Artikel

Mengenang Kebaikan Orangtua: Derita Melahirkan

Oleh: Hendro Putra Johannes

Dalam Sutra tentang Jasa Besar Orangtua yang Sulit Dibalas, Buddha menguraikan sepuluh kebaikan yang telah dilakukan oleh orangtua. Kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan tanpa batas dan tanpa syarat kepada anak-anaknya yang sungguh dikasihi dan dicintai. Setelah mengenang tentang kebaikan menyediakan perlindungan dan perawatan semasa anak dalam rahim, kebaikan kedua yang dilakukan orangtua adalah kebaikan menanggung derita selama melahirkan (The Filial Piety Sutra; Vijjānanda, 2012).

 

Pasang Iklan

Kebaikan menanggung derita selama melahirkan ini lagi-lagi utamanya menyorot pada kebaikan seorang ibu yang mengandung selama berbulan-bulan hingga mempertaruhnya nyawanya untuk melahirkan buah hatinya ke dunia. Namun demikian, kebaikan ini tentu juga menyorot pada kebaikan seorang ayah yang turut mendampingi ibu, dengan sabar dan setia, saat sedang menanggung derita selama proses melahirkan (Sung, 2001).

 

Kehamilan berlangsung selama sepuluh bulan penanggalan rembulan dan berakhir pada kesulitan menjelang melahirkan. Selama momen menjelang melahirkan ini, tiap pagi ibu terdera sakit, seperti mual, muntah, hingga sakit berat. Tiap hari ibu mengantuk dan gerakannya menjadi lamban. Ketakutan dan keresahannya sulit dilukiskan. Derita dan air mata menyesakkan dadanya. Dengan cemas ia mengatakan kepada keluarganya bahwa ia takut maut akan merenggut dirinya. Lebih dari itu, tentu ia akan jauh lebih takut jika maut merenggut anaknya yang sungguhnya dicintai.

 

Setiap orangtua tentu sangat mengharapkan anaknya dapat dilahirkan dengan selamat tanpa kekurangan fisik apa pun. Selain keselamatan dan kesehatan fisik dari anaknya, orangtua tentu mengharapkan anaknya memiliki sifat yang baik, misalnya sifat yang berbakti. Akan tetapi, tentu ada hukum perbuatan yang bekerja yang tidak mampu dihindari dan ditolak eksistensinya.

 

Jalinan jodoh, sebagai konsekuensi dari hukum perbuatan, akan menentukan apakah anak yang dilahirkan adalah anak yang berbakti atau sebaliknya, anak yang pemberontak.

 

Jika anak yang dilahirkan itu memiliki sifat sangat berbakti, ia akan lahir dengan telapak tangan tertungkup menghormat. Kelahiran itu akan penuh bahagia, damai, dan berkah. Ibu tidak akan terluka parah oleh kelahiran itu dan tidak akan menderita sakit yang berlebihan. Itulah sedikit derita dan banyak kebahagiaan yang dirasakan oleh ibu yang melahirkan seorang anak yang berbakti.

 

Akan tetapi jika anak yang dilahirkan itu sangat pemberontak sifatnya, sampai pada tahap bisa melakukan lima perbuatan buruk berat, ia akan melukai rahim ibunya, mengoyak jantung dan hati ibunya, atau bahkan tersangkut di tulang-tulang ibunya. Kelahiran itu akan terasa sangat menyakitkan, bagai sayatan seribu pisau atau bagai sepuluh ribu pedang tajam menikam jantungnya. Itulah derita-derita yang harus ditanggung oleh ibu yang melahirkan seorang anak yang pemberontak.

 

Derita-derita yang ditanggung oleh ibu, baik itu sedikit maupun banyak, tentu tidak akan mengurangi sedikit pun rasa cinta orangtua kepada anaknya. Inilah bukti cinta kasih tanpa syarat dari orangtua. Orangtua tentu akan berusaha mendidik anaknya agar dapat memiliki sifat yang lebih baik seiring berjalannya waktu. Lengkap sudah kebaikan orangtua yang menanggung derita selama melahirkan. Namun tentu, kebaikan orangtua belum berhenti sampai di sini.

 

Daftar Pustaka

Sung, K. (2001). The Kindness of Mothers: Ideals and Practice of Buddhist Filial Piety. Journal of Aging and Identity, 6, 137–146. https://doi.org/10.1023/A:1011360216052

Vijjānanda, H. (2012). Jasa Orangtua, Bakti Anak. Jakarta: Ehipassiko Foundation.

 

Daftar Referensi

The Filial Piety Sutra. The Filial Piety Sutra: The Sutra about the Deep Kindness of Parents and the Difficulty of Repaying it. Retrieved from http://www.cttbusa.org/filialpiety/filialpietysutra.htm

Komentar via Facebook

Close