Artikel

Mengenang Kebaikan Orangtua: Melupakan Kesakitan

Oleh: Hendro Putra Johannes

Dalam Sutra tentang Jasa Besar Orangtua yang Sulit Dibalas, Buddha menguraikan sepuluh kebaikan yang telah dilakukan oleh orangtua. Kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan tanpa batas dan tanpa syarat kepada anak-anaknya yang sungguh dikasihi dan dicintai. Setelah mengenang tentang kebaikan menyediakan perlindungan dan perawatan semasa anak dalam rahim dan kebaikan menanggung derita selama melahirkan, kebaikan ketiga yang dilakukan orangtua adalah kebaikan melupakan segala kesakitan begitu anak lahir (The Filial Piety Sutra; Vijjānanda, 2012).

 

Pasang Iklan

Kebaikan melupakan segala kesakitan begitu anak lahir ini juga utamanya menyorot pada kebaikan seorang ibu yang mengandung selama berbulan-bulan hingga mempertaruhnya nyawanya untuk melahirkan buah hatinya ke dunia. Namun demikian, kebaikan ini tentu juga menyorot pada kebaikan seorang ayah yang turut mendampingi ibu, dengan sabar dan setia, saat sedang menanggung derita selama proses melahirkan maupun saat penuh haru dan bahagia saat anak berhasil dilahirkan (Sung, 2001).

 

Pada hari seorang ibu melahirkan anak, kelima organnya terbuka lebar, mengakibatkan badan dan batinnya teramat sakit dan letih. Darah mengucur bagai darah dari domba yang disembelih. Teknologi medis terkini, dengan metode anestesi atau pembiusan, terbukti mampu menghilangkan sementara rasa sakit itu, namun demikian, seketika dosis anestesi tersebut habis, rasa sakit yang luar biasa datang mendera.

 

Bahkan di beberapa negara, seperti Jepang, teknologi berbasis anestesi ini tidak begitu populer. Di Tokyo, ibu kota Jepang, hanya ada sekitar 5 rumah sakit yang menawarkan proses melahirkan dengan teknologi semacam itu (de Guzman, 2020). Kelima rumah sakit tersebut tentu memiliki kapasitas hingga jam operasional yang sangat terbatas. Alhasil, sebagian besar orang Jepang memilih untuk melahirkan dengan proses yang alamiah di rumah sakit pada umumnya.

 

Orang-orang Jepang beranggapan bahwa melahirkan adalah proses yang hanya terjadi satu atau beberapa kali seumur hidupnya. Para calon ibu justru ingin merasakan sakit sebagai momen yang dikenang dan patut dilewati sebelum menjadi seorang ibu. Sementara itu, para dokter juga beranggapan bahwa proses melahirkan tidaklah sama dengan proses operasi. Oleh karena itu, proses melahirkan tidak perlu melibatkan banyak obat-obatan dan cenderung menjadi proses yang alamiah (de Guzman, 2020).

 

Di balik proses melahirkan ini, apapun metodenya, tentu nyawa seorang ibu menjadi taruhan. Proses melahirkan dapat berdampak pada kematian pada ibu, walau pun probabilitasnya sangat kecil. Walau pun probabilitasnya kecil, pengorbanan seorang ibu demi anaknya patut dihargai. Di Indonesia, berdasarkan data World Bank pada tahun 2017, Angka Kematian Ibu mencapai 177 kasus dari 100.000 kelahiran (Jayani, 2019). Dengan kata lain, ada 1–2 ibu meninggal dunia setiap 1.000 kelahiran bayi. Angka ini terhitung dari periode kehamilan sampai 42 hari setelah berakhirnya kehamilan.

 

Pengorbanan seorang ibu telah melenyapkan semua ketakutannya akan kesakitan dan kematian. Tatkala mendengar anaknya lahir sehat, ibu dilanda sukacita melimpah. Kesakitannya seketika hilang sementara begitu mendengar tangis anaknya untuk pertama kali. Tetapi setelah sukacita tersebut, kepedihan kembali datang dan nyeri menderanya dalam-dalam. Ibu kembali berjuang dalam kesakitan, namun kali ini tentu dengan dukungan anaknya yang telah lahir ke dunia. Lengkap sudah kebaikan orangtua yang melupakan segala kesakitan begitu anak lahir. Namun tentu, kebaikan orangtua belum berhenti sampai di sini.

 

Daftar Pustaka

de Guzman, P. [Paolo fromTOKYO]. (2020, August 8). Shocking Facts about Childbirth in Japan [Video file]. Retrieved from https://www.youtube.com/watch?v=5fsNt0uTPUY

Jayani, D. H. (2019, October 8). Angka Kematian Ibu Indonesia Cenderung Turun. Databoks. Retrieved from  https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/10/08/tren-angka-kematian-ibu-di-indonesia

Sung, K. (2001). The Kindness of Mothers: Ideals and Practice of Buddhist Filial Piety. Journal of Aging and Identity, 6, 137–146. https://doi.org/10.1023/A:1011360216052

Vijjānanda, H. (2012). Jasa Orangtua, Bakti Anak. Jakarta: Ehipassiko Foundation.

 

Daftar Referensi

The Filial Piety Sutra. The Filial Piety Sutra: The Sutra about the Deep Kindness of Parents and the Difficulty of Repaying it. Retrieved from http://www.cttbusa.org/filialpiety/filialpietysutra.htm

Komentar via Facebook

Close