Opini

Peran Pemuda Buddhis di Tahun Politik

Oleh: Andri Aman

Pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 sudah di depan mata. Tentu banyak pemilih pemula yang akan ikut dalam ajang 5 tahunan ini. Jumlah pemilih pemula diperkirakan mencapai 5 juta orang dan tentunya dari jumlah ini sudah termasuk pemuda Buddhis yang akan ikut memilih. Jadi bagaimanakah peran pemuda Buddhis dalam melaksanakan tugas ini?

Sejak sebelum era kemerdekaan hingga sekarang, pemuda selalu mempunyai catatan tersendiri dalam menyuarakan Demokrasi. Sumpah pemuda tahun 1928, proklamasi 1945, hingga reformasi 1998 menjadi tinta emas bagi para pemuda. Pemuda Buddhis sendiri pernah mencatatkan perjuangan pada Reformasi 1998 yang dikomandani oleh Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI).

Pasang Iklan

Seperti para pemuda lainnya, pemuda Buddhis juga memiliki kewajiban untuk memajukan bangsa dan negara tanpa kecuali. Peran dan semangat juang dalam pembangunan tentu sangat diharapkan kehadirannya dari para pemuda.

Pentingnya Peran Pemuda Buddhis dalam Pemilu 2019

Pemuda memiliki peran yang strategis dalam politik bangsa ini. Pemuda adalah sosok yang selalu menjadi pusat perhatian karena semangat juangnya termasuk perjuangannya dalam lingkup pemilu. Peran pemuda dalam menyongsong pesta demokrasi sehat bisa dikatakan sangat diperlukan.

Sebagai sosok pemuda terkhusus pemuda Buddhis, menjalankan atau mengontrol pemilu bersih di lingkup masyarakat Buddhis wajib dilaksanakan. Berbagai tindakan dan cara dapat dilakukan oleh para pemuda Buddhis untuk menghasilkan pemilu yang berkualitas di kalangan Buddhis.

xyx
Sumber: suaramerdeka.com

Sebagai agen perubahan, untuk menjaga keberlangsungan pesta demokrasi, para pemuda harus terjun ke lapangan agar keadilan dalam pemilihan benar adanya dan tidak dapat dimanipulasi. Pemuda Buddhis juga harus terlibat membantu KPU dalam menyadarkan seluruh elemen masyarakat untuk datang memilih agar pesta demokrasi ini menjadi pesta rakyat Indonesia yang sesungguhnya, terkhusus untuk masyarakat Buddhis yang minoritas agar rasa kepedulian kepada negara atau rasa cinta tanah air bisa meningkat.

Baca juga: Pemuda sebagai Elemen Penting dalam Pemberantasan Korupsi

Negara demokrasi memang memberikan hak lebih kepada suara terbanyak tetapi bukan berarti menghilangkan hak asasi kelompok kecil atau minoritas. Tidak ada hak khusus mayoritas atau minoritas, semua punya hak dan kewajiban yang sama, mengingat dikotomi mayoritas-minoritas seharusnya tidak perlu ada.

Bisa saja, hari ini seseorang menjadi bagian dari mayoritas, besoknya ia pindah ke tempat berbeda dan jadi minoritas. Kuncinya, tiap individu harus membuka diri dan tidak eksklusif. Caranya adalah membaur, membuka jembatan untuk bersama, dan menciptakan relasi yang cair. Minoritas jangan menebalkan diri dan lebih membuka diri. Untuk itu, perlu seni pendekatan.

Bagaimanapun, tugas anak bangsa adalah menjaga bangsanya agar tetap sejahtera dan berdaulat. Pemilih pemula Buddhis juga berperan penting untuk masa depan negara ini. Maka dari itu, mari sukseskan pemilu ini.

 

Penulis: Andri Aman
- Bendahara PC HIKMAHBUDHI Medan 2018-2020
- Mahasiswa S1 Jurusan Hukum Universitas Prima Indonesia

Editor: Billy Halim
Komentar via Facebook

Close