NasionalOpini

Pemilu 2019: Sebuah Pesta Demokrasi yang “GAGAL”

Oleh: Niko Fajar Setiawan

Tulisan ini tidak dibangun untuk menampilkan rasa pesimis dalam melihat Pemilihan Umum yang dilakukan oleh bangsa Indonesia pada 17 April 2019 lalu. Tulisan ini mengambil sudut pandang perbandingan antara pemilu pada tahun 2019 dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, untuk memperlihatkan bagaimana “gagalnya” penyelenggaraan pemilu yang dikatakan paling rumit serta paling besar di dunia baik secara teknis maupun secara nilai.

Mari kita lihat dari pasangan calon (paslon) Presiden yang berkompetisi dalam pemilu 2019 kali ini. Ada 2 paslon Pilpres yang ikut kontestasi, pertama calon nomor 01 yaitu Ir. H. Joko Widodo  (Jokowi) berpasangan dengan Prof. Dr. K. H. Ma’ruf Amin (petahana) dan nomor 02 yaitu Letnan Jenderal H. Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno, B.B.A., M.B.A. Kontestasi kedua pasangan ini setidaknya mengulang apa yang terjadi pada pilpres 2014, antara Jokowi dengan Prabowo walaupun dengan pasangan yang berbeda. Hal berbeda lainnya adalah status Jokowi sebagai petahana saat ini. Pada 2014 yang lalu, baik Jokowi maupun Prabowo merupakan penantang karena tidak ada petahana yang mengikuti pilpres 2014.

Pasang Iklan

Berdasarkan rekapitulasi KPU pada pilpres 2014, Pasangan Jokowi – Jusuf Kalla menang dengan presentase 53,15% dibandingkan dengan pasangan Prabowo – Hatta Rajasa dengan presentase 46,85% (Kompas.com, 2014). Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan hitung cepat yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey independen sebelumnya. Pada pemilu kali ini, walaupun rekapitulasi KPU belum selesai dan masih berlangsung hingga 22 Mei 2019 mendatang, tetapi hasil final hitung cepat beberapa lembaga survei telah dirilis. Perbandingan pilpres 2014 dan 2019 bisa dilihat pada tabel berikut:

Lembaga Survey Quick Count 2014 Quick count 2019
SMRC 52,91% – 47,09% 54,86% – 45,14%
Litbang Kompas 52,34% – 47,66% 54,52% – 45,48%
Poltracking 53,37% – 46,63% 55,21% – 44,79%
Indikator Politik 52,95% – 47,05% 53,91% – 46,09%
LSI Denny JA 53,37% – 46,63% 55,71% – 44,29%

*) Pasangan Joko Widodo disebut pertama kali.

**) diolah dari berbagai sumber

Pada tabel di atas, kita bisa melihat bahwa pergerakan suara kedua pendukung paslon tidak banyak berubah, lalu kenapa bisa demikian? Sementara, sudah ada rentang waktu sekitar 4,5 tahun hingga 5 tahun, bagi kedua paslon untuk mempersiapkan modal tambahan dalam meraup suara. Dari sisi petahana, suara yang tidak berubah banyak merupakan sebuah kegagalan yang sangat disayangkan.

Pembangunan infrastruktur yang masif selama menjabat ternyata tidak bisa memuaskan rakyat Indonesia. Bahkan, untuk menaikan suara sebanyak 5% saja tidak bisa. Hal yang lainnya adalah ketidakmampuan “blusukan” yang selama ini tersemat dalam raga Jokowi, seolah tidak mempunyai taring dalam meningkatkan suara bagi pasangan Jokowi. Bagaimana dengan paslon yang lainnya? Sebagai penantang, Prabowo yang awalnya diprediksi akan kalah dengan mudah, ternyata memberikan persaingan yang sengit menurut hasil hitung cepat hingga saat ini. Namun, apakah Prabowo berhasil? Tentu tidak berhasil bila melihat hasil hitung cepat yang tidak memenangkan dirinya sebagai Presiden hasil pilpres 2019 (setidaknya terlihat dari hasil hitung cepat, bukan klaim sendiri seperti yang dilakukan saat ini).

Kenapa Prabowo pun gagal? Padahal dirinya punya waktu yang sama dengan petahana? Kenapa mempunyai waktu yang sama? Hal ini tidak lepas dari fenomena cebong kampret yang dimulai pada saat pilpres 2014 (tagar.id, 2019) kemudian berlanjut saat Pilkada DKI Jakarta 2017 hingga saat ini. Prabowo juga menggunakan “kekuatan” agama sebagai senjatanya untuk memenangi pilpres kali ini, walaupun tidak ada pernyataan resmi mengenai penggunaan kekuatan agama yang dilakukan oleh kubu Prabowo. Namun, hal itu terlihat dari label Presiden hasil ijtima ulama (tempo.co, 2019) yang didukung oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) dan FPI sebagai motor hasil itijma ulama tersebut.

Sepanjang masa pemilu 2019, juga disuguhkan parodi politik dari kedua paslon yang selalu menghebohkan jagat maya dengan hal-hal yang tidak ada keterkaitannya dengan visi misi mereka, seperti “tempe setipis kartu ATM”, kemudian aksi Sandiaga Uno yang memakai rambut palsu dari pete, maupun pembahasan mengenai hoax Ratna Sarumpaet yang merupakan bagian dari tim pemenangan Prabowo – Sandi. Sedangkan, pihak Jokowi – Ma’ruf Amin juga sibuk mengklarifikasi pernyataan-pernyataan yang dilemparkan oleh pihak Prabowo – Sandi.

Segi penyelenggaraan pun tidak luput dari “kegagalan”, mulai dari isu kotak suara dari kardus, distribusi kelengkapan memilih, persiapan, maupun saat pencoblosan, terutama mengenai surat suara yang sudah tercoblos untuk pihak 01 maupun 02. Pemilu yang sudah berlangsung selama 20 tahun terakhir tidak lepas dari permasalahan-permasalahan di atas, seolah tidak ada jalan keluar yang efektif dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Puncaknya adalah korban jiwa dari pihak pengamanan hingga KPPS yang bertugas dalam penyelenggaraan pemilu kali ini (kompas.com, 2019).

Secara keseluruhan, Pemilu 2019 gagal dalam mempersatukan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang utuh. Gagal dalam mendewasakan para pemilih yang selalu berargumen mengenai identitas dibandingkan mengenai ide dan gagasan dalam membawa Indonesia menuju arah yang lebih baik lagi.

Dari keseluruhan kegagalan yang ada, apakah tidak ada keberhasilan yang dicapai? Tentu saja ada “keberhasilan” yang dicapai, yaitu rusaknya tenun keberagaman Indonesia. Sudah berapa banyak tali silaturahmi baik di kehidupan sehari-hari maupun di WAG yang putus akibat narasi cebong dan kampret yang semula menandakan dukungan untuk salah satu paslon hingga meluas pada pemahaman pendukung toleran maupun intoleran yang terjadi di negeri ini? Tidak hanya tali silatuhrami yang putus, saat ini, sangat mudah untuk menilai orang lain bahwa dia toleran atau intoleran dari cara berpakaian maupun tampilan fisik seseorang. Keberhasilan membawa polarisasi yang semakin tajam di antara kedua pendukung paslon yang sudah ada sejak 2014 hingga saat ini dan ditambahkan dengan perbedaan mengenai keyakinan pribadi masing-masing.

Mari kita hilangkan narasi cebong dan kampret dalam kehidupan kita. Berbeda pilihan merupakan sebuah keniscayaan, layaknya saya dan Anda berbeda dalam tampilan fisik. Siapapun Presidennya, merupakan sosok yang harus bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik. Siapapun Presidennya, tidak bisa membuat kita secara mendadak naik derajat sosial kita, naik martabat kita, mengubah profesi kita, atau paling tidak membuat kita semakin kaya dalam 1 malam. Semua itu bisa terjadi karena usaha kita, bukan karena orang lain yang menjadi Presiden Indonesia.

*) Disclaimer: tulisan ini tidak dibuat untuk menyatakan bahwa baik 01 maupun 02 adalah pemenang dari pemilu 2019. Mari kita semua menunggu hasil rekapitulasi KPU dan menghormati keputusan KPU pada tanggal 22 Mei 2019. Mari kita lupakan 01 dan 02, tetapi tidak boleh lupa dengan sila ke -3 dari PANCASILA yaitu PERSATUAN INDONESIA.

 

Referensi:

Niko Fajar Setiawan, M.Si.
- Kadiv Gatra Sosial Budaya 2019 White Army Institute (WAI)
- Tokoh Muda Tionghoa

 

Komentar via Facebook

Close