Opini

Muncul dan Lenyapnya Perasaan Bosan

Oleh: Hendro Putra Johannes

Perasaan bosan adalah kondisi tidak bergairah dan tidak memuaskan yang disebabkan oleh faktor lingkungan (Mikulas & Vodanovich, 1993) atau perbedaan individu (Farmer & Sundberg, 1986). Dalam pandangan Buddhisme, perasaan bosan adalah satu bentuk perasaan yang bersifat tidak tetap, namun menjadi sulit dilenyapkan ketika dilandasi keserakahan, kebencian, ketidaktahuan, keinginan untuk berbicara, atau pikiran untuk berpergian (Anguttara Nikaya 5.160). Dalam realitas pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19), perasaan bosan dianggap sebagai reaksi alamiah atas kondisi yang serbaterbatas. Reaksi tersebut dianggap alamiah karena dijadikan ‘pembenaran’ atas kegagalan melenyapkan kotoran-kotoran batin.

 

Pasang Iklan

Apakah perasaan bosan terjadi pada semua orang saat pandemi Covid-19 ini? Mungkin sebagian besar mengalaminya. Namun, tidak semua orang berlama-lama memendamnya apalagi menderita karenanya. Perasaan bosan sesungguhnya adalah pilihan. Orang-orang bijaksana mempercepat periode muncul dan lenyapnya perasaan bosan, sementara orang-orang yang masih dipenuhi kekotoran batin terjebak dalam ‘efek samping’ perasaan bosan. Sebagian besar yang terjebak itu gagal melenyapkan perasaan bosan karena terlalu sibuk mencari-cari solusi dari luar dirinya.

 

Kegagalan melenyapkan perasaan bosan ini membuat orang-orang menderita dalam berbagai situasi, bahkan usai pandemi Covid-19 ini berakhir. Bukankah mereka sudah sering menderita karena perasaan bosan bahkan sebelum pandemi Covid-19 melanda? Bosan dengan pekerjaan, bosan dengan makanan, bahkan bosan dengan pasangan hidup. Mereka mengeksplorasi perasaan bosan itu sampai-sampai tanpa disadari menjadi sebab penderitaan. Pekerjaan yang awalnya dicari-cari sebagai sumber penghasilan ‘dimusuhi’ karena banyaknya tuntutan atau kurangnya motivasi. Makanan yang menjadi nutrisi tubuh untuk menunjang kesehatan ‘dilecehkan’ karena tidak enak atau kurang bervariasi. Bahkan, pasangan hidup yang merupakan orang paling dicintai juga di suatu waktu ‘dikhianati’ sebagai orang yang dibenci hanya karena kurang romantis atau perasaan cemburu berlebihan. Ini membuktikan bahwa perasaan bosan tidak hanya berbuah penderitaan pada saat kondisi serbaterbatas seperti saat ini, tetapi juga pada saat kondisi normal yang berkecukupan dan menyenangkan sekali pun.

 

Selain dapat muncul kapan saja, perasaan bosan juga dapat muncul di mana saja, bahkan di tempat-tempat yang disukai sekali pun. Sebagai contoh, ketika mengalami perasaan bosan di kantor, muncul keinginan untuk bekerja dari rumah. Namun, ketika pandemi Covid-19 mengharuskan untuk bekerja dari rumah, perasaan bosan justru muncul setelah kurun waktu tertentu. Kegagalan batin untuk menoleransi situasi yang sama secara terus-menerus telah membuat gejolak yang sulit terelakkan. Gejolak tersebut tidak mengenal tempat. Para atlet renang professional sewaktu-waktu bisa merasa bosan saat berada di kolam reang. Chef yang senang berkreasi dengan resep-resep hidangan suatu saat juga mengalami perasaan bosan saat berada di dapur. Para pendaki gunung juga enggan untuk mendaki gunung yang sama berulang kali. Perasaan bosan muncul tanpa mengenal waktu dan tempat.

 

Mengapa perasaan bosan tersebut bisa muncul? Pada prinsipnya, perasaan bosan muncul karena adanya jenjang antara kondisi yang diharapkan dan kondisi realitas. Jenjang inilah yang menunjukkan gejolak batin pada orang-orang yang masih dipenuhi keserakahan, kebencian, ketidaktahuan, keinginan untuk berbicara, atau pikiran untuk berpergian. Banyak artikel juga telah menguraikan sebab-sebab kemunculan perasaan bosan.

 

Pertama, kondisi yang stagnan atau monoton dianggap sebagai sebab utama perasaan bosan. Misalnya ketika mendengar ceramah Dharma yang sudah pernah didengar sebelumnya, perasaan bosan sering muncul, bahkan sampai mengantuk atau tertidur.

 

Kedua, kesendirian kerap menjadi pemicu munculnya perasaan bosan. Kondisi kesendirian mengacu pada kurangnya interaksi dengan sesama sebagai makhluk sosial.

 

Ketiga, perasaan bosan dapat pula muncul ketika tidak ada aktivitas, misalnya ketika kehilangan pekerjaan. Karena sudah terbiasa dengan pekerjaan yang banyak sehari-hari, perasaan bosan muncul ketika pekerjaan tersebut tiba-tiba dihentikan.

 

Keempat, kondisi yang tidak menyenangkan menjadi alasan banyak orang untuk merasa bosan. Bagi sebagian orang yang menyukai kegiatan yang dinamis, beraktivitas di suatu ruang tertutup atau bahkan sekadar diam mungkin akan membuahkan penderitaan dan dalam kurun waktu tertentu berujung pada perasaan bosan. Sebab-sebabnya munculnya perasaan bosan yang diuraikan tersebut lebih mengacu pada sebab-sebab di luar diri atau sebab-sebab eksternal.

 

Dalam konteks Buddhisme, kurang tepat untuk menjadikan sebab-sebab eksternal itu sebagai alasan munculnya perasaan bosan. Sebab-sebab dalam diri atau sebab-sebab internal yang sepatutnya bertanggungjawab. Memahami munculnya perasaan bosan dari dalam batin adalah langkah awal dalam upaya melenyapkannya. Hukum sebab-musabab yang saling bergantungkan menguraikan sebab-sebab internal munculnya perasaan (Samyutta Nikaya 12.2).

 

Dengan adanya ini, maka terjadilah itu. Dengan munculnya ini, maka muncullah itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu. Dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah pula itu. Dengan adanya kesadaran, maka terjadilah batin dan jasmani. Dengan adanya batin dan jasmani, maka terjadilah enam indera. Dengan adanya enam indera, maka terjadinya persepsi. Dengan adanya persepsi, maka terjadilah perasaan. Dengan adanya perasaan, maka terjadinya nafsu keinginan. Dengan adanya nafsu keinginan, maka terjadilah kemelekatan. Begitu seterusnya rantai penderitaan ini bergulir tanpa akhir.

 

Perasaan bosan yang bersumber dari persepsi kesenjangan antara harapan dan realitas pada akhirnya hanya akan menimbulkan kemelekatan. Untuk itu, tidak wajar untuk menganggap perasaan bosan sebagai reaksi alamiah. Upaya-upaya perlu dilakukan untuk segera melenyapkannya.

 

Ketika mengetik “tips mengatasi bosan” di laman pencarian Google, ada hampir 2 juta artikel muncul di hasil pencarian. Namun, sebagian besar dari artikel tersebut menawarkan upaya-upaya mengatasi perasaan bosan melalui aktivitas-aktivitas fisik, misalnya dengan melakukan hobi (membaca buku, menonton serial televisi, menulis lagu, berkebun, berolahraga, atau belajar memasak). Aktivitas-aktivitas tersebut adalah aktivitas di luar diri. Padahal, perasaan bosan pada hakikatnya disebabkan oleh sebab-sebab internal dalam batin. Aktivitas di luar diri akan mengurangi perasaan bosan dalam sekejap, namun perasaan bosan tersebut bukan tidak mungkin muncul kembali setelah aktivitas tersebut selesai dilakukan. Artinya, aktivitas di luar diri tidak benar-benar melenyapkan perasaan bosan dari akarnya.

 

Upaya-upaya mengatasi perasaan bosan akan efektif ketika menyentuh pola pikir.  Pikiran dengan pengharapan tinggi akan berujung pada kekecewaan, untuk itu, menurunkan sedikit pengharapan akan menjadikan realitas lebih mudah diapresiasi. Setelah menurunkan pengharapan, upaya perlu dilanjutkan dengan mengamati pikiran. Mengamati pikiran adalah proses menyadari bahwa segala sesuatu akan muncul dan lenyap sebagaimana hukumnya.

 

Untuk menyadari itu, perlu kewaspadaan secara terus-menerus pada setiap bentuk pikiran yang muncul, termasuk bentuk pikiran yang memicu perasaan bosan. Kewaspadaan akan bentuk-bentuk pikiran ini tidak menuntut analisis atau interpretasi, cukup disadari secara pasif (Hansen, 2008). Secara nyata, kewaspadaan itu dapat ditunjukkan pada saat mengalami dua kondisi ekstrim, misalnya sukses dan gagal. Kewaspadaan akan menuntun pada perasaan netral, tidak senang berlebihan ketika meraih kesuksesan, juga tidak sedih berlebihan ketika mengalami kegagalan (Majjhima Nikaya 44). Dengan perasaan netral ini, kita akan mampu menoleransi kegagalan realitas untuk memenuhi pengharapan. Pada akhirnya, perasaan netral yang dituntun oleh kewaspadaan terus-menerus akan melenyapkan perasaan bosan.

 

Daftar Pustaka

Farmer, R., & Sundberg, N. D. (1986). Boredom proneness: The development and correlates of a new scale. Journal of Personality Assessment, 50(1), 4–17.  https://doi.org/10.1207/s15327752jpa5001_2

Hansen, S. S. (2008). Basic Buddhism: What Should We Know About Buddhism. Jogjakarta: Insight Vidyasena Production.

Mikulas, W. L., & Vodanovich, S. J. (1993). The essence of boredom. Psychological Record, 43(1), 3–12.

 

Daftar Referensi

Anguttara Nikaya 5.160. Duppaṭivinodayasutta: Hard to Get Rid of. Retrieved from https://suttacentral.net/an5.160/en/sujato

Majjhima Nikaya 44. Culavedalla Sutta: The Shorter Set of Questions-and-Answers. Retrived from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.044.than.html

Samyutta Nikaya 12.2. Paticca-samuppada-vibhanga Sutta: Analysis of Dependent Co-arising.  Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn12/sn12.002.than.html

Komentar via Facebook

Close