BeritaInternational

Perdamaian yang Diimpikan, Pertemuan Bersejarah Kim dan Trump

Oleh: Rendy Arifin

Selasa kemarin (12/06), seluruh dunia tertuju pada Singapura. Bukan karena ada wisata baru atau pun sejenisnya, melainkan karena adanya pertemuan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Pertemuan ini berlangsung di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura. Agenda utamanya tentu saja denuklirisasi dan perdamaian di Semenanjung Korea.

Sejarah Singkat Perang Korea 1950-1953

Pasang Iklan

Marinir AS menyerang Hagaru-ri, Korea Utara, pada bulan Desember 1950. Foto: CNN

Perang Korea merupakan konflik besar pertama yang terjadi pada masa Perang Dingin. Konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan ini berlangsung antara bulan Juni 1950 hingga 27 Juli 1953. Perang yang dikenal sebagai perang yang terlupakan itu memakan jutaan korban jiwa. Seluruh Korea mengalami kehancuran yang  mengerikan dan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih kembali.

Korea merupakan sebuah wilayah yang tidak terlalu luas, karena hanya menempati lahan seluas 85.246 mil persegi. Wilayah Korea lebih merupakan wilayah kepulauan, dengan garis pantai sepanjang 5.400 mil dan sangat dipengaruhi oleh laut.

Sebelum tahun 1945, Korea adalah satu kesatuan. Kerajaan Korea kuno disatukan oleh Dinasti Tang pada 668 masehi. Korea yang bersatu ini bertahan selama 1300 tahun sebelum akhirnya pecah.

Korea pecah menjadi dua bagian setelah manuver yang dilakukan oleh Sekutu menjelang akhir Perang Dunia II. Selama perang, Korea merupakan wilayah yang dikuasai oleh Jepang. Namun, setelah kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, Korea dibagi menjadi dua bagian pada paralel ke-38. Uni Soviet menduduki bagian Utara, sementara Amerika Serikat menduduki bagian Selatan.

Setelah Korea dipisahkan, dua negara superpower itu saling menanamkan pengaruh mereka di daratan Korea. Dengan semakin intensifnya Perang Dunia antara Uni Soviet  dan Amerika Serikat, garis pemisah  Korea Utara dan Selatan menjadi tirai besi baru yang memisahkan orang Korea satu dengan lainnya. Meskipun dipisahkan, kedua bagian wilayah itu menjadi ajang unjuk kekuatan Uni Soviet dan Amerika Serikat. Sehingga, konflik antar keduanya pun sangat mungkin untuk terjadi.

Pemimpin Korea Utara, Kim Il Sung sangat berambisi untuk menyatukan Korea. Oleh karena itu, ia meminta dukungan pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin pada April 1950. Stalin akhirnya setuju untuk mendukung invasi Korea Utara terhadap Korea Selatan. Ia hanya meminta Kim memastikan bahwa kemenangan itu dapat dicapai dan Soviet tidak akan melakukan intervensi secara langsung.

Setelah memperoleh dukungan Stalin, Kim kemudian mengunjungi pemimpin Partai Komunis China, Mao Zedong di Beijing. Mao setuju hanya kekuatan militer yang bisa menyatukan Korea. Ia juga meragukan Amerika Serikat akan memperhatikan perang di Korea.

Angkatan bersenjata komunis Korea Utara berusaha menduduki Korea Selatan untuk mempersatukan Semenanjung Korea. Dalih dari mempersatukan tersebut merupakan kesatuan dibawah kekuasaan Pemerintahan Komunis Kim Il Sung.

Amerika Serikat kemudian bertindak cepat dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa membantu pertahanan Korea Selatan yang akan terlibat peperangan dengan Korea Utara. Peperangan ini berlangsung hingga tiga tahun ke depan sejak 25 Juni 1950.

Pada tanggal 25 Juni 1950, pasukan Korea Utara mengejutkan para tentara Korea Selatan dan kekuatan kecil Amerika Serikat  yang ditempatkan di negara itu. Pasukan Korea Utara dengan cepat bergerak menuju ibu kota Seoul. Amerika Serikat menanggapi dengan mendorong resolusi melalui Dewan Keamanan PBB.

Dorongan Amerika Serikat terhadap PBB untuk menyerukan bantuan militer ke Korea Selatan berlanjut. Dengan terbitnya resolusi Dewan Keamanan PBB No.83, Presiden Harry S. Truman dengan cepat mengirim Angkatan Darat, Laut, dan Udara untuk terlibat dalam Perang Korea sebagai tindakan polisionil. Uni Soviet sendiri tidak hadir untuk mem-veto tindakan Dewan Keamanan pada waktu itu.

Pasukan terjun payung AS mendarat di Korea Selatan 1950. Foto: Pinterest

Tindakan ini, bagaimana pun mendorong intervensi besar-besaran pasukan komunis China pada akhir 1950. Perang di Korea kemudian berakhir mandek dan menjadi kebuntuan berdarah.

Pada tanggal 20 Agustus 1950, Perdana Menteri China, Zhou Enlai menginformasikan kepada PBB mengenai resolusi yang diterbitkan Dewan Keamanan PBB.

“Korea adalah tetangga China, Rakyat China mau tidak mau khawatir tentang resolusi terhadap Korea. Dengan demikian, China memperingatkan bahwa dalam menjaga keamanan nasional China, mereka akan melakukan intervensi terhadap Komando PBB di Korea.”

Presiden Truman menafsirkan komunikasi tersebut sebagai upaya untuk memeras PBB. Pada tahun 1953, Amerika Serikat dan Korea Utara menandatangani gencatan senjata yang mengakhiri sementara konflik. Perjanjian gencatan senjata dimulai tanggal 10 Juli 1951 di Kaesong. Perjanjian ini menghasilkan “Zona Demiliterisasi Korea” yang mengakibatkan pembagian lanjutan dari Korea Utara dan Selatan di hampir titik geografis yang sama seperti sebelum konflik.

Perang Korea adalah perang pertama terpanas dalam Perang Dingin. Lebih dari 55.000 tentara Amerika tewas dalam konflik tersebut. Perang Korea adalah perang terbatas, di mana tujuan Amerika Serikat tidak untuk mengalahkan musuh, melainkan sebatas tujuan melindungi Korea Selatan.

Bagi pemerintah Amerika Serikat, pendekatan seperti itu adalah satu-satunya pilihan yang rasional untuk menghindari Perang Dunia III. Perang Korea sendiri tidak pernah benar-benar mendapat dukungan rakyat Amerika Serikat.

 

Pertemuan Dua Pemimpin Korea

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Korea Selatan  Moon Jae-in bertemu pada tanggal 27 April 2018 di zona demiliterisasi perbatasan kedua negara. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melintasi perbatasan militer kedua negara dan menjejakkan kaki masuk ke Korea Selatan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Inter-Korea pertama sejak 10 tahun terakhir. Pertemuan ini merupakan pertemuan bersejarah bagi kedua pemimpin korea tersebut. Pertemuan ini berlangsung di Desa Panmunjom, Korea Selatan. Kedua pemimpin dengan sungguh-sungguh menyatakan bahwa tidak akan ada lagi perang di Semenanjung Korea dan era baru perdamaian telah dimulai. Pertemuan ini menghasilkan deklarasi bernama Panmunjom Declaration for Peace, Prosperity and Unification on the Korean Peninsula (Deklarasi Panmunjom untuk Perdamaian, Kemakmuran, dan Penyatuan di Semenanjung Korea).

 

Kesepakatan Kim dan Trump

Perang dingin yang terjadi antara Korea Utara dan Korea Selatan mulai memasuki titik terang. Kim Jong Un nampak serius akan denuklirisasi ini dengan menghancurkan situs uji coba nuklirnya yang terletak di Punggye-ri, Korea Utara jelang pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sebelum bertemu dengan Donald Trump, ia juga sempat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in.

Pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump berlangsung hangat. Denuklirisasi Semenanjung Korea menjadi salah satu kesepakatan yang diteken oleh mereka dalam pertemuannya di Singapura.

Berikut isi lengkap dokumen bersejarah itu:

Pernyataan bersama Presiden Amerika Serikat Donald J Trump dan Ketua Kim Jong Un dari Republik Demokratik Rakyat Korea dalam KTT Singapura.

 Presiden Donald J Trump dari Amerika Serikat dan Ketua Komisi Urusan Kenegaraan Republik Demokratik Rakyat Korea Utara (DPRK) Kim Jong Un menggelar pertemuan pertama dan bersejarah di Singapura pada 12 Juni 2018.

 Presiden Trump dan Ketua Kim Jong Un menggelar tukar pendapat yang komprehensif, mendalam, dan tulus tentang berbagai isu terkait terbentuknya hubungan AS-DPRK dan upaya menciptakan perdamaian yang kuat dan langgeng di Semenanjung Korea.

 Presiden Trump berkomitmen memberikan jaminan keamanan untuk DPRK dan Ketua Kim Jong Un menegaskan komitmennya untuk melakukan denuklirisasi menyeluruh di Semenanjung Korea.

Yakin bahwa terbentuknya hubungan AS-DPRK akan memberi kontribusi untuk proses perdamaian dan kesejahteraan Semenanjung Korea dan dunia, dan memahami bahwa terbentuknya kepercayaan bersama bisa mendorong denuklirisasi Semenanjung Korea, maka Presiden Trump dan Ketua Kim Jong Un membuat pernyataan berikut ini:

  1. Amerika Serikat dan DPRK akan membentuk hubungan baru AS-DPRK yang didasari kemauan rakyat kedua negara yang menginginkan perdamaian dan kesejahteraan.
  2. Amerika Serikat dan DPRK akan bekerja sama untuk membangun perdamaian yang langgeng dan stabil di Semenanjung Korea.
  3. Memastikan kembali bahwa dalam  Deklarasi Panmunjom pada 27 April 2018, DPRK berkomitmen untuk bekerja menuju denuklirisasi menyeluruh di Semenanjung Korea.
  4. Amerika Serikat dan DPRK berkomitmen untuk menyelesaikan masalah tahanan perang dan jenazah tentara yang hilang, termasuk repatriasi secepatnya seluruh jenazah yang sudah teridentifikasi.

Memahami bahwa KTT AS-DPRK, pertama dalam sejarah, merupakan peristiwa penting untuk mengakhiri ketegangan dan kekerasan selama beberapa dekade antara kedua negara dan untuk membuka masa depan baru, Presiden Trump dan Ketua Kim Jong Un sepakat untuk mengimplementasikan semua ketentuan dalam pernyataan bersama ini.

Amerika Serikat dan DPRK berkomitmen untuk menggelar negosiasi lanjutan, dipimpin Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan para pejabat tinggi DPRK, dalam waktu dekat, untuk mengimplementasikan hasil dari KTT AS-DPRK.

Presiden AS Donald J Trump dan Ketua Komisi Urusan Kenegaraan Republik Demokratik Rakyat Korea Kim Jong Un sepakat untuk bekerja sama dalam membangun hubungan baru AS-DPRK dan untuk mendorong terciptanya perdamaian, kesejahteraan, dan keamanan Semenanjung Korea dan seluruh dunia.

 

DONALD J TRUMP

Presiden Amerika Serikat

 

KIM JONG UN

Ketua Komisi Urusan Kenegaraan Republik Demokratik Rakyat Korea

 

12 Juni 2018

Pulau Sentosa

Singapura

Referensi:

  1. http://www.hariansejarah.id/2017/04/sejarah-singkat-perang-korea-1950-1953.html
  2. http://wawasansejarah.com/perang-korea/
  3. https://www.liputan6.com/global/read/3493088/dunia-sambut-hasil-pertemuan-bersejarah-ktt-korea-selatan-korea-utara
  4. https://internasional.kompas.com/read/2018/06/12/16342821/begini-isi-kesepakatan-donald-trump-dan-kim-jong-un

 

Komentar via Facebook

Close