ArtikelKabar DhammaOpini

Kathina, Bulan Penuh Berkah

Oleh: Rendy Arifin

Agama Buddha memiliki empat hari besar, yaitu Waisak, Asadha, Kathina, dan Maghapuja. Berbeda dengan hari besar lainnya, yang mana hanya terjadi satu kali selama masa Buddha Gotama, Kathina masih terus diulang sampai dengan saat ini. Hari Kathina atau biasa disebut Kathina Dana merupakan bentuk ungkapan terima kasih dari umat Buddha kepada para bhikkhu yang sudah menjalankan masa vassa, yaitu menetap selama tiga bulan di sebuah tempat baik di vihara, hutan, maupun tempat spiritual lainnya. Pada masa vassa, para bhikkhu melatih diri dan memberikan bimbingan spiritual kepada masyarakat di tempat ia tinggal. Masa vassa umumnya dilaksanakan pada saat musim penghujan.

Asal Mula Masa Vassa

Pasang Iklan

Pada saat 60 bhikkhu yang sudah mencapai tingkat kesucian Arahat mulai mengembara untuk menyebarkan Dhamma, saat itu Sang Buddha belum menyatakan masa Vassa dan Kathina. Semangat untuk menyebarkan Dhamma dalam diri para bhikkhu nampaknya sangat besar. Hal ini bisa terlihat dari adanya sekelompok bhikkhu yang mengadakan perjalanan pada musim dingin, musim panas, maupun musim hujan (sebagaimana diketahui di India hanya dikenal tiga musim).

Melihat hal ini masyarakat mengkritik dengan mengatakan, “Mengapa para Bhikkhu Sakyaputta (murid-murid Sang Buddha) mengadakan perjalanan pada musim dingin, panas, dan musim hujan sehingga mereka menginjak tunas-tunas muda, rumput-rumputan, serta merusak kehidupan yang sangat penting dan mengakibatkan binatang-binatang kecil mati? Tetapi pertapa-pertapa lain, yang walaupun kurang baik dalam melaksanakan peraturan (Vinaya), namun mereka menetap selama musim hujan”.

Mendengar keluhan masyarakat tersebut, beberapa orang bhikkhu menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian di atas. Sang Buddha kemudian memberikan keterangan yang masuk akal, dan bersabda:

“Para bhikkhu, saya izinkan kamu untuk melaksanakan masa Vassa”.

Kemudian terpikir oleh para bhikkhu,

“Kapan masa Vassa dimulai ?”.

Mereka menyatakan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau kemudian menyatakan, “Saya izinkan kamu melaksanakan masa Vassa selama musim hujan”.

Kemudian terpikir lagi oleh para bhikkhu,

“Berapa banyak periode untuk memulai masa Vassa ?”.

Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Buddha, Beliau berkata,

“O para bhikkhu, terdapat dua masa untuk memasuki masa Vassa, yang awal dan yang berikutnya. Yang awal dimulai sehari setelah purnama di bulan Asalhi (kini dikenal dengan Hari Raya Asadha) dan yang berikutnya dimulai sebulan setelah purnama di bulan Asalhi. Itulah dua periode untuk memulai musim hujan”.

Pada masa Vassa, para bhikkhu menetap selama musim hujan dan melatih dirinya.

Sejarah Perayaan Kathina

Setelah masa Vassa ditetapkan oleh Sang Buddha, belum ada ketetapan mengenai Kathina, upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. 

Kathina mempunyai kisah tersendiri, pada waktu itu Sang Buddha menetap di Savatthi, di hutan Jeta di vihara yang didirikan oleh Anathapindika. Ketika itu terdapat tiga puluh orang bhikkhu dari Pava sedang mengadakan perjalanan ke Savatthi untuk bertemu dengan Sang Buddha.

Ketika masa Vassa tiba, mereka belum sampai di Savatthi. Mereka memasuki masa Vassa di Saketa dengan berpikir,

“Sang Buddha tinggal sangat dekat, hanya enam yojana dari sini tetapi kita tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan Sang Buddha”.

Setelah menjalankan masa Vassa selama tiga bulan, dengan jubah basah kuyup dan kondisi yang lelah mereka sampai di Savatthi. Setelah memberi hormat, mereka duduk dengan jarak yang pantas.

Sang Buddha berkata,

“O para bhikkhu, semoga semuanya berjalan dengan baik. Saya berharap kalian mendapatkan sokongan hidup. Selalu penuh persahabatan dan harmonis dalam kelompok. Kamu melewatkan masa Vassa dengan menyenangkan dan tidak kekurangan dalam memperoleh dana makanan”.

Kemudian para bhikkhu menjawab:

“Segala sesuatu berjalan dengan baik, Sang Bhagava. Kami mendapatkan sokongan yang cukup, dalam kelompok selalu penuh persahabatan dan harmonis, dan mendapatkan dana makanan yang cukup. Kami sebanyak tiga puluh orang bhikkhu dari Pava ke Savatthi untuk bertemu dengan Sang Bhagava, tetapi ketika musim hujan mulai, kami belum sampai di Savatthi untuk bervassa. Kami memasuki masa Vassa dengan penuh kerinduan dan berpikir, Sang Bhagava tinggal dekat dengan kita, enam yojana, tetapi kita tidak mempunyai kesempatan melihat Sang Bhagava. Kemudian kami, setelah menjalankan masa Vassa selama tiga bulan, menjalankan pavarana, hujan, ketika air telah berkumpul, rawa telah terbentuk, dengan jubah yang basah kuyup dan kondisi yang lemah dalam perjalanan yang jauh”.

Setelah memberikan wejangan Dhamma,Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu,

“O para Bhikkhu, saya izinkan untuk membuat jubah Kathina bila menyelesaikan masa Vassa secara lengkap……..”.

Demikianlah izin membuat jubah Kathina ditetapkan Sang Buddha ketika Beliau tinggal di Savatthi.

Berdana kepada Sangha

Dari masa ke masa, umat Buddha tak pernah melewatkan kesempatan untuk berdana kepada Sangha di bulan Kathina. Bahkan saat ini di beberapa daerah yang memiliki banyak vihara, perayaan Kathina bertransformasi menjadi anjangsana antar vihara. Vihara tidak pernah sepi ketika ada perayaan Kathina, bahkan vihara tersebut menjadi penuh sesak tidak seperti biasanya. Jumlah bhikkhu yang hadir pun biasanya lebih banyak dibandingkan perayaan atau pun peringatan hari besar lainnya.

Umat Buddha memahami bahwa berdana kepada Sangha adalah salah satu kebaikan dengan menabur benih di ladang yang subur. Tak dipungkiri bahwa bulan Kathina merupakan bulan berkah. Antusiasme umat Buddha begitu besar, bahkan ada yang berkeliling dari vihara satu ke vihara yang lain selama bulan Kathina. Semua itu dilakukan untuk berdana kepada Sangha. Bhikkhu Sikkhānanda di dalam bukunya yang berjudul “Dana” (2010:7) menjelaskan manfaat dari berdana sangatlah banyak, diantaranya:

1. Panjang umur, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan, dan kebijaksanaan

2. Disukai dan dikagumi banyak orang

3. Menaklukan sifat kikir

4. Mempererat persahabatan

5. Terlahir di alam dewa, tapi bila terlahir di alam manusia akan terlahir di keluarga kaya

6. Mendapatkan anak, pasangan hidup, asisten, dan bawahan yang patuh dan penuh pengertian

7. Mengikis keserakahan (lobha) dan kebencian/amarah (dosa)

Bhikkhu Paññavaro pun dalam ceramahnya pada acara Sanghadana sebuah perkumpulan mahasiswa di Tangerang beberapa tahun lalu menjelaskan bahwa seseorang yang melakukan dana dengan tulus akan mendapatkan tiga manfaat besar, yaitu:

1. Panjang umur, keelokan, kekayaan, kebahagiaan, dan relasi yang baik

2. Terlahir di alam surga

3. Merealisasikan Nibbana

Di bulan Kathina ini para bhikkhu mendapatkan berkah dengan menerima ungkapan terima kasih dari umat Buddha atas segala bentuk bimbingannya selama masa Vassa, baik berupa jubah, perlengkapan mandi, obat-obatan, dan lain sebagainya guna mendukung kehidupan suci para bhikkhu.

Di Indonesia sendiri, belum semua vihara bisa ditempati oleh bhikkhu selama masa Vassa dikarenakan keterbatasan dari jumlah bhikkhu. Tetapi momentum bulan Kathina dijadikan momentum untuk mengadakan kegiatan Sangha Dana sebagai salah satu bentuk ungkapan terima kasih kepada Sangha serta memberikan kesempatan umat Buddha di vihara tersebut untuk berdana kepada Sangha.

 

Referensi:

  • Bhikkhu Sikkhānanda. Dana. 2010.
  • https://forum.dhammacitta.org/index.php?topic=5424.0;wap
Komentar via Facebook

Close