ArtikelKabar Dhamma

Kiamat dalam Agama Buddha

Oleh: Bhikkhu Abhipuñño

Dalam beberapa waktu belakangan ini, hampir seluruh wilayah di dunia terpapar oleh pandemik yang bernama virus covid-19, tak terkecuali negara Indonesia.

Begitu banyak sekali anjuran yang disarankan oleh pemerintah kepada rakyatnya, mulai dari menjaga jarak dari keramaian, menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun yang mengandung disinfektan atau hand sanitizer yang mengandung alkohol yang dipercaya dapat membunuh virus tersebut, dan juga kegiatan-kegiatan lainnya yang disarankan untuk dilakukan di rumah saja.

Pasang Iklan

Sebagai contoh, kegiatan belajar-mengajar di sekolah, kegiatan kantor sehingga membuat sebagian orang bertanya-tanya mengenai sampai kapan berakhirnya virus covid-19 ini? Apakah ini merupakan sebuah tanda akhir zaman?

Nah, pada kesempatan kali ini, mari sedikit membahas tentang teori kiamat dalam Agama Buddha yang merujuk kepada kitab suci Agama Buddha yaitu Tipitaka.

Tipitaka itu sendiri terdiri dari tiga keranjang dimana keranjang pertama terdiri dari peraturan-peraturan tentang kehidupan monastik atau dikenal dalam Bahasa Pāḷi yaitu Vinaya Piṭaka, kedua terdiri dari ceramah-ceramah yang diberikan atau lebih dikenal sebagai Suttanta Piṭaka oleh seorang sosok yang begitu dihormati oleh umat Agama Buddha yaitu Buddha Gotama dan yang ketiga terdiri dari pemahaman yang mengarah kepada realita yang sesungguhnya yang disebut sebagai Abhidhamma Piṭaka.

Berdasarkan penjelasan yang telah saya sampaikan di atas, jadi, teori kiamat didalam agama Buddha masuk di dalam kelompok Suttanta Piṭaka.

Singkatnya, kiamat di dalam Agama Buddha bukanlah suatu kejadian yang bisa terjadi begitu saja. Hal tersebut merupakan suatu rangkaian dari sebuah proses yang panjang sehingga fenomena-fenomena yang terkondisi tidaklah kekal, tidaklah stabil, mereka mengalami proses perubahan dari waktu ke waktu, begitu pula dengan proses pembentukan dan kehancuran bumi kita. Sehubungan dengan topik yang akan disampaikan pada kesempatan kali ini, ada beberapa daftar acuan yang bisa kita jadikan pembelajaran untuk proses dari berbagai fenomena yang ada di akhir zaman bumi kita tercinta.

Ada beberapa poin pembahasan yang akan saya bahas di sini:

  1. Bagaimana proses terbentuknya bumi?
  2. Apa yang terjadi di bumi ini?
  3. 31 alam kehidupan
  4. Kehancuran dunia yang disebabkan oleh tiga elemen (Api, Air dan Angin).

Bagaimana proses terbentuknya bumi?

Tidak dijelaskan secara terperinci mengenai bagaimana proses terbentuknya bumi itu. Karena, jika diteliti lebih dalam, Agañña Sutta dari Dīgha Nikāya sebatas memberikan informasi mengenai bagaimana proses perubahan dari sesosok mahkluk yang pada dasarnya merupakan sosok yang bercahaya cemerlang hanya karena sifat serakah yang dimiliki oleh mahkluk tersebut mengakibatkan munculnya beberapa kejadian, termasuk di antaranya munculnya matahari dan bulan, siang dan malam, tahun dan musim, tumbuh-tumbuhan yang muncul dengan sendirinya, perilaku-perilaku yang kita temui pada saat ini termasuk aktivitas seksual, memanen padi di ladang, munculnya kejahatan, hukuman yang diberikan hingga beberapa kasta yang dipercaya dan diyakini oleh masyarakat India pada khususnya.

Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, penulis pun tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai bagaimana proses terbentuknya bumi sesuai dengan Pandangan Agama Buddha. Namun, jika berkeinginan untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya bumi, umat Buddha khususnya aliran Theravāda akan merujuk kepada kitab Tipiṭaka Pāḷi yang ada di dalam Suttanta Piṭaka kelompok khotbah panjang (Dīgha Nikāya) tentang Agañña Sutta.

Apa yang terjadi di bumi?

Menurut Tipitaka, alam semesta ini melalui suatu proses pembentukan dan kehancuran yang berulang-ulang dan berawal dari asal mula waktu yang awalnya tak terpikirkan. Proses berulang tersebut sudah setua usia waktu itu sendiri yang tak terbayangkan. Pembentukan yang terakhir adalah alam semesta yang kita huni ini.

Metode yang digunakan oleh Sang Buddha dan para Bhikkhunya sangat berbeda, yaitu dengan abhiñña (kemampuan adi kodrati). “Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tak dapat digoncangkan, ia meningkatkan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan mengenai pubbenivāsānussati ñāṇa”. (D.I,81). (Pubbenivāsānussati ñāṇa yaitu kemampuan untuk mengingat kelahiran yang lampau), dengan jalan inilah siklus pembentukan dan kehancuran bumi yang terjadi berulang-ulang bisa diketahui.

Dikatakan dalam Satta Suriya Sutta, bahwa nanti apabila umur rata-rata manusia terus merosot menjadi sepuluh tahun, kemudian naik kembali sampai umur manusia rata-rata tidak terhitung dan kemudian turun lagi, entah jutaan atau milyaran tahun lagi, maka, pada akhir masa dunia (kehancuran bumi), muncullah suatu masa dimana hujan tak pernah lagi turun. Setelah lama berlalu demikian, maka muncullah matahari kedua. Pada kemunculan matahari kedua, maka tak dapat dibedakan antara siang dan malam. Bumi merasakan terik matahari tanpa henti,

Di dalam sutta tersebut, guru Agung Buddha menjelaskan bahwa dunia ini akan hancur ketika tujuh matahari muncul di dunia. Apakah matahari tersebut muncul bersamaan? Tidak, mereka muncul secara bertahap dan jangka waktu antara matahari satu dengan yang lain membutuhkan waktu yang cukup lama. Seberapa lama? Sangat lama sekali.

Kebayangkan kalau sekarang ini hanya ada satu matahari dan kita sudah teriak-teriak neraka bocor? Bagaimana dengan dua, tiga dan seterusnya? Lalu, apa yang terjadi pada saat matahari kedua, ketiga dan seterusnya sampai yang ketujuh muncul?

Tandanya adalah sungai-sungai kecil atau sungai-sungai besar dan danau-danau kecil dan besar, begitu juga dengan air yang berada di Samudra turut mengering, menguap dan akhirnya tidak akan ada air lagi di sana sampai tingginya hanya sebatas mata kaki.

Selanjutnya, akan dijelaskan tentang poin pembahasan yang kedua agar mendapatkan pemahaman yang bulat tentang bagaimana kiamat terjadi di dalam pandangan Agama Buddha.

31 alam kehidupan

Sebagai informasi tambahan, 31 alam kehidupan itu terdiri dari :

  1. 4 alam apāya (Alam neraka, alam binatang, alam hantu dan alam asura),
  2. Alam manusia,
  3. 6 alam dewa,
  4. 16 alam rūpa jhāna
    • 3 Alam jhāna pertama (brahma pārisajja, brahma purohita, mahā brahma),
    • 3 Alam jhāna kedua (parittābha, appamānābha, ābhassara),
    • 3 Alam jhāna ketiga (parittasubha, appamāṇasubha, subhakiṇha),
    • 7 Alam jhāna keempat (vehapphala, asaññasatta, aviha, atappa, sudassa, sudassi, akaṇiṭṭha),
  5. 4 Alam arūpa jhāna (Ākāsānañcāyatana, viññāṇañcāyatana, ākiñcaññāyatana, neva saññā na saññāyatana)

Kehancuran yang disebabkan oleh tiga elemen

Seperti yang telah disebutkan di atas tentang kejadian yang terjadi di bumi kita sampai munculnya 7 matahari, maka, dengan begitu pula bumi ini akan hancur disebabkan oleh elemen api yang pertama kali membakar dari 4 alam apaya sampai 3 alam jhāna kedua.

Dari pernyataan ini, akan timbul beberapa pertanyaan. Misalnya, mengapa 4 alam apaya juga ikut terbakar? Bukankah mereka tidak diketahui keberadaannya? Tidak, seperti yang telah saya sebutkan di atas bahwa 4 alam apāya terdiri dari beberapa alam yang sebenarnya ada di sekeliling kita.

Ada yang bisa dilihat dengan mata telanjang kita dan ada juga yang tidak. Contoh mahkluk yang dapat kita lihat dengan mata telanjang kita adalah alam binatang. Hidup kita saat ini berdampingan dengan alam binatang, maka ketika munculnya matahari ketujuh, alam binatang pun akan ikut terbakar dan musnah.

Selanjutnya adalah alam hantu. Alam hantu dikatakan bahwa mereka hidup berdampingan dengan kita hanya saja kita tidak melihat mereka dengan mata telanjang kita tetapi ada sebagian dari orang-orang yang mampu melihat mereka akibat dari buah kamma baik yang telah dikembangkan di kehidupan sebelumnya sehingga mereka mampu melihat mahkluk tersebut. Demikian juga dengan alam asura ataupun alam neraka.

Alam selanjutnya yang akan hancur oleh elemen air adalah 3 alam jhāna ketiga. Ketika hal tersebut terjadi, dikatakan bahwa alam yang sudah hancur disebabkan oleh elemen api, menyatu dengan alam yang hancur oleh elemen air dan dalam waktu yang cukup lama akan muncul hujan yang lebat sehingga menutupi semua alam-alam tersebut yang sudah hancur hingga rata dengan tanah sehingga terjadi kegelapan yang tidak bisa dibayangkan di seluruh alam sampai mereka musnah.

Alam yang terakhir yang hancur oleh elemen angin adalah alam vehaphala. Mengapa dikatakan elemen angin dapat menghancurkan alam vehapphala? Dikatakan bahwa setelah seluruh alam ditutupi oleh air akibat hujan yang berkepanjangan, maka akan muncul angin yang besar yang mampu memberikan gelombang yang tinggi bagi air tersebut sehingga elemen angin tersebut merupakan faktor utama dalam kehancuran dimana elemen air sebagai elemen pendukung.

Kesimpulan yang bisa saya berikan adalah kehidupan kita saat ini bukanlah merupakan kehidupan kita yang pertama dan terakhir. Kita telah mengalami banyak sekali kelahiran mulai dari alam apāya sampai alam dewa, tidak menutup kemungkinan juga kita pernah terlahir di alam-alam jhāna. Perlahan namun pasti, kehidupan kita teruslah mengalami perubahan, apakah perubahan itu ke arah yang baik ataupun kearah yang tidak baik.

Namun, itu semua pasti akan mengalami proses perubahan, tidak ada yang kekal, tidak ada yang abadi dan stabil. Demikian juga dengan situasi dan kondisi kita pada saat ini, situasi dan kondisi yang dihadapi oleh hampir seluruh penduduk dunia mengajarkan kita tentang kesabaran, cinta kasih, welas asih dan kasih sayang. Juga memberikan begitu banyak waktu bagi kita untuk melatih diri menjadi yang lebih baik lagi.

Jika sebelumnya kita selalu mempunyai alasan untuk menghindar, maka sekarang tidak akan ada alasan lagi untuk bisa menghindar karena ini yang dikatakan mengenai apa alasan bagi dunia untuk hancur dengan cara yang telah disebutkan di atas? Akar dari tiga perbuatan yang tidak baik-lah yang menjadi sebab atau akarnya.

Ketika seseorang dipenuhi oleh salah satu dari tiga akar tersebut dan menjadi mencolok, maka dunia akan hancur. Ketika keserakahan lebih mencolok, dunia akan hancur oleh api. Ketika kebencian lebih mencolok, dunia akan hancurkan oleh air. Beberapa orang mengatakan dunia akan hancur oleh api ketika kebencian lebih mencolok dan oleh air ketika keserakahan lebih mencolok dan ketika kebodohan lebih mencolok, dunia akan hancur oleh angin.


Demikian apa yang bisa sampaikan, semoga Anda semua dalam kondisi yang sehat dan berbahagia.

Referensi :

  1. Path of Purification by Bhikkhu ñāṇamoli (English version) Chapter XIII poin 28-65,
  2. Satta sūriya sutta (Aṅguttara Nikāya, Sattakanipāta pāḷi, paṭhamapaṇṇāsakaṃ, Mahāvagga) chaṭṭhasaṅgītipiṭaka,
  3. Agañña sutta (Dīgha Nikāya, pāthikavagga pāḷi) chaṭṭhasaṅgītipiṭaka,
  4. Kosmologi Buddhis (studi struktur dan asal mula alam semesta) oleh Fabian H. Chandra
Komentar via Facebook

Tags
Close