Berita
Trending

Melalui Gagasan Kewirausahaan Sosial, Institut Nagarjuna Soroti Upaya Pembangunan Kemandirian Umat

Oleh : Wandi Siswanto

Dalam rangka hari Kathina 2562/2018, Institut Nagarjuna (IN) menggelar diskusi interaktif  Kathina dan Kewirausahaan Sosial dengan tema “Menuju Umat yang Mandiri”. Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif IN, Isyanto menyampaikan bahwa tujuan diadakannya diskusi ini adalah untuk memperingati hari besar agama Buddha, yaitu Kathina Dana.

“Berapapun yang hadir, hal ini menjadi sangat baik, saya rasa, senang, bahagia, kawan-kawan (peserta) diskusi masih muda masih enerjik. Kemarin dalam rangka, Waisak, Asadha, Kathina dan berikutnya Magha Puja. Kathina ini adalah bulan momentum yang sangat baik bagi kita untuk umat melakukan dana kepada sangha. Tetapi juga tidak hanya di bulan kathina kita berdana, tentunya di setiap bulan, setiap saat , setiap waktu kita bisa melakukan itu.” Ujar Isyanto

Pasang Iklan

Selanjutnya, menurut Isyanto, Sangha saat ini juga sudah mengalokasikan dana Kathina untuk hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan kemajuan komunitas.

Diskusi yang digelar pada sabtu ( 24/11) di resto Ekaria, Jakarta ini dihadiri  sekitar 40 peserta dari berbagai latar belakang. Sejumlah  aktivis mahasiswa dan pemuda termasuk para aktivis HIKMAHBUDHI hadir. Turut hadir pula beberapa mahasiswa dari Institut Kesenian Jakarta yang sedang melakukan studi tentang tema diskusi.

Dalam kesempatan ini, hadir para pembicara yaitu Bhante Dhammakaro yang merupakan perwakilan dari Sangha, lalu Budiman yang merupakan profesional muda dan juga aktivis Buddhis, dan Marensya Tan dari kalangan pelaku wirausaha sosial.

 

Mengenal Lebih Dekat Tentang Kewirausahaan Sosial

Pengantar diskusi dimulai dengan pemaparan tentang kewirausahaan sosial yang saat ini banyak digeluti para pelaku usaha bisnis. Widodo selaku moderator diskusi menuturkan dalam pengantar diskusi kali ini bahwa makna kathina sebenarnya terdapat kaitannya dengan keuangan. Lalu, apa itu kewirausahaan sosial ?

“Kewirausahaan sosial adalah ada di tengah, dia bukan kegiatan charity, dia bukan kegiatan bantuan dan bukan juga semacam jualan. Dia melakukan sebuah kegiatan bisnis tapi punya dampak di bidang sosial. Karena ini adalah sebuah bisnis maka harus punya pertama adalah profit, mereka juga melibatkan banyak orang dan bisnisnya tentunya untuk bermanfaat bagi planet  atau bumi.” Tutur Widodo dalam pengantarnya

Widodo juga menyampaikan bahwa kegiatan kewirausahaan sosial tidak memiliki kegiatan yang berkaitan dengan  tambang atau ilegal loging. Serta memiliki dampak dalam 3 hal, pertama dampak secara ekonomi, kedua dampak secara sosial dan ketiga dampak terhadap lingkungan. Salah satu pelaku pelopor kewirausahaan sosial di Indonesia adalah Bambang Ismawan.

“Kita semua pasti kenal yang namannya Trubus. Pak Bambang adalah pendiri dari Bina Swadaya (BS), ini holding company-nya Trubus. BS memiliki banyak anak perusahaan dan banyak membantu masyarakat,  Koperasi Maju juga memakai jasa konsultasi anak perusahaan Pak Bambang Ismawan.” Ujar Widodo

 

Melihat  Tata Kelola Dana Kathina oleh Manajemen Yayasan

Kathina sudah menjadi pemahaman umum bagi umat Buddha, yaitu hari persembahan dana kepada para Sangha. Mulai tahun 2000an, yayasan mulai aktif. Saat itulah pengelolaan dana mulai dilakukan oleh manajemen vihara.

“Pertama dialokasikan saat itu pula 25% untuk panitia atau vihara yang menyelenggarakan, 25% lagi untuk para bhikkhu yang hadir, misalkan untuk  transport. 50% masuk dalam kas sangha, pendidikan dengan lingkup para bhikkhu yang kuliah di luar negeri, di thailand, dan baru kira-kira tahun 2010 baru mulai untuk umat. Sangha ada bidang pendidikan dan bantuan beasiswa. Secara lebih besar lagi dana dialokasikan untuk bantuan pembangunan vihara,  sekitar tahun 2010  lalu, yang diupayakan adalah mereka yang belum punya dhammasala kebanyakan pun ini adanya di daerah. Baru mulai tahun 2010 mulai merembet untuk kuti kantor dan prasana lain, walaupun itu belum ter-cover semua.” Ujar Bhante Dhammakaro

Selanjutnya menurut Bhante, dana juga dialokasikan untuk bidang kesehatan. Kesehatan di sini masih terbatas dalam lingkup anggota sangha, maupun samanera serta untuk bantuan keluarga para bhikkhu atau samanera.  Kesehatan umum atau umat di-cover oleh anggaran kesehatan lain serta untuk personal sangha sendiri. Bhante juga menyampaikan adanya niat Sangha untuk memanfaatkan sebagian dana yang terkumpul untuk mendukung bidang kewirausahaan sosial dalam rangka permberdayaan umat. Ini akan menjadi sebuah terobosan yang baik jika terrealisasi.

Bhante juga memberikan pemahaman intisari Buddhisme tentang makna melepas bukan berarti bahwa tidak boleh mengumpulkan kekayaan, namun esensinya adalah tidak melekat pada kekayaan yang terkumpul.

 

 

Mengubah Pola Pikir dan Pendekatan Dalam Dunia Kewirausahaan

Pemaparan selanjutnya dilakukan oleh Budiman, salah seorang aktivis Buddhis sekaligus wirausawahan muda. Dalam pengantarnya, Budiman menyampaikan bahwa di dalam organisasi (Majelis Buddhayana Indonesia) yang menaunginya pun tidak dikatakan sangat maju, tetapi masih berusaha mengejar banyak ketertinggalan.

“Saya sendiri sehari-hari bergelut di bidang yang disampaikan oleh Mas Widodo tadi. Kurang lebih sekitar 20 start  up yang bergerak di bidang peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, big data, robotic, machine learning, satelit dan lain-lain,  itu semua kurang lebih 20 yang saat ini kami tangani. Saya memang belajar agama Buddha pertama kali mentok baca buku Mulla Madya Canday dari Nagarjuna di perpustakaan ITB. Saya baca halaman 1-10 muntah-muntah.”

Selanjutnya menurut Budiman, era saat ini yang disebut dengan era disrupsi. Disrupsi ini beda yang kita sebut dulu dengan inovasi, dan macam-macam inovasi, kenapa disebut disrupsi ? Apa bedanya dengan inovasi ? Inovasi itu memperbaiki yang sudah ada, hasilnya bisa continous improvement, kalau di Jepang namanya KSN , bisa juga disebut break through (melahirkan sesuatu yang baru) misalnya televisi tabung menjadi datar.

Adapun hal yang membedakan disrupsi ini adalah make (membuat) apa  yang sudah ada menjadi tidak relevan, itulah yang terjadi di dunia saat ini. Apapun bidangnya pasti akan berkaitan dengan itu. Kita sebut saja hari ini yang sudah di depan mata, ojek pangkalan tergeser oleh gojek, grab, dan lain-lain. Taksi juga kalah, biro travel juga sudah mulai tumbang. Semakin lama semakin banyak lagi yang tumbang. Akan demikian terus karena ini adalah eranya. Dan ini dapat kita lihat dari dua sisi mata uang, ada yang disebut opportunity, di sisi lain ini justru menjadi tantangan yang luar biasa bagi semua orang termasuk anda anak-anak muda di sini.

“Bahwa Yuval Noah Harari, ini kita ngomongin filsafat terus ya karena kita kan yang mengundang Nagarjuna (IN), Yuval Noah Harari orang adalah seorang historian, orang Israel, tidak pernah belajar Budhism, tapi kalau anda baca buku dia yang paling baru, ini trilogi hampir sama seperti triloginya Malcolm Gladwell dengan bukunya Lesson from Blink, The Tipping Point dan 21 Lessons for the 21st Century.  Sappiens ngomongin kenapa manusia ada sampai hari ini, itu bicara thousand years ago, berapa ribu ratus tahun yang lalu sampai sekarang, kenapa manusia ada dan apa yang dikerjakan oleh manusia, homodeus bicara soal future, manusia ini kedepannya seperti apa, kalau dari 21 pelajaran dari 21st century apa yang dibicarakan soal ini. Ketika Yuval Noah ini diwawancara dia bilang apa yang paling menakutkan kedepan ? Ada 2 hal, pertama semua pendidikan yang kita pelajari hari ini itu tidak relevan lagi untuk masa depan, dan dia mengatakan banyak terminologi tidak ada dibuku anda saat ini, anda kuliah, anda di SMA, anda di SMP itu tidak ada lagi, anda bisa bayangkan bagaimana neuro science, machine learning, artificial intelligence , biochemistry bicara soal sensor, robotic dan bagaimana robot itu bisa ngomong sendiri. Saya kira itu semua dunia masa depan tidak anda pahami dan tidak  ada di kurikulum yang kita pelajari saat ini, itu yang menakutkan menurut Yuval Noah Harari.” Lanjut Budiman

Diskusi berlanjut dengan pembahasan Learn from Blink dan 21 Lessons for the 21st Century. Jika jaman 10 atau 20 tahun yang lalu kita ingin melihat  inovasi, kita dapat mencari produk keluaran milik Sony atau Mitshubisi. Dan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir sampai hari ini  semua inovasi baru tersebut tidak pernah datang dari perusahaan-perusahaan besar. Sebagai catatan, hari ini tidak ada yang namanya inovasi baru datang atau lahir dari perusahaan-perusahaan besar. Mulai dari Whats Up, yang dibuat oleh anak Ukraina yang sudah hampir mati kelaparan dan kemudian bisa membuat aplikasi Whats Up seperti sekarang yang kita pakai. Di Indonesia kita bisa melihat William dengan Tokopedia atau Nadiem dengan Gojek dan seterusnya.

“Dan kita cukup bangga karena masih ada 3 dari Unicorn dan Almost Unicorn yang anak muda Buddhis, William itu anak buddhis, walaupun dia tidak pernah secara institusi di inkubasi oleh institusi atau organisasi buddhis manapun. Yang kedua adalah Agate itu binaan saya sendiri itu juga binaan Unicorn, Agate itu adalah game studio terbesar di Indonesia saat ini, kurang lebih 200 orang yang bekerja akan menjadi 500 tahun depan untuk bisnis game saja. Dan mungkin Yasa Singgih yang terakhir yang anda tahu dengan Mens Republic-nya itu juga salah satunya. Kenapa saya mengutarakan ini di tengah-tengah kewirausahaan karena ini jaman baru. Kalau kita tidak mengubah mindset atau approaching kita terhadap kewirausahaan dan masih berpikir lahir dari institusi-institusi besar kita akan ketinggalan jaman. Karena institusi besar itu sendiri mulai tergopoh-gopoh untuk mencoba bisa mengikuti perkembangan jaman ini, kan anda lihat banyak yang tumbang, Nyonya Menir yang berdiri sejak 1928 saja pegel, kecapean. Baru terakhir anda juga baru dengan pabrik Sari Wangi juga tutup dan seterusnya. So Being Expert di Institusi yang usianya puluhan tahun, ratusan tahun itu tidak menjamin anda bisa exist. Bos Nokia ketika nutup perusahaannya dalam pidato terakhirnya mengatakan ‘there is nothing wrong with our company,  gak ada yang salah dengan perusahaan saya, we are cut and balance system, we put our best strategy and we engaged and hire komisaris-komisaris dari harvard dan lain sebagainya but yet kita tidak bisa survive.’ Kalau ditanya kenapa  why you can’t survive because the world changed so fast.” Lanjut Budiman

Menurut Budiman, salah satu hal yang harus disiasati adalah mendidik lagi lebih dalam penyebab yang membuat kita kalah. Close system yang kita pikir awalnya paling unggul, ternyata yang benar adalah open system. Jadi yang membuat symbian yang dipakai sama Nokia itu bisa karam dan membuat windows mobile itu tidak bisa berkembang adalah karena lahirnya android yang open source, yang terbuka untuk siapa saja. Jadi karena terbuka untuk siapa saja banyak orang bisa mempelajari coding, bisa membuat aplikasi (program) bermacam untuk android.

Hal yang sama juga terjadi dalam agama Buddha. Agama buddha yang close system tidak akan menjadi apa-apa, dia akan fade out seperti yang terjadi di India, akan fade out juga seperti terjadi di Indonesia, karena close system. Agama Buddha harus menjadi open system, di era-era baru sekarang ini sistem ini dibawa oleh HIKMAHBUDHI, INEB oleh Ajahn Sulak, kemudian Dalai Lama, Titch Nat Han dan lain-lain. Mereka mempopulerkan engage buddhism, bagaimana buddhism itu hadir di tengah-tengah masyarakat. Bukan lagi buddhism yang close system tapi buddhism yang betul-betul terlihat sebagai open system. Karena satu-satunya kesempatan bertahan adalah melalui open system. Seperti hal nya setelah sepeninggalan Steve Job, kita juga tahu bahwa Apple kehilangan momentumnya untuk game karena apa ? Karena close system.

“Teman-teman sekalian kalau saya ngomongin ke teman buddhis selalu saya katakan Hey wake up! ini adalah golden moment. Kenapa disebut sebagai golden moment ? Saya punya dua acuan, 1 saya mengacu pada Buddha sendiri, yang kedua saya mengacu pada Schumacer. Schumacer ini yang melahirkan teori “small is beautiful “pada tahun 1973, diketawai seluruh dunia. Dia bilang ini adalah orang gila, saat semua orang bicara kapitalisme, dia sendiri yang bicara soal ekonomi small is beautiful. Which is sekarang ini it happened, sekarang ini kejadian. Sekarang ini terwujud dalam bentuk economic of sharing, terwujud dalam long term economy. Apa itu economy of sharing dan apa itu long term economy? Umat Buddha sewajibnya dan seharusnya memiliki DNA yang diwariskan oleh Buddha sendiri Buddha Gautama atau Sakyamuni Buddha. Perjalanan hidup dari Buddha itu menurut saya adalah perjalanan hidup seorang disrupter, beliau berani melawan arus, disrupter itu kan melawan arus ketika orang ke kiri dia ke kanan. Dari meninggalkan istana yang mewah sementara kita sekarang ini malah mencari kemapanan, beliau malah meninggalkan kemapanan. Saya sering ketemu dengan banyak start up, karena saya ada di the end the force, saya ada di Giretsu, saya ada di komunitas tangan di atas, ada di komunitas pemberi dan seterusnya saya jadi senior mentor di sana. Banyak sekali bahkan orang tua yang anaknya begitu mau memiliki jiwa kewirausahaan yang tadi disebut oleh Widodo soal bikin plastik yang biodegradeble dan sebagainya. Lu mau makan apa? Kalau lu lulusan ITB, UI, UGM, Tri Sakti, Untar segala Binus cuma mau kerja kaya gitu digaji cuma 3 juta sebulan. Hanya menyandang gelar Co-Founder, sementara temen di luar sana sudah menjadi manager udah bawa mobil. Again, kemapanan yang membuat kita tidak berani padahal kalau DNA-nya umat Buddha yang bener DNA yang diwariskan oleh Buddha Gautama. Aku bilang kalian ini pengecut semua. Karena Buddha begitu berani, Sakyamuni ketika memutuskan untuk meninggalkan kehidupan perumah tangga, hidup di sana kemudian menjadi pertapa itu adalah sebuah terobosan yang sangat luar biasa, ini yang pertama. Dan yang kedua bagaimana Buddha itu begitu egaliter, anda kalau baca buku yang ditulis oleh Titch Nat Han, anda bisa merasakan beliau itu begitu egaliter. Tidak membedakan kamu dari kasta Brahmana kah, kamu dari kasta ksatria kah, tidak ada suci itu ditentukan kamu lahir dari keluarga mana, bisa kita makan bareng-bareng, semua level dan golongan. Jadi kalau kita umat buddha terlepas dari status kita malah pengen dihargai karena status jabatan, title dan sebagainya. Menurut saya kita kok menodai ajaran yang dibawa oleh Buddha itu sendiri. Yang ketiga yang saya pelajari dari agama Buddha, yang juga sesuai dengan ekonomi planet dan profit, betapa Pindapata itu pun diatur supaya tidak mengganggu umat, jamnya tidak boleh sembarangan, tidak boleh tiap jam ketuk pintu itu menurut saya sangha sebagai monastik saja begitu care dengan urusan seperti itu. Ini sebenarnya adalah pola hidup yang sederhana yang sudah banyak ditinggalkan umat Buddha sendiri. Bagaimana ketika seseorang menjadi samana seorang hanya bermodalkan pata dan jubah itu kan bagaimana pola hidup yang sederhana. Saya melihat bahwa kalau kita bicara soal disrupter (pelawan arus) tadi itu Buddha sangat melawan arus.” Lanjut Budiman

Di tengah-tengah banyak orang yang bicara soal kasta dan kesucian yang mengikuti struktur hinduism pada saat itu kasta brahmana itu harus mengerti tentang kitab dan lain-lain, sampai sudra dikatakan untouchable kalau dalam bahasa hindi namanya dalit. Menurut Budiman, ini merupakan golden moment, kenapa ? Karena dulu hanya orang kaya yang bisa jadi kaya, hanya orang sukses yang bisa melahirkan anak-anak yang sukses. Di jaman sekarang asal kita punya tekad dan punya kemampuan, kita punya kesempatan yang sama dengan siapapun. Karena disruption era yang dipicu oleh digital tadi. Ini adalah masa keemasan.

Dalam paparan sebelumnya, Bhante juga sudah menyebutkan tentang dana umat. Jika di tempat lain kebetulan terdapat Lazis NU dan Lazis MU, dua-duanya adalah contoh dari ekonomi dari economy of sharing, contoh dari long term economy. Itulah yang disebut oleh Schumacer ‘small is beautiful’. Jika dulu buat usaha selalu berpikir tentang kepemilikan saham paling besar, ownership harus paling besar, yang kerja sama dapat gaji dan tidak usah mikir yang lain-lain. Sekarang dibalik semuanya, kita tahu Nadiem yang punya Gojek itu hanya memiliki saham kurang dari 5%. Sekarang kita lihat , di Gojek kalau anda jadi penarik gojek, 80% itu hasilnya dinikmati oleh tukang gojek, 20% buat perusahaan demikian juga Grab demikian juga yang lain-lain. Itulah yang disebut sebagai economy of sharing, itulah yang membuat banyak orang bisa menikmati kehidupan dari Gojek tadi. Termasuk Lazis NU , Lazis MU, Kitabisa.com, kickstarter dan lain-lain.

“Walaupun waktu  kita tidak banyak, paling tidak saya ingin menggugah semangat dari teman-teman semua. Kalau dulu saya selalu pecinta filsafat, maka saya baca Nagarjuna itu pertama itu sampai keliyengan kepala saya, saya pertama baca Moggaliputta-Tissa, berbicara soal Abhidhamma, saya menganggap wah dulu sebelum abad ke-2 atau ke-3 SM dia sudah meng-komprehensifkan cara berpikir kita. Dan kemudian Nagarjuna pada abad pertama sampai kedua kurang lebih mirip dengan lahirnya Plato dan Socrates. Saya memimpikan sebenarnya lahir banyaknya pemikir-pemikir Buddhis di Indonesia, open source-lah jangan terkungkung hanya di satu bidang, jangan berpikir yang anda kuasai pasti benar . Ayo kita buka diri, ayo kita lahirkan ilmu-ilmu baru.” Ajak Budiman

Intinya saat ini kita berada pada era engage buddhism yang membuat kita umat Buddha tidak lagi hanya belajar teks-teks Dhamma di vihara, tapi bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Lanjut Budiman, di MBI (Majelis Buddhayana Indonesia) sendiri apa yang diambil, apa yang dilakukan setelah melihat fenomena dan dapat dikatakan bahwa kita masih berada di kuadran yang sangat awal perkembangannya, namun ini memberikan suatu semangat. Ini terjadi karena ketika agama Buddha berkembang lagi sekitar 60-70 tahun yang lalu, sementara agama Kristen, Katholik, dan Islam lebih lama lagi, itu membuat mereka hidup lebih lama dan memiliki berbagai institusi sekolah, panti jompo, universitas, dan lain-lain. Mengejar kemajuan mereka dengan cara yang sama akan membutuhkan waktu yang sangat lama tapi dengan lahirnya era digital seperti sekarang ini, ini menjadi lebih mudah, ini membuat komunitas buddhis menjadi lebih punya peluang. Karena berinvestasi di infrastruktur fisik yang sudah banyak pasti butuh waktu dan butuh biaya yang sangat besar. Masalahnya adalah umat Buddha belum berpikir bahwa berdana itu tidak lagi harus dalam bentuk berapa genteng vihara, berapa keramik vihara dan seterusnya atau hanya berdana makan. Mereka lupa bahwa berdana server itu jauh memberikan karma yang jauh lebih besar orang tersebut. Membuat data center tier-3 tier-4, punya cloud system dan seterusnya, punya backbone IT yang kuat, punya payment gateway yang baik dan seterusnya. Bahkan punya platform semua kitab-kitab Buddha termasuk uraian-uraian dan kajian. Komunitas tidak butuh lagi institusi 8 lantai atau 20 lantai universitas,  cukup server.

Tapi menggugah umat buddha untuk berpikir kearah sana seperti hal nya mencari jarum di tumpukan jerami, karena ketidakmampuan itu. Dalam pemaparannya, Budiman selalu mengajak teman-teman yang ada di komunitas Buddhis termasuk kepada rohaniawan, para sangha dan pandita, agar pesan ini juga disampaikan kepada umat. Karena sekarang berdana lebih efektif adalah satunya dengan berdana server. Dan tidak menutup kemungkinan juka suatu saat nanti di vihara kotak donasi itu sudah bukan lagi bentuknya kotak tapi berupa QR code yang di-scan pake OVO dan Gopay. mungkin pemikiran ini terlalu jauh tapi pikirkanlah apabila anak muda di ruangan ini apalagi anda diundang oleh Institut  Nagarjuna yang sangat filosofis tadi, kalau mikirnya tidak jauh memalukan juga.

“So kenapa kok MBI bikin yang tadi, ada Koperasi, ada Bank BPR, ada fintech sekarang namanya kickcair, itu semua kita sangat serius menggarap apa yang namanya ekonomi umat. Kenapa kok pakai koperasi tidak pakai yang lain ? Karena kami terus terang di MBI salah satu PR terbesar kita adalah menggali warisan luhur kita, warisan nenek moyang kita supaya agama Buddha jangan tercerabut dari akar indonesia. Kita memang melihat koperasi itu esensinya gotong royong dan itu cari khas dari leluhur nenek moyang kita yang harus dipertahankan. Sementara itu koperasi rusak bukan karena esensi dari koperasi itu tapi karena pelakunya yang merusak koperasi itu. Nah kita coba membalikkan kembali esensi koperasi yang sesungguhnya. Penguatan ekonomi umat menurut kami adalah cara baru untuk kita memperbaiki ekonomi umat, jangan melihat umat kita hanya di kota-kota, umat kita di desa ini banyak bener, tersebar dari mulai Lombok ,Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur sampai ke Lampung itu jumlahnya luar biasa banyak dan membutuhkan uluran tangan kita untuk memperbaiki ekonomi-ekonomi pedesaan. Ekonomi kita perbaiki, mereka bisa sekolah lebih tinggi dan akan lahir entrepreneur yang tadi disampaikan oleh Widodo, social entrepreneur. Dan saya mengajak yang hadir di ruang ini yang masih muda-muda, saya kira this is your golden moment, if you can get your this moment or not itu tergantung dari anda semuanya. Tidak ada orang lain yang bisa mengubah nasibmu dan jangan salahkan orang tuamu salahkan dirimu kalau kamu tidak bisa menggapai kesempatan yang baik ini.” Tegas Budiman

Budiman juga menyitir ungkapan Yuval Noah Hariri dalam bukunya Homodeus, apa yang perlu dilakukan para pemimpin masa depan ? Jawabannya adalah `To end the Suffering` karena penderitaan di bumi ini semakin meluas akibat pertumbuhan populasi dan persoalan ekonomi. Ini menarik karena sejalan dengan apa yang disampaikan guru kita 2.500 tahun lalu dan semakin relevan.

 

Membangun Ekonomi Desa Melalui Sukhita ID

Pada kesempatan ini hadir pula Marensya mewakili Sukhita ID.  Sukhita ID adalah nama brand dari PT. Pemberdayaan Mitra Usaha, sebuah gerakan usaha yang didirikan atas dasar social entrepreneurship.

“Yang kita ambil adalah produksi dari situ, Desa Cendono, apapun yang kita ambil, kita  kembalikan lagi ke mereka untuk pendidikan, kesehatan. Misinya mengembangankan apa saja yang ada di desa tersebut, mensejahterakan masyarakat, meningkatkan produk lokal. Branding kita adalah SukhitaID yang artinya bahagia. Slogannya memberdayakan ,mensejahterakan, meningkatkan.” Tutur Maren

Lalu apa saja yang diberdayakan? Marensya memaparkan bahwa produk yang diolah dan diberdayakan adalah produk alami, menyokong potensi alam, untuk mensejahterakan masyarakat. Produknya berupa palm sugar (gula semut) dari dusun Cendono, Temanggung , Jawa tengah. Rencana selanjutnya adalah produk kacang mente dari Lombok Utara. Contoh kerja sama reseller ada di wilayah Jakarta, Bandung, Bali, Jawa Tengah, Tangerang, Bogor, Surabaya, dan distributor pribadi atau perorangan.

“Keuntungan pembelian setiap 2 lusin itu 15%, sedangkan 5 lusin 20% dan 10 lusin 25%, 300 gr  5 lusin dapat 25% dan 10 lusin mendapat 30%.” Jelas Maren

Marensya dalam paparannya mengatakan bahwa usaha rintisan untuk memberdayakan warga desa ini masih membutuh uluran tangan banyak pihak.

 

Oleh : Wandi Siswanto

Editor : Chrissa Gotami
Komentar via Facebook

Close