dicapai dengan paradigma saat ini. Tiongkok saat ini mengakui lima agama, yaitu Buddha, Tao, Kristen, Katolik, dan Islam.

India adalah negara lain di Asia dengan kepadatan penduduk yang demikian tinggi, kedua setelah Tiongkok. Umat Buddha di India yang terhitung secara statistik masih sangat jauh dari kenyataan sesungguhnya. Keberadaan kaum Dalit/Paria/untouchable yang telah memeluk agama Buddha sampai saat ini tidak pernah dimasukkan dalam data resmi pemerintah India. Pemerintah India beberapa tahun belakangan juga sedikit banyak meniru langkah Tiongkok dalam hal mengembangkan peninggalan-peninggalan Buddhisnya, bahkan India saat ini memiliki rute kereta khusus untuk paket dharmayatra ke tempat-tempat suci agama Buddha, namun tetap soal angka tidak berubah.

Kaum dalit mulai beralih keyakinan menjadi Buddhis ditandai dengan visudhi Dr. Ambedkar, Bapak Konstitusi India, tokoh yang meng-endorse roda dharma pada bendera India, bersama ribuan pengikutnya. Sejak itu, setiap tahun kaum dalit dan kaum terdiskriminasi lainnya melakukan upacara yang disebut dhiksabumi di Maharastra, tepatnya di sebuah cetya tempat Dr. Ambedkar di visudhi. Setiap tahun pula ribuan orang melaksanakan visudhi, mengucapkan perlindungan pada Buddha, Dharma, dan Sangha serta berikrar menjalankan nilai-nilai kemoralan sesuai ajaran Buddha. Suasananya mirip seperti naik haji, cetiya yang sesungguhnya berukuran cukup luas seolah menjadi kecil di tengah puluhan ribu umat Buddha yang berpradaksina mengitari cetiya tersebut.

Malaysia dan Indonesia memiliki karakteristik tersendiri, Malaysia yang terdiri dari 3 etnis besar yaitu Melayu, Tionghoa, dan India juga terbagi demikian dalam hal agama. Melayu diidentikkan dengan Islam, Islam adalah Melayu, Melayu adalah Islam, sementara sebagian besar Tionghoa dan India di Malaysia beragama Buddha, jumlahnya sekitar 25% penduduk Malaysia. Di Malaysia agama di korelasikan dengan etnistitas, sementara di Indonesia yang juga mayoritas Islam, agama tidak identik dengan etnistitas. Agama Buddha dipeluk oleh rakyat Indonesia dari berbagai suku seperti Jawa, Sunda, Dayak, Bali, Tionghoa, Sasak, Batak, Tengger, Flores, Lampung, Sumba, Maluku dan lain-lain. Meskipun masih ada kecenderungan menganggap umat Buddha hanya orang Tionghoa, salah kaprah kolonial Belanda yang masih tertanam di alam bawah sadar sebagian rakyat dan pejabat.

Penjajah Belanda tidak memiliki pemahaman terhadap agama Buddha yang mereka kenal melalui praktik Chinese Buddhism oleh orang-orang Tionghoa di Batavia. Dewan Gereja Batavia selalu menentang dan melancarkan protes keras terhadap upaya pendirian tempat peribadatan umat Buddha Tionghoa, yang di kemudian hari disebut dengan istilah khas di Jawa sebagai klenteng, ada juga istilah Pekong dan Bio, sementara di daerah Timur Indonesia seperti Banyuwangi, Bali, Lombok, dan lain-lain disebut Konco. Belanda mengangap praktik Chinese Buddhism sebagai penyembah berhala, iblis, penuh tahayul dan sesat, bahkan opera jalanan yang kerap dipentaskan ketika masa itu juga tak luput dari protes dan pembubaran.

Hal inilah yang menyebabkan beberapa tempat ibadah  yang didirikan komunitas Tionghoa di Batavia dihancurkan sesaat setelah didirikan, dan baru sekitar 1650 sejak berdirinya Batavia 1619, komunitas Tionghoa berhasil mendirikan Kwan Im Teng di daerah Petak Sembilan yang sekarang disebut Glodok,  kemungkinan karena posisi ekonomi dan politik orang Tionghoa di Batavia telah sangat membaik. Jadi meski Gubernur Jenderal tetap menerima protes dari Dewan Gereja Batavia, bahkan sempat melaporkan langsung ke negeri Belanda, tapi Kwan Im Teng pertama di nusantara tersebut tetap berdiri, dan mulai berfungsi sebagai tempat memuja Kwan Im atau Avalokiteswara. Pasca Geger Pecinan 1740, yang diikuti perlawanan pertama oleh orang Tionghoa yang bekerjasama dengan orang Jawa terhadap Belanda, Kwan Im Teng hancur dan dibangun kembali serta diberi nama Jin De Yuan, tampaknya saat renovasi inilah asrama untuk para bhiksu dibangun, sehingga keterangan tempatnya menggunakan “Yuan” yang menyiratkan adanya tempat berlatih diri bagi para bhiksu dan calon bhiksu.

Pada masa Orde Baru yang sangat diskriminatif terhadap segala sesuatu yang berbau Tiongkok, bahkan mengeluarkan berbagai peraturan diskriminatif terhadap orang Tionghoa, termasuk larangan terhadap adat istiadat Tionghoa, pembatasan penggunaan bahasa dan aksara Tionghoa, maka pengurus Jin De Yuan menyesuaikan nama menjadi Wihara Dharma Bhakti. Sementara Kwan Im Teng yang dibangun sejaman di daerah Banten, Cirebon, dan lain-lain oleh pengurus pada umumnya disesuaikan menjadi Wihara Avalokitesvara, atau Wihara Dewi Welas Asih yang tak lain hanyalah terjemahan Sansekerta dan Indonesia dari Kwan Im, sedangkan kata keterangan tempat Tang/Bio/Khong/Sie dan lain-lain diterjemahkan sebagai vihara.

Maka ada kecenderungan penjajah Belanda menganggap hanya orang Tionghoa yang beragama Buddha dengan tempat ibadahnya yang juga khas Tionghoa. Salah paham ini berlanjut sampai  masa Orde Baru, sehingga umat Buddha dari suku lain kerap menghadapi pertanyaan sinis “Kamu bukan Cina khan?” saat mengurus KTP, bahkan seringkali KTP yang diterbitkan ketika itu langsung dituliskan Islam oleh petugas karena cara pandang yang salah kaprah. Namun masa Orde Baru juga menjadi saksi perkembangan tempat ibadah umat Buddha yang lebih akomodatif, dengan mengadopsi arsitektur lokal, negara Buddhis seperti Thailand, hingga arsitektur modern minimalis. Khusus aliran Mahayana masih menampilkan ragam hias Tiongkok secara terbatas di bagian luar. Semua ini  adalah mekanisme pertahanan diri dari amukan badai diskriminasi masa tersebut.

 

Agama di Negeri si Kulit Merah

Berakhirnya masa kegelapan pada abad pertengahan di dunia barat, ditandai dengan kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, sesuatu yang sangat ditentang gereja pada masa kegelapan. Rasionalitas yang tinggi dan budaya penalaran yang baik tampaknya memiliki peran dalam membangun masyarakat barat yang sekuler, selain akibat kekecewaan yang besar terhadap berbagai skandal yang melibatkan agamawan atau gereja mulai korupsi, skandal seks, terutama homoseksualitas, pedofilia, dan lain sebagainya. Sebuah buku berjudul Empty Churches, the Decline of Cultural Christianity in The West, karya Kyle R Beshears memberikan gambaran cukup komprehensif mengenai kondisi “keagamaan” di barat. Pada pendahuluan ia menuliskan “Tuhan Sudah Mati, bagi sebagian besar orang Eropa, ketiga kata yang ditulis oleh seorang filsuf berkebangsaan Jerman, Frederich Nietzche ini, merupakan ringkasan dari kondisi masyarakat Eropa modern.” Penelitian Beshears diantaranya menggunakan data jumlah umat Kristen yang menghadiri ibadah setiap minggu, di Inggris, Perancis, dan Jerman yang diklaim memiliki persentase Kristen masing-masing  72%, 63%, dan 72% ternyata angka kehadirannya 1.4%, 0.9%, dan 1.2%, cenderung terus menurun dalam beberapa dasawarsa terakhir. Amerika juga menghadapi kondisi yang hampir sama, dimana angka ketidakpercayaan terhadap agama Kristen terus meningkat dari generasi Greatest, Boomers, Gen X, Millenial, dan Next, hal ini kemudian dikorelasikan dengan penurunan jumlah gereja di Amerika sejak 1900 hingga 2014 dengan basis data dari Biro Sensus Amerika Serikat.

Eropa dan Amerika Serikat menyaksikan perubahan fungsi gereja yang banyak dijual karena kehilangan kemampuan untuk memelihara dan mengembangkan diri. Sebagian bahkan berubah fungsi menjadi sarana komersial dan hiburan seperti bar, kafe, toko buku, ajang permainan skate board, sedang sebagian kecil ada yang dijual kepada komunitas agama Islam dan Buddha yang mulai berkembang di sana. Australia mengalami trend yang serupa, di mana telah berdiri banyak sekali pusat-pusat agama Buddha, bahkan telah mengembangkan tradisi vihara hutan sebagaimana dipraktikkan di negara-negara Buddhis tradisional Asia.

Dalai Lama, Thich Nhat Hanh, dan lain-lain adalah tokoh-tokoh Buddhis yang telah memberikan banyak pengetahuan mengenai Buddhis bagi dunia barat, selain itu tentu peranan tokoh Buddhis Eropa, Amerika, dan Australia yang hingga saat ini terus mengembangkan dan menyebarkan ajaran Buddha, termasuk praktik meditasi yang demikian populer di kalangan orang barat hingga Arab.

Kerajaan Inggris baru-baru ini mengajukan perubahan salah satu pasal yang menyatakan Kerajaan adalah pelindung Iman, diamandemen menjadi Kerajaan adalah Pelindung Agama-Agama, sebagai respon rasional terhadap perubahan landskap keagamaan di Inggris. Komunitas Muslim terbentuk dari para imigran Timur Tengah yang bermigrasi ke Inggris dan negara Eropa lainnya, sedangkan komunitas Buddha saat ini selain terdiri dari imigran Asia, juga terbentuk oleh penduduk Eropa, Amerika, dan Australia sendiri yang memilih untuk mempraktikkan ajaran Buddha. Bahkan umat Buddha Amerika saat ini menurut beberapa pengamat, sedang melakukan “Amerikanisasi” terhadap agama Buddha, merujuk pada proses sinisisasi di Tiongkok sejak masuknya agama Buddha dari India pada awal abad pertama, sehingga melahirkan kultur Buddhis yang khas Tiongkok.

Beberapa penyesuaian kultur tampaknya memang harus dilakukan, misal pada negara-negara bersalju tentu perlu penyesuaian pada ketebalan jubah para bhikhu, dan tradisi pindapatta tanpa alas kaki hampir mustahil dilakukan. Sebagaimana penyesuain yang pernah dilakukan di Tiongkok dengan jubah tambahan saat acara-acara tertentu seperti menghadap kaisar, dan acara besar lainnya, menyesuaikan diri dengan kultur setempat. Kebaktian menggunakan bahasa Inggris ataupun bahasa lainnya pun telah dilakukan, selain ada juga yang tetap menggunakan bahasa Pali, Sansekerta, Mandarin, dan Jepang sesuai aliran yang dianut.

Tradisi barat yang rasional dan akademis, tampaknya memberi kontribusi positif terhadap perkembangan agama Buddha ke depan. Hal ini terlihat dari produktifnya para penulis Buddhis di Eropa, Amerika, dan Australia dengan keuntungan bahasa Inggris yang dikuasai oleh sebagian besar penduduk dunia. Penelitian tentang pikiran, telah menempatkan meditasi sebagai metode yang ilmiah dan terukur manfaatnya bagi manusia sehingga pusat-pusat meditasi senantiasa penuh oleh para praktisi yang hendak berlatih. Dalai Lama melalui lembaganya telah menyumbangkan dana untuk penelitian ilmiah mengenai emosi/perasaan, dan sang profesor peneliti adalah salah satu konsultan dalam pembuatan film Inside Out, sebuah film animasi yang memberikan gambaran pembagian dan perkembangan emosi manusia. Film-film Holywood pun turut memberikan gambaran ketertarikan barat terhadap agama Buddha, mulai dari Seven Years in Tibet, Little Buddha, Matrix, Thousand Words, dan lain-lain banyak mengandung filosofi Buddhis yang tersebar dalam dialog para tokohnya maupun adegan-adegan dalam film.

Perkembangan agama Buddha sesungguhnya terjadi di seluruh benua, tak terkecuali Afrika terutama dengan kehadiran organisasi keagamaan transnasional dari Taiwan, Tiongkok, dan Jepang. Amitofo Care Center misalnya, yang mengembangkan misinya hingga ke berbagai pelosok Afrika, membantu anak-anak miskin, penderita HIV, yatim piatu dan misi kemanusiaan lainnya. Organisasi inilah yang kerap kita saksikan berkeliling kota-kota besar di Indonesia untuk menggalang dana bagi misi kemanusiaan di Afrika, dengan menghadirkan “Shaolin Afrika.” Misi mereka jelas, membawa keluar anak-anak Afrika dari lingkaran kemiskinan dan kekerasan, memberi pendidikan, sehingga kelak akan tumbuh generasi baru Afrika, yang penuh damai, tanpa kekerasan dan mampu membawa bangsanya menuju kemakmuran.  Selain bhiksu/ni Mahayana, Afrika saat ini juga telah memiliki bhikkhu Theravada, dan komunitas Nichiren. Tzu Chi juga memiliki simpatisan dan relawan yang terus berkembang di Afrika seiring misi-misi kemanusiaan yang dilakukan. Semoga ajaran Buddha terus menyebar ke segala penjuru, bersemi di hati setiap mahluk, memberi manfaat bagi semesta, disini dan sekarang.

 

Eddy Setiawan, M.Si.
- Ketua Umum PP HIKMAHBUDHI 2005-2007
- Direktur Kajian Institut Nagarjuna
Komentar via Facebook

Close