BeritaDaerah

Peringati Lahirnya Pancasila, 17 Mahasiswa dan Pemuda Buddhis Mendaki Puncak Gunung Gede

Oleh: HIKMAHBUDHI Jakarta Raya

Lahirnya Pancasila 74 tahun silam yang diusulkan oleh Soekarno memiliki lima makna mengenai karakteristik Bangsa Indonesia. Namun, Soekarno pada saat itu tidak hanya mengusulkan Pancasila saja, melainkan tiga usulan yang dikenal dengan Pancasila, Trisila dan Ekasila.

Dalam Trisila yang diusulkan Soekarno, ia memeras nilai-nilai Pancasila menjadi tiga, yaitu:

Pasang Iklan
  1. Sosio Nasionalisme: Mengandung prinsip kebangsaaan dan perikemanusiaan yang menegaskan pentingnya hubungan antar bangsa atau dasar kemerdekaan dan keadilan yang sesungguhnya.
  2. Sosio Demokrasi: Menegaskan tegaknya keadilan sosial sebagai syarat terciptanya kesejahteraan sosial.
  3. Ketuhanan yang berkebudayaan: Menegaskan tidak boleh adanya diskriminasi antar umat beragama, baik agama yang diakui UUD 1945 maupun yang tidak diakui. 

Dalam bentuk lebih sederhana lagi, Soekarno memeras nilai-nilai Trisila menjadi satu (Ekasila), yaitu gotong royong. Gotong royong mengandung arti bahwa hidup saling tolong menolong adalah tradisi yang sangat melekat di masyarakat Indonesia.  

Dalam konteks Buddhis, gotong royong merupakan salah satu faktor yang menyebabkan adanya kalyanamitta. Kalyanamitta bukan hanya berarti persahabatan secara spiritual. Kalyanamitta dalam arti yang lebih luas mempunyai nilai gotong royong dalam proses menjadi teman atau sahabat, mau menerima dengan lapang dada segala perbedaan yang terjadi dan tetap saling bahu membahu mencapai tujuan yang mulia.

Semangat gotong royong ini disadari dan harus diiimplementasikan dalam berbagai aktivitas. Sadar akan pentingnya hal tersebut, 17 Mahasiswa dan Pemuda Buddhis yang diwakili oleh HIKMAHBUDHI Jakarta Raya serta Pemuda Majubutthi Dhammadutta Indonesia (PMDDI) melakukan pendakian menuju Puncak Gunung Gede setinggi 2.958 mdpl.

Pendakian dilakukan pada tanggal 29 Mei 2019 sampai dengan 1 Juni 2019. Pendakian yang berjarak kurang lebih 16km ini menggunakan jalur via Cibodas (naik) dan Putri (turun).

Jatuh bangun selama pendakian, cedera, kedinginan, kelaparan semua dilalui dengan semangat gotong royong dan kalyanamitta. Terdapat banyak sekali dinamika yang terjadi, namun tujuan kita hanya satu, yaitu Puncak Gunung Gede. Hal ini lah yang terus membuat semangat gotong royong terus terjaga. Tidak lupa, kebersihan alam pun menjadi prioritas dalam aktivitas ini.

Menurut Bodhiprajna, Sekretaris Jenderal PC HIKMAHBUDHI Jakarta Timur, yang juga menjadi salah satu partisipan pendakian Gunung gede menyampaikan bahwa gunung pun bisa menjadi vihara kita.

“Jangan mengkerdilkan makna vihara. Kamp pengungsian, penjara, bahkan alam pun bisa menjadi vihara kita dan mengaplikasikan Dharma. Dari alam kita belajar bagaimana terus bergotong royong serta menjaga kesadaran dalam proses mendaki ke puncak. Mencintai alam berarti mencintai semua mahkluk”, pungkasnya.

Serupa dengan Bodhiprajna, Ketua PC HIKMAHBUDHI Jakarta Barat, Billy Gunawan juga menyampaikan bahwa semangat gotong royong ini perlu dibangun di komunitas Buddhis agar tidak terjadi sekat -sekat yang terlalu tebal sehingga saling curiga satu sama lain.

“Dengan adanya gotong royong yang terus dipupuk, diharapkan komunitas Buddhis dapat kompak dalam menyikapi persoalan-persoalan yang lebih besar”, tutupnya.

 

Komentar via Facebook

Tags
Close

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-format="fluid"
data-ad-layout-key="-ib+c-1l-47+dr"
data-ad-client="ca-pub-3950220369927210"
data-ad-slot="4948202095"></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>