ArtikelBeritaDaerahKabar Dhamma

Mengenal Tradisi Pembersihan Rupang Buddha Menjelang Hari Waisak

Oleh : Rendy Arifin

Peringatan hari Waisak 2562 BE /2018 tinggal menghitung hari. Umat dari berbagai organisasi, vihara, dan perkumpulan buddhis mulai melakukan beberapa persiapan dan perayaan dengan suka cita. Mulai dari kegiatan Pindapata, seminar, Dhamma Talk, perlombaan, Sebulan Penghayatan Dhamma (SPD), dan lain sebagainya. Kegiatan yang diselenggarakan ditujukan untuk berbagai kalangan, mulai dari usia anak-anak, remaja, mahasiswa, dan hingga orang tua.

Salah satu kegiatan persiapan menuju Waisak adalah pembersihan Rupang Buddha atau dikenal dengan istilah Yifo. Di beberapa vihara atau cetiya di Tangerang, kegiatan ini masih terus dilakukan setiap tahun. Tidak ada catatan sejarah yang pasti mengenai asal mula tradisi membersihkan Rupang Buddha ini. Siapakah yang memulai dan apakah maknanya ? Membersihkan Rupang Buddha ini sudah menjadi sebuah tradisi setiap tahunnya di banyak vihara dan cetiya. Dan kegiatan ini mendapat antusias yang besar dari para umat. Beberapa orang beranggapan bahwa jika kita membersihkan Rupang Buddha, maka di kehidupan yang akan datang kita akan memiliki wajah yang rupawan.

Pasang Iklan

Kegiatan membersihkan Rupang Buddha biasanya diawali dengan pembacaan paritta dan gatha sebelum Rupang Buddha tersebut diturunkan. Dalam membersihkan Buddha Rupang ini, biasanya menggunakan beberapa bunga dan wangi-wangian. Perlengkapan yang digunakan juga cukup sederhana, diantaranya sikat gigi, handuk, ember, gayung, kain lap, dan alat pembersih sejenisnya. Para umat biasanya membersihkan secara bergantian dengan menyiramkan air ke Rupang Buddha. Setelah selesai, Buddha Rupang ditaruh kembali ke altar dan umat juga kembali membacakan paritta.

Jika direnungkan lebih dalam, ternyata membersihkan Rupang Buddha  memiliki makna bahwa sebelum Hari Waisak tiba, di mana hari tersebut juga disebut sebagai hari suci, maka batin ini juga harus bersih dari kekotoran bathin. Seperti halnya perjuangan Siddhartha Gautama untuk membersihkan diri dari segala kekotoran bathin sampai tiba saatnya purnama di bulan Waisak dan beliau mencapai penerangan sempurna, menjadi Buddha.

Membersihkan Rupang Buddha sebelum Hari Waisak menjadi sebuah simbolisasi bahwa batin ini juga harus bersih menjelang Hari Waisak, yaitu dengan  melakukan Atthasila selama sebulan atau mengikuti program pelatihan Pabbaja Samanera dan Silacarini. Ada juga yang mengikuti program pelatihan meditasi dan program Sebulan Penghayatan Dhamma. Program-program positif ini menjadi salah satu cara kita untuk melatih diri dalam meningkatkan kualitas bathin sebagai umat perumah tangga.

Komentar via Facebook

Close