ArtikelOpini

Peran Pemuda dalam Membangun Literasi Media Sebagai Upaya Menciptakan Kedamaian

Oleh: Nikko Lee

Pada era ini, media sosial sudah menjadi primadona bagi seluruh elemen masyarakat terkhususnya remaja. Berdasarkan temuan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2018, sebanyak 143,26 juta dari total 262 juta orang Indonesia bisa mengkases Internet. Dari 143,26 juta pengguna Internet tersebut, 49,25% di antaranya adalah orang muda. (IDNTimes, 21 Februari 2018)

Dalam perkembangannya, media sosial telah menjadi alat utama yang digunakan untuk berkomunikasi dan berbagi informasi. Hal ini disebabkan karena kemudahan dalam penggunaannya dan waktu yang dibutuhkan singkat. Konsekuensinya, informasi yang dibagikan bertumpah ruah dan sering kali melanggar batas-batas etika, moral, kultur masyarakat, hingga menimbulkan konflik.

Pasang Iklan

Hal ini tentunya sesuai dengan perubahan bentuk komunikasi dari mass communication menjadi mass selfmobile communication dimana sebelum era mass self-mobile communication, masyarakat menjadi pihak yang pasif menerima pesan politik yang dibuat oleh elite politik. Era mass self mobile communication mampu membuat masyarakat menyatakan pandangan, pertanyaan, dan sikap politik mereka secara bebas melalui media sosial (Arifina, 2015:3). Tentu saja, kebebasan ini akan menimbulkan efek negatif jika masyarakat belum memiliki kemampuan literasi media yang baik.

Contohnya adalah konflik di Tanjung Balai, konflik dipicu salah satunya akibat penggunaan media sosial yang kurang bijak. Konflik berasal dari protes seorang Warga Etnis Tionghoa yang menginginkan suara Azan diperkecil lantaran menggangu aktivitas rumahnya. Kondisi yang mencekam sempat mereda namun menjelang tengah malam, ratusan warga bersiap melakukan penyerangan. Diduga massa kembali berkumpul setelah tulisan di Facebook yang mengandung isu SARA.

Manfaat Literasi Media Bagi Pemuda dalam Menjaga Perdamaian

Media Literacy atau literasi media dalam Bahasa Indonesia sering dipandang dengan istilah “Melek Media”. James Potter, dalam bukunya “Media Literacy(2005) mengatakan bahwa literasi media adalah sebuah perspektif yang digunakan secara aktif, ketika individu mengakses media dengan tujuan memaknai pesan yang disampaikan oleh media.

Tujuan literasi sendiri adalah untuk meningkatkan kehidupan dan memperbaiki kehidupan individu yang sebagian besar diterpa oleh berbagai macam informasi. Art Silverblatt (dalam Rahardjo, 2012:15&17) mengungkapkan bahwa literasi media juga membuat seseorang dapat lebih berpikir kritis dan mampu mengembangkan penilaian yang independen tentang isi media. Selain itu, individu-individu yang melek media seharusnya dapat memproduksi pesan-pesan yang bermanfaat.

Pemuda Indonesia
Foto: Quipper

Ekalasi konflik yang terus merebak menjadikan literasi media sebagai kebutuhan utama untuk bisa bertahan menghadapi terpaan informasi yang tiada hentinya. Oleh karena itu, dalam hal ini, pemuda sebagai kelompok masyarakat yang memiliki sejarah panjang wajib bergerak. Terlebih, mereka termasuk kelompok umur dengan tingkat pengunaan media sosial tertinggi.

Beberapa peran yang dapat dilakukan oleh anak muda antara lain:

  1. Sebagai Agent of Change. Pemuda harus bisa menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat mengenai pengunaan media sosial yang para anak muda bisa memulai dari lingkungan terkecil seperti keluarga ataupun tetangganya.
  2. Sebagai Agent of Social Control. Pemuda harus menjadi garda terdepan dalam mengontrol dan memberikan pemahaman kepada masyarakat jika ada infomasi provokatif yang dapat memecah belah bangsa.
  3. Sebagai Calon Pemimpin. Pemuda sendiri harus menjadi sosok pembuat kebijakan yang efektif terutama mengenai literasi media. Menjadikan literasi media sebagai program pendidikan sejak dini dapat meminimalisir kemungkinan konflik yang timbul akibat media sosial.

Kesimpulan

Kehadiran media sosial sejatinya tidak hanya berdampak negartif. Akibat penyebaran informasi yang begitu cepat tanpa adanya penyaringan, menjadikan media sosial begitu berbahaya. Maka dari itu, perlu adanya upaya-upaya yang dilakukan agar media sosial memberikan dampak positif, salah satunya melalui pengembangan literasi media.

Sebagai generasi penerus, pemuda memiliki peran yang krusial dalam meningkatkan literasi media. Pemuda harus bisa menjadi garda terdepan dalam mengkampanyekan literasi media, baik berperan sebagai agen perubahan, agen kontrol sosial, maupun pemimpin masa depan.

Penulis: Nikko Lee (Ketua PC HIKMAHBUDHI Medan 2018-2020)

Komentar via Facebook

Tags
Close