ArtikelKabar Dhamma

Memaknai Asadha 2020: Menemukan Permata dalam Dhamma

Oleh: Hendro Putra Johannes

Asadha adalah hari raya umat Buddha untuk memperingati peristiwa pembabaran Dhamma pertama kali oleh Buddha kepada lima orang pertapa di Taman Isipatana, Benares, India. Dhamma pertama yang dibabarkan adalah empat kebenaran mulia, yakni kebenaran mulia tentang penderitaan, kebenaran mulia tentang sebab munculnya penderitaan, kebenaran mulia tentang lenyapnya penderitaan, serta kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan (Samyutta Nikaya 56.11). Di saat itu pula, Sangha (persamuan para biksu) pertama kali terbentuk dengan ditahbiskannya Pertapa Kondanna menjadi seorang biksu pertama. Dengan demikian, lengkapnya sudah tiga perlindungan: Buddha, Dhamma, dan Sangha. Inilah momen penting nan bersejarah bagi umat Buddha untuk memahami hakikat kehidupan yang sesungguhnya.

 

Pasang Iklan

Hakikat kehidupan sesungguhnya tidak lepas dari Dhamma. Dhamma dapat merujuk pada hukum alam, yang bersifat mutlak, absolut, dan tidak terelakkan. Hukum ini bersifat universal dan bekerja dengan sendirinya (Hansen, 2008). Hukum ini mencakup lima hukum utama. Pertama, hukum alam mencakup hukum terbentuknya unsur non-organik, termasuk hukum-hukum fisika dan kimia. Hukum ini berhubungan dengan terbentuknya planet-planet, tata surya, galaksi, hingga fenomena-fenomena alam seperti gempa bumi, angin topan, perubahan iklim, dan sebagainya. Kedua, hukum alam mencakup hukum terbentuknya unsur organik, terutama hukum-hukum biologi. Hukum ini berkaitan erat dengan pertumbuhan, perkembangan, hingga perkembangbiakkan manusia, hewan, dan tumbuhan. Ketiga, hukum alam juga tidak lepas dari hukum kausalitas. Salah satu konsekuensi dari hukum ini adalah berlakunya hukum aksi-reaksi. Suatu aksi yang didorong oleh energi sebesar X akan menghasilkan reaksi yang persis dengan energi sebesar X pula. Dalam sudut pandang moralitas, hukum aksi-reaksi ini diwujudkan dalam konsekuensi suatu perbuatan. Perbuatan baik tentu akan berkonsekuensi baik secara dua arah, pada orang lain dan juga pada diri sendiri, begitu pula perbuatan buruk memiliki konsekuensi buruk secara dua arah. Keempat, hukum alam mengakui hukum kesadaran. Hukum ini berhubungan erat dengan proses kesadaran manusia dalam lingkaran kehidupan. Hukum sebab-musabab yang saling bergantungan dapat menjelaskan proses tersebut. Kelima, hukum alam juga mencakup hukum terbentuknya segala sesuatu yang tidak diatur oleh keempat hukum sebelumnya. Hukum ini mengatur unsur abstrak yang dikembangkan pikiran manusia, seperti ilmu matematika yang menjelaskan realitas alam dalam bentuk abstrak.

 

Walau pun Dhamma sebagai hukum alam dibabarkan oleh Buddha, bukan berarti Dhamma diciptakan oleh Buddha. Pandangan salah bahwa Dhamma diciptakan oleh Buddha perlu diluruskan. Muncul atau tidak muncul Buddha di dunia ini, Dhamma tetap berlaku tanpa bersela waktu (akāliko). Buddha menjadi sosok guru yang membabarkan Dhamma demi cinta kasih kepada semua makhluk, terutama mereka yang memiliki sedikit debu di matanya.

 

Namun demikian, memahami seluruh Dhamma yang begitu banyak dan luas adalah sangat sulit, atau bahkan hampir mustahil. Dhamma yang perlu dipahami adalah Dhamma yang membawa kebahagiaan. (Samyutta Nikaya 56.31). Suatu waktu di hutan pohon Simsapa, Buddha menggenggam beberapa daun di tangannya lalu bertanya kepada para biksu, “Para biksu, lebih banyak mana daun yang kugenggam dengan daun dari semua pohon yang ada di hutan ini?” Para biksu menjawab, “Daun yang digenggam Yang Mulia lebih sedikit; daun yang ada di hutan ini lebih banyak.” Buddha lalu menuturkan, “Demikian pula, ada banyak hal lain yang telah saya temukan, tetapi tidak saya sampaikan. Mengapa saya tidak menyampaikannya?” Buddha melanjutkan, “Karena, para biksu, itu tidak membawa manfaat, tidak mendukung kehidupan suci, serta tidak membawa pada lenyapnya nafsu, ketenangan, pengetahuan, dan penerangan sempurna. Itulah sebabnya saya tidak menyampaikan semuanya.” Demikianlah seharusnya umat Buddha memahami Dhamma. Pembabaran Dhamma yang sempurna oleh Buddha (svākkhāto bhagavatā dhammo) adalah kunci untuk menemukan permata di antara timbunan Dhamma.

 

Namun demikian, pemahaman Dhamma saja tentu tidak cukup. Dhamma akan melindungi bagi yang mempraktikannya (Dhammapada XIII:169). Dhamma yang sesungguhnya berada sangat dekat dengan kehidupan (sandiṭṭhiko) itu menuntut pembuktian (ehipassiko) bukan kepercayaan membuta. Pembuktian yang sesungguhnya akan membawa pada pembebasan (opanāyiko), terutama bagi orang-orang bijaksana yang tekun menyelaminya (paccattaṃ veditabbo viññūhi ti).

 

Seperti halnya peringatan Waisak beberapa waktu yang lalu, peringatan Asadha 2020 tidak kehilangan makna sejatinya, walau pun pandemi telah menciptakan jarak di antara umat Buddha. Peringatan Asadha 2020 menjadi momen untuk meneguhkan keyakinan dan memupuk kembali semangat untuk menemukan permata dalam Dhamma yang begitu banyak dan luas. Selamat Asadha 2020! Semoga Dhamma membawa kebahagiaan pada semua makhluk.

 

Daftar Pustaka

Hansen, S. S. (2008). Basic Buddhism: What Should We Know About Buddhism. Jogjakarta: Insight Vidyasena Production.

 

Daftar Referensi

Dhammapada XIII:169. Lokavagga: The World. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/dhp/dhp.13.budd.html

Samyutta Nikaya 56.11. Dhammacakkappavattana Sutta: Setting the Wheel of Dhamma in Motion. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn56/sn56.011.than.html

Samyutta Nikaya 56.31. Simsapa Sutta: The Simsapa Leaves. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn56/sn56.031.wlsh.html

 

Komentar via Facebook

Tags
Close