ArtikelKabar DhammaOpini

Membentuk Kebiasaan Baru dengan Beribadah di Rumah

Oleh: Rendy Arifin

Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia semakin masif. Hingga Senin kemarin (23/03/2020) sudah lebih dari 500 orang terkonfirmasi positif virus corona. Pemerintah pun sangat gencar menyuarakan pencegahan penyebaran dari virus ini, baik melalui media elektronik, media cetak, bahkan media sosial. Utamanya adalah menjaga pola hidup bersih dan sehat dengan rajin mencuci tangan, gunakan masker ketika sakit, dan hindari kerumunan (social distancing) serta menjaga jarak dengan orang lain (physical distancing). Cepat dan mudahnya penyebaran virus ini membuat pemerintah mengambil langkah dan menghimbau agar masyarakat Indonesia dapat belajar di rumah, bekerja di rumah, dan ibadah di rumah. Hal ini dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus tersebut.

Ditjen Bimas Buddha dan Sangha merespon cepat himbauan tersebut untuk mengikuti arahan pencegahan penyebaran virus dari pemerintah, dan beberapa vihara khususnya di daerah terdampak, meniadakan kegiatan puja bakti maupun kegiatan lainnya yang mengundang keramaian atau kerumunan orang sampai dengan keadaan kondusif dan normal kembali. Bahkan Sangha Theravada Indonesia telah memutuskan agar umat Buddha menyambut detik-detik dan merayakan Waisak tahun ini di rumah masing-masing (surat tertanggal 22 Maret 2020 Nomor: A.013/DP/STI/III/2020).

Pasang Iklan

Umat Buddha yang umumnya setiap minggu ke vihara untuk puja bakti harus menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Kebutuhan akan makanan rohani merupakan hal yang wajar. Kondisi ini mungkin memunculkan beberapa pertanyaan bahkan pernyataan dalam pikiran kamu.

Bagaimanakah cara umat Buddha beribadah di rumah?

Tidak apa-apa libur ibadah 2 atau 3 minggu ke depan. Mungkin bulan depan sudah normal.

Saya tidak punya altar di rumah, bagaimana mau beribadah?

Keluarga saya non buddhis, tidak memungkinkan saya beribadah di rumah.

 

Apakah salah satu pertanyaan atau pernyataan tersebut muncul dalam pikiran kamu? Jika iya, itu hal yang wajar karena kamu jarang atau bahkan belum pernah melakukan ibadah di rumah. Ketika kamu melakukan ibadah di vihara, utamanya kamu melakukan kebajikan sebagai berikut:

  1. Menghormat yang patut dihormat, seperti ajaran dan sifat luhur Buddha, Bhikkhu Sangha, dan para pandita
  2. Membaca paritta, sutta, dan gatha
  3. Meditasi
  4. Berdana
  5. Menjaga sila
  6. Mendengarkan atau berdiskusi Dhamma

Lalu bagaimana kita mengimplementasikannya di rumah?

  1. Ibadah tanpa altar Buddha bukan masalah

Jika sudah memiliki altar Buddha atau dewa-dewi di rumah, itu menjadi nilai tambah. Kamu tidak perlu bingung di mana tempat kamu untuk beribadah seperti membaca paritta, meditasi, dan lainnya. Tapi jika tidak punya, bukan berarti kamu tidak bisa beribadah. Apa yang ada di dalam altar Buddha hanya merupakan simbol bagi umat Buddha. Sebenarnya kamu bisa membaca paritta dan bermeditasi di mana pun senyamannya kamu, bisa di ruang tamu, ruang belajar, atau juga di kamar tidur. Jika kamu merasa aneh melakukan hal tersebut tidak di depan altar, kamu bisa saja menaruh rupang Buddha atau gambar Buddha di meja atau pun tempat lainnya sebagai pengganti altar dan merapikannya kembali setelah selesai. Termasuk yang keluarganya non Buddhis. Jika kamu takut keluarga terganggu ketika kamu membaca paritta, cukup pelankan suara kamu atau bacalah dalam hati. Selama keluarga kamu tidak terganggu, itu tidak akan masalah, terlebih hal yang kamu lakukan adalah hal baik.

  1. Menghormati orangtua dan keluarga

Momen ini bisa dijadikan family time. Kamu bisa beribadah bersama di rumah dan meningkatkan kebersamaan kalian. Jika di vihara biasanya menghormat Bhikkhu Sangha maupun Pandita, sekarang waktunya kamu menghormat orangtua dan keluarga. Apalagi kamu sudah belajar atau bekerja dari rumah. Membantu merapikan rumah, membeli atau memasak makanan favorit keluarga, membelikan obat dan vitamin kesehatan, dan lain sebagainya. Jadikan momen ini menyenangkan.

  1. Membaca buku Dhamma atau menonton video Dhamma

Di era digital saat ini sangatlah mudah untuk membaca buku dhamma maupun mencari video-video ceramah dari para bhikkhu. Kamu bisa mencarinya di website buddhis, youtube, maupun media sosial. Jika ingin berdiskusi, kamu bisa manfaatkan grup chat vihara atau komunitas kamu. Sesekali bisa memutar lantunan paritta maupun lagu-lagu buddhis yang penuh makna dan menyejukkan hati.

  1. Hitung-hitung latihan samanera

Jika biasanya para samanera berlatih di vihara. Kamu bisa jadikan momen ini untuk berlatih di rumah. Latihan samanera sementara biasanya 2-3 minggu lamanya. Tidak harus menjalankan 8 atau 10 sila, kamu cukup latih 5 sila saja itu sudah bagus. Kamu bisa membaca paritta setiap hari, meditasi setiap hari, membaca buku setiap hari dan aktivitas rohani lainnya setiap hari. Mau pagi setelah bangun tidur atau malam sebelum tidur, bahkan mau keduanya, ya itu terserah kamu.

  1. Berdana digital

Tidak perlu khawatir jika kamu melewatkan momen untuk berdana ke vihara maupun Bhikkhu Sangha. Dengan kondisi Indonesia saat ini, kamu bisa alihkan sementara uang kamu dengan berdana kepada yayasan, perkumpulan, maupun personal yang hasil dananya akan digunakan untuk penanganan virus corona di Indonesia. Tidak perlu keluar rumah, cukup gunakan mobile transfer atau melalui uang digital kamu. Berdana di era digital mudah dan tidak pakai ribet. Yang penting tulus dan hati-hati penipuan ya.

Jika hal-hal tersebut dilakukan secara continue sampai virus corona ini hilang di Indonesia, niscaya hal tersebut akan membentuk kebiasaan dan karakter baru bagi kamu. Hal-hal baik yang kamu lakukan, pastinya akan membawa kebaikan juga bagi kamu.

Selamat beribadah di rumah. Semoga Indonesia segera pulih.

Komentar via Facebook

Close