ArtikelKabar Dhamma

Perayaan Waisak di Tengah Pandemi COVID-19

Oleh: Yani Relita Sulandari

Waisak, tentu kalian tidak asing dengan istilah itu kan? Waisak merupakan salah satu hari raya besar umat Buddha. Waisak mengingatkan pada suatu peristiwa sejarah yang penting bagi umat Buddha di dunia. Peristiwa yang menjadi sejarah awal bagi muncul dan  berkembangnya umat Buddha. Peristiwa penting tersebut diantaranya, kelahiran seorang putra mahkota yaitu Pangeran Siddharta yang akan menjadi calon Buddha pada tahun 623 SM di Taman Lumbini; kemudian Pangeran Siddharta mencapai penerangan sempurna atau ke-Buddhaan pada tahun 588 SM di Bodhgaya; dan Sang Buddha Parinibbana pada tahun 543 SM di Kusinara.  Ketiga peristiwa tersebut terjadi di hari purnama di bulan Vesakha, sehingga seringkali disebut dengan Hari Raya Tri Suci Waisak.

Tepat hari Kamis, 07 Mei 2020, seluruh umat Buddha memperingati hari raya Waisak. Waisak kali ini adalah waisak ke-2564 BE/TB dengan mengangkat tema “Persaudaraan Sejati Dasar Keutuhan Bangsa”. Hal ini mengingatkan kembali pada situasi dan kondisi Indonesia, dimana negara Indonesia merupakan negara yang majemuk, yang terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Dengan adanya rasa persaudaraan, kepedulian, dan toleransi antara satu dengan lainnya akan menciptakan rasa persatuan dan kesatuan di dalam masyarakat Indonesia. Ketika masyarakat Indonesia memiliki rasa persaudaraan, maka orang akan memperlakukannya dengan sama. Mereka akan memperlakukannya seperti saudara mereka sendiri, yang perlu untuk dibantu ketika membutuhkan, perlu untuk dihormati, dan dihargai. Rasa persaudaraan itu akan menjadi salah satu faktor pendukung terciptanya rasa kebersamaan yang akan menyatukan perbedaan yang ada. Sehingga negara Indonesia akan menjadi negara yang utuh, tidak mudah terpecah belah dan ketika terjadi suatu permasalahan yang mengancam keutuhan bangsa, maka masyarakat Indonesia akan mudah dalam mengatasi masalah tersebut. Kekuatan atas rasa persaudaraan ini perlu dijaga demi kepentingan bersama. Kekuatan inilah yang akan menjadikan negara Indonesia menjadi negara yang makmur, tentram, dan damai. Oleh karena itu, diperlukan adanya kesadaran masyarakat untuk menciptakan hal ini.

Pasang Iklan

Waisak kali ini sangat berbeda dengan waisak tahun kemarin, saat ini masyarakat mencoba untuk memperingati ditengah-tengah pandemi Corona yang sudah menyerang masyarakat Indonesia sejak Maret lalu. Pada tahun-tahun sebelumnya, perayaan Waisak dilakukan di Pelataran Candi Borobudur ataupun di Wihara masing-masing. Akan tetapi, untuk sekarang ini Waisak hanya diperingati di rumah demi menjaga dan membatasi kontak untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Corona. Meskipun demikian, masyarakat tetap berusaha untuk menciptakan kesan yang baik di hari Waisak ini. Masyarakat tetap memperingatinya, meski hanya dengan hal yang sederhana. Bagi masyarakat bukan kemewahan atau kesederhanaannya, akan tetapi makna yang dapat diambil oleh masyarakat terutama umat Buddha dalam perayaan Waisak ini.

Hal ini menjadi hal yang tidak biasa bagi umat Buddha terutama bagi mahasiswa STAB Negeri Sriwijaya. Pada perayaan sebelumnya mahasiswa pergi ke Candi Borobudur untuk membantu proses jalannya kegiatan perayaan Waisak. Akan tetapi untuk tahun ini tidak lagi dirasakan oleh mereka. Selain itu banyak mahasiswa yang merasakan kesedihan akan hal ini, terutama bagi mahasiswa yang merantau. Mereka tidak diperbolehkan untuk pulang ke kampung halaman karena dikhawatirkan akan membawa virus corona yang ditakutkan virus itu akan menyebar dikampung halamannya. Hal ini dirasakan oleh Sucitta yang merupakan salah satu mahasiswi semester 2 STAB Negeri Sriwijaya yang berasal dari Lampung Timur, “ Biasanya merayakan Waisak dirumah bersama keluarga, tetapi sekarang tidak bisa. Padahal saya sangat rindu keluarga saya, dan ini menjadi Waisak pertama saya tanpa keluarga”, ungkapnya. Sekarang, untuk mengobati rasa rindu pada keluarga yang dikampung, mahasiswa hanya bisa melakukan interaksi melalui Handphone ataupun melalui aplikasi WhatsApp. Hal ini yang biasanya dilakukan oleh Erma Yuliana yang merupakan mahasiswi semester 2 STAB Negeri Sriwijaya yang berasal dari Blitar, Jawa Timur. Dia mengatakan bahwa, “ saya menghubungi keluarga saya untuk mengobati rasa rindu melalui WhatsApp. Bukan hanya sekali ini saja tetapi seringkali, dan saya merasa sangat sedih akan hal ini, saya hanya bisa menangis untuk meluapkan emosi saya”, ungkap Erma. Setidaknya banyak mahasiswa merasakan hal yang sama dengan mereka.

Perayaan Waisak kali ini sangat sepi, yang biasanya dirayakan dengan diadakan kegiatan perlombaan, seperti membaca Paritta, menyanyi, dan banyak perlombaan lainnya untuk memeriahkannya, sekarang mahasiswa hanya bisa memperingati Waisak di kamar masing-masing di asramanya. Dimulai dengan menyiapkan altar kecil-kecilan dengan tujuan masih dapat memperingati Waisak meskipun berada ditengah-tengah pandemi Corona. Kemudian mereka membacakan Paritta bersama teman kamarnya, ada juga yang menghias kamarnya, membuat makanan kecil-kecilan, dan mereka saling memberikan do’a satu sama lain. Selain itu mereka juga memberikan ucapan selamat kepada teman seasrama, dan untuk kerabat yang lainnya hanya bisa diucapkan melalui fasilitas sosial media. Akan tetapi, mereka tetap bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk dapat memperingati Waisak tahun ini. Mereka tidak merasa putus asa meskipun kesedihan meliputinya. Mereka tetap bersemangat untuk menciptakan suasana yang nyaman,kesan bahagia, dan saling mensyukuri satu sama lain.

Komentar via Facebook

Close