Artikel

New Normal: Milenial Bisa Apa?

Oleh : Hendro Putra Johannes

Pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19), disukai atau tidak, memaksa transformasi ke normalitas baru, atau yang sering disebut new normal. Dunia bergejolak, negara kewalahan, banyak orang mengeluh tidak siap. Roda perekonomian melamban, bonus demografi terutama dari kaum milenial kini diuji. Para pelajar harus beralih ke metode pembelajaran online. Bahkan, wisuda kelulusan yang ditunggu-tunggu pun harus rela dijalankan secara online. Para pekerja baru kehilangan pekerjaannya. Bisnis start-up yang dirintis para pengusaha muda terancam gulung tikar. Dapatkah kaum milenial bertahan di tengah proses transformasi ini?

Pasang Iklan

Jika ditelaah kembali, new normal dapat diibaratkan proses keluar dari zona nyaman. Kaum milenial tentu menyadari pentingnya keluar dari zona nyaman untuk bertumbuh. Namun, yang lebih penting adalah tidak hanya keluar dari zona nyaman, tetapi juga memperluas zona nyaman itu. Dapatkah new normal menjadi zona nyaman baru bagi kaum milenial? Perumpamaan karbon dan berlian menjadi inspirasi betapa terbukanya kesempatan kaum milenial untuk bertumbuh selama proses transformasi new normal. Karbon dapat diubah menjadi berlian yang sangat berharga dengan aplikasi tekanan tinggi (Gnida, 2014). Demikian pula, kaum milenial yang awam dalam pencarian jati diri dapat ditempa menjadi pribadi berkarakter yang sukses dengan memberikan tekanan. Sejarah telah membuktikannya. Tekanan akibat ketertinggalan sains dan teknologi di abad 19 membuat Tiongkok membongkar sistem pendidikannya (Wibowo, 2004), hingga kini bertumbuh sejajar dengan Amerika Serikat. Uni Eropa adalah produk dari tekanan krisis ekonomi negara-negara Eropa usai Perang Dunia II. Yang terbaru, tekanan publik akibat kasus George Floyd membuat negara-negara bersatu memerangi rasisme. Tekanan terbukti membuat dunia berevolusi, mendorong alam membentuk struktur-struktur baru (Singer, 2013). New normal menjadi tekanan nan sempurna untuk menumbuhkan kaum milenial yang lebih beradab. Lantas, setelah menyadari kesempatan bertumbuh dalam new normal, langkah selanjutnya adalah menghadapi tekanan-tekanan yang datang. Apa yang bisa dilakukan kaum milenial?

Pertama, new normal perlu dipahami kaum milenial sebagai manifestasi dari kondisi yang tidak tetap (anicca). Resistensi pada kondisi tersebut tidak akan menjadikannya berhenti bergulir. Kondisi tidak tetap adalah hukum alam, yang tidak dapat disangkal eksistensinya (Dhammapada XX:277). Dengan demikian, new normal sesungguhnya hanyalah ‘hal biasa’ dalam fenomena alam. Lantas, mengapa harus resisten? Mungkin karena perubahan-perubahan yang terjadi jarang disadari. Sampai akhirnya, sensitivitas itu bangkit kembali oleh perubahan dahsyat yang diakibatkan Covid-19, seakan-akan menyadarkan kembali eksistensi hukum perubahan sebagai refleksi kondisi yang tidak tetap. Seberapa dahsyat sesungguhnya perubahan itu? Bukankah lebih dahsyat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 yang menghancurkan seisi kota dalam hitungan menit, atau tsunami Aceh 2004 silam yang menelan ratusan ribu nyawa? Mungkin perubahan kali ini menjadi lebih dahsyat karena virus mematikan yang sesungguhnya itu tidak kasat mata. Esensi dari pengertian kontemplatif ini adalah perubahan pola pikir. Kaum milenial yang ‘buta’ mungkin selamat dari pandemi Covid-19, tetapi menyisakan ‘mutasi virus’ yang lebih berbahaya dalam batinnya. Covid-19 mungkin tidak sedang menggerogoti tubuh, tetapi desas-desusnya kerap mengganggu keseimbangan batin. Menerima new normal sebagai fenomena alam yang ‘biasa’ akan melenyapkan semua gejolak batin yang timbul. Rasa khawatir, takut, atau cemas perlu segera dilenyapkan, sebelum mereka berbalik melenyapkan.

Kedua, sebagai orang-orang muda yang hidup di era disrupsi, kaum milenial perlu mengaktualisasi semangat (viriya) dalam upaya pencarian jati dirinya di kondisi yang sulit sekali pun (Samyutta Nikaya 51.20). Semangat menjadi suatu refleksi dari mandat terakhir Buddha Gotama, “Berjuanglah dengan sungguh-sungguh!” Kesungguhan tersebut pasti diawali dengan antusiasme (chanda). Bagaikan seorang pelancong yang ingin menyeberang ke suatu pulau, antusiasme ibarat pulau yang dituju, sementara semangat ibarat upaya untuk menyeberang. Antusiasme palsu kerap terjadi ketika ‘berpura-pura’ menyukai sesuatu, mungkin sebagai bentuk profesionalitas. Antusiasme seperti ini tidak salah, tetapi tidak akan mengarahkan pada tujuan sesungguhnya. Antusiasme yang jujur terlihat dari semangat yang membara disertai hilangnya perasaan bosan. Tetapi tentu, semangat perlu dikontrol dengan perhatian penuh (citta). Semangat yang berlebihan membawa musibah, tetapi semangat yang dilandasi perhatian penuh mendatangkan berkah. Ibarat dayung yang mengarahkan laju kapal sampai ke pulau yang dituju, perhatian penuh akan menyelamatkan dari arus yang menghanyutkan.

Ketiga, new normal adalah kesempatan yang baik untuk mengevaluasi diri (vīmaṃsā). Dengan evaluasi diri, dalam hal apa saja, kaum milenial meninggalkan cara-cara keliru yang menyebabkan kegagalan dan mengembangkan cara-cara efektif untuk menuju selangkah lebih baik. Evaluasi diri ibarat nyawa cadangan untuk bertahan dalam sebuah permainan. Evaluasi diri juga dapat diibaratkan obat mujarab yang menyembuhkan penyakit, sehingga mampu melanjutkan kehidupan. Tidak hanya bersifat memperbaiki, evaluasi diri juga bersifat mengoptimalkan. Bagi yang sehat, evaluasi diri ibarat suplemen untuk meningkatkan imunitas tubuh. New normal menekan kaum milenial hingga titik terendah, tetapi evaluasi diri akan memancing kreativitias dan inovasi akan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Platform edukasi online menawarkan kursus gratis sembari memperkenalkan layanannya. Para musisi menggelar konser virtual. Industri travel dan pariwisata meluncurkan layanan virtual tour dengan teknologi Virtual Reality video 360 derajat. Bukan tidak mungkin, kreativitas dan inovasi tersebut menjadi sumber perekonomian baru di masa mendatang. Inilah bukti nyata aktualisasi new normal sebagai zona nyaman baru kaum milenial.

Menyadari lalu menghadapi tekanan-tekanan new normal dengan kebijaksanaan adalah cara terbaik untuk memperluas zona nyaman kaum milenial. Tidak ada alasan untuk terjebak dalam zona nyaman. Jika tidak ingin terseret oleh zaman, bertumbuh adalah keharusan, menyesuaikan diri adalah mutlak. Antusiasme, semangat, perhatian, dan evaluasi diri yang diimbangi dengan pandangan bijak tentang kondisi yang tidak tetap adalah bekal kaum milenial untuk menatap new normal.

Mulailah berselancar di gulungan ombak nan tinggi, sesekali jatuh tenggelam pun adalah risiko, tapi percayalah, begitu Anda melaluinya, Anda telah bertransformasi menjadi seorang peselancar handal. Peselencar yang tumbuh dari karbon hitam tak bernilai menjadi gugusan berlian yang bernilai tinggi. Selamat bertumbuh!

 

Daftar Pustaka
Gnida, M. (2014, March 27). Science with Bling: Turning Graphite into Diamond. SLAC National Accelerator Laboratory. Retrieved from https://www6.slac.stanford.edu/news/2014-03-27-science-bling-turning-graphite-diamond.aspx
Singer, B. (2013). SalesDogs: You Don’t Have to Be an Attack Dog to Explode Your Income. Nevada: RDA Press.
Wibowo, I. (2004). Belajar dari Cina: Bagaimana Cina Merebut Peluang dalam Era Globalisasi. Jakarta: Kompas.

Daftar Referensi
Dhammapada XX:277. Maggavagga: The Path. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/dhp/dhp.20.budd.html
Samyutta Nikaya 51.20. Iddhipada-vibhanga Sutta: Analysis of the Bases of Power. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn51/sn51.020.than.html

Komentar via Facebook

Tags
Close