ArtikelNasional

Memaknai Kembali Hari Kebangkitan Nasional di Masa Pandemi Covid-19

Tim Redaksi

Hari ini kita kembali mengenang sejarah bagaimana putra-putra bangsa indonesia memulai perjuangan untuk hidup bebas di tanah sendiri dengan bahasa sendiri dan memiliki segala hak dan kewajibannya. Di masa itu, ketika Boedi Utomo dibentuk oleh Dr. Soetomo dan mahasiswa-mahasiswa School tot Opleiding Van Indische Atrsen (STOVIA) lainnya seperti M. Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, R. Angka prodjosoedirjo, M. Saleh. R. Mas Goembrek, Soeradji Tirtonegoro, dan Soewarno pada tanggal 20 Mei 1908 yang digagas oleh Dr. Wahidin Sudiro Husodo.

Perjuangan ini juga yang dalam sejarah mengawali gerakan Indonesia untuk maju, atau disebut secara lebih luas oleh Dr. Soetomo sebagai Indonesia Mulia. Dr. Soetomo menggunakan istilah “Indonesia Mulia” karena tidak hanya ingin melihat Indonesia memperoleh kemerdekaan tetapi juga menjadi bangsa yang maju dan makmur. “Meskipun kemerdekaan sudah tercapai, kita masih harus berjuang dan masih harus berkorban dan bahkan mungkin lebih sukar untuk memperoleh kemuliaan, memperbaiki keadaan rakyat, membangun rakyat pribumi, memperbaiki keadaan ekonomi dan sosial kita”, tulis Soetomo dalam artikel “Kompetisi Ora Konkurensi” yang terbit dalam bunga rampai Puspa Rinontje (1932).

Pasang Iklan

Pemahaman Indonesia mulia inilah yang mungkin harus kita pahami saat ini, walau Indonesia sudah merdeka hampir genap 75 tahun ini, kondisi bangsa Indonesia masih dalam status negara berkembang dan jauh kalah bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya yang bahkan beberapa lebih muda usia kemerdekaannya.

Terkesan memiliki pemikiran sempit-lah bila kita hanya menyalahkan pemerintah saja saat ini, terutama bisa kita lihat dalam penanganan musibah Pandemi Covid-19 sekarang ini, ketika pemerintah di lain sisi memiliki kebijakan yang saling bertabrakan dan sulit dipahami, banyak pula masyarakat yang acuh dan tak peduli dengan prosedur kesehatan dalam pencegahan penyebaran virus Corona.

Pasar-pasar justru sangat ramai, jalanan mulai macet dan seolah semua berontak dan melawan prosedur pencegahan pandemi ini. Kasihan jika melihat sisi pejuang kemanusiaan yang berusaha sekuat tenaga menangani akibat dari ketidakpatuhan banyak orang, para dokter dan tenaga medis lainnya yang rasanya seperti bolu kukus di dalam APD mereka selama 8 jam, tidak ada waktu luang untuk bersantai dan berbelanja, bahkan beberapa dari mereka meregang nyawa akibat kelelahan dan tak kuat menahan kuatnya virus yang akhirnya menulari mereka.

Wikipedia, 20 Mei 2020

 

Peta sebaran dalam covid.go.id

Jika kita membaca grafik penambahan jumlah positif corona setiap harinya hingga tanggal 19 Mei 2020, pandemi ini masih menunjukan peningkatan terus menerus walaupun terkadang jumlahnya menurun, bahkan pandemi ini semakin menyebar dan sekarang sudah masuk ke seluruh nusantara tanpa ampun. Pemerintah dianggap lalai dan tak becus mengatur sistem penanganan karena sering terjadi bentrok kebijakan antar kementerian dan lembaga, dan yang jadi korbannya adalah para pejuang medis dan mereka yang rela diam di rumah berminggu-minggu dengan seadanya, mereka yang akhirnya terpaksa gulung tikar dan gigit jari karena baru saja membuka usaha di awal tahun dan akhirnya harus merugi, mereka yang terkena PHK dan tak bisa mendapatkan penghasilan.

Jika bangsa ini berdiri berkat perjuangan para pelajar dan mahasiswa pada saat itu, mahasiswa sekarang lebih banyak mementingkan bagaimana mendapatkan nilai tinggi dan pekerjaan yang mapan untuk dirinya sendiri dan kelompoknya, beberapa memang bergerak melakukan aksi sosial dan kemanusiaan yang patut diacungi jempol karena ikut berjuang menjaga daya tahan hidup rakyat miskin.

Mahasiswa Buddhis menjadi salah satu yang bergerak bersama beberapa organisasi Buddhis lain, walau mungkin bantuan yang diberikan masih berupa materi, setidaknya itu dapat menguatkan kita sebagai satu kesatuan bangsa. Namun, jika pada zaman Soetomo dan Soekarno dahulu yang menjadi penggerak dan motor perjuangan mencapai kemerdekaan sebagai mahasiswa dan kaum intelektual, kemana gagasan dan ide brilian mahasiswa pada saat ini? Apakah tergerus dengan sistem pendidikan yang mengedepankan kuantitas nilai dibandingkan dengan kualitas dan intelektualitas? Atau memang pemuda sekarang lebih suka menikmati gelimang harta dan kenyamanan? Di saat yang lain berjuang memikirkan bagaimana cara makan hari ini dan bekerja keras menuntaskan pandemi ini, masih ada kaum intelektual yang bersantai dan mengeluh kapan sih situasi ini berakhir.

Sungguh sangat dirindukan bagaimana mahasiswa berjuang di garis depan membela kepentingan rakyatnya, memberikan gagasan dan ide brilian dalam situasi sulit seperti sekarang. Mahasiswa yang menggunakan waktu luangnya untuk menguras otaknya menjadi agen perubahan dan pemecah masalah seperti masa para pendahulu bangsa ini. Walau berat dan terdapat kekuatan kekuasaan yang seolah mengurung intelektual mahasiswa, kita tidak boleh menyerah dan terlena pada tantangan ataupun kenyamanan yang ada, mahasiswa harus terus bergerak dan berkembang sesuai zamannya.

Mungkin bukan bambu runcing atau buku berbahasa Belanda yang menjadi senjata, tetapi teknologi dan jaringan global ini sangat menantang bagi kaum mahasiswa sekarang untuk bergerak bersama sebagai kaum muda bangsa ini. Kita harus kembali menyatu seperti dahulu dan menyerukan persatuan dan turun ke media sosial, berita online dan televisi untuk menggaungkan perang dan merdeka dari Pandemi virus Corona ini.

Komentar via Facebook

Tags
Close