ArtikelKabar Dhamma

Mencari Kebahagiaan dengan Meditasi, Sudah Tepatkah?

Oleh : Hendro Putra Johannes

Banyak orang menjadikan meditasi sebagai solusi atas berbagai permasalahan kehidupan. Meditasi kerap dianggap sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit batin. Belakangan, meditasi menjadi solusi yang populer dalam psikoterapi kontemporer untuk mengatasi kecemasan dan depresi (Edenfield & Saeed, 2012). Tidak sedikit yang berlatih meditasi dengan giat dan keras untuk menyembunyikan atau bahkan menyelesaikan permasalahan kehidupan mereka. Tujuan ini dapat diterima, namun bukanlah esensi dari praktik meditasi yang sesungguhnya.

 

Pasang Iklan

Apakah meditasi akan membawa pada kebahagiaan yang dicari-cari banyak orang? Beberapa orang mengikuti retret atau pelatihan meditasi dengan membawa masalah pribadi. Alhasil, permasalahan itu terus membayanginya pada saat retret atau pelatihan berlangsung. Akibatnya, mereka justru semakin tertekan, alih-alih mendapatkan pembebasan, mereka justru terjebak dalam kalut pikirannya sendiri.

 

Tidak hanya bertujuan menyelesaikan permasalahan hidup, tidak sedikit pula praktisi meditasi, baik yang mengikuti retret atau pelatihan maupun sekadar latihan mandiri, punya keinginan yang berlebihan untuk mencapai jhāna (tahapan pencapaian konsentrasi) tertentu. Jhāna menjadi alasan utama untuk melakukan latihan meditasi. Keinginan ini muncul karena kebahagiaan yang pernah dirasakan sebelumnya saat mencapai jhāna. Kebahagiaan sesaat itu menjadi belenggu kemelakatan yang begitu halus, yang akan menghambat latihan meditasi. Begitu pencapaian jhāna tidak terulang lagi, muncul perasaan frustasi yang berujung pada hilangnya semangat untuk berlatih. Maka dari itu, janganlah karena suatu pencapaian jhāna, seseorang melekat, apalagi menyombongkan diri sebagai seseorang yang lebih unggul dari yang lain. Dia yang berkata, “Saya telah mencapai jhāna pertama, tetapi yang lain belum mencapai jhāna pertama,” meninggikan dirinya atas pencapaian itu dan merendahkan yang lain, inilah ciri-ciri seseorang yang tidak punya integritas (Majjhima Nikaya 113).

 

Orang-orang yang tidak berintegritas itu seperti orang-orang yang berusaha memperhatikan lenyapnya eksistensi diri, namun pikirannya tidak menuju ke arahnya, tidak memperoleh keyakinan, tidak menjadi kokoh, dan tidak fokus; dengan demikian mereka tidak mencapai lenyapnya eksistensi diri itu sendiri (Anguttara Nikaya 4.178). Orang-orang yang tidak berintegritas itu juga seperti orang-orang yang berusaha memperhatikan lenyapnya kebodohan batin, namun pikirannya tidak menuju ke arahnya, tidak memperoleh keyakinan, tidak menjadi kokoh, dan tidak fokus; dengan demikian ia tidak mencapai lenyapnya kebodohan batin itu sendiri (Anguttara Nikaya 4.178).

 

Pencapaian kebahagiaan sebagai buah dari latihan meditasi bukanlah untuk dicari-cari. Ibarat kupu-kupu nan indah yang semakin menjauh ketika dikejar, begitu pula kebahagiaan itu menjadi sulit ditemukan ketika pikiran masih dikuasai oleh belenggu. Sebaliknya, ketika kita hening dan diam dengan landasan energi cinta kasih, kebahagiaan muncul dengan sendirinya. Latihan meditasi sesungguhnya tidak memerlukan target pencapaian apa pun.

 

Ketika tidak ada yang harus dicapai, maka tidak ada rintangan dan ketakutan dalam pikiran. Dengan demikian, khayalan ilusi pikiran akan berakhir dan kebahagiaan tertinggi pun dicapai (Prajnaparamita-Hrdayam). Ketika paham, kita akan sadar bahwa kita bukanlah apa-apa, dan karena bukan apa-apa, kita adalah segalanya (Kornfield, 2020). Demikian pula, meditasi bukanlah untuk tujuan apa-apa, bahkan bukan untuk kebahagiaan sekali pun. Oleh karena meditasi bukan untuk tujuan apa-apa, kita tidak menemukan rintangan dalam meditasi. Kebahagiaan, tanpa dicari-cari pun, menjadi konsekuensi absolut dari latihan meditasi. Cara memahami realitas pencapaian meditasi ini adalah suatu manifestasi dari konsep kosong dan isi. Kosong dan isi hanya dualisme yang diciptakan oleh ilusi pikiran. Kosong seolah-olah memusnahkan agregat yang berisi, sementara isi seolah-olah mengagregasi unsur-unsur yang tidak berinti. Padahal, sesungguhnya keduanya tidak bersela dimensi. Para bijaksana membebaskan diri dari dualisme ini.

 

Sesungguhnya, mencari kebahagiaan dengan meditasi tidak sepenuhnya keliru, hanya kurang tepat. Para praktisi meditasi perlu memahami esensi dari praktik meditasi yang sesungguhnya, yakni “menemukan” kebahagiaan, bukan “mencari.”

 

Daftar Pustaka

Edenfield, T. M., & Saeed, S. A. (2012). An update on mindfulness meditation as a self-help treatment for anxiety and depression. Psychology Research and Behavior Management, 5, 131–141. https://doi.org/10.2147/PRBM.S34937

Kornfield, J. (2020). Gaung Menembus Zaman. Jakarta: Karaniya.

 

Daftar Referensi

Anguttara Nikaya 4.178. Jambali Sutta: The Waste-water Pool. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.178.than.html

Majjhima Nikaya 113. Sappurisa Sutta: A Person of Integrity. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.113.than.html

Prajnaparamita-Hrdayam. Prajñāpāramitā-Hṛdayam: The Heart of the Perfection of Wisdom. Retrieved from https://www.ancient-buddhist-texts.net/Texts-and-Translations/Short-Pieces-in-Sanskrit/Prajnaparamita-Hrdaya.htm

Komentar via Facebook

Close