BeritaDaerah

Keragaman dan Persatuan pada Malam HUT RI ke 74 di Kota Tangerang

Oleh: Hardi

Komunitas Dialog Kebangsaan Kota Tangerang kembali menggelar acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan tema nasional “SDM Unggul, Indonesia Maju”. Organisasi-organisasi lintas iman yang tergabung dalam Komunitas Dialog Kebangsaan kali ini adalah GP Ansor PAC Cibodas, Pemuda Katolik Komcab Kota Tangerang, PC HIKMAHBUDHI Kota Tangerang, Pemuda Kongcu Bio Tangerang, MUSPIJA Banten dan PHDI Kota Tangerang. Kegiatan ini berlangsung di  Gereja Katolik Santo Agustinus Paroki Karawaci, Kota Tangerang pada Jumat malam (16/08/2019).

Pasang Iklan

Pagelaran peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia serta perayaan HUT Gereja Santo Agustinus yang ke-31 dikemas dengan apik melalui tarian dan lagu nusantara dari berbagai daerah yang dipadu-padankan dalam drama kebangsaan yang kemudian dilanjutkan dengan orasi kebangsaan dan doa bersama untuk negeri oleh masing-masing perwakilan lintas agama yang hadir.

Romo Clemens Tribawa Saksana, OSC (Pastor Gereja St. Agustinus) menyampaikan dalam pembukaan orasi kebangsaan bahwa, “Kita tidak bisa memilih waktu dan tempat dimana kita lahir, maka kesadaran ini yang harus ditumbuh-kembangkan kepada yang lain. Keterbatasan dan keterikatan akan waktu dan tempat kita lahir sebagai manusia itu yang harus diisi dengan segala perbedaan yang ada, Tuhan memiliki kehendaknya mengapa kita bisa dilahirkan disini dan itulah yang menjadi dasar toleransi.

Dr. H. Muhammad Qustulani, S.S., MA.Hum., (Wakil Ketua Bidang Akademik STISNU Tangerang) menambahkan bahwasanya merawat kebersamaan dalam semangat persatuan juga harus mengingat sejarah bangsa sebagai bagian dari budaya bangsa ini. Rasa syukur harus disampaikan karena begitu nyaman dan amannya untuk tetap tinggal di Indonesia dibandingkan dengan negara lain seperti studi yang pernah saya lakukan. Jika bukan karena nilai-nilai luhur pancasila, hari ini kita tidak akan bertemu dan berkumpul malam ini disini.

Mengajarkan toleransi dari generasi ke generasi bukan sekedar diwacanakan tapi dijadikan sebagai budaya. Membudayakan rasa toleransi bisa dimulai dari masa kecil, seperti masa kanak-kanak dahulu dimana keakraban lebih terasa tanpa adanya sekat apapun. Berbicara tentang keyakinan itu adalah hak individual, namun saat membicarakan tentang bangsa ini maka itulah bagian dari semua elemen bangsa ini, ungkap Pendeta Doni Susanto, S.Th. (Kabid. Pemuda dan Anak GBI) pada saat orasi kebangsaan.

“Dengan berbagai macam sebutan yang ada, cinta kasih telah diajarkan dalam setiap agama masing-masing yang kemudian muncul dalam bentuk toleransi agar tidak ada lagi rasa permusuhan dan kecurigaan satu sama lain, kemudian untuk tetap menjaga kerukunan maka jangan melihat kepercayaan orang lain dalam kaca mata agama yg kita miliki, tegas WS. Rudy Gunawijaya (Tokoh Konghucu Banten) menyambung pembicara sebelumnya.

KH. Amin Munawar (Ketua FKUB Kota Tangerang) melanjutkan bahwa toleransi akan semakin kokoh jika kita dapat memiliki rasa cinta terhadap Indonesia. Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI adalah pondasi toleransi bagi bangsa yang majemuk ini. Nilai-nilai itu harus dijadikan sebagai alat untuk perekat bangsa, bukanlah alat peretak bangsa. Toleransi itu terwujud di malam ini dengan berkumpulnya kita di malam kemerdekaan untuk mengingat bahwa perjuangan bangsa ini dalam menggapai kemerdekaannya. 

“Bertoleransi dan bersatu adalah mantra yang paling sakti, toleransi dapat diawali dari bagaimana kita dapat memberikan ruang dan waktu bagi orang lain untuk beribadah dan melaksanakan adat istiadat di sekitar kita. Kita ini bersaudara, jika bukan dalam saudara kandung namun kita adalah saudara sebangsa dan setanah air, marilah kita lihat dan angkat nilai-nilai universal yang ada dari setiap agama untuk membangun toleransi”, pungkas P. Nyoman Subiksa (Wakil Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia Kota Tangerang).

Hendra, SE, MM (Penasehat PC HIKMAHBUDHI Kota Tangerang)  dalam penutupan menyampaikan bahwa, “kita sudah belajar toleransi hari ini melalui seni tari yang dibawakan tadi dengan memperlihatkan semua keragaman budaya bangsa Indonesia dalam satu paket drama. Toleransi bisa dimulai dari internal agama masing-masing, dikarenakan intoleransi di internal juga terjadi dengan tingkat yang berbeda di mana kaum intoleran masih eksis. Saat komunitas ini mulai dirintis maka kami berpikir  bagaimana nilai-nilai bangsa Indonesia yang begitu indah jangan sampai terkoyak, maka kami harus bersepakat untuk melawannya, melawannya dengan cara bergandengan tangan dan mempertunjukkan kepada mereka yang intoleran melalui media sosial yang kita miliki bahwa kita sudah mencontohkan apa itu toleransi dengan duduk bersama hari ini”.

Sebagai penutup Jajat Sudrajat (Ketua GP Ansor PAC Tangerang) yang memoderatori sesi ini mengutip kata KH. Hasyim Ashari “Hubbul Waton Minal Iman” yang berarti cinta tanah air adalah sebagian dari iman, artinya siapapun yang masih beriman haruslah cinta tanah air.

Kegiatan ini diikuti oleh semua lapisan masyarakat lintas iman mulai dari pemuda hingga para senior. Perpaduan warna-warni lintas iman yang hadir ini menambah semarak meriahnya acara yang diselenggarakan hingga dapat menunjukan kebinekaan yang tergambar secara nyata diantara masyarakat itu sendiri.

 

Penulis:
Hardi (Ketua PC HIKMAHBUDHI Kota Tangerang 2019-2021)

 

Komentar via Facebook

Tags
Close