BeritaDaerah

Peringatan Hari Waisak 2562 BE di Lapas Pemuda Tangerang

Oleh: Rendy Arifin

Hari Waisak merupakan salah satu dari empat hari raya dalam agama Buddha. Dikenal sebagai hari Buddha, Waisak menjadi hari raya yang dinanti oleh umat Buddha di seluruh dunia. Tahun ini Waisak jatuh pada tanggal 29 Mei, yang menurut penanggalan Buddhis memasuki tahun 2562 BE. Banyak sekali kegiatan yang biasanya dilakukan oleh umat Buddha menyambut Hari Waisak ini, termasuk umat Buddha di Indonesia. Ornamen Waisak tidak hanya terpampang di vihara-cetiya, tetapi sudah mulai masuk ke berbagai tempat umum, seperti mal, restoran, hotel, dan lain sebagainya.

Sabtu lalu (19/05), Waisak juga diperingati oleh para warga binaan beragama Buddha yang berada di Lapas Kelas IIA Pemuda Tangerang. Diinisiasi oleh PC HIKMAHBUDHI Kota Tangerang, peringatan  Hari Waisak ini dihadiri oleh Bhikkhu Subhapañño dan Bhikkhu Abhipuñño. Kurang lebih 50 warga binaan turut hadir dalam peringatan tersebut. Dalam ceramahnya, Bhikkhu Subhapañño menekankan pentingnya penerapan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari. Bhikkhu yang belum lama tinggal di Taiwan ini juga menyampaikan dengan dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Mandarin, mengingat ada beberapa warga binaan yang berasal dari Tiongkok dan Taiwan.

Pasang Iklan

Jadikan Pancasila Buddhis Sebagai Pedoman Hidup

Mengawali ceramahnya, Bhikkhu Subhapañño bertanya kepada para warga binaan mengapa mereka bisa masuk ke penjara ? Ia tidak meminta jawaban satu per satu dari warga binaan, tetapi meminta renungkan dan jawab dari dalam hati. Ia pun menekankan untuk tidak menjadi umat Buddha KTP atau hanya mengaku-ngaku beragama Buddha, tapi tidak menjalankan ajaran Buddha.

“Kalau kita di rumah kan ada aturan, suami ke istri bagaimana, suami ke anak seperti apa, maupun sebaliknya. Kalau kita tinggal di sebuah negara juga sama, ada peraturan hukum yang berlaku. Para bhikkhu juga sama, ada peraturan (vinaya). Nah sebagai umat awam memang di dalam Buddhis tidak ada aturannya, tapi kita punya lima sila yang bisa kita jadikan pedoman hidup.”, tegas Bhikkhu Subhapañño.

Sila pertama bertekad untuk tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup. Pembunuhan makhluk hidup ini tidak hanya bagi si eksekutor, tetapi juga otak atau dalang dari proses pembunuhan tersebut. Terkadang dalam kasus pembunuhan ada sponsor yang mendanai pelaku, umumnya karena faktor dendam dan iri hati. Karena pembunuhan ini, seseorang bisa masuk penjara.

Sila kedua bertekad untuk tidak mencuri atau mengambil barang yang tidak diberikan. Contoh kasus, ada orang yang dipercaya untuk memegang kendali keuangan perusahaan. Di suatu waktu, ia memakai uang tersebut tanpa ijin ke pemilik perusahaan. Ia berpikir bahwa hanya meminjam uang tersebut sementara dan akan dikembalikan. Ini sudah merupakan pelanggaran dari sila kedua. Naasnya ia tidak bisa mengembalikan uang tersebut dan pemilik perusahaan memprosesnya dalam hukum. Karena mencuri, seseorang bisa masuk penjara.

Sila ketiga bertekad untuk tidak berbuat asusila. Sebagai negara hukum, lelaki dan perempuan tidak dibenarkan melakukan senggama dengan yang bukan miliknya. Miliknya ini dimaksud adalah suami atau istrinya yang sah secara hukum. Pelanggaran ini tentunya bisa mencebloskan diri ke jeruji besi.

Sila keempat bertekad untuk tidak berbohong. Penipuan mungkin menjadi salah satu contoh kasus yang mengakibatkan seseorang dapat masuk ke penjara ini.

Sila kelima bertekad untuk tidak minum dan makan yang dapat melemahkan kesadaran. Sila yang nampak sepele, tetapi jika lalai dapat melanggar sila-sila di atasnya. Buktinya banyak orang yang masuk penjara karena minuman keras dan obat terlarang. Tidak hanya pemakai, pengedar juga melakukan pelanggaran berat yang mengakibatkan terjerumusnya banyak orang dalam kegelapan ini.

“Mohon maaf jangan tersinggung, saya yakin kalian di sini pasti tidak menjalankan pedoman hidup kita sebagai umat Buddha sehingga bisa masuk ke tempat ini. Silahkan jawab dalam hati kalian masing-masing dan mari mulai saat ini kita jadikan Pancasila Buddhis sebagai pedoman hidup kita.”, tutup Bhikkhu Subhapañño.

Komentar via Facebook

Close