BeritaNasional

Indonesia Network of Engaged Buddhists (INA-NEB)

Jaringan Gerakan Mempraktikan Dharma dalam Kehidupan Riil

500 tahun semenjak runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1478, Buddhis resmi diakui kembali di Indonesia (Nusantara) dengan ditandai dengan adanya Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 45 Tahun 1974 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 30 Tahun 1978 yang menetapkan berdirinya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha. Menjelang diakui dan sesudah diakui, kegiatan spiritual Buddhis berlangsung dengan menetapkan pondasi-pondasi dasar Agama Buddha di Indonesia termasuk membenahi sisi ritual yang sudah banyak terlupakan meski sebagian kecil masih dijalankan di Indonesia.

Setelah sekian tahun ritual ditata, rasa kemanusiaan seorang penganut Buddhis dirasa perlu melakukan hal lebih, maka mulai banyaklah kegiatan komunitas Buddhis di tengah masyarakat yang sifatnya sosial kemasyarakatan, lebih tepatnya masih ruang lingkup bantuan sosial, baik kepada lingkungan dan masyarakat umum yang membutuhkan, seperti bantuan sembako, tempat ibadah, pakaian, pengobatan dan lain sebagainya.

Pasang Iklan

Memasuki abad 20, setelah sarana-prasana ritual terpenuhi mulai dari Sangha, Majelis, Vihara, Parita Suci, tata aturan baku ritual dan sebagainya, munculah pencerahan baru dikalangan umat Buddha di Indonesia bahwa ajaran Buddha harus bisa dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari, baik sisi internal komunitas Buddhis ataupun masyarakat umum di semua segala lini kehidupan.

Buddhis harus mampu menjawab semua lini kehidupan persoalan riil manusia, Buddhis mampu memberikan inspirasi pemahaman bagaimana kehidupan dan interaksi sosial harus dijalankan. Ajaran Buddha diyakini tidak hanya berpondasi dari sisi intelektual, namun juga sangat rasional djilankan. Tentu menjadi tantangan baru bagi penganut Buddhis di Indonesia kala itu, karena arus besar masih dalam tataran ritual dan bantuan sosial.

Dengan semakin terbukanya akses informasi dan mudahnya interaksi antara satu sama lain, baik diantara penganut Buddhis di Indonesia sendiri ataupun dengan penganut Buddhis di luar negeri, tokoh dan gerakan spiritual lainya membuat pola gerakan Buddhis di Indonesia semakin berwarna dan muncul pemahaman beraneka cara praktik Buddhis yang mudah diterapkan di tengah-tengah masyarakat.

Tanpa dirasa, sikap pembelajar umat Buddha Indonesia mulai menelurkan beberapa tokoh dan lembaga yang dirasa menjalankan ataupun mencita-citakan Enganged Buddhists di Indonesia. mulai dari penelitian Buddhis, pendidikan melalui sekolah, kursus & beasiswa, kesenian pendampingan peternak & petani, pendirian koperasi, meningkatkan kualitas hidup melalui pendampingan ekonomi, akses kesehatan dan pembelajaran organisasi, retret & meditasi yang semakin intens dan sebagainya.

Dengan munculnya beberapa tokoh dan lembaga yang mulai menerapkan Enganged Buddhists dirasa penting adanya sebuah forum bersama, agar ada ruang untuk saling mendukung satu sama lain. Setidaknya ada forum berdiskusi bersama diantara aktivis Buddhis dengan berbagai latar belakang lembaga ataupun gerakanya. Enganged Buddhists jika digerakan satu dua kelompok atau pribadi-pribadi semata dirasa belum cukup, sedangkan perubahan dalam komunitas Buddhis Indonesia menuju ke arah yang positif, ada kerinduan akan bekerja sama lintas-sekte, berkontribusi lebih banyak ke umat Buddha maupun masyarakat pada umumnya.

Melihat potensi ini, maka INEB Indonesia digagas dan mendapatkan respon positif dari beberapa pihak yang sempat diajak komunikasi, seyakinya masih banyak lembaga atau tokoh yang berpotensi untuk terlibat kedepan, dan tidak menutup kemungkinan komunikasi dan kerja kolektif kita gulirkan terus ke segenap penjuru nusantara. Kehadiran Somboon Chungprampree (Moo) selaku Excecutive Secretary dan Vidyananda (KV Soon) dari Malaysia Network of Engaged Buddhists memberikan dukungan moral yang kuat. Maka dengan tekad sepenuh hati, Indonesia Network of Enganged Budhists resmi dideklarasikan pada 7 Oktober 2017 di Jakarta oleh:

  1. Hong Tjhin
  2. Yogiawati
  3. Sugianto Sulaiman
  4. Anton Susilo
  5. Kurniawan Santoso/Yongki
  6. Hendra, Hadi, Jefri
  7. Jo Priastana
  8. Eddy Setiawan
  9. Isyanto
  10. Sugiartana (Ketua Umum PP HIKMAHBUDHI)
  11. Anggota-anggota HIKMAHBUDHI Jakarta, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Tangerang, Pontianak

Adanya International Network of Enganged Buddhists (INEB) yang sudah lahir dan tumbuh cukup lama, maka forum yang ada di Indonesia bisa banyak memberikan inspirasi ke dunia internasional dan sebaliknya juga forum yang ada di Indonesia bisa belajar dari komunitas internasional bagaimana Buddhis bisa diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Teori dan pemahaman yang didapat harus bisa menjadi roda penggerak perbaikan kondisi suatu masyarakat, melenyapkan penderitaan dengan cinta kasih dan kasih sayang.

Sekilas International Network of Engaged Buddhists (INEB)

International Network of Engaged Buddhists (INEB) dibentuk pada Februari 1989 di Thailand oleh 36 pemimpin Buddhis dan umat biasa dari 11 negara. INEB bertujuan untuk mengumpulkan organisasi Buddhis di seluruh dunia untuk saling bertukar dan berbagi sumber daya dan mendukung satu sama lain dalam menjalankan kegiatannya. INEB berbentuk jaringan yang menghubungkan para pemuka agama, aktivis, akademisi dari beragam latar belakang.

INEB berlandaskan persahabatan (kalyanamitra) yang mengacu pada semangat dalam Sangha. Semangat ini diwujudkan dalam situasi kekinian. Anggota INEB bekerja tidak terpusat dalam satu komando (desentralisasi). Sekretariat di Thailand berfungsi untuk menjaga arus informasi, memberi dukungan, memperat persahabatan melalui program-program atau aktivitas bersama yang meningkatkan kapasitas anggota.

 

Saat ini tokoh-tokoh Buddhis internasional yang menjadi Patrons INEB, beliau-beliau yakni His Holiness the Dalai Lama (Tibet), Venerable Thich Nhat Hanh (France/Vietnam), Venerable Maha Somchai Kusalacitto (Siam-Thailand), Venerable Bhikshuni Chao Hwei (Taiwan)

INEB memiliki Tujuan

 Menjadi jaringan informasi, sumber daya dan individu dari organisasi Engaged Buddhists.

Mengidentifikasi dan menjawab persoalan penderitaan struktural dalam komunitas, masyarakat dan dunia.

 Menyebarkan pandangan dari socially-engaged Buddhism mengenai sumber penderitaan ini dan melatih aktivis Buddhis.

 Bekerja sama dengan aktivis dari tradisi spiritual berbeda dan organisasi-organisasi perubahan sosial lainnya.

Bidang-Bidang Penting Fokus Kegiatan INEB yang selama ini dijalankan meliputi: Hak asasi manusia dan keadilan sosial, Perdamaian dan rekonsiliasi, Lingkungan dan perubahan iklim, Gender dan perempuan, Pendidikan alternatif, Ekonomi dan pengembangan alternatif, Reformasi dan kebangkitan institusi Buddhis, Pengembangan kepemimpinan pemuda dan spiritual, Seni dan budaya, Dialog antar-agama dan antar-sekte

Dengan perubahan dunia yang terus terjadi, maka dirasa perlu langkah penting guna semakin memaksimalkan gerakan. Untuk itu para Comittee menetapkan Strategi INEB 10 tahun mendatang (2018-2027) untuk fokus dalam bidang:

 Bhikkhuni

 Ekonomi Buddhis (Buddhist Economics)

 Buddhis terpinggirkan (Marginalized Buddhism)

 INEB Institute: Institute for Transformative Learning

Jaringan Buddhis Asia untuk Perlindungan Anak (Asian Network of Buddhists for Child Protection)

Kebangkitan kembali Buddhism, terutama dalam konteks India dan China (Global Revitalization on Buddhism-especially in terms of China and India)

Jaringan Lintas-agama mengenai iklim dan ekologi & Eco-temple (Inter-religious Climate and Ecology Network & Eco-temple)

Pemimpin Komunitas Buddhis (Community Buddhist Leaders)

Pemimpin Spiritual Buddhis (Buddhist Chaplaincy)

Buddhisme dan resolusi konflik dan forum internasional hubungan Buddhis-Muslim (Buddhism and conflict resolution & International Forum on Buddhist-Muslim Relations)

Ditengah-tengah masyarakat Indonesia yang begitu besar memposisikan kekuatan agama, kini masyarakat Indonesia masih belum bisa bangkit sepenuhnya sejak era reformasi. Globalisasi yang keblablasan semakin menggurita menuju penguasaan semua lini kehidupan, materialistik dan borjuis menjadi segalanya, budaya takut dan malu akan perbuatan jahat semakin usang, krisis multidimensial merusak budaya Indonesia yang banyak memiliki keluhuran tinggi.

Sudah waktunya tokoh dan lembaga Buddhis menjadi inspirator, dengan ketekunan pelatihan, tebentuknya kesadaran kemudian merealisasikan jiwa Bodhisatwa dalam Enganged Buddhists dalam segala lini kehidupan masyarakat mulai dari Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan dan Keamanan (IPOLEKSOSBUHANKAM) dengan pondasi spiritual Buddhis. Dengan demikian Buddhis punya kebaikan dengan melahirkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang sempat pudar di bumi Nusantara, guna mencapai kemakmuran lahir & batin, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut andil dalam kedamaian dunia.

Suparjo, Mantan Ketua Umum PP HIKMAHBUDHI (2014-2016), Staff Anggota DPR RI
Komentar via Facebook

Close