Artikel

Menjadi Pribadi yang Kredibel di Era Milenial

Oleh: Rendy Arifin

Beberapa tahun belakangan ini tentu sudah tidak asing lagi mendengar kata “Milenial”. Tidak hanya membicarakan apa itu Gen X, Gen Y maupun Gen Z, tapi juga melihat pergeseran era yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Era yang umumnya disebut Era Milenial ini ternyata membentuk karakter-karakter baru atau menonjolkan karakter khas dari generasi milenial yang berefek pada generasi sebelumnya maupun generasi berikutnya.

 

Pasang Iklan

Apa itu Milenial?

Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y, Gen Y atau Generasi Langgas) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Istilah milenial ini berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut sebagai “Echo Boomers” karena adanya ‘booming’ (peningkatan besar) tingkat kelahiran pada tahun 1980-an dan 1990-an. Untungnya di abad ke 20 tren menuju keluarga yang lebih kecil di negara-negara maju terus berkembang, sehingga dampak relatif dari “baby boom echo” umumnya tidak sebesar dari masa ledakan populasi pasca Perang Dunia II.

Perbedaan Generasi Milenial

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh McKinsey&Company bahwa Generasi Baby Boomer (1940-59), Gen X (1960-79), Gen Y (1980-94), dan Gen Z (1995-2010) memiliki konteks, tingkah laku, dan konsumsi yang berbeda. Hal itu dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Sumber: https://www.mckinsey.com/industries/consumer-packaged-goods/our-insights/true-gen-generation-z-and-its-implications-for-companies

 

Jika bicara era milenial, mungkin lebih tepat cukup membahas dua gen atau generasi terakhir, yaitu Gen Y (Millenials) dan Gen Z. Dua Gen tersebut merupakan gambaran dari generasi saat ini yang terus berkembang dan hidup dalam dunia digital.

Sumber: https://www.visualcapitalist.com/meet-generation-z-the-newest-member-to-the-workforce/

 

Pada umumnya, orang-orang yang lahir pada rentang tahun 1980-an sampai 2000 disebut sebagai generasi milenial, walaupun memang ada beberapa perbedaan rentang tahun dari beberapa ahli. Sederhananya, generasi milenial adalah generasi yang serba digital, konsumtif, dan instan.

Sifat Mendasar Generasi Milenial

Sebagai salah satu generasi yang besar dan berkembang saat ini, ternyata generasi milenial memiliki beberapa sifat mendasar, diantaranya:

  1. No Gadget No Life’

Gak perduli tua atau muda, rasanya gadget saat ini menjadi separuh jiwa mereka. Memang, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, ditambah dengan akses internet tak terbatas membuat para milenial betah berselancar dengan gadgetnya.

  1. Gaya hidup konsumtif

Generasi milenial pada umumnya lebih melek teknologi dan cenderung memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Milenial juga erat kaitannya dengan personal branding, cara untuk membentuk image sedemikian rupa dengan tujuan meningkatkan status sosial yang begitu penting bagi mereka. Hal ini yang membuatnya melakukan berbagai cara agar berhasil menaikkan level mereka secara sosial, salah satu yang bisa dilakukan dan merupakan karakteristik yang paling kentara adalah gaya hidup yang lebih konsumtif. Sebenarnya gak ada yang salah ketika apa yang dibeli, termasuk berbagai produk dari online shop serta gadget terbaru adalah murni pakai uang sendiri. Tapi jika masih meminta orangtua, sepertinya generasi milenial  sekarang harus lebih peka. Meski orangtua gak pernah mengeluh saat dimintai uang jajan, dalam hati mereka sebenarnya banyak kebutuhan yang masih harus dipenuhi.

  1. Suka dengan yang serba cepat dan instan

Sekali lagi, perkembangan teknologi telah memengaruhi para milenial  untuk mendapatkan hal yang diingin tanpa menunggu lama. Selain itu, mobilitas yang padat semakin membuat mereka memilih yang serba instan dan tak merepotkan. Mau makan? Tinggal pencet. Mau jalan-jalan? Tinggal pencet juga.

Milenial  pada hakikatnya tidak mau ambil pusing berbagai hal yang mungkin perlu dipertimbangkan. Pemikirannya serba cepat dan kadang mengabaikan pendapat yang diberikan orangtua. Seperti contoh kecilnya ketika ingin membuka usaha dan memulai karier sebagai seorang digital entrepeneur muda. Banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dan dalam hal ini mungkin orangtua yang berperan sebagai penanam modal juga akan memberikan masukan. Para milenial  perlu belajar bahwa membuka usaha itu tidak semudah yang terlihat di berbagai produk iklan di social media yang tampak menggiurkan buat dilakoni.

  1. Memilih pengalaman daripada asset

Ciri yang menggambarkan generasi milenial selanjutnya adalah mereka lebih suka menghabiskan uang untuk mendapat pengalaman tertentu dibanding menabung untuk menambah aset. Tentu saja, umumnya milenial lebih memilih jalan-jalan keliling Indonesia dan dunia daripada menabung untuk berinvestasi.

  1. Kritis terhadap fenomena sosial

Bagaimana tidak, generasi milenial menghabiskan banyak waktu untuk berselancar di dunia maya dengan perangkat pintarnya. Dari situlah mereka dihujani banyak informasi di seluruh dunia. Nah, tak heran kalau milenial sekarang lebih aktif untuk beropini di media sosial mengenai berita yang sedang hangat dibicarakan.

  1. Alergi dengan pekerjaan rumah

Milenial rata-rata memiliki waktu yang boros untuk berada di depan PCsmartphone tablet, dan televisi setiap harinya. Tercatat bahwa angka tersebut meningkat 17 kali per jam dari generasi sebelumnya. Hal ini juga jadi penyebab kenapa para milenial alergi buat melakukan pekerjaan rumah seperti sekadar membantu mencuci atau membersihkan rumah. Seringkali mereka bakal mencari alasan yang beragam saat dimintai bantuan oleh Ibunya, ada yang menunda dan bilang masih membalas chat atau melanjutkan streaming video di youtube.

  1. Apatis terhadap dunia nyata, termasuk interaksi keluarga

Bukan hanya kepekaan dan gaya interaksi di dunia nyata yang mulai berkurang, tapi juga komunikasi di lingkungan rumah, keluarga, ataupun tetangga yang makin diabaikan. Para milenial boleh jadi punya ratusan teman dan ribuan followers di instagram, tapi siapa yang tahu jika teman mereka di dunia nyata cuma bisa dihitung jari. Hal ini juga salah satu perilaku yang membuat resah orangtua karena tahu bahwa anaknya kurang bisa bersosialisasi di dunia nyata.

  1. Lebih mendengarkan komentar orang lain daripada arahan orangtua

Untuk mendapatkan personal branding yang diinginkan, para milenial selalu terpacu untuk menuai komentar atau review positif dari orang lain. Jika personality yang dimiliki mereka tidak kuat, bukan tidak mungkin social media pressure atau stress karena komentar negatif di media sosial akan membuat mereka depresi. Dalam hal ini, terkadang para milenial mengabaikan arahan orangtua sehingga hal buruk seperti ini kerap terjadi.

Apa itu Kredibel?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘kredibel’ mengandung arti dapat dipercaya. Banyak juga orang yang menggunakan kata kredibilitas dalam berbagai penelitian. Kredibilitas adalah keadaan/kondisi yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan sebagaimana mestinya atau bisa juga diartikan kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kredibel itu adalah hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan dan tanggung jawab.

Bagaimanakah Cara Membangun Kredibilitas?

Stephen MR Covey, dalam bukunya The Speed of Trust mengatakan bahwa ada empat hal yang perlu dilakukan untuk membangun kredibilitas. Dua dari empat hal ini berkaitan dengan karakter dan dua sisanya berkaitan dengan kompetensi. Jika memiliki empat hal tersebut, maka akan menjadi pribadi yang layak dipercaya. Keempat hal tersebut ialah:

  1. Integritas

Ketika membicarakan mengenai kepercayaan, maka integritas adalah hal pertama yang dilihat. Secara umum integritas berarti kejujuran. Walaupun integritas berbicara mengenai kejujuran, namun integritas lebih dari pada itu. Integritas artinya keterpaduan, yaitu mengamalkan apa yang Anda sendiri ajarkan, konsisten luar dalam, berani bertindak menurut nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan Anda.

  1. Niat

Inti kedua berhubungan dengan persoalan-persoalan niat. Niat ada hubungannya dengan motif-motif kita, agenda-agenda kita, dan pada akhirnya memengaruhi perilaku kita. Kepercayaan tumbuh ketika motif-motif kita jelas dan didasarkan pada manfaat bersama. Dengan kata lain, orang akan melihat niat kita baik ketika kita secara tulus peduli bukan saja kepada diri kita sendiri, namun juga kepada orang-orang yang berhubungan dengan kita, orang-orang yang kita pimpin, atau orang-orang yang kita layani. Ketika seseorang menunjukkan hal sebaliknya, ketika kita mencurigai adanya agenda tersembunyi dari seseorang atau kita tidak percaya bahwa ia mengutamakan kepentingan kita, kita akan mencurigai apapun yang dia katakan dan lakukan.

  1. Kemampuan/keahlian (skills)

Inti ketiga berhubungan dengan kemampuan kemampuan yang kita miliki. Kemampuan-kemapuan ini yang kita gunakan untuk mencapai hasil-hasil yang kita inginkan. Misalnya, seorang dokter mempunyai integritas dan niat yang baik. Namun, jika ia tidak dapat menunjukkan kemampuannya sebagai seorang dokter yang unggul, maka kita tidak akan dapat memercayainya.

  1. Hasil (results)

Inti keempat berhubungan dengan hasil. Hal ini mengacu kepada catatan prestasi kita, kinerja kita, keberhasilan kita. Segalanya menjadi acuan bagi orang lain untuk memercayai kita. Jika seseorang akan dipromosikan untuk jabatan yang lebih baik di masa depan, maka, hasil (results) yang telah dihasilkan hingga saat ini mempunyai peranan yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam menentukan karirnya di masa depan.

Gambar: falconhive.com, knowledgematters.eu

 

Dua hal pertama, integritas dan niat, adalah urusan karakter. Dua hal berikutnya, kemampuan dan hasil, adalah urusan kompetensi. Empat hal ini sangat penting untuk membangun kredibilitas kita menjadi pribadi yang dipercaya.

Cara paling mudah menggambarkan keempatnya adalah dengan metafora sebuah pohon. Integritas ada dibagian bawah permukaan. Ia adalah sistem akar dimana segalanya bertumbuh. Niat, digambarkan sebagai batang pohon yang keluar dari dalam tanah. Kemampuan yang kita miliki adalah dahan-dahan pohonnya. Sedangkan hasil, adalah buahnya – yang tampak oleh diri kita sendiri maupun orang lain.

Pribadi yang Kredibel

Di era milenial ini, para generasi muda hidup dengan kemudahan. Jika dimanfaatkan dengan baik, tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik pula, begitu pun sebaliknya jika dipakai untuk hal-hal buruk maka berakibat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jika kamu ingin membangun kepercayaan dengan orang lain, kamu harus memiliki integritas yang baik. Sederhananya, kamu memiliki sebuah toko online aksesoris handphone, kamu memasarkan berbagai macam produk dan menuliskan deskripsi yang sesuai di setiap produk tersebut. Ketika ada pembeli yang membeli produk kamu, maka dia akan merasa senang karena produk yang ia beli sesuai dengan deskripsi yang kamu tulis, sehingga dia akan menulis review product yang bagus dan menguntungkan untuk toko kamu. Tidak menutup kemungkinan juga dia akan kembali membeli produk lain di toko kamu karena sudah percaya dengan produk dan pelayanan yang diberikan. Tetapi sebaliknya, jika deskripsi barang yang kamu tulis tidak sesuai dengan barang yang ia terima, maka pembeli akan kecewa dan sudah hilang kepercayaan dengan toko kamu. Ditambah lagi ia akan menulis review product yang buruk sehingga menurunkan kualitas toko dan kepercayaan para calon pembeli.

Dari contoh kasus di atas, untuk menjadi pribadi yang kredibel, kamu harus melakukan apa yang kamu ucapkan atau ucapanmu harus sesuai dengan perilakumu. Jika menegur orang untuk tidak merokok, lihatlah diri kamu, apakah masih merokok?

Mengubah Karakter Buruk, Membentuk Karakter Baik

Pada suatu hari ada orang tua yang bijaksana berjalan melalui hutan bersama dengan seorang pemuda yang terkenal tidak bertanggung jawab dan keras kepala. Orang tua itu menghentikan langkahnya lalu menunjuk sebuah pohon yang masih kecil.

“Cabutlah pohon itu”, katanya.

Segera pemuda itu membungkuk dan hanya menggunakan dua jari saja ia dengan mudah mencabut pohon itu. Setelah berjalan lebih jauh lagi, orang tua itu berhenti di depan sebuah pohon yang agak besar.

“Coba cabut pohon ini”, perintahnya.

Sekali lagi pemuda itu menuruti, namun kali ini dia menggunakan kedua tangannya dan dengan sekuat tenaga mencabut akar pohon itu. Tidak lama kemudian, mereka menemukan pohon yang sangat besar.

“Sekarang cabutlah pohon ini!”, perintahnya lagi.

“Wah, itu tidak mungkin!”, protes pemuda itu.

“Aku tidak dapat mencabut pohon sebesar ini. Untuk memindahkannya diperlukan sebuah buldoser”, tambahnya.

“Kamu benar sekali”, jawab orang tua itu.

“Kebiasaan, entah baik ataupun buruk, sama seperti pohon-pohon itu. Kebiasaan yang belum berakar dalam seperti pohon yang masih sangat kecil, dapat dicabut dengan sangat mudah, sedangkan kebiasaan yang akarnya mulai mendalam seperti pohon yang sudah agak besar, untuk mencabutnya diperlukan usaha dan tenaga yang kuat. Kebiasaan yang sudah sangat lama telah berakar sangat dalam, sehingga orang itu sendiri tidak bisa lagi mencabutnya. Jagalah dirimu agar kebiasaan yang sedang kamu tanamkan adalah kebiasaan-kebiasaan baik”, tutupnya.

Dari cerita tersebut di atas, kita dapat mengambil pembelajaran bahwa segala sesuatu yang kita lakukan berulang-ulang (sampai mengakar kuat) akan menjadi sebuah karakter baru. Jika itu adalah perbuatan baik, tentu itu sangat bagus, tetapi jika itu adalah perbuatan buruk, butuh waktu untuk mengubahnya.

Kamma Kebiasaan (Acinna Kamma)

Di dalam agama Buddha kita mengenal akan Hukum Kamma, yaitu hukum sebab akibat dari suatu perbuatan. Pada pembagian Kamma menurut sifat dari akibatnya, di sana dijelaskan tentang Acinna Kamma. Acinna Kamma adalah perbuatan-perbuatan yang merupakah kebiasaan bagi seseorang karena seringnya dilakukan sehingga seolah-olah merupakan watak baru. Ternyata Acinna Kamma juga bisa menjadi faktor penentu kelahiran berikutnya ketika ajal/kematian seseorang datang.

Pancasila Buddhis

Agama masih menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter baik pada seseorang. Tentunya bukan hanya sekedar teoritis dan ritual, tapi juga dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Hal sederhana yang selalu Buddha Gotama tekankan dalam berbagai kesempatan, yaitu tentang moralitas. Bagaimana bisa seseorang dapat dipercaya jika moralitasnya buruk? Kunci terpenting dari sebuah kepercayaan adalah moralitas yang baik. Contohnya, jika kamu adalah orang yang jujur, taat aturan, dan berkompeten, maka orang-orang mungkin akan memercayai kamu untuk memegang bagian keuangan dari sebuah koperasi maupun perusahaan. Contoh lain, jika kamu adalah seorang yang suka menyebar hoax, ujaran kebencian, dan hal-hal sejenisnya, kemungkinan besar tidak ada orang yang akan memercayai kamu untuk menjadi seorang sales atau marketing sebuah perusahaan karena itu bisa mencoreng nama baik perusahaan tersebut.

Sebagai perumah tangga, umat Buddha diajarkan untuk menjalankan lima sila atau Pancasila sebagai berikut:

  1. Pāṇatipātā veramaṇi sikkhāpadaṁ samādiyāmi

(aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup).

  1. Adinnādānā veramaṇi sikkhāpadaṁ samadiyāmi

(aku bertekad akan melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan).

  1. Kāmesu micchācārā veramaṇi sikkhāpadaṁ samādiyāmi

(aku bertekad akan melatih diri untuk menghindari perbuatan asusila).

  1. Musāvādā veramaṇi sikkhāpadaṁ samādiyāmi

(aku bertekad akan melatih diri untuk menghindari ucapan yang tidak benar).

  1. Surāmeraya majjapamādaṭṭhānā veramaṇi sikkhāpadaṁ samādiyāmi

(aku bertekad akan melatih diri untuk menghindari segala minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan).

Output dari Pancasila Buddhis itu sendiri akan menimbulkan berbagai karakter baik, seperti penyayang, disiplin, sopan, jujur, dan fokus mencapai tujuan. Karakter-karakter baik ini akan membentuk sebuah kepercayaan diri yang dapat dilihat serta dirasakan oleh orang lain.

“Barang siapa sempurna dalam sila dan mempunyai pandangan terang, teguh dalam Dhamma, selalu berbicara benar, dan memenuhi  segala kewajibannya, maka semua orang akan mencintainya.”

(Dhammapada, XVI: 217)

Mau di era apapun, ajaran Buddha masih sangat relevan dan dapat dipraktikkan dalam berbagai sendi kehidupan. Pancasila Buddhis merupakan pondasi awal dalam membentuk sebuah integritas yang dilanjutkan dengan niat-niat baik dan dikawinkan dengan pengetahuan intelektual (skills). Skills ini bisa didapat melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan. Sebagai seorang Buddhis, menjadi pribadi yang kredibel di era milenial bukan merupakan hal yang sulit.

———————————————————————————————-

Referensi:

 

Komentar via Facebook

Tags
Close