Artikel

Mengenang Kebaikan Orangtua: Menyisihkan yang Manis

Oleh : Hendro Putra Johannes

Dalam Sutra tentang Jasa Besar Orangtua yang Sulit Dibalas, Buddha menguraikan sepuluh kebaikan yang telah dilakukan oleh orangtua. Kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan tanpa batas dan tanpa syarat kepada anak-anaknya yang sungguh dikasihi dan dicintai. Setelah mengenang tentang kebaikan menyediakan perlindungan dan perawatan semasa anak dalam rahim, kebaikan menanggung derita selama melahirkan, dan kebaikan melupakan segala kesakitan begitu anak lahir, kebaikan keempat yang dilakukan orangtua adalah kebaikan memakan yang pahit untuk dirinya dan menyisihkan yang manis untuk anak (The Filial Piety Sutra; Vijjānanda, 2012).

 

Pasang Iklan

Sedikit berbeda dengan kebaikan-kebaikan sebelumnya yang lebih menyorot pada kebaikan seorang ibu, kebaikan memakan yang pahit untuk dirinya dan menyisihkan yang manis untuk anak adalah kebaikan yang lebih universal, dilakukan baik oleh ibu maupun oleh ayah. Pengorbanan ibu dan ayah untuk memberikan yang manis untuk anaknya adalah satu dari ribuan contah nyata cinta kasih yang tulus dan tanpa batas. Cinta kasih ini dapat terkondisi karena adanya jalinan jodoh dalam garis keturunan mereka.

 

Namun demikian, cinta kasih tersebut dapat pula terkondisi tanpa jalinan jodoh dalam garis keturunan. Beberapa pasangan orangtua yang belum diberikan keturunan mengadopsi anak dari pasangan lain. Tentu keputusan mengadopsi anak ini tidak akan mengurangi cinta kasih mereka pada anak tersebut. Ini menegaskan bahwa cinta kasih tidak mengenal status jalinan jodoh keturunan. Cinta kasih patut dipancarkan tanpa mengenal batas (Sutta Nipata 1.8).

 

Terlepas dari dengan atau tanpa jalinan jodoh dalam garis keturunan, cinta kasih orangtua kepada anaknya tidak diragukan lagi. Kebaikan kedua orangtua begitu besar dan dalam, penjagaan dan pengabdian mereka tidak pernah reda (Vijjānanda, 2012). Tanpa henti, mereka menyisihkan yang manis untuk anak dan tanpa mengeluh menelan yang pahit untuk dirinya sendiri.

 

Cinta kasihnya begitu besar dan emosinya sukar tertahankan, kebaikannya sangat mendalam dan begitu pula welas asihnya. Hanya menghendaki anaknya tercukupi, orangtua welas asih ini bahkan tidak menghiraukan rasa laparnya sendiri.

 

Dengan kedua payudaranya, ibu memuaskan rasa lapar dan dahaga anaknya. Ibu juga menyelimuti anaknya dengan kain, melindungi anaknya dari angin dan dingin. Ibu memakan buah-buahan yang asam dan pahit serta menyisihkan buah-buahan yang manis untuk anaknya. Ibu juga tidak tega memberikan obat tablet yang pahit untuk anaknya yang sedang sakit, mencoba menggantinya dengan obat sirup yang rasanya manis.

 

Sementara itu, dengan usahanya yang gigih, ayah berjuang keras menjadi kepala keluarga yang baik. Ayah akan menjamin semua kebutuhan keluarganya tercukupi. Bahkan, ayah rela hanya memakan nasi putih dan kerupuk agar anaknya dapat menyantap daging. Ayah juga pergi kerja membanting tulang, mengorbankan tubuhnya yang semakin renta, untuk membawakan hadiah permen atau kue cokelat ketika pulang.

 

Dengan memberikan yang manis untuk anaknya, kedua orangtua mengharapkan kebahagiaan dan segala yang terbaik untuk anaknya, sama sekali bukan untuk diri mereka sendiri. Inilah bentuk harapan yang berlandaskan cinta kasih. Harapan yang jauh dari nafsu keinginan. Harapan yang tidak disisipi egoisme. Harapan yang dipahami dan dipraktikkan para bijaksana. Harapan yang berujung pada kebahagiaan sejati. Lengkap sudah kebaikan memakan yang pahit untuk dirinya dan menyisihkan yang manis untuk anak. Namun tentu, kebaikan orangtua belum berhenti sampai di sini.

 

Daftar Pustaka

Vijjānanda, H. (2012). Jasa Orangtua, Bakti Anak. Jakarta: Ehipassiko Foundation.

 

Daftar Referensi

Sutta Nipata 1.8. Karaniya Metta Sutta: Good Will. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/snp/snp.1.08.than.html

The Filial Piety Sutra. The Filial Piety Sutra: The Sutra about the Deep Kindness of Parents and the Difficulty of Repaying it. Retrieved from http://www.cttbusa.org/filialpiety/filialpietysutra.htm

Komentar via Facebook

Close