BeritaDaerah

Kirab Satu Negeri dengan Wajah Kebinekaan Kota Tangerang

Oleh: Hardi

Kirab Satu Negeri (KSN) yang diprakarsai oleh PP GP Ansor untuk membawakan pesan perdamaian ke seluruh penjuru tanah air kini tiba di Kota Tangerang. Seluruh pengurus GP Ansor di wilayah Tangerang beserta Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) Kota Tangerang, FORMABUDHI Banten, Orang Muda Katolik (OMK) Gereja Santo Agustinus, Muda-Mudi Konghucu, Pemuda Gereja Bethel Indonesia, dan Pemuda Parisadha Hindu Dharma Indonesia turut andil dalam Kirab Kebangsaan ini. Kirab Satu Negeri ini merupakan agenda ekstra dari dialog-dialog kebangsaan yang pernah dilaksanakan di wilayah Tangerang oleh organisasi-organisasi di atas. Dengan didorong oleh keprihatinan merebaknya isu SARA dan tindakan-tindakan kekerasan atas nama agama yang tentunya dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, atas dasar itu Kirab Satu Negeri di Kota Tangerang ini dihadirkan dengan nuansa kebinekaan. Ribuan orang memadati Plaza Gazebo Masjid Raya Al-Azhom, Pusat Pemerintahan Kota Tangerang pada Selasa malam (16/10/2018) untuk mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Acara ini dihadiri oleh para pejabat MUSPIKA dan para tokoh agama, juga tokoh pemuda se-Kota Tangerang. Dalam sambutannya, Walikota Tangerang, Arief Rachadiono Wismansyah mengatakan bahwa Kota Tangerang adalah anugerah terindah yang telah diberikan oleh Tuhan karena terdiri dari berbagai macam keyakinan dan suku bangsa.

Pasang Iklan

“Melalui event ini, NKRI adalah suatu keniscayaan dalam menjaga nilai-nilai kebinekaan, kedamaian di Kota Tangerang juga menjadi tanggung jawab seluruh warga untuk menanamkan nilai-nilai luhur bagi generasi selanjutnya”, paparnya.

“Kirab Satu Negeri ini merupakan tindakan cinta tanah air yang dilakukan seluruh GP Ansor untuk menyampaikan pesan kebinekaan di negeri ini sesuai dengan tagline Kita Ini Sama”, tambah Ketua PC GP Ansor Kota Tangerang, A. Sudarto.

Kirab Satu Negeri dimulai dengan parade keanekaragaman budaya Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi-puisi kebangsaan dari perwakilan seluruh agama yang ada. Selain itu, ada Orasi Kebangsaan dari berbagai tokoh agama, diantaranya KH. Amin Munawar (Ketua FKUB Kota Tangerang), Romo Lammarudut HPH Sihombing (Pastur Kepala Paroki Ciledug Dekanat Tangerang 1), Bhiksu Bhadra Sraddha (Ketua Sekretariat Wilayah Banten Sangha Agung Indonesia), JS. Yap Cun Goan (Ketua Khong Cu Bio Tangerang),  P. Nyoman Subikse (Wakil Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia Kota Tangerang), dan Pendeta Andreas Tarmudi (Ketua Musyawarah Pimpinan Gereja-gereja Kota Tangerang).

Suasana saat Orasi Kebangsaan dari berbagai tokoh agama

“Kita harus bersyukur dalam keragaman dan kebersamaan yang dimulai dari berbagai sendi-sendi kehidupan, sebagai bangsa yang besar kita harus saling membantu dan menghormati agar lebih menyadari bahwa umat manusia sama-sama membutuhkan kedamaian. Pada intinya kita sebagai Bangsa Indonesia berkeinginan maju bersama dalam pembangunan bangsa”, papar JS. Yap Cun Goan.

“Empat kekuatan yang maha dahsyat yang harus kita pertahankan untuk Indonesia, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Kita harus menjaga hubungan harmonis  antara kita dengan Tuhan, kita dengan sesama manusia, dan kita dengan alam. Kita juga harus menjaga kesantunan dengan berpikir baik, berbahasa baik dan bertindak baik untuk melawan hoaks-hoaks yang beredar”, tambah P. Nyoman Subikse.

Pendeta Andreas Tarmudi menekankan bahwa seharusnya tidak ada lagi istilah kamu suku apa, kamu bangsa apa, kamu bahasa apa.

“Jika tidak sanggup berbuat baik, janganlah menjelekan orang lain. Jika tidak sanggup menghargai, janganlah merendahkan. Jika kita tidak sanggup memberi, janganlah mengganggu hak orang lain. Kita semua adalah putra-putri Indonesia.Warisan kemerdekaan ini perlu ditindaklanjuti tanpa batas oleh kita semua”, tegasnya.

Saat kita menyebut ‘Allahuakbar’ Allah yang Maha Agung dan yang Maha Besar, maka konsekuensinya adalah menerima segala sesuatu yang berasal dari Allah. Romo Lammarudut mengatakan bahwa kebinekaan yang dimiliki saat ini adalah pemberian Allah untuk dijaga oleh kita semua.

“Duduk tersenyum, saling menyapa dan saling memberi salam inilah roh dari Pancasila yang telah digagas oleh para Founding father dengan segala daya upaya mereka yang harus kita syukuri. Untuk itu Pancasila harus kita rawat, jaga dan lindungi.”, pungkasnya.

“Berada diurutan kelima ini merupakan penyimbolan Pancasila. Kemudian semua yang hadir di sini berasal dari beragam suku dan agama, sama halnya dengan kelima jari kita yang berbeda-beda diciptakan agar mampu saling memegang erat”, papar Bhiksu Bhadra Sraddha.

“Kami semua duduk di sini dan menjadi pusat perhatian karena berbeda. Keragaman itu adalah sebuah keindahan yang ibarat pelangi dengan warna-warninya dan taman bunga dengan beragam jenis, bentuk, warna yang unik dan berbeda. Jangan sampai semua yang hadir disini masih menganggap aku, kamu, dia, dan mereka, tetapi semua yang hadir disini adalah kita”, tambahnya.

“NKRI tak ubahnya seperti satu tubuh, yang mana salah satu bagian mengalami sakit, maka kita juga akan merasakannya”, papar KH. Amin Munawar.

Kota Tangerang adalah kota yang indah dan kondusif. Ini pun tidak lepas dari kemerdekaan Negara Indonesia. Kemerdekaan negara ini bukanlah hadiah dari para penjajah. Nikmat kemerdekaan yang dirasakan ini adalah hasil keringat, bahkan cucuran darah dari para pendahulu kita. Jangan sampai kemerdekaan ini dikotori dengan cara-cara yang amoral, yang melanggar norma hukum, dan norma agama.

“Jadi di suku apapun kita dilahirkan dan apapun warna kulit kita, selama kita Bangsa Indonesia, mari kita perkuat persaudaraan kita sebagai Ukhuwah Wathoniyah”, tutupnya.

Acara yang dihadiri oleh berbagai elemen lintas agama ini ditutup dengan doa bersama dan  pengumpulan dana untuk korban bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

“Sudah seharusnya setiap komponen anak bangsa berperan dalam merawat kerukunan umat beragama untuk menciptakan perdamaian dan membumikan nilai-nilai toleransi di tengah-tengah masyarakat yang majemuk”, papar Jajat Sudrajat selaku ketua panitia pada acara kali ini.

Mari kita rawat kebinekaan untuk menjaga NKRI. Jangan pernah mencari perbedaan, tapi carilah apa yang dapat kita lakukan bersama untuk Bangsa Indonesia.

Hidup Indonesia! NKRI Harga Mati!

Komentar via Facebook

Tags
Close