BeritaNasional

Indonesia Tipitaka Chanting, Tradisi Membumikan Kembali Dhamma Beserta Maknanya

Oleh : Yushua Adi Putra

Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) merupakan ritual pembacaan ulang khotbah-khotbah Buddha di hari suci Asadha 2562 / 2018. Acara ITC tahun ini mengusung tema “Berucap, Bertindak, dan Berpikir Baik Memperkokoh Persatuan Bangsa”. Acara yang diselenggarakan oleh Sangha Theravada Indonesia (STI) ini didukung oleh Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI), Wanita Buddhis Theravada Indonesia (WANDANI), Pemuda Buddhis Theravada Indonesia (PATRIA), dan Atthasilani Theravada Indonesia (ASTINDA) yang tergabung dalam Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI). Dan

Kegiatan ITC yang digagas oleh KBTI ini dilatarbelakangi alasan yakni melihat mulai lunturnya tradisi pembacaan tipitaka, serta kurangnya pemahaman isi dari tipitaka itu sendiri. Tipitaka terbagi menjadi 3 bagian yaitu Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka, sedangkan yang dibahas pada ITC tahun ini adalah bagian Sutta Pitaka.  Suasana acara ITC ini terlaksana dalam suasana yang tidak kaku dan menegangkan, yakni peserta tetap dapat beristirahat di tengah-tengah pembacaan tipitaka.

Pasang Iklan

Kegiatan ini dilaksanakan di komplek Taman Lumbini, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Dihadiri oleh  para Bhikkhu, Samanera, Atthasilani, dan upasaka-upasika yang berjumlah 1000 orang beserta ratusan umat yang berasal dari berbagai daerah untuk turut membacakan tipitaka. Para umat Buddha sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan ITC, hal ini dapat dilihat dari antusiasme para umat yang membacakan Tipitaka secara lantang dengan tetap tekun melaksanakan latihan 9 sila. Tak hanya itu, walaupun umat Buddha telah menjalankan atthasila akan tetapi semangat dalam mengikuti Dhammasakacca atau pembahasan sutta yang telah dibaca pada saat malam hari tidak surut.

Kegiatan ITC ini berisi pembacaan serta kajian mengenai sutta-sutta (khotbah Buddha) yang ada pada Majjhima Nikaya yang dipandu oleh Bikkhu Dhammadhiro Mahathera beserta para Bikkhu senior berasal dari Sri Lanka. Pembacaan Tipitaka ini sangatlah menarik karena sutta-sutta yang telah dibaca merupakan lanjutan sutta yang telah dibaca tahun lalu. Terdapat sepuluh sutta yang akan dibaca oleh Bhikkhu, Samanera, Atthasilani, dan umat Buddha.

Kegiatan ITC ini diharapkan agar dapat melestarikan Buddha Dhamma untuk perdamaian dan kebahagiaan di dunia serta membumikan pembacaan tipitaka pada para umat Buddha. Selain kegiatan pembacaan tipitaka dalam Bahasa Pali dan pengkajian sutta-sutta, kegiatan Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) ini diharapkan dapat menambah pemahaman umat Buddha terhadap ajaran Buddha serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

Adapun pembacaan tipitaka sendiri memiliki manfaat yakni dapat memperkuat saddha atau keyakinan para umat buddha agar tetap berpegang teguh pada Dharma. Kegiatan ITC merupakan upaya untuk membumikan tradisi membaca tipitaka dalam Bahasa pali serta belajar memahami isi, manfaat, beserta sejarah tipitaka.

Kegiatan ITC tahun ini dilaksanakan selama 2 hari dan pada hari ke 3 diisi dengan peringatan hari suci Asalha Mahapuja. Asalha Mahapuja dilaksanakan pada hari ke 3 pada kegiatan ini yakni pada tanggal 22 Juli 2018, pukul 08.00 WIB. Asalha Mahapuja diselenggarakan di pelataran candi Borobudur dengan diperkirakan sekitar 8000 umat hadir yang mengikuti prosesi Bhakti Yatra dari candi Mendut ke candi Borobudur.

Asalha Mahapuja sendiri merupakan salah satu hari raya besar agama Buddha setelah hari raya Waisak, Kathina, dan Maghapuja. Yaitu hari di mana pertama kalinya Dhamma dibabarkan oleh Buddha Gotama ke pada Pancavagya di Taman Rusa Isipatana di India kuno. Inti sari dari ajaran Buddha dalam Asalha Puja tersebuat adalah tentang pembebasan diri dari penderitaan. Penderitaan sendiri muncul ketika manusia telah dikuasai oleh keinginan (hawa nafsu) yang menggebu, lalu menjelma menjadi benci, serakah, serta ego yang dapat melenyapkan kedamaian dalam diri. Buddha mengajarkan mengenai jalan berunsur 8  sebagai langkah untuk membebaskan diri dari penderitaan manusia yaitu pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

Sutta pertama yang disampaikan  adalah Cūḷasīhanāda Sutta yang berarti Khotbah Pendek tentang Auman Singa. Sang  Buddha menjelaskan bahwa hanya dalam pengajaranNya keempat  individu mulia dapat ditemukan, menjelaskan bagaimana ajaranNya  dapat dibedakan dari kepercayaan lain melalui penolakannya yang khas  pada doktrin diri.

Mahāsīhanāda  Sutta merupakan sutta kedua yang berarti khotbah  panjang tentang Auman Singa.  Sang Buddha membabarkan sepuluh  kekuatan seorang Tathāgatha,  empat  jenis keberaniannya,  dan kualitas-kualitas unggul  lainnya, yang karena itu Beliau “mengaumkan  auman singaNya di dalam perkumpulan-perkumpulan.”

Sutta yang ketiga yaitu Mahādukkhakkhandha  Sutta yang berarti khotbah  panjang tentang Kumpulan  Penderitaan. Sang Buddha menjelaskan pemahaman  penuh atas kenikmatan indria, bentuk materi, dan  perasaan-perasaan, dalam sutta ini juga terdapat  bagian panjang tentang bahaya dalam kenikmatan indria.

Kemudian sutta yang keempat adalah Cūḷadukkhakkhandha  Sutta yang berarti khotbah  pendek tentang Kumpulan  Penderitaan. Sebuah variasi  dari sutta sebelumnya, yang diakhiri  dengan sebuah diskusi dengan para petapa Jain tentang ciri kenikmatan dan kesakitan.

Anumāna sutta adalah sutta yang kelima, dalam sutta ini Yang Mulia MahāMoggallāna menguraikan  kualitas-kualitas yang membuat seorang bhikkhu  sulit dinasihati dan mengajarkan bagaimana seseorang harus memeriksa diri sendiri untuk melenyapkan cacat dalam karakternya.

Keenam yaitu Cetokhila  Sutta yang berarti belantara  dalam pikiran. Di sutta ini Sang  Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu  tentang lima “belantara dalam pikiran” dan lima “belenggu dalam pikiran.”

Kemudian yang ketujuh adalah Vanapattha  Sutta yang berarti hutan  belantara. Sebuah khotbah tentang  kondisi-kondisi yang karenanya seorang  bhikkhu meditator harus menetap di dalam hutan  belantara dan kondisi-kondisi yang karenanya ia harus  pergi ke tempat lain.

Madhupiṇḍika Sutta merupakan sutta yang kedelapan yang berarti Bola Madu. Sang Buddha mengucapkan  pernyataan yang mendalam namun membingungkan tentang “sumber yang karenanya persepsi dan gagasan yang muncul dari penyebarluasan pikiran yag menyerang seseorang.” Pernyataan ini dijelaskan oleh Yang Mulia Mahā Kaccāna, yang penjelasannya dipuji oleh Sang Buddha.

Sutta yang kesembilan adalah Dvedhāvitakka  Sutta yang berarti Dua Jenis Pikiran. Dengan  merujuk pada perjuanganNya sendiri dalam berjuang mencapai pencerahan, Sang Buddha menjelaskan cara untuk mengatasi pikiran-pikiran tidak bermanfaat dan menggantikannya dengan pikiran-pikiran bermanfaat. Untuk sutta yang terakhir adalah Vitakkasanthāna  Sutta atau  Pelenyapan  Pikiran-pikiran  Kacau. Sang Buddha mengajarkan lima metode untuk menghadapi pikiran-pikiran  tidak bermanfaat yang mungkin muncul dalam perjalanan meditasi.

Wujud dari melaksanakan ajaran Buddha sendiri yaitu dapat memunculkannya pikiran baik, ucapan bain, perbuatan baik yang dapat mengubah kekacauan dunia menjadi perdamaian dunia yang tentram. Solidaritas dari suatu bangsa dapat terbentuk dari rasa persatuan dan kesatuan dan hal tersebut dapat terjalin apabila terdapat suatu kesadaran serta pengendalian diri kolektif dari masyarakatnya.

Ditulis oleh : Yushua Adi Putra – Mahasiswa STAB Syailendra

 

Komentar via Facebook

Close