ArtikelOpini

Pancasila dan Generasi Millenial

0%

User Rating: 4.63 ( 2 votes)

Pancasila dan Generasi Millennial merupakan dua hal yang menarik untuk dibicarakan saat ini. Pancasila sebagai Ideologi Negara menjadi sebuah tema yang banyak dibicarakan di dalam berbagai forum diskusi dan seminar juga dimuat diberbagai media cetak dan online setelah secara resmi pada 19 Mei 2017, Presiden mengumumkan pembentukan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) melalui Perpres Nomor 54 Tahun 2017. Pancasila sebagai sebuah Ideologi memang sedang menghadapi tantangan besar di tengah arus perubahan yang terjadi sangat cepat di seluruh belahan dunia. Tantangan tersebut buka saja berkaitan dengan masalah ancaman terorisme, menguatnya kasus intoleran serta berbagai persoalan lainnya yang mulai merusak tenun kebangsaan kita, tetapi juga berkaitan dengan tantangan Pancasila sebagai sebuah ideologi dalam kaitannya dengan pergaulan global (internasional).

Pancasila dalam kaitannya dengan pergaulan global tidak dapat dipisahkan dengan generasi millennial[1], mengingat dalam beberapa puluh tahun kedepan merekalah yang akan menentukan arah dan nasib kemana bangsa dan negara ini harus melangkah. Oleh sebab itu menjadi syarat mutlak agar Pancasila dapat bersemayam di dalam jiwa para generasi millenniel diperlukan model komunikasi dan pendekatan yang lebih konstruktif, dialogis serta kekinian sesuai perkembangan jaman.

Pasang Iklan

Salah satau hal yang membedakan generasi millennial dengan generasi-generasi sebelumnya adalah soal media komunikasi, hal tersebut seiring dengan perkembangan teknologi media komunikasi yang sangat cepat. Generasi SBX adalah generasi dimana teknologi media komunikasi belum menjadi titik temu atau garis hubung di tengah-tengah masyarakat, sehingga intensitas pertemuan sangat tinggi untuk saling bertukar informasi tentang berbagai macam isu dan persoalan. Bagi generasi SBX, toleransi sangat hidup karena setiap orang sangat tergantung dengan pertemuan secara fisik dalam ruang dan waktu. Tatap muka menjadi kebutuhan dan hal itu dapat terjadi apabila ada toleransi. Tanpa ada toleransi, tidak ada tatap muka. Orang yang tidak bertoleransi akan tersingkir (teralienasi) dengan sendirinya dari pergaulan sosial di tengah masyarakat. Orang yang teralienasi tentu sangat susah hidup pada masa lalu.

Situasi tersebut sangat berbeda dengan generasi millennial yang hidup dalam dunia teknologi dan informasi yang sangat canggih. Berbagai prodak teknologi pintar (smart technology) seperti handphone, komputer, tablet, dan berbagai prodak lainnya menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi generasi millennial. Dalam mengekspresikan ide dan gagasannya, generasi millennial tidak lagi tergantung pada perjumpaan yang bersifat tatap muka, tidak lagi terhambat oleh ruang dan waktu, karena berbagai fitur teknologi seperti BBM, WA, IG, FB, Twitter dan lain-lainnya telah menjadi titik temu dan garis hubung bagi mereka.

Hal tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan yang sedang di hadapi Pancasila, pada titik ini telah terjadi kesenjangan pemahaman antara generasi SBX dengan generasi millennial terkait dengan nilai-nilai Pancasila. Generasi millennial kecenderungan memiliki konstruksi pemahaman yang abstrak tentang nilai-nilai Pancasila dibandingkan dengan generasi SBX hal tersebut dikarenakan generasi millennial tidak terlibat langsung dalam pergualatan emosional dengan masa-masa dimana Pancasila dilahirkan.  Selain itu medsos sebagai ciri dari generasi millenial juga banyak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang anti terhadap Pancasila untuk memproduksi konten-konten yang justru melemahkan Pancasila. Hal tersebut merupakan racun yang mematikan bagi generasi millenial juga bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu generasi millenial harus memiliki konstruksi pemahaman yang utuh tetang nilai-nilai Pancasila sehingga mampu menjadi pelopor bagi penggerak revolusi Pancasila.

Generasi Millennial Sebagai Pelopor Revolusi Pancasila

Tantangan yang di hadapi oleh Pancasila sebagai ideologi dari masa ke masa sangat berbeda, termasuk di era millennial saat ini tantangannyapun jauh lebih kompleks. Era millennial yang ditandai dengan era digital dan medsos sebagai ruang interaksi dan titik temu bagi masyarakat harus dapat dimanfaatkan sebagai media untuk menyemai nilai-nilai Pancasila. Menurut Yudi Latif dalam bukunya yang berjudul Revolusi Pancasila, bahwa kiris yang sedang melanda bangsa ini sudah akut sehingga diperlukan jawaban yang lebih dari sekedar jawaban politik biasa yang bersifat tambal sulam. Bobot krisis yang begitu luas cakupannya dan dalam penetrasinya ini hanya dapat dipecahkan melalui penjebolan dan penataan ulang secara mendasar sistem bernegara. Keberhasilan revolusi nasional yang dipimpin oleh para pendiri bangsa dalam mencapai kemerdekaan harus dilanjutkan dengan revolusi sosial untuk mewujudkan prikehidupan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Oleh karena itu revolusi sosial adalah revolusi Pancasila.

Revolusi Pancasila tidak lain dan tidak bukan merupakan upaya yang dilakukan untuk mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa sebagaimana yang telah di gagas oleh Bung Karno yaitu Trisakti. Trisakti pembangunan Indonesia yaitu kemandirian dalam bidang ekonomi, berkepribadian secara budaya, dan kedaulatan secara politik. Konsep Trisakti Bung Karno dijelaskan oleh Yudi Latif dalam pembahasaan yang berbeda dikaitkan dengan upaya untuk mewujudkan Revolusi Pancasila yaitu mental-kultural (superstruktur), material (basis), dan politik (agensi). Mental-kultural diarahkan untuk mewujudkan masyarakat relijius yang berperikemanusiaan, yang egaliter, mandiri, amanah, dan terbebas dari berhala materialism dan hendonisme; serta sanggup menjalin persatuan (gotong royong) dengan semangat pelayanan (pengorbanan). Meterial (basis) diarahkan untuk menciptakan perekonomian merdeka yang berkeadilan dan berkemakmuran; berlandaskan usaha tolong-menolong (gotong-royong) dan penguasaan negara atas cabang-cabang produksi yang penting-yang menguasai hajat hidup orang banyak, serta atas bumi, air dan kekayaan alam yang terkadung di dalamnya; seraya memberi peluang bagi hak milik pribadi dengan fungsi sosial. Politikal (agensi) diarahkan untuk menciptakan agen perubahan dalam bentuk  konsentrasi kekuatan nasional melalui demokrasi permusyawaratan yang berorientasi persatuan (negara kekeluargaan) dan keadilan (negara kesejahteraan); dengan negara melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan.

Generasi millenial dalam menjalankan tugas revolusi Pancasila sebagaimana telah dijelaskan di atas harus mengetahui siapa kawan dan siapa kawan. Yudi Latif merumuskan setidaknya ada 12 kelompok atau kategori musuh bagi revolusi Pancasila yaitu :

  1. Partai politik dan lembaga politik
  2. Kelompok kapitalisme domistik dan internasional
  3. Kelompok Pro Neo-liberalismen dalam dunia akademik
  4. Kelompok komprador (proxy) dari kapitalisme hitam
  5. Kelompok kleptokrasi dan pemburu rente dalam birokrasi
  6. Kelompok fundamentalisme pasar
  7. Kelompok fundamentalisme sekuler yang antitheis/Agama
  8. Kelompok pelaku budaya dan media yang mempromosikan materialisme, hedonisme, dan banalisme
  9. Kelompok fundamentalisme keagamaan
  10. Kelompok konservatif dan pro asing
  11. Kelompok oportunis
  12. Kelompok anti persatuan yang mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan

Dari penjelasan di atas pertanyaaan penting yang harus di jawab adalah bagaimana generasi millenial dapat menjadi pelopor revolusi Pancasila?. Generasi millennial untuk menjadi pelopor bagi revolusi Pancasila dapat dilakukan secara perseorangan maupun secara berkelompok. Namun sebelum membahas tentang bagaimana generasi millennial melakukan revolusi Pancasila maka penting untuk mengetahui terlebih dahulu tentang kecenderungan para generasi millennial. Jika kita mengamati maka ada beberpa hal yang nampak pada diri generasi millennial terutama terkait dengan gaya hidup. Berikut ini merupakan sebagian dari karakteristik generasi millennial secara umum yaitu senang nongkrong, tidak bisa dipisahkan dari gadget, senang jalan-jalan, senang membeli barang bermerek (branded). Terkait dengan pekerjaan atau profesi kelompok millennial cenderung memilih wirausaha (entrepreneur) sebagai profesi. Dari beberapa kebiasaan tersebut generasi millennial dapat menjadi pelopor revolusi Pancasila melalui bebera cara sebagai berikut :

  1. Melalui kesenangan nongkrong dapat digunakan untuk membentuk berbagai macam gerakan yang bertujuan untuk menyemai nilai-nilai Pancasila.
  2. Melalui profesi kewirausahaaan, generasi millennial dapat menjadi pelopor bagi terciptanya gerakan ekonomi kerakyatan yang berkemakmuran dan berkeadilan.
  3. Menjadi pengguna medsos/gadget yang cerdas dengan cara memanfaatkan medsos untuk menebar inspirasi berupa karya dan prestasi serta nilai-nilai moralitas Pancasila.
  4. Mengubah gaya hidup yang konsumtif dan hendon menjadi gaya hidup yang sederhana dan bersahaja, dengan demikian sebagian dari materi yang dimiliki dapat dipergunakan untuk kegiatan sosial.
  5. Menjadi pendobrak di kalangan kelompok millennial yang sebagian besar apatis terhadap politik sehingga menjadi lebih peduli dan terbangun kesadaran kolektif bahwa politik merupakan jalan strategis untuk menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab.
  6. Melalui kesenangannya jalan-jalan bisa dimanfaatkan untuk memperluas jaringan habitus-habitus Pancasila di tempat lain.
  7. Menjadi kader pengerak di sekolah atau kampus masing-masing untuk membentuk habitus Pancasila.

Referensi :

  1. https://nasional.sindonews.com/read/1209424/18/pancasila-dan-generasi-milenial-1496160704/
  2. Yudi Latif (2015) Revolusi Pancasila, Kembali Ke Rel Perjuangan Bangsa, Mizan, Bandung
  3. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/34351/1/BAMBANG%20SURYADI.pdf
  4. http://alvara-strategic.com/wp-content/uploads/whitepaper/The-Urban-Middle-Class-Millenials.pdf

[1] Generasi milenial adalah definisi demografi untuk mereka yang lahir pada tahun 1980-2000-an. Para ahli menganggap generasi ini berbeda dari sisi keyakinan religi, politik, interaksinya dengan teknologi, komunikasi, ekspresi dan lain sebagainya dari generasi-generasi SBX sebelumnya (Silent Generation 1928-1945, Boomer Generation 1946-1964, dan X Generation 1965-1980).

Adi Kurniawan, M.Si, Mantan Ketua Umum Hikmahbudhi (2012-2014), Alumni  Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia Jurusan Ketahanan Pangan, Staff ahli UKP-PIP
Komentar via Facebook

Tags
Close

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-format="fluid"
data-ad-layout-key="-ib+c-1l-47+dr"
data-ad-client="ca-pub-3950220369927210"
data-ad-slot="4948202095"></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>