ArtikelKabar Dhamma

Mengatasi Penyakit dalam Pandangan Buddhis

Oleh: Bhikkhu Sri Paññāvaro

Dalam Girimānanda Sutta dan Abhidhammatthasaṅgaha dijelaskan terdapat empat sebab yang membuat seseorang sakit.

  1. Pengaruh utu (iklim) yang tidak sesuai dengan tubuh dan juga yang bisa menyebabkan merebaknya penyakit.

Oleh karenanya, dalam konteks sekarang ini, menurut para pakar kesehatan, kita yang tinggal di daerah tropis cukup beruntung karena mempunyai cukup sinar matahari sehingga wabah COVID-19 tidak separah yang terjadi di negara-negara dingin. Berjemur pagi sangat dianjurkan.

Pasang Iklan
  1. Disebabkan oleh āhāra (makanan).

Sudah seharusnya menjaga kebersihan utamanya cuci tangan dengan baik supaya virus dan bibit penyakit lainnya tidak masuk ke dalam tubuh kita. Juga berusaha untuk mengonsumsi makanan sehat.
Untuk mencegah penularan dan tertular penyakit, sebaiknya banyak tinggal di rumah. Apabila perlu bepergian harus mengenakan masker, menghindari kerumunan, dan menjaga jarak dengan orang lain.

  1. Pengaruh citta (pikiran).

Di masa-masa pandemik sebaiknya tidak membaca terlalu banyak berita yang kita sering tidak mengetahui bahwa berita itu adalah berita bohong (hoax). Pikiran-pikiran negatif seperti: sedih, takut, marah, jengkel, benci, cemas, putus asa; berpengaruh besar dalam melemahkan kondisi tubuh, memperparah yang sudah sakit. Oleh sebab itu, banyaklah bermeditasi, memancarkan pikiran cinta kasih, termasuk membaca paritta.

  1. Akusala kammavipāka (akibat perbuatan buruk) juga menjadi sebab penyakit.

Kini waktunya lebih banyak berbuat baik dengan memberikan bantuan seperti: uang, makanan, alat-alat kesehatan kepada yang membutuhkan; baik disalurkan sendiri ataupun melalui lembaga.

Keempat hal tersebut perlu diindahkan.

Jadi, penyakit yang timbul tidak cukup hanya dihadapi dengan sembahyang, doa, membaca paritta saja, sekalipun hal tersebut memang perlu untuk memperkuat mental kita.

Juga, tidak semua penyakit adalah akibat dari karma buruk. Penyakit bisa timbul karena pengaruh iklim, makanan, dan pikiran.

Sekali lagi, perhatikan keempat pengertian Dhamma tersebut sebagai pedoman.

Disampaikan oleh Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera
Mendut, 10 April 2020
Komentar via Facebook

Close