ArtikelOpini

Kidung Waisak Damaikan Bangsa

Oleh: Eko Budi Pranyoto

Pepatah Jawa kuno mengatakan rukun agawe santosa artinya kerukunan akan membawa kedamaian, aman, tentram dan sejahtera. Kerukunan itu bukan aplikasi yang tinggal install di playstore dan masuk ke dalam tubuh kemudian digunakan. Akan tetapi, kerukunan itu kita munculkan berdasarkan pemahaman dari dalam diri kita sendiri dan melalui pemikiran manusia itu sendiri. Dalam filosofi Jawa, kelahiran manusia bermula dari bayi, kelahiran bayi itu sendiri mengandung maksud tertentu. Bayi yang lahir sebagian besar tangannya menggenggam, memiliki makna bahwa segala sesuatu ingin dikuasai dan dimiliki. Namun ia menangis, menandakan bahwa meskipun ia dapat menguasai dunia, ia akan tetap menderita. Selama manusia masih melekat pada sang “aku” dan masih tidak dapat mengendalikan keinginan nafsu, keserakahan, dan kebencian, maka dunia akan dalam pertikaian serta perselisihan. Oleh sebab itu, butuh tongkat sebagai pedoman hidup bernama agama untuk mencapai kedamaian. Salah satu agama yang diakui di Indonesia adalah agama Buddha, meskipun sebenarnya Buddha bukan agama. Agama Buddha terkenal dengan ritual meditasi, puja, mantra, dan doa. “Semoga semua makhluk hidup berbahagia, damai, dan tentram” begitulah kalimat yang tak pernah ketinggalan diucapkan oleh setiap insan umat Buddha ketika melantunkan doa, mantra atau paritta. Kata “semua makhluk” di sini merujuk kepada semua ranah kehidupan yang diharapkan hidup dengan bahagia, damai dan tentram tanpa diskriminasi. Sedangkan “damai” bukan hanya milik umat Buddha tetapi merupakan idaman dan dambaan umat manusia bahkan semua makhluk.

Perdamaian akhir-akhir ini menjadi soroton berbagai media massa dalam dekade terakhir. Hal ini dikarenakan telah terjadi pertikaian negara dengan negara, kelompok dengan kelompok, bahkan individu dengan individu berdasar kepentingan masing-masing. Perselisihan, pertengkaran, dan pertikaian tidak hanya terjadi saat ini tetapi sejak peradaban mahluk hidup ada. Perselisihan yang terjadi pada zaman Sang Buddha diantaranya adalah antar bhikkhu yang berdiam di Vihara Ghosita, Kosambi. Kala itu Sang Buddha sudah menasehati para bikkhu tetapi nasihat tersebut hanya dianggap angin lalu. Akhirnya Sang Buddha meninggalkan mereka dan berdiam di hutan dan dilayani oleh gajah Parileyyaka. Kejadian ini didengar oleh umat Kosambi dan mereka tidak mau menyokong para bhikkhu lagi. Bhikkhu-bhikkhu menjadi menderita dan semakin kurus. Akhirnya mereka menyadari kesalahan dan saling meminta maaf. Para bhikkhu tersebut menghadap Sang Buddha dan menyelesaikan perselisihan. Kemudian Sang Buddha mengingatkan tentang kematian dan memaparkan :

Pasang Iklan

“Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa di dunia ini mereka akan binasa, tetapi mereka yang menyadari kebenaran ini akan segera mengakhiri pertengkaran “ (Yamaka Vagga syair 6).

Kisah selanjutnya ialah kisah perselisihan antara suku Koliya dan suku Sakya yang memperebutkan air, sehingga Sang Buddha harus hadir langsung di tengah- tengah sungai Rohini dengan misi perdamaian. Beliau menyadari bahwa mereka terlibat perselisihan dikarenakan nafsu keinginan, kebencian, dan keserakahan. Pada waktu itu, setelah memberikan wejangan kepada suku Koliya dan suku Sakya, Sang Buddha mengucapkan syair berikut :

Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci diantara orang-orang yang membenci, diantara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci”.

(Dhammapada Sukkha Vagga syair 1)

Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit diantara orang-orang yang berpenyakit, diantara orang-orang yang berpenyakit kita hidup tanpa penyakit”.

(Dhammapada Sukkha Vagga syair 2)

“Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa keserakahan diantara orang-orang yang serakah, diantara orang-orang yang serakah kita hidup tanpa keserakahan”.

(Dhammapada Sukkha Vagga syair 3)

Dalam Maha Parinibbana Sutta, Sang Buddha juga menceritakan kepada Bhikkhu Ananda tentang kaum Vajji yang berkumpul dengan rukun, bubar dengan rukun, dan menangani urusannya dengan rukun maka mereka akan makmur/damai dan tidak merosot. Ini memiliki makna bahwa kerukunan dapat menjaga kedamaian. Kerukunan dapat terjadi apabila manusia dapat menjalankan hidup dengan bertoleransi. Lebih jauh, Sang Buddha tidak hanya memaparkan tetapi juga sebagai teladan dhamma yang melakukannya langsung. Ketika kedatangan seorang murid bernama Upali, beliau mengatakan untuk berpikir matang-matang dan lebih dalam mengenai keputusannya memohon diterima menjadi siswa Buddha. Setelah diterima menjadi siswa-Nya, Sang Buddha berpesan kepada Upali agar ia selalu ingat, memberi hormat dan penghargaan kepada guru sebelumnya. Sampai saat ini nilai-nilai toleransi itu dilestarikan dan dianut oleh Kaisar Asoka dengan membangun pilar-pilar Asoka yang menggemakan kerukunan, persatuan dan perdamaian ditengah perbedaan.

Agama Buddha sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kerukunan dan perdamaian. Perjalanan agama Buddha dalam sejarah memang dikenal dengan salah satu agama yang damai dalam penyebarannya. Diawali sejak pangeran Siddharta lahir, hingga mencapai Sammāsambuddha, dan Buddha Parinibbana, beliau tidak pernah memaksakan ajaran-Nya dengan pertumpahan darah. Selama ini juga belum pernah terdengar di telinga dunia bahwa demi menyebarkan Buddha sasana (ajaran Buddha) sekelompok umat Buddha menggunakan pedang atau senjata demi tegaknya Dhamma. Bukti lain diantaranya ialah perolehan nobel perdamaian oleh Dalai Lama XIV pemimpin Buddhis di Tibet pada tahun 1989. Fakta lain yakni salah satu tempat damai dan bahagia adalah Bhutan yang notabenenya merupakan negara berpenduduk mayoritas beragama Buddha.

Tiga peristiwa penting yang diperingati oleh umat Buddha pada Hari Raya Waisak adalah sebagai cerminan perdamaian. Kelahiran pengeran Siddharta calon Buddha membawa misi agar semua makhluk dapat hidup bahagia dan damai. Pangeran Siddharta lahir sebagia manusia sebagai bodhisattva agar menemukan cara membebaskan makhluk dari jeratan dukkha serta terbebas dari nafsu, kebencian, dan keserakahan. Tercapainya pencerahan Pangeran Siddharta menjadi Buddha merupakan penemuan jalan menuju kebahagiaan. Jalan mulia berunsur delapan (Hasta Ariya Magga) adalah formula yang ditemukan Sang Buddha untuk diaplikasikan agar semua makhluk terbebas dari derita dan hidup dalam kedamaian. Kemangkatan Sang Buddha (parinibbana) memberikan pengetahuan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang timbul akan tenggelam, segala sesuatu yang lahir pasti akan mati, segala sesuatu yang muncul karena perpaduan unsur pada akhirnya akan hancur. Oleh sebab itu, adalah hal yang sia-sia jika manusia hidup dalam pertikaian, perselisihan, dan pertengkaran karena pada akhirnya sama-sama akan mati.

Pesan-pesan Waisak 2562 BE pada tahun ini mengusung tema secara tersirat yakni tentang kerukunan, harmoni dalam kebinekhaan sehingga tercipta perdamaian demi keutuhan bangsa Indonesia. Sangha Agung Indonesia (SAGIN) mengusung tema “Harmoni dalam Kebhinekaan untuk Bangsa”. Sangha Mahayana Indonesia (SMI) mengangkat tema “Waisak bersama Sangha Mahayana Indonesia mewujudkan kasih dan tolerensi”. Sedangkan Sangha Theravada Indonesia (STI) memberikan tema Waisak pada tahun 2018 “Bertindak, Berucap, dan Berpikir Baik Memperkokoh Keutuhan Bangsa”. Berdasarkan intisari pengambilan tema waisak di atas sudah jelas bahwa Waisak pada tahun ini memiliki pesan damai untuk bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sesuai pesan Presiden Joko Widodo yang sempat mengucapkan selamat kepada umat Buddha melalui akun twiter @jokowi, Beliau berharap pada Hari Raya Waisak yang jatuh pada 29 Mei 2018 dapat menjadi momen untuk menyucikan dan bersihkan hati untuk kedamaian dan kebahagian bersama.

Perayaan Waisak yang dilaksanakan oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) diawali penyemayaman air suci yang berasal dari mata air Umbul Jumprit dan api abadi yang diambil dari Mrapen Grobogan sebagai sarana puja. Api melambangkan penerangan dan air melambangkan kesuburan. Air suci dan api abadi ini disemayamkan di Candi Mendut terlebih dahulu, kemudian diarak dengan prosesi menuju pelataran Candi Borobudur. Dilanjutkan prosesi kirab detik-detik Waisak dan diakhiri ber-pradaksina, doa bersama, dengan harapan kebahagian kepada semua makhluk. Doa ini diikuti dengan pelepasan ribuan lampion di langit Borobudur sebagai pertanda agar Negara Kesatuan Republik Indonesia senantiasa dalam cahaya perdamaian.

Komentar via Facebook

Close