ArtikelOpini

Konsep “Reuni Karma” dalam Film Along with The Gods: The Last 49 Days

Oleh: Adica Wirawan

Bagi saya, Along With The Gods: The Last 49 Days adalah sebuah film yang menceritakan kisah pilu para “mantan”. Disebut begitu karena alurnya mengisahkan “sejarah” ketiga malaikat maut yang belum jelas terungkap di film sebelumnya. Seiring berjalannya cerita, penonton akan diajak menguak hubungan ketiganya pada masa lalu. Sebuah hubungan yang penuh dengan “drama”, khas film-film Korea Selatan.

Oleh karena lanjutan dari film sebelumnya, pemeran film ini mayoritas masih sama. Ha Jung-Woo masih berperan menjadi Kapten Gang-Rim, yang memimpin kedua rekannya, yaitu Haewonmak (diperankan oleh Ju Ji-Hoon) dan Lee Deok-Choon (Kim Hyang-Gi) untuk mengantar arwah ke gerbang reinkarnasi.

Pasang Iklan

Di film ini, ketiga malaikat tersebut mengawal arwah Kim Soo-Hoong (Kim Dong-Wook). Kim Soo-Hoong adalah seorang tentara yang tewas tertembak akibat keteledoran temannya sendiri. Dalam film sebelumnya, ia adalah adik dari Kim Ja-Hong, seorang pemadam kebakaran yang arwahnya dikawal oleh ketiga malaikat tersebut untuk melewati tujuh pengadilan di akhirat. Oleh karena mati meninggalkan banyak emosi negatif, ia pun menjelma menjadi arwah penasaran, yang berniat balas dendam kepada teman-teman yang “dianggap” telah membunuhnya.

Sewaktu membimbing arwah Kim ke alam baka, ketiga malaikat maut itu membagi tugas. Kapten Gang-Rim mengantar arwah Kim sendirian, sementara kedua rekannya, Haewonmak dan Lee Deok-Choon, pergi ke alam manusia untuk menjalankan “tugas khusus”, yaitu “mencabut” nyawa seorang kakek bernama Heo Coon-Sam.

Misi yang mereka jalankan bukannya tanpa halangan. Dalam perjalanan ke akhirat, misalnya, Kapten Gang-Rim harus menghadapi gempuran sejumlah monster, yang berupaya menjegal langkah mereka. Belum lagi, sikap arwah Kim yang sedikit membangkang dan enggan menjalani reinkarnasi, sebab ia sudah bosan mengalami penderitaan di alam manusia. Serta, kisah kelam yang tiba-tiba “menghantui” pikiran Kapten Gang-Rim sepanjang perjalanan. Semua itu menjadikan misi terasa berat dan penuh tantangan.

Hal yang sama juga dialami oleh kedua rekannya di alam manusia. Upaya mereka untuk menjemput arwah Kakek Heo terhalang oleh Seongju (diperankan oleh Ma Dong-Seok). Seongju sebetulnya adalah malaikat maut yang berupaya melindungi kakek Heo dan cucunya. Ia merasa kasihan dengan kehidupan mereka yang diwarnai banyak penderitaan. Makanya, sehari-hari ia menyaru menjadi manusia, membantu kehidupan mereka, dan menghalangi setiap tangan malaikat maut lain yang ingin merenggut nyawa Kakek Heo.

Selanjutnya alur cerita menguak sedikit demi sedikit “sejarah” ketiga malaikat maut tersebut. Semua itu berawal dari penuturan Seongju bahwa seribu tahun yang lalu ia pernah menjadi malaikat maut bagi Haewonmak dan Lee Deok-Choon. Makanya, ia tahu betul kehidupan mereka sebelumnya. Kemudian ia menceritakan semua sejarah mereka dan menjelaskan alasan mereka “bereuni” kembali sebagai malaikat maut dalam kehidupan sekarang.

Misalnya saja, Haewonmak dulunya adalah seorang prajurit yang jago berperang. Semua musuh takut dan gentar kalau ia sampai “terjun” ke medan laga. Sementara itu, Lee Deok-Choon pada kehidupan sebelumnya adalah seorang gadis dari suku barbar yang berhati mulia. Ia melindungi sekelompok anak yang keluarganya tercerai berai akibat perang berkepanjangan.

Hingga, di sebuah titik, Haewonmak dan Lee Deok-Choon akhirnya bertemu, dan menjalani “takdir” yang getir dalam peperangan yang penuh intrik. Makanya, setelah meninggal dunia, keduanya kemudian sama-sama terlahir ulang sebagai malaikat maut dan berjumpa kembali untuk menjalankan sebuah tugas bersama-sama.

Reuni Karma

Oleh karena diinspirasi oleh ajaran Buddha, sewaktu saya menonton film ini, pikiran saya tiba-tiba “terbang” pada sebuah konsep unik, yang disebut dalam buku Born Again. Born Again adalah buku karya Walter Semkiw, yang isinya mengulas kelahiran ulang tokoh-tokoh terkenal di dunia.

Tak hanya kisah-kisah yang mendokumentasi kehidupan lampau para selebriti, di buku itu, saya juga menemukan konsep tentang kelahiran ulang. Satu di antaranya ialah “reuni karma”.

Konsep itu menjelaskan bahwa pertemuan kita dengan “seseorang” di kehidupan ini bukanlah sebuah kebetulan. Sesungguhnya kita pernah berjumpa dengannya di kehidupan sebelumnya, punya suatu ikatan emosional yang kuat terhadapnya, hingga akhirnya berkumpul lagi dengannya di kehidupan sekarang.

Ibarat sebuah hubungan, “jodoh” kita dengan orang tersebut terus berlanjut dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Makanya, wajar kalau kita kembali “dipertemukan” dengannya untuk sebuah alasan.

Konsep itu sebetulnya sejalan dengan kisah-kisah yang sempat saya baca di sutta. Satu sutta yang terus saya ingat tentang konsep “reuni karma” ialah adalah cerita tentang pertemuan antara pasangan Nakulapita dan Nakulamata dengan Buddha.

Pertemuan itu terkesan agak “aneh”. Sebab, sewaktu suami-istri itu pertama kali menjumpai Buddha di sebuah hutan, mereka langsung menangis di bawah kaki Beliau.

Tak hanya itu, mereka juga memanggil Buddha dengan sebutan “anakku”, sebuah sebutan yang dianggap kurang sopan. Walaupun demikian, Buddha berdiam diri, membiarkan suami-istri itu melepaskan emosinya dan tetap memanggil Beliau dengan sebutan “anak”.

Biksu Ananda yang menyaksikan kejadian itu menjadi heran. Sebab, sepanjang ingatannya, orangtua Buddha ialah Raja Sudhodana dan Ratu Mahamaya. Namun, mengapa kedua pasangan itu menyebut Buddha sebagai anak mereka? Setelah peristiwa itu, Biksu Ananda kemudian bertanya kepada Buddha tentang alasan mereka bersikap demikian.

“Ananda,” kata Buddha. “Pasangan Nakulamata dan Nakulapita yang tadi datang kepada-Ku pernah menjadi orangtua-Ku sebanyak 2.000 kehidupan sebelumnya. Makanya, wajar kalau mereka menyebut-Ku sebagai anak mereka sebab kami pernah berjodoh dalam banyak kehidupan.”

Tak hanya Buddha, kita pun mengalami “reuni karma”. Kalau mencermati orang-orang di sekitar kita, kita akan menemukan bahwa ada orang-orang tertentu yang punya ikatan emosional terhadap kita. Orang itu bisa saja orangtua kita, saudara kita, teman kita, atau kekasih kita.

Bisa jadi mereka pernah punya hubungan “spesial” dengan kita di kehidupan sebelumnya. Hanya saja, oleh karena keterbatasan kemampuan batin, kita sulit mengingat siapa mereka di kehidupan lampau.

Mengapa bisa terjadi begitu? Jawabannya sederhana. Alam sepertinya “ingin” supaya kita melupakan masa lalu beserta semua “luka” yang dibawanya. Bagaimana tidak! Andaikan bisa mengingat kehidupan lampau, bagaimana reaksi kita kalau tahu bahwa saudara kandung kita pernah berutang dalam jumlah besar, dan utangnya belum sempat dibayar di kehidupan sebelumnya? Bagaimana reaksi kita kalau tahu bahwa pasangan kita dulunya adalah musuh bebuyutan kita?

Makanya, alih-alih hidup terus membawa beban dari masa lalu, alam kemudian “mengaburkan” ingatan kita tentang kehidupan lampau supaya kita bisa hidup dengan nyaman sekarang dan dapat memperbaiki hubungan dengan semua “mantan” kita di kehidupan ini, seperti yang dilakukan dalam sosok malaikat maut di film Along With The Gods.

Salam.

Adica Wirawan
- Founder of Gerairasa
- Kontributor BuddhaZine
- Penulis Kompasiana

Komentar via Facebook

Close