Opini

Peran Positif Pemuda Buddhis dalam Pemilu

Oleh: Ananta Kandaka

Tidak terasa bahwa dalam beberapa hari lagi, bangsa kita akan melaksanakan pesta demokrasi alias pemilu pada tanggal 17 April 2019 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, 560 anggota DPR pusat, 132 anggota DPD, dan para anggota DPRD Provinsi, dan DPRD kota/kabupaten.

Selama kurang lebih tiga bulan belakangan ini, kita telah melihat banyak sekali kampanye politik yang dilakukan oleh para pendukung masing-masing capres (calon presiden) maupun caleg (calon legislatif). Bendera-bendera partai politik dengan berbagai macam warna, simbol, dan foto calon menghiasi baliho dan spanduk di berbagai sudut ruang publik. Beragam jenis kampanye, baik yang mempertunjukkan kelebihan masing-masing calon, yang menyerang calon lawan, atau yang menyebarkan berita hoax, sudah sering kita lihat di berbagai media.

Pasang Iklan

Pendukung masing-masing calon pastinya akan membeberkan kebaikan-kebaikan calon yang didukungnya, bagaikan berjualan kecap yang paling manis di hadapan rakyat. Sebagian rakyat kita mungkin sudah memiliki keyakinan penuh akan calon yang akan dipilihnya karena pertimbangan tertentu, seperti misalnya kepentingan ideologi, politik, ekonomi, hingga SARA (suku, agama, ras, dan golongan). Sementara, sebagian rakyat lainnya mungkin masih bingung karena semua calon sama-sama bagusnya, atau karena justru sama sekali tidak mengenal calon siapa pun.

Akan tetapi, ada satu lagi kelompok rakyat yang masih bersikap apatis terhadap pemilu – mereka tidak akan mendukung siapa pun calonnya, entah karena sekedar merasa malas terlibat politik praktis atau karena berpikir bahwa politik praktis tidak penting bagi kehidupan mereka.

Apakah bersikap apatis seperti ini adalah hal yang baik? Memang dalam agama Buddha, tidak ada keharusan atau larangan untuk memilih pemimpin negara. Juga tidak ada janji surga atau ancaman neraka dalam memilih pemimpin. Akan tetapi, kita sering melafalkan,

Semoga pemimpin (raja) bertindak benar” – dalam paritta Etavatta

Menghormati yang patut dihormati adalah berkah utama” – dalam Mangala Sutta

Secara tidak langsung, umat Buddha diajarkan untuk mendukung siapa pun pemimpin negara untuk bertindak benar sesuai kaidah-kaidah kenegaraan dan kemanusiaan, misalnya dengan mendoakan pemimpin maupun menjalankan program pemimpin. Umat Buddha juga diajarkan untuk menghormati siapa pun pemimpin negara, karena mereka adalah individu yang telah berjasa dalam memajukan negara, mensejahterakan bangsa, dan mengkondisikan kebahagiaan masyarakat.

Pada abad ke-5 Sebelum Masehi, ketika rakyat India masih dipimpin oleh raja yang diturunkan secara turun-temurun oleh keluarganya, di mana tidak ada sistem demokrasi dan tidak ada kedaulatan rakyat di atas negara, maka sikap apatis tidak mau ikut pemilu bisa dipahami.

Akan tetapi, di abad modern, ketika rakyat bertanggung jawab atas keberlangsungan, kemajuan, dan kesejahteraan sebuah negara melalui partisipasi aktif dalam pemilu, maka sikap apatis tidak mau ikut pemilu justru bertentangan dengan apa yang tertulis dalam paritta Etavatta.

Bayangkan apabila kita sebagai umat Buddha Indonesia berpikir bahwa politik praktis tidak penting bagi kehidupan spiritualitas maupun kesejahteraan materi.

Selanjutnya, kita beramai-ramai tidak ikut pemilu, alias golput dengan berbagai alasan, misalnya dengan berpikir bahwa umat Buddha tidak perlu berpolitik.

Akhirnya, karena umat Buddha tidak memilih pemimpin yang baik, maka pemimpin yang buruk berhasil berkuasa di Indonesia, dan wakil rakyat yang buruk tidak memihak kepentingan kita.

Ketika keadaan menjadi sangat buruk bagi umat, ketika perizinan mendirikan vihara dipersulit, ketika perizinan melakukan pindapata massal dipersulit, ketika tidak ada yang melindungi umat Buddha saat terjadi kasus-kasus di masyarakat, maka kita baru sadar bahwa satu suara yang kita sia-siakan ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang terjadi kepada umat Buddha.

(Baca juga: Menuju Pesta Demokrasi 2019)

Contoh di atas bisa terjadi apabila kita tetap apatis tidak mau ikut pemilu. So, jangan apatis!

Sebagai umat Buddha, kita diajarkan untuk mendukung pemimpin negara yang sesuai dengan ajaran Dhamma. Sebagai warga negara Indonesia, kita memiliki hak eksklusif untuk memilih pemimpin negara yang hanya berlaku setiap 5 tahun sekali. Sebagai umat Buddha sekaligus warga negara Indonesia, gunakanlah hak spesial tersebut untuk memilih pemimpin negara sesuai Dhamma.

Bagi sebagian dari kita masih bingung manakah pemimpin negara sesuai Dhamma, Sang Buddha telah membabarkan ciri-cirinya dalam kitab Khudakka Nikaya. “Dasa Raja Dhamma” yang telah dibabarkan oleh Sang Bhagava dapat kita gunakan sebagai patokan untuk memilih pemimpin saat pemilu tanggal 17 April 2019 nanti, serta memilih pemimpin untuk tahun-tahun berikutnya.

Apa sajakah “Dasa Raja Dhamma” itu? Mari kita simak satu per satu.

1. Dana (bermurah hati).

Pemimpin yang gemar berdana tentu sangat bermurah hati, gemar berbagi kepada rakyatnya, dan bersedia memberikan apapun – harta, tenaga, waktu, pikiran, dan doa – yang dimilikinya demi melihat rakyatnya tersenyum bahagia bersamanya.

2. Sila (bermoral)

Pemimpin yang menjaga sila yang baik tentu akan berperilaku sesuai dengan aturan negara, norma masyarakat, dan moralitas umum sehingga bisa menjadi teladan yang baik bagi rakyatnya, serta tidak merugikan nama baik partainya dan kepentingan rakyatnya.

3. Paricagga (rela berkorban)

Pemimpin yang paricagga adalah pemimpin yang rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan orang banyak. Dia rela mengorbankan harta, tenaga, waktu, jabatan, dan nyawanya untuk kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya.

4. Ajjava (tulus ikhlas)

Pemimpin yang ajjava adalah pemimpin yang tulus ikhlas dalam melakukan pengabdiannya kepada rakyatnya. Ciri-cirinya, dia benar-benar berjuang demi kesejahteraan rakyatnya tanpa beban kepentingan dari partai atau ormas di sekitarnya.

5. Maddava (bersikap ramah)

Pemimpin yang memiliki kualitas maddava yang tinggi akan terlihat menyenangkan di mata rakyatnya karena sering tersenyum tulus, bersikap ramah, berperilaku sopan, dan gemar bersimpati kepada rakyatnya melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan.

6. Tapa (hidup sederhana)

Pemimpin yang memiliki kualitas tapa yang tinggi akan hidup secara apa adanya dalam kecukupan, dengan senang hati berbaur dengan rakyatnya, tidak menggunakan harta dan tahta berlebihan, dan tidak menuntut pengamanan berlebihan.

7. Khanti (kesabaran)

Pemimpin yang tetap sabar, tetap tenang, dan dapat berpikir jernih meskipun saat berada dalam masalah yang besar, tetap rendah hati dan tidak sombong menghadapi dinamika, serta senantiasa positive thinking dan melepas dalam menyikapi siapa pun juga.

8. Akkodha (tanpa kebencian)

Pemimpin tanpa kebencian pada dasarnya mudah memaafkan kesalahan rakyatnya, bersahabat dengan siapa pun, menjauhi niat jahat terhadap lawan politiknya, dan tidak suka membenci siapa pun yang telah mencelakainya sekali pun.

9. Avihimsa (tanpa kekerasan)

Pemimpin tanpa kekerasan pada dasarnya mencintai perdamaian di masyarakat, menjalani hidup tanpa harus melakukan kekerasan atau intimidasi, serta berupaya sebisa mungkin untuk tidak menyakiti sesama manusia maupun makhluk lain.

10. Avirodhana (tanpa permusuhan)

Pemimpin tanpa permusuhan pada dasarnya berupaya mengkondisikan ketenteraman di antara rakyatnya, menjauhi niat jahat terhadap lawan politiknya, dan tidak suka membenci siapa pun yang telah mencelakainya sekalipun.

So, sebagai umat Buddha Indonesia, terutama generasi muda yang menjadi ujung tombak perubahan di negeri ini, mari kenali para capres maupun caleg yang ada di sekitar kita, pelajari track record mereka satu per satu, dan gunakan hak pilih kita pada tanggal 17 April 2019 nanti.

Memang tidak ada pemimpin yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Buddha dan para arahat (orang suci), namun sejatinya pemilu adalah untuk memilih pemimpin yang terbaik di antara kandidat-kandidat yang ada dan mencegah pemimpin yang terburuk berkuasa.

Lima menit yang kita gunakan akan menentukan lima tahun ke depan dan lima tahun bukan lah waktu yang sedikit. Dalam waktu lima tahun, karir bisa meningkat, bisnis bisa berkembang, anak bisa lahir, vihara semakin ramai, dan generasi muda Buddhis semakin banyak.

Yuk mari memilih! See you there @ TPS!

Upc. Ananta Kandaka, S.E.
- Guru, Aktivis Buddhis, dan Dhammaduta

 

Komentar via Facebook

Close

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-format="fluid"
data-ad-layout-key="-ib+c-1l-47+dr"
data-ad-client="ca-pub-3950220369927210"
data-ad-slot="4948202095"></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>