ArtikelKabar Dhamma

Melawan Bosan dengan Menemukan Kedamaian

Oleh: Bhikkhu Ratanadhiro

Bagi kebanyakan orang mungkin tidak biasa dalam belajar, bekerja, dan beribadah di rumah, apalagi dalam waktu yang lama. Tidak heran bila banyak yang merasa jenuh dan bosan, juga mendambakan sesuatu yang dianggap baru untuk menyegarkan pikiran.

Secara umum, terdapat 3 penyebab bosan:
1. Stagnan; merasa kehidupan selalu sama dari waktu ke waktu tanpa adanya perubahan.
2. Kesendirian; merasa hampa seorang diri, tidak ada yang menemani, tidak ada orang lain yang diajak untuk melakukan interaksi.
3. Tidak ada kegiatan; menghabiskan waktu dan melakukan kegiatan yang cukup banyak, tetapi berhenti dalam waktu tertentu secara tiba-tiba.

Pasang Iklan

Di dalam Dhamma, bosan adalah salah satu bentuk perasaan. Sebagaimana halnya rangkaian kelompok kehidupan yang lain, perasaan bersifat tidak kekal, selalu berubah, dan tidak bisa dipertahankan. Perasaan diumpamakan seperti gelembung air di musim hujan. Begitu berbentuk, tak lama kemudian akan pecah tanpa meninggalkan sisa. Artinya bahwa apapun perasaannya, termasuk rasa bosan, ketika muncul maka langsung hilang, begitu timbul maka langsung lenyap. Inilah realitanya. Akan tetapi, mengapa tampaknya rasa bosan terus datang silih berganti di saat hati ini terasa sepi?

Ada 5 hal yang sulit dihilangkan ketika muncul:
(Duppaṭivinodaya Sutta AN 5.160)

1. Nafsu (Rāga)
2. Kebencian (Dosa)
3. Ketidaktahuan (Moha)
4. Keinginan untuk berbicara (Paṭibhānaṃ)
5. Dorongan melakukan perjalanan (Gamikacittaṃ)

Berharap tenang malah selalu gelisah. Makin disuruh diam malah makin berontak (di medsos). Diminta santuy (baca: santai) di rumah malah jalan-jalan. Begitulah cara kerja pikiran. Namun, dijelaskan bahwa semuanya ini bisa dipadamkan dengan cara yang sesuai, yaitu dengan pengertian, perenungan, serta pencapaian hakikat kehidupan yang sebenarnya yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Guru Agung kita memberikan teladan nyata untuk selalu berjuang dalam mencapai tujuan, bahkan dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun. Seperti halnya para pahlawan kemanusiaan yang berjuang untuk menyelamatkan umat manusia, kita juga harus selalu berjuang untuk mengendalikan diri dari segala bentuk ucapan, perbuatan dan pikiran yang tidak baik, dan berusaha mengembangkan ucapan, perbuatan dan pikiran yang baik. Tetaplah berjuang dengan penuh kesadaran. Lindungilah semua makhluk seperti melindungi diri sendiri. Berikanlah yang terbaik untuk sesama. Karena pada akhirnya, Buddha mengingatkan bahwa tidak hanya yang buruk yang perlu ditinggalkan tetapi juga yang baik pun harus dilepaskan. Jika berani meninggalkan penderitaan, ketika tiba waktunya, kita pun harus berani melepaskan kebahagiaan, karena tidak ada sesuatu apapun yang layak untuk digenggam selamanya.

Semoga semuanya terbebas dari penderitaan
Semoga semuanya senantiasa berbahagia

 

Komentar via Facebook

Close