ArtikelKabar Dhamma

Memaknai 75 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Maju dalam Batin

Oleh : Hendro Putra Johannes

Kemerdekaan dapat diartikan sebagai suatu kondisi di mana negara meraih hak kedaulatan penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya. Dengan kedaulatan penuh selama 75 tahun ini, Indonesia sudah sepatutnya maju dalam berbagai bidang. Dalam perspektif Buddhisme, kemerdekaan Indonesia dapat dimaknai secara lebih luas sebagai kondisi maju dalam batin. Maju dalam batin adalah bentuk realisasi dari upaya mengendalikan pikiran secara sungguh-sungguh. Pengendalian pikiran ini adalah pokok dalam proses menuntun diri ke arah yang benar. Menuntun diri ke arah yang benar sesungguhnya adalah salah satu dari 38 berkah utama dalam kehidupan (Khuddakapatha 5; Sutta Nipata 2.4). Oleh karena itu, umat Buddha dapat memaknai 75 tahun kemerdekaan Indonesia untuk terus maju dalam batin dengan menuntun diri ke arah yang benar.

 

Pasang Iklan

Dewasa ini, menuntun diri ke arah yang benar menjadi penting karena situasi pandemi telah banyak mengubah sendi-sendi kehidupan. Pandemi secara drastis mendobrak normalitas, sehingga sering kali menempatkan batin kita dalam ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan ini terlihat nyata dalam kegagalan kita memahami pasang surut emosi. Padahal, pasang surut emosi adalah suatu kewajaran yang perlu dipahami secara bijaksana. Apabila pasang surut emosi ini tidak dapat dipahami secara bijaksana, kita akan luntang-lantung terbawa arus emosi. Sebagai contoh, ketika sedang merasa senang, kita akan rajin untuk berbuat baik, namun sebaliknya, ketika sedang merasa sedih, menderita, atau tertekan, kita berubah drastis melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

 

Selain membawa pada kegagalan memahami pasang surut emosi, pandemi ini juga telah sedikit banyak menghantui pandangan kita tentang kehidupan. Kita cenderung menjadi berpandangan sempit tentang kehidupan. Situasi pandemi dengan mudahnya menempatkan kita pada titik jenuh untuk berbuat baik. Titik jenuh ini disebabkan oleh pandangan sempit bahwa perbuatan baik yang telah dilakukan belum membuahkan hasil yang signifikan. Alhasil, kita akan tergoda untuk berhenti melalukan perbuatan-perbuatan baik. “Selama perbuatan baik belum membuahkan berkah atau kebahagiaan, berbuat baik dipandang sia-sia dan tidak ada hasilnya.” Sebaliknya, “Selama perbuatan buruk belum berbuah penderitaan, perbuatan buruk dipandang tidak akan berakibat buruk.” Kita yang masih berpikiran demikian akan terus terjebak dalam ketidakseimbangan batin. Kita akan menyia-nyiakan kesempatan dengan bersikap netral (didasari perasaan tidak acuh) saat berbuat baik atau bahkan beralih ke perbuatan-perbuatan buruk yang membelenggu. Padahal, situasi serbasulit selama pandemi ini seharusnya menjadi momen membangun semangat untuk menanam benih-benih kebahagiaan yang sudah pasti akan berbuah di masa mendatang.

 

Mengendalikan pikiran adalah kunci untuk menuntun diri ke arah yang benar di tengah godaan pasang surut emosi dan pandangan sempit tentang kehidupan selama pandemi. Mengendalikan pikiran siapa? Tentu, mengendalikan pikiran sendiri. Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan diri sendiri dengan baik, kita akan memperoleh perlindungan yang sungguh sulit dicari (Dhammapada XII:160). Dengan mengendalikan pikiran, kita tidak akan jenuh untuk terus berbuat baik.

 

Perbuatan baik hendaknya terus diulangi (Dhammapada IX:118). Lantas, faktor apakah yang perlu ditumbuhkan untuk mendorong suatu perbuatan baik dapat terus diulangi? Faktor utamanya adalah kemunculan perasaan berbahagia pada saat perbuatan baik itu dilakukan (Dhammapada IX:118). Bahkan, bobot dari perubatan baik itu adalah kualitas perasaan bahagia yang dimunculkan, bukan kuantitas dari perbuatan baik itu sendiri. Inilah sebabnya orang miskin yang mendanakan Rp10.000,00 bisa merasa jauh lebih bersyukur dan berbahagia dibandingkan orang kaya yang mendanakan Rp10.000.000,00.

 

Tidak hanya pada saat perbuatan baik itu dilakukan, perasaan bahagia dapat pula dikondisikan jauh setelah perbuatan baik itu dilakukan. Caranya sederhana, cukup dengan mengingat kembali perbuatan baik tersebut dan mensyukurinya. Dengan rasa syukur tersebut, perasaan bahagia akan muncul dengan sendirinya. Tidak sedikit dari kita yang kurang menghargai perbuatan baik sekecil apa pun yang telah dilakukan. Kita merasa perbuatan baik itu hanyalah rutinitas netral, sehingga kurang diapresiasi. Sebagai contoh, banyak dari umat Buddha yang menganggap puja bakti sebagai ritual mingguan semata. Padahal, mengikuti puja bakti atau bahkan diiringi dengan mendengarkan ceramah Dhamma dan praktik berdana adalah berkah yang patut disyukuri and dijadikan alasan untuk berbahagia.

 

Selain itu, perasaan berbahagia juga akan terdorong untuk muncul ketika kita sudah melepaskan ingatan-ingatan tentang perbuatan buruk yang pernah dilakukan di masa lalu. Karena hanya dengan melepaskan tali ikatan dengan dermaga, sebuah kapal dapat berlayar maju ke depan (Atthadhiro [Ratana Graha], 2020). Demikian pula, dengan melepas pengalaman buruk masa lalu, kita akan mampu berbahagia dalam menuntun diri ke arah yang benar. Dirgahayu Indonesia, ayo maju dalam batin.

 

Daftar Pustaka

Atthadhiro, Y. M. B. [Ratana Graha]. (2020, August 16). PUJA BAKTI MINGGU 16 Agustus 2020 [Video file]. Retrieved from https://www.youtube.com/watch?v=qMYMAKVQxu0

 

Daftar Referensi

Dhammapada IX:118. Papavagga: Evil. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/dhp/dhp.09.budd.html

Dhammapada XII:160. Attavagga: The Self. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/dhp/dhp.12.budd.html

Khuddakapatha 5. Mangala Sutta: Blessings. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/khp/khp.5.nara.html

Sutta Nipata 2.4. Maha-mangala Sutta: Protection. Retrieved from https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/snp/snp.2.04.than.html

Komentar via Facebook

Close