ArtikelOpini

Kathina dan Kewirausahaan Sosial: Upaya Kemandirian Umat

Oleh: Widodo

Kathina

Di setiap penghujung masa vassa,  seluruh umat Buddha berduyun memberi persembahan kepada Sangha. Mereka memberikan empat kebutuhan pokok bhikkhu yaitu makanan, jubah, tempat tinggal, dan obat-obatan. Persembahan ini juga untuk kembali mengingatkan akan hubungan kausalitas antara umat dan sangha. Keberadaan Bhikkhu memang harus ditopang umat agar Buddha Dhamma terus lestari, sementara umat juga terus membutuhkan bimbingan sangha dalam hidup sehari-hari. Selain Waisak, rasanya Kathina yang dirayakan lebih meriah dibandingkan Asadha dan Magha Puja. Di kalangan umat Buddha terutama tradisi Theravada, hari Kathina dirayakan pada bulan Oktober dan November. Dana Kathina diyakini memiliki nilai spiritual lebih tinggi daripada dana yang diberikan kepada sangha di hari-hari biasa, karena dalam dana Kathina, persembahan diberikan kepada bhikkhu yang telah berlatih membina diri secara intensif. Memberikan dana kepada mereka yang telah membina diri dalam kemoralan yang tinggi, tentu memiliki pahala yang tinggi pula.

Pasang Iklan

Seiring perkembangan waktu, dana Kathina yang diterima Sangha tidak hanya berbentuk jubah dan keperluan Bhikkhu Sangha. Terlebih jumlahnya juga melebihi kebutuhan. Maka tidak jarang barang-barang hasil dana Kathina disalurkan juga ke beberapa daerah yang membutuhkan, terutama daerah bencana. Seperti yang dilakukan panitia Kathina KMB Se-Jabodetabek yang menyalurkan dananya ke beberapa vihara di Lombok tahun 2000 silam. Juga kegiatan-kegiatan sosial lainnya, seperti bakti sosial juga bantuan ke daerah-daerah yang tertimpa gempa dan tsunami, seperti Lombok dan Palu beberapa waktu lalu.

Apa yang sudah dilakukan selama ini sama sekali tidak ada yang keliru. Namun kondisi ekonomi sosial umat di desa-desa juga membutuhkan penanganan yang serius. Tak sekedar memberi bantuan semata, tetapi lebih bagaimana mengupayakan mereka untuk mandiri dan berdikari. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan Institut Nagarjuna 2016 lalu, bahwa potensi ekonomi desa Buddhis begitu banyak. Seperti yang terlihat di desa Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah yang menjadi lokasi penelitian institut yang didirikan beberapa mantan pengurus HIKMAHBUDHI ini. Potensi ekonomi yang dapat dikembangkan di Kaloran antara lain di sektor pertanian dan perkebunan adalah tanaman jagung, cabe, jahe, sayur mayur, kopi alpukat, manggis, nangka dan padi di areal tertentu. Sengon dan jabon juga memiliki potensi untuk dikembangkan di daerah Kaloran, namun dengan catatan pola tanam dan panen yang memperhatikan kondisi lahan yang pada umumnya memiliki tingkat kemiringan yang tinggi. Potensi yang belum tergarap maksimal juga terdapat di Banjarnegara. Sebagai sentra penghasil salak, karena harga yang fluktuatif sering kali salak dibiarkan membusuk di pohon karena harga produksi dengan harga jual tidak sebanding.

 

Kewirausahaan sosial

Langkah kecil sudah diinisiasi PP Wandani yang melakukan pendampingan dan pemberdayaan pembuatan gula semut di Dusun Cendono, Temanggung, Jawa Tengah.  Langkah kecil ini tentu perlu dipikul juga kelompok-kelompok lain untuk bisa saling bersinergi membantu kemandirian umat melalui kegiatan kewirausahaan sosial atau social enterpreneurship (SE). Inti dari kegiatan SE adalah menyelesaikan masalah sosial dengan pendekatan bisnis. Artinya selain turut menyelesaikan masalah, namun juga dalam waktu bersamaan bisa memberi dampak positif bukan hanya untuk masyarakat namun juga pelakunya. Seperti yang dikatakan Dondi Hananto, founder Kinara Indonesia dan partner Patamar Capital, meski bergerak sebagai sebuah bisnis sosial, social enterprise  tetap mencari pendapatan sendiri, tidak mengandalkan sekadar dari donasi saja. Tentunya secara implisit di sini jelas bahwa karena tujuan bisnis itu untuk menyelesaikan masalah, seharusnya mereka tidak membuat masalah baru. Ibaratnya jangan sampai menyelesaikan masalah kelaparan di satu tempat tapi kemudian malah menimbulkan kondisi kelaparan di tempat lain. SE sebagaimana disampaikan John Elkington tahun 1988 mengusung konsep Triple Bottom Line (TBL), yaitu People, Planet, dan Profit.

(1) People menekankan pentingnya praktik bisnis suatu perusahaan yang mendukung kepentingan tenaga kerja. Lebih spesifik konsep ini melindungi kepentingan tenaga kerja dengan menentang adanya eksplorasi yang mempekerjakan anak di bawah umur, pembayaran upah yang wajar, lingkungan kerja yang aman dan jam kerja yang dapat ditoleransi. Bukan hanya itu, konsep ini juga meminta perusahaan memperhatikan kesehatan dan pendidikan bagi tenaga kerja. Kewirausahaan sosial melibatkan banyak orang, dalam hal ini umat, terutama di desa-desa yang memerlukan pendampingan. Pelibatan orang banyak juga memungkinkan terjadinya jalinan silaturahmi diantara mereka.

(2) Planet berarti mengelola dengan baik penggunaan energi terutama atas sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Mengurangi hasil limbah produksi dan mengolah kembali menjadi limbah yang aman bagi lingkungan, mengurangi emisi CO2 ataupun pemakaian energi, merupakan praktik yang banyak dilakukan oleh perusahaan yang telah menerapkan konsep ini. Bisnis sosial selalu bersahabat dengan alam. Tidak ada satu pun bisnis sosial yang justru merusak lingkungan.

(3) Profit; Karena basisnya adalah sebuah bisnis, tentu keuntungan menjadi sarana untuk menunjang kegiatannya agar terus berkelanjutan. Namun profit disini lebih diartikan untuk penciptaan fair trade dan ethical trade. Kegiatan bisnis dalam SE juga harus terus berkelanjutan. Karena fokusnya tidak hanya soal profit semata tetapi keberlangsungan sebuah program ini terus berjalan agar dampaknya juga terus dirasakan masyarakat. Seperti yang tercantum dalam buku “Berani Jadi Wirausaha Sosial? Membangun Solusi atas Permasalahan Sosial secara Mandiri dan Berkelanjutan” yang diprakarsai DBS Foundation dan UKM Center FEB UI, dikatakan bahwa yang membedakan social enterprise dengan organisasi biasa adalah adanya misi sosial, pemberdayaan, pengamalam prinsip bisnis yang etis, dan monitoring dampak sosial. Sementara prinsip bisnis model ini adalah ethical, responsible, accountable, dan transparent (ERAT).

 

Mandiri dan berdikari

Dalam obrolan di warung kopi seorang kawan berseloroh bagaimana mengajak umat untuk meditasi sementara perut mereka belum terisi. Mungkin ini bisa mencerminkan kondisi umat kita saat ini. Untuk itu gagasan membuat sebuah bisnis sosial bisa menjadi alternatif solusi. Tidak perlu besar, tapi mulai saja dari yang kecil. Dan tentu saja untuk kegiatan awal dari kegiatan bisnis sosial dibutuhkan sokongan dana yang tidak sedikit. Terlebih kegiatan ini berlangsung dalam kurun waktu yang tidak sebentar karena membutuhkan keberlanjutan (sustainability). Saya bermimpi jika saja dana Kathina bisa sedikit dialokasikan ke dalam bisnis sosial ini, bukan saja menggulirkan roda ekonomi umat, namun juga bisa turut memperkokoh fondasi hidup bersama. Skema pemberian dananya adalah pinjaman tanpa bunga, bukan hibah. Tentu dengan pengawasan dan pendampingan yang ketat. Dan karena pinjaman, tentu ada kewajiban untuk mengembalikan. Mengapa pinjaman? Supaya ada dorongan yang kuat untuk menyukseskan bisnis sosial yang dibangun. Dengan demikian dana cicilan ini bisa digulirkan ke tempat-tempat lain yang membutuhkan. Demikian seterusnya, sehingga ini bisa menjadi efek bola salju yang terus menggelinding demi kesejahteraan umat. Saya juga bermimpi suatu hari kantong-kantong umat bisa memiliki sentra bisnis sosial dengan ragam produk unggulan. Sehingga ekonomi desa juga berkembang, dan anak muda tak lagi harus ke kota untuk mencari pekerjaan, karena di desa ada banyak peluang tergarap dengan dukungan kita semua, sebab masa depan ada di desa. Dan seperti yang sudah banyak kita dengar, bukankah lebih baik memberi kail daripada terus memberi ikan?

 

Komentar via Facebook

Close